My Bittersweet Marriage

My Bittersweet Marriage
Episode 5



Menikah berbeda dengan pacaran, tekanan dan masalah akan jauh lebih banyak ditemui di dalam pernikahan. Tidak akan mudah minta putus kalau ada ketidakcocokan di kemudian hari. Kalau saling mencintai masih bagus karena kata orang cinta itu akan membuat mereka tetap bersama menghadapi semua tekanan.



“Afnan...!”



“Apa?”



“Kamu ngapain kalau jam segini?” “Segini di sana apa di sini?”



“Di tempat kamu.”



“Ya ... di rumah aja. Makan. Kerja.” “Kok, malam-malam kerja?”



“Ya masa aku party?”



“Makanya kamu jomlo, nggak gaul.”



“Habis ini kan nggak jomlo. Aku kan nggak mungkin cari istri di lokasi party.” Afnan tertawa.



“Kenapa?”



“Nggak ada yang kaya kamu di lokasi party, sih.”



“Gombal!”



“Jodoh yang baik itu adanya di tempat yang baik. Party itu bukan tempat yang baik. Isinya orang-orang yang menyia-nyiakan waktu. Bau lagi. Bau muntahan.”



Salah satu percakapannya dengan Afnan selama periode masa mengenal. Rentang waktu setelah menjawab lamaran dan sebelum hari pernikahan terasa seperti pacaran jarak jauh. Hessa tidak merasakan ada perubahan pada debar jantungnya atau kupu-kupu di dalam perutnya, tapi Hessa yakin ada ketertarikan di antara dia dan Afnan. Hessa merasa tidak terlalu ada masalah dengan komunikasi mereka. Afnan tidak begitu membosankan. Nanti seiring berjalannya waktu, Hessa akan menemukan banyak hal-hal lain dari Afnan yang menyenangkan.



Hessa berbaring dalam diam di kamarnya. Beberapa hari ini dia suka sekali menyendiri. Dia menghindari terlalu lama berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Ada banyak sekali yang harus dipikirkannya.



Hessa mengambil HP-nya dan mulai membuka google streetview di internet. Hessa mencoba mencari gambaran bagaimana Aarhus itu.



Hessa memejamkan matanya. Menikah itu sepertinya tidak sulit. Orang-orang di sekitarnya satu demi satu menikah, dengan orang yang dipacarinya sejak sekolah, dengan orang baru yang ditemui di online dating, dengan siapa pun yang ingin dinikahi dan menikahinya. Kencan sebulan dua bulan, lalu mengumumkan undangan pernikahan, punya anak, dan memajang foto-foto dengan wajah bahagia. Foto anaknya dengan mulut belepotan susu, foto berlibur ke pantai beton di dekat sini. Mudah, kan? Menikah, punya anak, bersenang-senang. Sesederhana itu. Orang lain juga mungkin berpikir menikah bukanlah hal yang sulit. Tidak usah berpikir macam-macam, yang penting menikah dulu karena ada yang mau. Yang penting laku dulu. Tidak lagi dipandang masyarakat sebagai perawan tua, ada suami yang bisa dipamerkan saat bertemu dengan teman, dan lain-lain yang Hessa tidak tahu.



Apakah benar menikah itu mudah? Bagi Hessa menikah adalah sebuah proses yang sangat sulit. Untuk memasuki jenjang ini, Hessa harus melewati berbagai pertimbangan dan pemikirang matang. Jika nanti dia tidak menyukainya, akan lebih sulit lagi untuk keluar dari sana.



Bukannya dia tidak tertarik sama sekali pada Afnan. Semua wanita waras pasti tertarik padanya. Tapi Hessa merasa saat ini dia masih berada pada tahap terpukau, Hessa hanya memperhatikan sisi-sisi baik dari Afnan. Tampan, cerdas, percaya diri, dan oke, Hessa mengakui Afnan memang luar biasa. Kata orang-orang pintar di buku yang dibacanya, keputusan menikah tidak boleh dibuat pada masa ini.



Tampan dan hebat itu akan sangat bisa mengundang decak kagum saat pesta pernikahan. But once the honeymoon is over, Hessa sudah ditunggu oleh kenyataan hidup yang mungkin belum pernah terpikir olehnya. Afnan akan kembali bekerja, sedangkan Hessa akan tinggal di rumah. Apa nama jabatan untuk wanita yang hanya tinggal di rumah? Ibu rumah tangga? Hidupnya akan berputar pada mencuci baju, memasak, membereskan rumah, mengepel lantai, mengganti seprai, merawat anak, menghemat uang, mengurusi kompor rusak saat dia harus memasak makan malam, mengisi tisu toilet yang habis, belanja bulanan, pertengkaran dan saling menyalahkan, seks, dan masih banyak lagi.



