
Malam harinya.
"Paman kira kalian tidak mau datang untuk menemui paman dan bibi?", ucap Dady Aleksander sambil memeluk kedua pemuda yang bertamu di rumahnya itu.
"Ohhh sayang, anak-anak bibi ternyata sudah dewasa...", tidak kalah sang istri juga menyambut mereka. "Ayooo mari masuk..".
"Kak Samuel di mana, Bibi?", Ryand bertanya.
"Lagi nganter calon istrinya pulang...", jawab Momy.
"Ohhh... Apa kabar, Paman?", kini Ryand balik bertanya kabar.
"Paman dan Bibimu ini baik-baik saja...", jawab Dady. "Aken, kau akan tetap kaku seperti itu, hm?".
Aken menggaruk tengkuknya. Ia tidak terbiasa dengan keluarga Aleksander karena ia lebih sering berlatih menjadi asisten yang pantas untuk Ryand Smith.
"Maaf, Tuan...", Aken menyahut dengan jawaban resmi.
"Heiii ada apa dengan cara bicaramu itu? Sekalipun kita jarang bertemu dan berkomunikasi, namun kau sudah kami anggap sebagai keluarga.", protes Dady Aleksander diikuti oleh Sang istri.
"Maafkan saya, paman..", jawab Aken.
"Nah, begitu bagus...".
Mereka berempat bercerita di ruang keluarga. Vinzy yang hendak keluar kamar pun mendengar ribut-ribut di bawah ruang keluarga itu. Gadis itu pun turun dan berjalan menuju ka arah suara.
"Zizy, ayoo ke sini...", sang momy yang melihat Vinzy mendekat mengajak anak gadisnya itu bergabung.
Dari jauh ia merasa tidak asing dengan muka salah satu pria yang ada di sana.
"Ryand, Aken, kenalkan ini anak bungsu paman dan Bibi... Namanya Vinzy..", Momy memperkenalkan Vinzy.
"Ehh, om yang tadi di cafe kan?", tanya Vinzy saat menatap Aken.
"Kalian saling kenal?", Dady Aleksander bertanya heran.
"Tidak paman, tadi hanya ada insiden kecil saja..", jawab Aken.
"Apa yang terjadi?", Momy penasaran.
"Bukan hal besar, bibi....", lagi Aken menjawab.
Ryand diam dan terus memperhatikan gadis di depannya ini. Dady Aleksander melihat itu.
"Kau ingat gadis kecil yang paman pernah tunjukan saat paman mengunjungimu di London?", tanya Dady Aleksander diangguki oleh Ryand.
"Ini orangnya... Sudah cantik namun pemalas minta ampun..", langsung Dady Aleksander berujar tanpa perlu memperhatikan perasaan anak gadisnya.
"Hahahaha.. Paman bisa saja...", Ryand hanya menyambut dengan tertawa.
"Kenalkan, nama saya Ryand Smith", ucap Ryand langsung memperkenalkan diri kepada anak gadis di depannya yang masih berdiri mendelik ke arah Dady itu.
"Oh ya, Vinzy... Orang rumah biasa memanggilku Zizy, tapi teman-temanku memanggilku V...", balas gadis itu.
"Bagaimana perusahaan?", tanya Dady Aleksander setelah sesi perkenalan Vinzy, Ryand dan Aken selesai.
"Baik-baik saja, Paman.. Paman tentu tau kan? Cuma yaa begitulah, debu-debu kecil masih berserakan perlu dikebas...", jawab Ryand.
"Kantor kakak penuh debu?", Vinzy yang menyimak itu bertanya.
"Hahahahhaa.....", Aken yang mendengar pertanyaan itu sontak tertawa. Laki-laki yang penuh waspada itu tidak biasanya tertawa.
Vinzy menatap nyalang.
"Om, jangan tertawain Zizy.. Nanti jadi perjalan tua...", sumpah Vinzy yang membuat Aken terdiam namun Ryand yang bergantian tertawa.
"Kakak juga jangan tertawa...", Vinzy beralih ke arah Ryand.
"Aku tidak menertawakan mu, tetapi dia...", Ryand menunjuk Aken.
"Kenapa?", Vinzy yang bertanya.
Dady Aleksander dan istrinya pun hanya menggeleng melihat tingkah Vinzy.
"Sementara dikerjakan paman...", jawab Ryand.
"Anak buah paman stand by jika kau perlukan...".
"Terima kasih paman...", ryand berucap sungguh.
"Dad, bahas apa sih?", Vinzy bertanya karena ia benar tidak mengerti.
