My Babby Boss

My Babby Boss
5



"What? Dad yang benar saja? No... Tidak... Aku belum mau menikah...", bantah Samuel.


Christine pun mengangguk setuju. Masa ia hrus dinikahkan dengan pria di sebelahnya yang sangat-sangat datar ini?


"Keputusan ada di tangan Dady... Jika kau menolak, perusahaan di Islandia menanti.... Dan kau tahu kan akan tinggal di mana?", ancam Dady Aleksander.


"Ta.......Tapi Presdir, saya dan Pak Sam tidak saling mencintai atau apapun itu...", sambung Christine.


"Setuju atau tidak?", tanya Dady Aleksander. Beliau tidak menyanggah pernyataan Christine. Toh hal ini sudah dibicarakan dengan orang tua dari Christine, sehingga Dady Aleksander mengambil keputusan seperti itu.


"Saya harus bicarakan dengan orang tua saya dulu, Presdir..", jawab Christine.


"Iya, Dad... Christine benar.. Tidak segampang itu memutuskan untuk menikah, toh selama ini kami berdua bekerja profesional tidak melibatkan perasaan.. Kalau jadinya begini ya akan ada perubahan juga kan, Dad?", panjang lebar Samuel menjelaskan agar pernyataan sang Dady ditarik kembali.


"Perubahan apa? Kan bagus? Daripada Christine setiap hari, pagi sampai malam bahkan harus menyiapkan keperluan mu seperti seorang istri... Dia juga masih tetap bekerja mendampingimu setelah menikah nanti..".


"Maaf menyela Presdir... Saya bingung... Saya diminta menikahi putra anda, namun saya dan putra anda pun tidak ada perasaan saling mencintai, lalu kami nanti mau membawa pernikahan ini seperti apa kedepannya jika tidak ada perasaan?", sanggah Christine diangguki oleh Samuel.


"Baiklah... Kalau begitu pernikahan kalian berdua sebulan lagi...", putus Dady Aleksander.


Bingung. Jelas... Bukannya menunda atau membatalkan, malahan Dady langsung memajukannya.


"Dad... Jangan bercanda...", ujar Samuel dengan suara yang sudah naik satu oktaf.


"Menikah, atau Islandia?".


Samuel diam. Diliriknya Aspri yang berada di sebelahnya ini. Cantik. Seksi iya. Cerdas juga. Cekatan lagi.. Sempurna. Namun... Cinta..??


"Deal.. Menikah...", Samuel menjawab dengan pasti.


Christine menatap tidak percaya.


"Tenang, Nak... Orang tuamu sudah setuju dengan keputusan saya..", ucap Dady Aleksander dengan senyum menenangkan Christine yang keget bercampur bingung.


.


.


.


Di tempat lain.


Vinzy sedang bengong-bengongnya. Pasalnya fasilitasnya pun belum dikembalikan sang Dady padahal kedua sahabatnya sudah, bahkan saat ini mereka berdua lagi senang-senangnya.


"Kenapa bengong?", tanya Diandra yang melihat Vinzy sedang melamun.


"Fasilitas Gue kapan dikembalikan, ya? Dady jahat banget lihat anaknya yang cantik bohai ini menderita.?", gerutu Vinzy.


"Mungkin tahun depan...", jawab Sesil yang setia video call dengan kekasihnya Jery.


"Jangan ngaco lo.. Sana.. Jauh... Budeg telinga gue dengar Lo mesra-mesraan sama ayang Lo itu.. Ngebet ka**in kali....", balas Vinzy jutek.


"Yeee... Sirik aja Lo...", ucap Sesil lalu berpindah posisi duduk dekat jendela kamar.


"Apa gue jadi sugar baby aja yaa? Merana gue......", Vinzy berpendapat.


"Jangan gila Lo yaa.. Gue aduin ke Abang Sam nanti... Makanya jadi anak Baik ke kita-kita ini... Bener gak Sel?", Diadra meminta pendapat Sesilia.


"He'em.....", hanya deheman yang Diandra dapat.


"Lo lagi ngapain??", Diandra penasaran akhirnya berjalan menghampiri Sesilia. "Ya Tuhan...... Sesilia... An****Ng.....", gerutu Diandra.


Ternyata Sesilia sudah selesai video call dengan kekasihnya malahan sedang asik menonton P*rn Video sehingga membuat darah mudanya sedikit naik.


"Apaan sih.. Lagi asikk tau gak... Ganggu banget...", balas Sesilia yang moodnya sudah anjlok.