Di Aarhus tentu berbeda dengan di sini. Bisakah dia sembarangan membeli makanan dari luar rumah? Dia akan jadi istri dan mungkin juga ibu, tugasnya adalah memastikan makanan yang beredar di rumahnya halal dan baik. Mamanya di sini kadang pakai jasa orang lain untuk membersihkan rumah, sesuatu yang mungkin di Aarhus tidak ada. Semua harus dikerjakan sendiri.



Jangankan sampai ke negara yang berada dekat dengan puncak bola dunia itu, membayangkan ikut suaminya ke luar Pulau Jawa saja Hessa tidak pernah. Salah satu teman baiknya malah lebih memilih menjalani long distance marriage setelah menikah daripada ikut suaminya yang kerja di pengeboran minyak lepas pantai di daerah di dekat Kalimantan sana. Tapi pilihan long distance marriage itu jelas tidak akan ada untuk Hessa. Orang waras mana yang mau terpisah belasan ribu kilometer dengan istrinya?



Menikah itu berbeda dengan pacaran, tekanan dan masalah akan jauh lebih banyak ditemui di dalam pernikahan. Tidak akan mudah minta putus kalau ada ketidakcocokan di kemudian hari. Kalau saling mencintai masih bagus karena kata orang cinta itu akan membuat mereka tetap bersama menghadapi semua tekanan. Masalahnya mereka tidak saling cinta.



Hessa berbicara dengan papanya tadi malam, mencoba meminta pendapat dari sisi rasional, bukan menurutkan perasaan seperti kalau dia meminta pendapat mamanya.



“Kenapa tiba-tiba membicarakan menikah ini? Biasanya kamu menghindari?” Papanya tertawa kecil saat mereka duduk di kursi di teras belakang tadi malam.



“Papa jangan bilang Mama dulu. Afnan bilang ... dia pengen menikah sama Hessa,” Hessa memberi tahu papanya.



“Terus? Kamu mau?”



“Belum jawab. Gimana menurut papa?”



“Afnan? Dia ... laki-laki yang baik. Papa ngobrol dengannya saat dia ke sini sama mamanya dulu. Dia duduk diam di teras depan sebelum papa datang. Papa tanya kenapa dia nggak masuk dan ikut duduk dengan kalian di ruang makan. Dia bilang ... apa ya ... oh ... sebenarnya dia nggak ingin datang ke sini, karena Hessa nggak mau kenalan dengannya, tapi mamanya memaksa. Dia merasa nggak tepat berada di sana sementara kamu nggak ingin melihatnya. Papa rasa dia bukan orang yang memaksakan kehendak. Dia tidak memaksa kalau orang tidak mau. Apa dia menekan kamu untuk memberi jawaban?”



Hessa menggelengkan kepalanya. Afnan bilang terserah Hessa, jawaban ‘tidak’ dari Hessa pun akan diterimanya.



“Hahaha ... kalau kamu mau menikah dengannya, dia akan menghormati keputusanmu, pilihanmu, nggak masalah kalau kamu nggak setuju dengannya dalam menentukan sesuatu. Keuntungannya juga, mamanya, wanita nomor satu dalam hidupnya, yang paling pertama dicintainya, menyukaimu. Juga adik perempuannya, fans nomor satunya, juga menyukaimu. Kalau kamu dengan laki-laki lain, belum pasti ibunya suka padamu.”



Papanya memberi alasan yang sangat bagus untuknya.



“Kalau kamu mau menikah dengannya, bicarakan tentang



... money, agreement on children sebelum kalian menikah. Kebanyakan perceraian disebabkan oleh itu. Terutama masalah uang. Itu sensitif sekali, Hessa. Berapa banyak pasangan yang berpisah karena merasa suaminya nggak memberinya cukup uang. Padahal bisa jadi dialah yang nggak pandai mengaturnya. Boros di sana sini, menurutkan gaya hidupnya.”



“Pernikahan kalian mungkin nggak mudah. Karena kalian baru kenal, mungkin beberapa tahun pertama masih akan penuh dengan pelajaran komunikasi, kompromi, penyesuaian diri. Tapi akhirnya kalian akan bahagia nanti, seperti Mama dan Papa ini. Perlu waktu juga kesabaran. Yang banyak sekali.”



“Tapi Afnan sudah bilang, Pa ... kalau menikah dengannya harus pindah ke sana ... ikut sama dia.” Hessa menyampaikan satu keberatannya.



Bagaimana mungkin dia pergi jauh dari rumah dengan orang yang baru dikenalnya? Jauh dari siapa-siapa. Jauh dari keluarganya.



