
Hari berganti. Kehidupan Vinzy berubah drastis karena hukuman sang Dady. Ke sekolah naik angkot dengan uang saku 50 ribu yang harus dihemat agar ia bisa pulang ke rumah. Kabur sebagai bentuk protes? Oh tidak... Hari itu juga ia akan diberangkatkan ke Islandia.
"Uhhhhh, yessssss.... Selesai sudah...... Fasilitas, come back to mama..", teriak Diandra di atas rooftop sekolah.
Hari terakhir ujian akhir sekolah. Seharusnya membawa kebahagiaan bagi Vinzy, namun apalah daya. Ia belum bisa memastikan kapan fasilitasnya dikembalikan sang Dady.
Berbeda dengan Vinzy, Diandra dan Sesilia mendapatkan kembali fasilitas mereka yang selama ini sementara dicabut oleh orang tua, maka dari itu mereka berteriak kegirangan.
"Berisik.....", gerutu Vinzy.
"Yang sabar ya, beb....", ucap Sesilia menghibur. Lebih tepatnya sekaligus mengejek.
"Awassss, minggir... Gue mau balik...", ujar Vinzy langsung cabut dari tempat itu.
"Maen pulang aja.. Woeee, tungguin....", balas Diandra kelabakan mengikuti Vinzy yang sudah turun duluan.
Seselia pun ikut dengan sedikit berlari menyusul keduanya.
"Ke rumah gue yuk daripada Lo bete? Tenang, papa sama mama lagi ke Jepang...", ajak Diandra setelah sejajar dengan Vinzy.
"Ogahhh... Gue mau balik, bobo biar tetap cantik...", balas Vinzy sekenanya.
"Ayolah... Girls time.. Udah lama kita gak ngumpul bareng...", bujuk Sesilia.
Vinzy berpikir sejenak.
"Kuylah...", mereka bertiga akhirnya balik ke rumah Diandra.
.
.
.
"Tolong teleponin Abang, bilang gue di rumah Lo...", pinta Vinzy setelah mereka bertiga berada di dalam kamar Diandra.
"Oke... Beres..", jawab Diandra.
Diandra membuka salah satu aplikasi untuk menghubungi Samuel. Jangan tanya bagaimana dia tahu nomor Abangnya Vinzy. Pikir saja, ketiga gadis itu berteman dengan Vinzy dari kecil, ya pasti tahulah..
"Abang, V lagi di rumah sama aku dan Sesil..", lapor Diandra setelah teleponnya tersambung Samuel.
"Mana? Abang alihkan ke Video Call...", ucap dari seberang dan langsung mengalihkan panggilan menjadi video.
"Ini, Abang... Gak percayaan banget sih.... Noh, itu V sama Sesil lagi nonton Drakor...", ketua Diandra.
"Baguslah.. Tanya Zizy pulang jam berapa, biar Abang jemput?".
"Iya... V... Abang Sam nanya mau pulang jam berapa?", tanya Diandra.
"Terserah Abang mau jemputnya jam berapa....", jawab Vinzy.
Jawaban itu pun terdengar sampai ke seberang telpon, jadi Sam tidak harus bertanya lagi.
"Ya sudah, Abang pulang kantor baru Abang jemput.", langsung mematikan panggilannya.
"Ishhhhh... Salam sayang dulu kek apa kek, main matiin aja...", gerutu Diandra.
"Napa Lo?", tanya Sesilia.
"Noh abangnya tu, batu mungkin itu manusia.. Basa-basi dikit ke apa ke...", jawab kesal Diandra.
Vinzy yang ditunjuk pun hanya mengedipkan bahunya saja.
"Emang Abang Lo belom punya pacar, V?", tanya Sesil penasaran.
"Tanya sendiri sama orangnya kalau ntar dia jemput...", jawab acuh Vinzy karena ia sedang asik menonton Drakor yang lagi on going.
"Padahal asprinya Bang Sam cantik banget... Gue pernah ketemu waktu itu di restaurant.. Asli... Kulitnya mulus banget...", puji Sesilia.
Diandra yang mendengar itu kesal, pasalnya ia sangat-sangat mengagumi sosok Samuel Aleksander.
"Nih denger ya Tante-tante rempong.... Jangankan asprinya bang Samuel, seluruh karyawan yang bernaung di bawah asuhan Abang Sam, semuanya pada cantik-cantik dan seksi. Dan dari semuanya itu, belum ada yang buat dia tertarik untuk dijadikan pacar ataupun istri...", jawab Vinzy panjang lebar sekaligus kesal karena terganggu.
"Jangan-jangan......", Sesil menduga.