"Noh sahabat Lo tu... Sang*******.....", jawab Diandra kesal.


Vinzy menoleh ke arah Sesilia dan dibalas cengiran Sesil.


"Gue bilang apa? Ngebet kawin kan Lo? Sono ajak Jery ka****in daripada Lo sering-sering nonton begituan, lakuin sekalian...", umpat Vinzy diikuti anggukan oleh Diandra.


"Ehhh, enak tau...", jawab Sesilia kemudian menutup mulutnya. Keceplosan.


"Apa yang enak?", Vinzy bertanya dengan menatap serius Sesilia begitupun Diandra.


"Hehehehehe... Gak kok.. Gak...", elak Sesilia.


"Jangan Boong Lo... Apa yang enak? Jawab Sesilia..!!!.", suara Vinzy sudah tinggi.


"Emmmmm, gimana yaaa...", ragu Sesil menjelaskan.


"Lu udah bolong???", tanya Diandra to the point.


"Belommmm...", jawab Sesilia cepat. "Cumaaa....", jeda.


"Cuma apa? Udah dielus sama dipegang Lo?", Vinzy pun menebak.


Sesilia mengangguk.


"Ya, Tuhan....... Bego apa bodoh sih Lo?", tanya Diandra.


"Apa aja yang udah Jery pegang? Hm?", Vinzy serius bertanya. "Semuanya udah dia pegang, lihat, raba, elus cuma belom dibolongi doang?".


Sesilia mengangguk lagi.


"Ini nih... Kebanyakan nonton bo**** Lo... Bego kan jadinya? Untung aja Lo belum dibolongin, kalau gak?", Diandra kesal sendiri.


"Yaaa mau gimana, gue penasaran, sob... Rasanya gimana... Emang Lo pada gak penasaran apa gimana rasanya?", tanya Sesil yang nampak tak berdosa.


"Ehh bego... Kita-kita juga penasaran.. Iya.. Gue akui, gue ini wanita normal di mana usia gue memasuki fase pengen tahu banyak, termasuk kegiatan sek**** itu sendiri, tapi gue coba untuk sadar diri dan tahan diri.. Kebablasan bisa ancur hidup gue...", Diandra menjelaskan panjang lebar.


"Kalau gue biasa aja? Toh akan kita lalui juga yang begitu-begitu.. Saran gue, kurangi Sel, kalau bisa berhenti.. Jaga jarak aman dulu sama Jery, takutnya kalian berdua kebablasan... Emang sih Jery kaya, banyak duit, delapan turunan gak akan habis uangnya, namun masa muda Lo yang direnggut, kebebasan, kehidupan.. Bukan cuma pera*** lo yang diambil, tapi semua dari diri Lo kalau akhirnya Kebablasan. Gue sebagai sahabat, kita ini sahabat dari kecil ya Sel, pengen lihat Lo sama Dian itu sukses dulu baru urus deh kehidupan masing-masing..", Vinzy berucap.


Sesilia yang mendengar itu tertunduk. Mungkin karena perkembangan media dan mudahnya untuk mengakses hal-hal negatif seperti itu membuat ia semakin penasaran hingga akhirnya menyerahkan diri secara suka rela kepada pria meski beruntungnya ia belum dibobol gawangnya, hanya disentuh dan elus-elus sampai ******* doang.


Satu hal yang pasti, pria ketika sudah melihat seluruh tubuh wanita, keseringan dengan wanita yang sama, akan hafal setiap jengkal tubuh wanita itu sekalipun mereka belum sampai tahap hubungan suami istri. Bersyukur jika mereka akan menjadi suami istri, tetapi kalau tidak? Bagaimana? Pasti akan ada cerita yang disitilahkan tambah bumbu setelah hubungan itu berakhir.


"Sini... Pelukan....", ajak Vinzy ketika mereka bertiga terdiam beberapa saat.


"Ingat yaa... Jaga diri....", ucap Vinzy dibalas toyoran Diandra.


"Apaan sih Lo?", Vinzy menggerutu.


"Ngomong jaga diri, tadi bilangnya pengen jadi sugar baby...", jawab Diandra sekenanya.


"Hehehehheeh... Becanda, beb... Gak jadi sugar baby pun gue udah kaya raya....", sombong Vinzy.


Memang benar Vinzylah yang paling kaya di antara ketiganya, namun ya begitulah tipe Vinzy... Berteman dengan segala jenis manusia, Miskin kaya, surga neraka.


Yang Jelas ia akan mengambil yang baiknya saja, yang buruk sesekali bolehlah ia tiru.


.


.


.###__TBC