“Hessa nggak pernah kan jauh dari Papa dan Mama. Siapa yang nemenin Mama masak, mijitin Mama kalau Mama masuk angin. Siapa yang bikinin Papa kopi spesial kalau Hessa nggak ada?” Hessa melanjutkan.



“Hahahaha ... ya bener juga. Dulu waktu kecil kamu sering berdiri di depan pintu. Nunggu Papa pulang kerja. Rasanya capek Papa langsung hilang lihat kamu tersenyum. Padahal Papa dulu jarang bawain oleh-oleh, kalau nggak gajian. Tapi kamu nggak pernah marah sama Papa, malah seneng cuma dipangku Papa terus dengerin Papa cerita. Kamu memang anak Papa yang paling baik. Papa dan Mama selalu bisa mengandalkan kamu. Membayangkan tinggal jauh dari kamu juga sebenarnya Papa nggak pernah. Papa dan Mama akan senang saat tua ditemani Hessa.”



“Tapi ada orang lain yang membutuhkanmu untuk bersama mereka. Anak-anakmu kelak. Mereka lebih membutuhkanmu. Mama dan Papa bisa tua dengan pengasuh atau di panti, tapi anak-anakmu nggak boleh. Masa depan mereka sangat panjang dan membutuhkanmu menuju ke sana.”



“Papa!”



“Ya?”



“Hessa sayang Papa.” Hessa merasakan suaranya tercekat di tenggorokan. Selama ada papanya, Hessa selalu merasa hidupnya aman. Tidak akan ada yang bisa menyakitinya.



“Papa tahu, Hessa.” Papanya tersenyum lebar.



“Hessa sayang banget sama Papa.” Hessa merasakan air matanya mengalir. Betapa banyak yang sudah dilakukan kedua orangtuanya untuknya. Papanya yang bekerja keras untuknya, pulang malam dan mencari banyak narasumber agar Hessa dan adiknya bisa makan dengan layak. Mamanya yang selalu memastikan Hessa dan adiknya sudah kenyang dulu baru makan. Urusan ini sederhana tapi tidak pernah disadarinya. Dia hanya menambah beban pikiran mamanya dengan tidak juga mau menikah. Seharusnya dia menikah lalu adiknya bisa segera mengiyakan lamaran pacarnya. Mama dan papanya menjalani hidup dengan tenang karena telah memercayakan tanggung jawab atas putri-putrinya kepada laki-laki yang mereka percaya.



“Papa ... Afnan ” Hessa berusaha membawa pembicaraan ke arah yang benar.



“Di antara semua teman laki-lakimu yang pernah datang ke rumah, Papa kira Papa bisa percaya padanya. Tapi tentu saja pertimbangan utama adalah hatimu. Kalau kamu nggak mau, nggak usah dipaksakan,” papanya menjawab.



“Apa Hessa harus hidup sama dia di Aarhus?”




“Tapi, Pa. ”



“Hessa nggak kenal dia, kalau dia jahat Hessa harus lari ke mana?”



“Papa yang akan menjemputmu ke sana. Tentu saja akan Papa patahkan kakinya lebih dulu. Tapi dia nggak akan melakukannya. Mama kalian bersahabat dan dia itu baik pada mamanya, dia nggak akan merusak persahabatan mamanya.”



“Kami nggak saling cinta.” Hessa menggumam.



“Hmmm ... benar. Papa nggak pernah berada dalam



posisi itu. Papa dan Mama saling mencintai saat memutuskan menikah. Tapi nenek dulu menikah dengan kakek karena dijodohkan. Nenek pernah cerita bahwa dia kabur sebelum hari pernikahan, tapi tertangkap juga. Nenek nggak suka dengan kakek dan mengeluh terus hampir sepanjang hidupnya. Saat kakek meninggal, kamu sudah besar waktu itu, kita lihat nenek yang berbeda. Tidak semangat lagi, sering memeluk sarung kakek ... kita tahu itu adalah cinta. Apa pun pengertiannya.”



“Jangan terlalu lama memberi jawaban, biar Afnan nggak lama menyia-nyiakan waktunya.”



Tidak ada yang lebih memberatkan Hessa daripada memikirkan meninggalkan negara ini. Siapa yang punya aturan bahwa wanita harus ikut suaminya ke mana saja setelah menikah?



“Hessa!”



Hessa membuka matanya mendengar suara mamanya. Hessa berdiri dan berjalan keluar kamar.



***



Hessa duduk di ruang makan, mamanya sudah hampir siap dengan makan malam mereka. Papanya masih di kantor, pulang sedikit terlambat.



“Mama...!”



