
"Dady daftarin Zizy di universitas xxx, ya?", Vinzy langsung memberondong ayahnya dengan pertanyaan saat melihat sang kepala rumah tangga itu turun dari kamar mau menuju dapur mencari istrinya.
"Hm...", hanya deheman yang Vinzy dapat.
"Dad... Serius Zizy nanya ini...", desak Vinzy.
"Hmmm...", lagi-lagi hanya deheman yang didapat.
"Momy.... Apa bener Dady daftarin Zizy di universitas Xxx?", tak mendapat jawaban dari sang ayah, Vinzy beralih ke sang ibu.
"Coba tanya Dady deh...", jawaban yang tak diduga dari sang ibu.
"Ya sudah, kalau gak ada yang jawab, Zizy gak mau ya ikut tes masuk ke universitas itu...", ancam Vinzy.
"Terserah kamu.. Yang sekolah kan kamu? bukan Dady, Momy atau Abang... Rugi kamu sendiri... Udah delapan belas tahun kan? Kalau kamu mau sekolah ya Dady sama Momy siapkan uangnya, cuma kalau tidak mau ya uang yang sudah kami siapkan untukmu dibuat modal bisnis Momy yang lain lagi...", panjang lebar sang ibu berucap sambil berjalan kesana kemari diikuti asisten rumah tangganya untuk menata meja makan.
"Jadi Dady yang udah daftarin kan??", lagi Vinzy masih bertanya dengan penasaran.
"Apaaan sih, dek? Ribut mulu..", ucap Samuel yang baru datang ke ruang makan beserta calon istrinya.
"Ehhh ada calon mantu...", sapa sang momy yang senang melihat Christine.
"Selamat malam, Tan, Om, Vinzy.. Maaf tidak sempat membantu Tante menyiapkan makan malam, soalnya Pak Sam tadi harus meeting dengan klien via Zoom makanya saya harus tetap stay di ruang kerjanya..", ucap Christine panjang lebar merasa tidak enak dengan calon mertua dan adik ipar.
"Gak apa-apa cantik... Nyicil duluan juga boleh kok...", balas sang momy menyeringai membuat Samuel yang sedang minum air pun tersedak.
"Mommm, apaan sih...", protes Samuel, sedangkan Christine jangan ditanya, wajahnya sudah memerah.
"Abang mau nyicil apa? Mobil?", tanya Vinzy polos, padahal tadi pertanyaannya belum mendapat jawaban dari kedua orang tuanya.
"Urusan orang dewasa, anak kecil gak boleh tahu...!", jawab Sam sekenanya. "Oh ya, Zizy jadi kuliah di sini, Dad?", tanya Samuel yang membuat Vinzy menoleh ke arah abangnya.
"Gak tahu, tanya aja sama orangnya, tugas Dady hanya mendaftar dan menyiapkan uang buat sekolahnya nanti kalau dia mau sekolah..", jawab Dady Alkesander seadanya.
"Jadi beneran Dady kan yang daftarin aku di universitas xxx?", Vinzy kini yang berganti tanya.
"Hmmm.. Di jurusan IT sesuai basic dan kemauan kamu...", jawab Dady santai.
"Kok Dady tahu aku suka bidang teknologi?", tanya Vinzy penasaran, pasalnya selama ini sang ayah terlihat sangat sibuk di kantor sehingga rasa-rasanya tidak mungkin beliau mengetahui kesukaan serta hobinya selama ini.
"Sudah, ayo makan.....", ajak sang ibu menengahi. "Zizy pimpin doa sebelum makan..", perintah sang ibu negara tidak ingin dibantah.
.
.
.
.
"Bagaimana persiapan pernikahan kalian?", tanya Dady serius setelah mereka selesai makan malam dan sedang bersantai di gazebo samping rumah.
"Kami masih sibuk soal proyek baru yang beberapa hari lalu kita menangi tendernya, Dad.. Jadi untuk persiapan pernikahan nanti dulu...", jawab Samuel santai.
"Tidak bisa... Pernikahan kalian tiga bulan lagi... itu cepat loh... belum gedung, dekorasi, tema, undangan dan sebagainya.... Jadi segera mungkin mengurusnya...", desak sang momy.
"Momy tersayang, coba deh tanya Dady seberapa pentingnya proyek baru itu untuk perusahaan kita? Makanya aku sama Christine sangat sibuk di kantor buat ngurusin proyek itu yang sekiranya sudah harus berjalan bulan depan...", jawab Samuel.
Christine hanya diam dan mendengar perdebatan yang dilakukan keluarga kecil di depannya ini.
