My Babby Boss

My Babby Boss
3



"Turunan siapa sih kamu?", tanya Momy pada anak gadis yang tidak lain adalah Vinzy. "Kamu lagi, ini satu juga... Ngapain sih ikutan Zizy?", gerutu Momy.


"Tu.....", Vinzy hendak menjawab, namun pelototan mata sang harimau betina membuatnya tidak mampu melanjutkan jawabannya.


"Kalian berdua tunggu orang tua kalian di sini... Momy udah hubungi...", ucap Momy.


Mereka bertiga masih kode-kodean dalam posisi berdiri seperti tersangka.


"mampuskan? wah fasilitas gue....",


"bukan Lo doang, gue juga.. aduh kartu sakti gue...",


"Lo pada enak palingan di sita beberapa saat, lah gue? Islandia dan Opa-oma menanti di sana....",


"Kenapa kode-kode? hm??", tanya Momy. Ia melihat gerak mata ketiga anak gadis yang ada di depannya ini sedang membicarakan sesuatu.


"enggak kok, Momy....", jawab Diandra nyengir.


Dan akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang.


Ketiga anak gadis itu diinterogasi bagaikan tersangka oleh tiga pasang orang tua plus satu orang kakak laki-laki. Siapa lagi kalau bukan Samuel.


Beberapa jam mereka semua dibuat seolah jadi tersangka, akhirnya selesai juga. Namun tetap masing-masing dari mereka akan kena sanksi. Tergantung orang tua mereka.


Vinzy? jangan ditanya. Omelan masih berlaku setelah makan malam.


"Fasilitas kamu Dady cabut sampai selesai ujian akhir...", tegas sang Ayah.


"Kok gitu, Dad?", bantah Vinzy.


"Okey, Sampai kamu masuk kuliah di Islandia baru Dady kasih lagi...". Bukannya berkurang, malah hukumannya bertambah.


"No, Dad... Zizy gak mau ke Islandia...", jawab Vinzy tak kalah tegas.


"Kamu sadarkan di sini siapa yang salah?", tanya Dady.


"Iya, aku yang salah... Tapi tolong, Dad.. Jangan ke Islandia... Aku gak mau tinggal sama opa dan Oma..", lagi Vinzy membantah.


"Oke kalau begitu... Dady hanya akan membayar uang sekolahmu sampai kau lulus, juga uang jajanmu Dady potong.. Fasilitasmu Dady cabut.... Kalau mau, cari sendiri uang dan bertingkah sesukamu...", kesal Dady lalu beranjak pergi.


Samuel dan Momy hanya diam tak mau ikut campur.


"Dad... Dad... Gak bisa gitu dong... Dady.... Dady.....", namun percuma, yang dipanggil menulikan telinganya.


"Abang, bantuin.....", Vinzy beralih pada abangnya.


"Kamu masih di bawah tanggung jawab Dady, Zy... Jadi semua keputusan yang Dady buat, Abang tidak bisa ganggu gugat.. Maaf, ya....", jawab Samuel bijak.


"Mom......", Vinzy merengek pada sang Momy.


"Belajar dari kesalahanmu... Momy ikut apapun putusan Dady....", jawab sang ibu.


Vinzy kembali menekuk wajahnya. Fasilitas dicabut sampai batas waktu yang tidak ditentukan serta Islandia menanti. Gila.


Gadis remaja itu berkutat dengan segala pemikirannya. Bergerak kesana kemari, berguling-guling dari ujung tempat tidur ke ujung tempat tidur, kadang duduk, kadang baring, kadang tengkurap, kadang bergoyang-goyang. Semua dilakukannya hanya untuk berusaha bagaimana mendapatkan fasilitasnya kembali.


Bertarung dengan pemikirannya membuat gadis remaja itu baru tidur hampir subuh, mengakibatkan pagi ini ia bangun terlambat. Tidak ada teriakan yang ia dengar, ataupun Omelan dari sang ibu ketika ia terlambat bangun.


Heran? Ya begitulah, namun itulah hukuman.


"Pagi, Mom... Kok aku gak dibangunin sih? Kan terlambat jadinya...", Vinzy menyapa sang ibu, karena dilihatnya hanya ibunya berada di meja makan.