"Jangan-jangan apa? Yayangku itu gak mungkin belok yaaa...", ucap Diandra spontan.
Kedua sahabatnya pun langsung menghujam dengan tatapan penasaran lalu tertawa.
"Hahahahahhaahahaha...", keduanya tertawa sangat keras sampai-sampai adik perempuan Diandra yang berada di kamar sebelah terganggu.
"Kenapa emang?", tanya Diandra polos.
"Lo denger kan yang gue bilang tadi? Abang itu penyuka cewe cantik dan seksi makanya di kantornya itu semuanya sesuai dengan kriteria Abang... dan Lo... Sangat jauh dari kriteria Abang...", ucap Vinzy.
Diandra pun menelisik tubuhnya.
"Banyakin olahraga, neng.....", saran Sesilia.
Mereka berdua pun kembali tertawa melihat Diandra yang kini lesu.
"Sudahlah... Kan ini kita udah selesai ujian kan? Jadi Lo bisa deh olahraga bentukin badan Lo... Lo make instruktur gue deh.. nanti gue kasih nomornya..", lanjut Vinzy karena tidak tega melihat sahabatnya insecure.
Mendengar itu Diandra pun tersenyum. Ia bertekad untuk merubah penampilannya agar terlihat di mata Samuel abangya Vinzy.
"Udah, lanjut lagi nontonnya...", ajak Sesilia.
Mereka bertiga pun melanjutkan menonton drama Korea yang tadi sedikit terjeda akibat pembahasan Samuel.
.
.
.
Di kantor JA Group.
"Agenda siang ini apa, Christine?", tanya Samuel.
"Makan siang dengan Presdir, lalu meeting di tempat yang sama, Pak...", jawab Christine sang Aspri.
"Oh... Presdir tidak pulang ke rumah? Biasanya beliau pulang...".
"Saya kurang tahu, Pak... Mungkin ada hal penting yang mau dibahas, sehingga Presdir menyuruh saya menjadwalkan makan siang bersama anda di tempat yang akan kita jadikan meeting bersama klien, biar tidak bolak balik...", panjang lebar Christine menjelaskan.
Samuel hanya mengangguk. Ia menebak-nebak apa yang akan disampaikan oleh Ayahnya. Tumben? Biasanya Beliau setiap makan siang akan selalu pulang ke rumah, atau sang istri yang datang membawa makanan ke kantor.
Waktu makan siang.
"Udah lama, Dad?", tanya Samuel setelah ia sudah duduk di hadapan sang ayah.
"Baru sampai.. Duduk Cristine...!", jawab Dady lalu mempersilahkan Aspri anaknya untuk ikut duduk.
"Kenapa, Dad?", tanya Samuel penasaran.
"Pesan makan dulu... Penasaran amat....", jawab Dadynya sambil tersenyum.
"Ishhhh...." gerutu Samuel kecil namun masih terdengar di telinga asprinya.
Dady makan dengan tenang menikmati makanannya, begitupun Christine. Lain lagi dengan Samuel yang penasaran hingga menelan makanannya dengan buru-buru.
"Uhukkk".
Dengan cepat Christine menyodorkan air untuk diminum sang bos.
"Terima kasih...", ucap Samuel dibalas anggukan oleh asprinya itu.
beberapa saat setelah makan.
"Christine sudah punya pacar?", tanya Dady langsung.
Samuel menatap Dady heran.
"Ngapain dad bertanya begitu? Mau nikah lagi yaaa?", asal Samuel.
"Terserah Dady dong.. Yang punya pertanyaan Dady.. Masa kamu yang sewot? dan satu lagi.. Momy mu itu segalanya buat Dady...", jawab Dady dengan santai.
"Terus ngapain?", lagi Samuel penasaran.
"Mau tau aja urusan orang dewasa", jawab Dady lagi dengan senyum aneh.
Christine yang mendengar keabsurdan ayah dan anak itu tersenyum simpul. Sangat cantik.
"Jawab Christine.. Sudah punya pacar kamu?", lagi Dady bertanya.
"Belum, Presdir.. Saya terlalu sibuk sehingga tidak punya waktu untuk memikirkan soal cinta...", jawab Christine pasti karena memang benar. Hampir dua puluh empat jam Christine mengurus urusan Samuel.
"Bagus... Pas...", senyum penuh misteri.
Samuel sudah merasa tidak enak.
"Nikahi anak saya ini tiga bulan lagi...", putus sang Presdir dengan telak membuat kedua orang yang duduk di depannya kaget dan terlihat seperti orang bodoh.
.
.
.
### TBC