"Biar nanti Dady yang tangani dulu proyek ini... Kamu urusi pernikahanmu dengan Christine biar secepatnya beres, daripada ditikung sama orang calon mantu Dady yang cantik ini tapi lebih cantik Momy...", nyengir Dady mencoba mencairkan suasana.
"Ditikungpun gak masalah...", sahut Sam acuh.
Plak....
Tiba-tiba sebuah telapak tangan langsung kena di kepala pria yang hampir memasuki usia dua puluh enam tahun itu.
"Aishhhh....", adunya sambil melihat pelototan mata sang momy yang hampir keluar.
"Apa? Bilang sekali lagi... Gak ada ya... Dad majukan bulan depan pernikahan mereka...!", perintah serius sang ibu.
"Tapi, Tan...", Christine yang hendak protes pun langsung terdiam setelah melihat sorot mata sang calon mertua.
"Kami akan menyampaikan ini kepada orang tuamu.. Minggu depan kami akan melamarmu secara resmi..", putus sang ibu tanpa mau dibantah.
Christine hanya mengangguk.
Sebenarnya ia pun tertarik dengan asprinya, namun belum bisa memastikan perasaan apa ini sedangkan dia sendiri tidak terlalu percaya soal cinta, karena baginya cinta itu hanya bagi orang yang saling membutuhkan dan membuat mereka lemah.
"Kamu akan tahu enaknya saat menikah...", ucap sang ayah lngsung beranjak pergi dari gazebo menyusul istrinya yang sudah lebih dulu.
.
.
"Kalau bapak keberatan, saya akan mencari waktu berbicara dengan Tante soal ini ..", ucap Christine saat mereka hanya berdua saja.
"Tidak perlu... Mari kita menikah...", jawaban Samuel tanpa diduga.
"Tapi, Pak.....", Christine mau membatah namun tiba-tiba bibirnya dibungkam oleh bibir Sam.
Mata Christine melotot. Ia tidak menyangka serangan tiba-tiba ini. Mulutnya terpaksa terbuka karena gigitan kecil dari Sam.
Lihai? Oh tentu.. Secara naluri apalagi Sam sering menonton film yang ada adegan kissingnya, jadilah malam itu saksi first kiss kedua pasangan itu juga jangan lupa bahwa Vinzy yang hendak menghampiri mereka pun dibuat ternoda matanya.
"****.... Abang..... Momy... Momy.....", teriak Vinzy karena kaget abangnya yang terkenal dingin, cool dan sebagainya itu lihai dalam beradu bibir.
"Momy... Momy.... Dady... Abang nakal...", lagi Vinzy berteriak hingga ayah dan ibunya datang mendekat.
"Kenapa teriak Zizy?", ketus sang ibu.
"Abang cium kak Christine, Mom...", adu Vinzy langsung.
Dady dan Momy langsung menatap kedua insan yang ketahuan sedang bermesraan itu.
Yang di tatap hanya menyengir kuda.
"Katanya biar ditikung.. Eh sakarang malah nyosor duluan...", goda ibu negara.
"Anu, itu anu Tan..", Christine hendak membuat alibi namun ditatap nyalang calon mertua membuatnya hanya menunduk.
"Antar anak orang pulang sekarang Sam sebelum hal lain berlanjut...", perintah sang Dady dingin. "Ahhh ya, Katakan pada orang tuamu Sabtu Minggu depan kami akan melamarmu secara resmi...", pesan Dady Aleksander pada Christine.
"I...ya.... Om... Saya pamit... Tante.... Vinzy...", pamit Christine malu-malu.
"Cieee... Abang... Cie....", goda Vinzy. "Hati-hati, kak nanti Abang nyosor lagi...".
Samuel yang mendengar itu pun mendengus kesal.
.
.
.
.
"Maaf soal yang tadi...", ucap Samuel pelan saat kedua sejoli itu sudah berada di area halaman rumah Christine namun belum keluar dari mobil.
"Tidak apa-apa, Paa..k", jawab Christine malu-malu meong.
"Jangan panggil Pak.. Kita sebentar lagi menikah..".
"Lalu saya harus panggil apa?", Christine bertanya sambil menatap Samuel.
"Sa....yang, mungkin.....", jawab Samuel terbata.
Mereka berdua akhirnya saling menatap.
Cup.
"Selamat malam. Ibumu sudah menunggu di teras...", ucap Samuel sambil menghapus slivanya di area bibir sang calon istri.
"Ahhh, iya.. Selamat malam...", jawab Christine langsung keluar dari mobil Samuel.
"ahhh hatimu berdebar...", lirih Samuel.
...----------------...
TBC.....