"Hm...", hanya deheman yang ia dapat.


"Mom.. Dady sama Abang udah berangkat?", tanya Vinzy lagi.


Dan kini hanya anggukan yang ia terima.


"Terus Zizy ke sekolah sama supir?".


Sang ibu kini menggeleng lalu menyerahkan uang pecahan 50 ribu 1 lembar di tangan Vinzy.


"Uang angkot pergi pulang sama jajan mulai hari ini..", ucap Momy lalu beranjak dari meja makan.


Vinzy menganga. Blank. What? Lima puluh ribu? Yang benar saja...?


"Mom..... Mommy.......", panggil Vinzy namun tidak ada jawaban dari sang ibu.


Ia akhirnya melangkah ke luar rumah dengan pelan tanpa sadar bahwa sudah hampir pukul setengah 8 pagi yang artinya ia sudah terlambat ke sekolah.


Sampai di sekolah.


"Ehhh si cantik V... Terlambat, Buk??", sapa security di depan gerbang sekolah.


"Ehhh Pak Tatang yang gantengnya maksimal... Bukain, Pak....", jawab santai Vinzy.


"Oh iya, Buk.... Boleh.....".


Bukannya membuka pintu gerbang sekolah, security kumis tebal itu malahan berdiri seperti patung di depan gerbang.


"Pak, bukain dong.... Terlambat ini....", melas Vinzy.


"Iya emang terlambat, neng...", jawab security itu santai.


Vinzy akhirnya menunggu sampai guru piket datang menghampiri.


"Tumben terlambat Vinzy? Tidak diantar Abang tampan?", goda sang guru piket berjenis kelamin wanita tersebut.


"Abang dinas...", jawab Vinzy ketus. Ia tahu, bahwa sebagian guru lajang wanita di sekolahnya sangat tergila-gila dengan Abangnya.


"Oh... Masuk...!! Pak Tatang, buka pintu gerbangnya !!...", perintah ibu guru piket yang diketahui bernama Sri Wahyuni.


Vinzy pun diperbolehkan masuk namun tetap mendapat hukuman hari itu.


.


.


.


.


"Lo terlambat jauh banget, V?", seru Diandra.


"Iya... Emangnya semalam ngorok jam berapa Lo?", sambung Sesilia.


Mereka berdua sangat kaget setelah melihat Vinzy baru masuk kelas sehabis jam pelajaran pertama.


"Hampir subuh... Udah jangan ganggu, mood gue lagi rusak....", ucap Vinzy.


"Emang barang, rusak??", sargah Sesilia.


"Tau ah...", Vinzy meletakan kepalanya di atas meja.


Terlambat, dihukum hormat bendera selama jam pelajaran pertama berlangsung membuat mood gadis delapan belas tahun itu menjadi semakin tidak enak.


Entah siapa yang salah?


Padahal sebulan lagi mereka akan menghadapi ujian akhir sekolah yang menentukan lulus atau tidak.


Sekolah elit, masuk sulit, keluar sulit. Begitulah kira-kira pepatahnya. Jangan pikir karena di dalamnya terdiri dari anak para pengusaha sukses sehingga membuat mereka gampang lulus, oh tidak bisa. Sekolah mengatur penuh segala sesuatunya.


"V, makan yuk.....", ajak salah satu siswa paling populer di sekolah itu.


"Gue gak punya duit... Sono makan ndiri..", jawab Vinzy ketus.


"Gue traktir deh...", ajaknya lagi.


Mendengar kata traktir, Vinzy langsung tersenyum senang. Uang jajan yang selama ini berlimpah ruah kini hanya 50 rb rupiah.


"Oke ayo......", Vinzy menjawab ajakan dengan semangat. "Gaesss, come on...! Kita ditraktir John....", Vinzy pun mengajak kedua sahabatnya Diandra Dan Sesilia.


John menganga. Padahal maksudnya mau PDKT eh malah harus traktir tiga orang sekaligus. Percaya deh, bisa habis ratusan ribu.


"Oke... Thanks, John.....", ucap Diandra dan Sesilia sambil tersenyum manis dan ketiga gadis itu berjalan lebih dulu menuju kantin sekolah diikuti oleh John seperti bodyguard.


.


.


.


.... ...


...****************...


###TBC