
Malam tiba.
Kediaman Aleksander terasa seperti kuburan.
Vinzy yang diam tanda protes, begitupun sang Abang yang juga masih dalam mode protes, sedangkan orang tua mereka makan dengan tenang sesekali sang istri menambah lauk di piring suami begitupun sebaliknya.
"Dad.... Please... Fasilitas ku... Sesil dan Diandra sudah selesai dihukum, masa hukumanku terus berlanjut?", melas Vinzy di hadapan kedua orang tuanya.
"Fasilitasmu kembali namun kamu tinggal di Islandia, atau kamu tinggal di sini tanpa fasilitas sebelumnya kecuali uang saku mu Dady batasi...", jawab Dady Alkesander.
"Zizy tidak mau di Islandia, Dad... Oma sama Opa terlalu keras...!", keluh Vinzy.
"Ya sudah... Tinggal di sini saja dengan fasilitas seadanya dan uang saku terbatas. Kalau mau lebih, silahkan bekerja...", sambung Momy tersenyum.
Vinzy melirik Momy dengan tatapan permusuhan.
Momy tahu bahwa Vinzy tidak bisa apa-apa. Toh dari kecil Ia sudah dimanjakan dengan segalanya, sehingga anak itu hanya tahu masak Mie instan sekalipun kadang harus gosong.
"Momy mau lihat anak cantik dan manis Momy kesusahan? Orang tua macam apa itu..", bantah Vinzy.
"Ya orang tua macam kami lah... Iya kan Dad?", sahut Momy santai diikuti anggukan sang suami.
Vinzy menjadi kesal sendiri. Diliriknya sang kakak meminta pembelaan, namun yang dilirik hanya diam sambil memakan makanannya.
"Sssst.. Sttt.... Abang...", panggil Vinzy berbisik.
"Hm... Kenapa?", jawab Samuel singkat.
"Belain kek.. Apa kek....", adu Vinzy.
"Dad... Masa tiga bulan lagi? Umur ku baru segini masa harus menikah??", bukannya membela Vinzy, malahan Samuel mengajukan Protes.
"Jadi Christine sudah setuju, Dad?", Momy langsung lanjut dengan pertanyaan.
"Iya, Mom.. Christine sudah setuju..", Dady menjawab pertanyaan Momy memilih mengabaikan Samuel.
"Dad, aku yang bertanya loh.... Gimana sih?", protes Sam lagi.
"Abang akan menikah dengan Aspri Abang yang cantik itu?", tanya Vinzy penasaran dan diangguki oleh Abangnya.
"Wahhhhh... Ternyata, laku juga abangku... Gimana ceritanya sih, bang? Yaaaa wajar kalau Abang tertarik, toh kak Christine sangat cantik, cekatan juga kan....", Vinzy sendiri yang menjawab pertanyaannya.
"Dady yang meminta Christine menikahi abangmu..", jawab Dady cepat.
"What....? Ahhhh, abangku tidak gentle sekali...", Vinzy mengejek abangnya.
"Abang belum kepikiran nikah, noh pasangan di depan kita ini yang nyuruh Abang nikah biar cepat punya cucu...", kesal Samuel.
"Kembar ya, Abang...", Vinzy request. Dikira makanan apa ya?
"Huft....", Samuel menghela napas panjang kemudian bangkit dari tempat duduknya. "Aku sudah selesai. Ke kamar duluan.. Selamat malam...".
.
.
.
Di kamar Vinzy, ia dan kedua sahabatnya melakukan panggilan Video Call.
"Guysss, ada info sangat akurat...", Vinzy membuka obrolan.
"Apa?", Sahut Sesil dan Diandra bersamaan.
"Abang Samuel akan menikah...", jawab Vinzy santai.
"Serius?", Sesilia kaget.
"Lo Boong kan?", Diandra membantah.
"Beneran... Sama Kak Christine, Asprinya Abang..", lagi Vinzy menyahut.
"Wahhhh.... Sudah ku duga... Pantes sih.... Yaahh, ada yang patah hati...", goda Sesil.
"Sebelum janur kuning melengkung, aku masih bisa menikung...", Diandra kesal.
"Jangan ngadi-ngadi Lo... Gue pites jadi karet gelang Lo...", Vinzy mengancam.
"Tau tuh... Lo itu rata kek aspal, jadi mana maulah Abang Sam.. Lo sendirian udah lihat gimana Cantik dan seksinya Aspri Abang itu? Kalah jauh Lo...", Sesil mendukung Vinzy.
"Ehhhh, gue udah setuju yaa olahraga buat bentukin badan gue sama instrukturnya Vinzy, jadi masih ada tiga bulan buat gue ngerayu Abang Sam... Bye....", ucap Diandra yang kesal kemudian langsung mematikan panggilan videonya.