"Urusan orang dewasa.. Sudah ayo kita makan malam... Samuel pasti akan telat pulang kalau sudah mengantar Christine..", Momy kali ini yang berucap mengajak yang lainnya untuk makan malam.
Pembicaraan mereka berlanjut setelah makan malam.
"Jadi rencana kalian bagaimana setelah ini?", Lagi Dady Aleksander bertanya.
"Seperti yang sudah paman sarankan sebelum kami kembali ke negara ini.. Perusahaan akan tetap dijalankan seperti biasa, apa lagi Sandoro group pun sudah bergabung dengan Smith Group.. Mohon bantuan paman juga agar kami mengelolahnya semakin baik..", jawab Ryand merendah.
"Hahahah.. Kau terlalu merendah, Ryand.. Paman sangat bangga, baru dua tahu kalian menjabat, Smith Group sudah sebesar ini...", Dady Alkesander mengakui sekalipun ia memang sering membantu dalam saran dan sebaginya, namun kemampuan kedua anak muda yang berada di depannya ini tidak perlu diragukan. Maklum, keturunan pembisnis handal.
Jangan ditanya Vinzy kemana? Dia sudah berada di dalam kamarnya bermain media sosial miliknya. Sedangkan sang istri ada sedikit urusan teleponan dengan teman sosialita jadi di ruang keluarga itu tinggal tiga orang pria berbeda usia yang membahas perusahaan.
Samuel? Hahahah.. Pria itu jangan diganggu. Setelah malam mendapat cicipan pertama waktu itu, ia tidak akan pernah pulang tepat waktu lagi... Selalu mengajak Christine untuk ke apartemennya lebih dulu.. Istilahnya DP duluan. Rumah kali ya?
Balik ke laptop.
"Kalian harus tetap hati-hati... Dalang dari peristiwa lima tahun lalu yang membuat kalian jadi seperti ini belum diketahui.. Paman sudah berusaha semaksimal mungkin mencari kebenarannya, namun sepertinya orang di balik kejadian itu sangat lihai menyembunyikan diri..", Dady terdiam tiba-tiba mengingat sahabatnya yang sudah meninggal.
"Tenanglah paman... Kami berdua pun selama ini juga sudah bertindak mencari kebenaran, namun sayang seolah semua tertutup rapih sekali..", Ryand pun menjawab.
"Jangan menyerah.. Paman berjanji, sampai kapan pun paman akan tetap mencari kebenaran dari peristiwa itu...".
Mereka bertiga terdiam sampai seseorang yang harusnya ada dari tadi bersuara.
"Selamat malam...", ucap Samuel ketika dirinya sudah berada di ruang keluarga.
"Malam, Kak....", jawab Ryand dan Aken bersamaan.
"Hm...", hanya deheman yang didapat dari sang ayah.
"Lama sekali hanya mengantar calon istrimu itu pulang?", Dady Aleksander bertanya.
"Ahhh, kami berdua masih singgah di tempat temannya, Dad.. Katanya Dia ada perlu sebentar..", jawab Samuel beralibi.
"Ohhh temannya?", Sang Momy menyambar.
"Iya, Mom...", jawab Samuel menyengir.
"Sini kau....!", Momy langsung menjewer telinga sang putra.
"Aduhhh Momy.. Kenapa?", tanya Samuel heran.
"Kau menjual nama menantuku hanya untuk menutupi kelakuan bejatmu itu ha??", ucapan Momy membuat Dady Aleksander mengernyit heran.
"Anak buah Dady belum memberikan laporan?", tanya Momy karena Dady melihatnya heran.
Dady menggeleng karena memang handphonenya berada di dalam kamar.
"Samuel... !!! Tunggu sampai menikah baru kau mau berbuat apa dengan Christine terserah Momy tidak akan ikut campur.. Tapi ini? Ntar malam pertamamu gak akan nikmat....", ucapan Momy membuat ketiga pria di depannya itu kini mengerti.
Samuel menyengir. Ia paham tatapan Dady yang seolah mengulitinya itu.
"Mulai besok Christine akan diberi cuti sampai kalian menikah dan tidak diperbolehkan kalian bertemu.. Dady akan membicarakan ini dengan orang tuanya...", Telak.
Samuel seolah kehabisan napas. Bagaimana mungkin? Ia tidak rela jika berlaku demikian.
Ia yang awalnya menolak menikah, kini menjadi ketagihan setelah tindakan DP (pamalah yaa readres?) dengan Christine dilakukan.
"Dad... Pleaseee.....",
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"TBC.........