Hessa menggigit bibir bawahnya.



“Ada apa?” Mamanya melepaskan sarung tangan dan memandang wajah Hessa.



“Aku ... mau menikah.” Hessa memberi tahu mamanya.



“Apa???” Mamanya sedikit kaget, lalu tertawa.



“Iya, Ma. Aku mau menikah,” Hessa mengulanginya lagi.



“Sama siapa?” mamanya masih belum bisa percaya.



“Afnan.”



“Yang bener kamu, Hessa?”



“Mama ... Hessa ketemu Afnan setelah dia ke sini dulu. Ketemu di luar. Nggak ngasih tahu Mama ... terus dia membicarakan pernikahan dan ... yah.”Hessa mengakhiri



ceritanya.



“Kamu mau menikah sama dia?” Mamanya sudah berdiri tepat di depannya.



Hessa menganggukkan kepala.



“Oh, Tuhan!” Mamanya langsung memeluknya. Lalu menciumi wajahnya.



“Mama. !”



Hessa melihat mata mamanya berkaca-kaca.



“Putri kecilku sudah dewasa, sudah besar sekali dan dia akan menikah.” Mamanya memeluknya lagi.



“Afnan bilang dia minta maaf karena nggak bisa datang ketemu Mama dan Papa untuk melamar Hessa.” Hessa menyampaikan permintaan maaf Afnan.



“Oh ya, kan mahal kalau dia bolak-balik ke sini. Lalu



kapan kalian menikah?”



“Tiga bulan lagi saat Afnan dapat cuti. Kalau waktunya cukup.”



“Tentu saja cukup. Mama akan bicarakan dengan Kana. Ah, ini cita-cita Mama dulu. Kalau Mama ingin Hessa menikah dengan anaknya. Anak-anaknya baik.”



Hessa tersenyum, mamanya terlihat bahagia sekali. Sepertinya ini pilihan yang baik yang sudah dibuatnya. Mamanya sudah merawatnya dan menemaninya selama hampir 30 tahun. Siang dan malam mamanya menjaganya, sejak dia masih bayi dan tidak bisa apa-apa, melihatnya tumbuh dan menjadi remaja, sampai hari ini, saat dia sudah menjadi wanita dewasa. Mamanya yang selalu sabar merawatnya saat dia sedang sakit, membantunya belajar setiap malam, selalu berusaha memenuhi keinginannya, dan menjadikan Hessa—juga adiknya—sebagai prioritas utama hidupnya. Berapa kali seorang ibu mengesampingkan keinginannya sendiri demi mendahulukan kebahagiaan anaknya? Membuat mamanya bahagia saja tidak akan pernah menjadi harga yang pantas untuk membalas jasa-jasanya.



“Apa kamu bahagia?” Mamanya bertanya.



“Aku akan bahagia, Ma...!”



Hessa sendiri tidak yakin. Ini seperti sebuah taruhan, Hessa tidak tahu apakah akan menang atau kalah. Keputusan ini adalah keputusan terbesar yang pernah dibuatnya dalam hidup. Menikah dengan orang yang tidak dicintai mungkin bisa membuatnya tidak bahagia selama sisa hidupnya. Penderitaan karena salah menikah bisa jadi harus dihadapi selamanya.



“Tapi ... kenapa kamu tiba-tiba mau menikah sama dia? Kemarin kamu alot banget disuruh kenalan aja.” Mamanya tertawa pelan ketika menanyakan ini.



Hessa tidak pernah punya jawaban pasti untuk ini.



“Karena Afnan adalah pilihan yang baik. Mama dan Papa



juga percaya padanya, kan?”



Hessa sudah melihat daftar prestasi Afnan, juga karena apa dia jadi lulusan terbaik. Afnan dan pekerjaannya. Hessa melihat Afnan menjalani apa saja dengan sungguh-sungguh dan selalu melakukan yang terbaik. Hidup tidak pernah mudah. Hessa memerlukan orang yang mau bekerja keras untuk mendapatkan apa yang dia inginkan dan mau bekerja keras juga untuk membuat pernikahan mereka berjalan baik. Tidak perlu bahagia, Hessa perlu ini semua berjalan baik. Dia tidak memasang harapan terlalu tinggi.



Afnan adalah orang yang kuat dan percaya diri. Suatu saat nanti akan ada masa di mana Hessa ragu-ragu dan hilang arah, Hessa memerlukan Afnan untuk membimbingnya kembali.



“Semoga benar ini pilihan yang baik. Mama dan Papa selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu dan adikmu. Mama dan Papa nggak ingin melepaskanmu kepada orang ... sembarang orang ... harus orang yang baik ... terbaik.”



Hessa tersenyum.