"Hahahahhaha....", Vinzy dan Sesilia tertawa lalu mematikan panggilan mereka.
.
.
.
.
.
Hari berjalan seperti biasa.
Sudah kesekian perusahaan ia mengirimkan lamarannya, entah mau jadi apa terserahlah, intinya dapet duit buat menunjang uang sakunya yang terbatas.
Di saat teman-temannya yang lain berlomba untuk mendaftarkan diri masuk ke universitas bergengsi, beda dengan Vinzy, ia sibuk mengurus CV biar diterima kerja.
"V, Lo mau kuliah di mana?", tanya Sesil yang sedang berkunjung ke rumah Vinzy barang tentu dengan Diandra.
"Emmm gak deh... Gue mau fokus nyari duit dulu...", jawab Vinzy seadanya.
"Jadi bener ni gak kuliah? Masa gitu Dady sama Momy?", Diandra berujar.
"Gak Taulah Gue... Yang Jelas sekarang gue lagi fokus ngelamar kerja...", Vinzy berusaha tersenyum.
"Ngelamar di perusahaan bokap gue, mau gak? Biar gue ngomong sama papi deh..", Sesilia mengajukan pendapat.
"Gue juga deh, nanti ngomong sama Ayah...", lanjut Diandra.
"Makasih guysss... Tapi kali ini biar gue berusaha semampu gue lah yaa?", jawab Vinzy.
Ketiga gadis beranjak dewas tersebut tidak tahu bahwa sang momy sedang menguping pembicaraan mereka.
Vinzy juga tidak mengetahui bahwa Dady sudah mendaftarkan dirinya berkuliah di universitas bergengsi di kota mereka tinggal.
Tiba-tiba ada pemberitahuan masuk ke handphone ketiga gadis itu.
"TERIMA KASIH SUDAH MENDAFTAR DI UNIVERSITAS XXX.., dst",..
Vinzy sangat heran karena ia juga mendapat pemberitahuan itu sama seperti kedua temannya itu padahal ia sama sekali tidak merasa pernah mendaftar di universitas tersebut.
"Wahhhh... Lo berusaha boongin kita ya? Lihatkan, Lo juga sama dapet pemberitahuan dari universitas xxx..", Diandra menuduh Vinzy.
"Ehhhh dodol, beneran, gue belom daftar di universitas manapun termasuk ini... Pasti ulah Dady atau Abang Sam ini...", bantah Vinzy.
"Mungkin, V... ", Sesilia ikut sepkata dengan Vinzy.
"Ntar Dady pulang biar gue tanyain dah...".
Mereka bertiga pun asik mengobrol tanpa mengingat waktu sudah menunjukan pukul lima sore.
"Udah jam lima.. Balik yuk....", ajak Sesilia.
"Emangnya Lo mau kemana sih pulang buru-buru banget...?", jawab Diandra.
"Gue ada janji Ama ayang.....", Sesilia menyengir kuda.
"Ntaran lagi lah.. Yaa ya ya...", ucap Diandra membujuk Sesilia.
"Bilang aja Lo nungguin Abang Sam pulang kantor kan? Palingan Lo sakit ati nanti.. Toh pasti pulang ke sini barengan Ama kak Christine...", Vinzy menebak.
"Tau aja lo..", nyengir Diandra.
"Huhhjj.. Ya udah deh... tapi kalo ntar Lo nangis di jalan, gue turunin Lo....", ancam Sesilia.
.
.
.
.
Waktu menunjukan pukul 18.09.
"Abang udah pulang.....", Vinzy memberikan informasi.
Dengan cepat Diandra bergegas keluar dari kamar Vinzy dan menuju ke ruang tamu.
"Ehhh Abang Samuel baru pulang...", Ucap Diandra.
"Ehhh ada si mata empat... Dari tadi...?", bukannya menjawab, Samuel balik bertanya.
"Ihhh Abang......", dengan gaya centilnya Diandra berusaha berucap manja.
"Kenapa, hm?? Mau permen? Sorry, Abang gak bawa permen... Nanti deh...", goda Samuel lagi pada sahabat adiknya itu yang sudah dia anggap sebagai adiknya juga.
"Hissss....", jengkel Diandra.
Vinzy dan Sesilia yang melihat itu pun terkikik geli.
"Christine, letakan itu di meja kerja saya, ya... Habis ini kita makan malam...", Samuel beralih pada asprinya dan diangguki oleh Christine tanpa menjawab.
Diandra memperhatikan cara jalan Christine yang elegan dan berkelas.
"Kalah jauh gue...", lirih gadis remaja itu dalam hati.
"Abang ke kamar dulu ya cantik.... Sampaikan salam buat ayah dan ibu kalau ntar kamu pulang...", Ujar Samuel dan berlalu pergi tanpa menunggu jawaban Diandra.
"Hahahahahhaahahaha"......
...****************...
TBC.....