
Pagi yang cerah aku awali dengan menyeruput secangkir kopi yang dibuat oleh Anggi.Sementara itu Sasha masih pulas tidur di kamarnya karena sepertinya semalam ia begadang menyelesaikan novelnya.
Sebelum berangkat kerja aku membuat tumis kangkung sebagai sarapan,tidak hanya untukku tapi juga untuk Anggi dan menyisakan sedikit di wajan untuk Sasha.
Usai sarapan aku dan Anggi berangkat kerja bersama,tadinya aku sempat khawatir dengan apa yang tetangga kami pikirkan kalau melihat satu laki-laki tinggal dengan dua wanita.Sepertinya tetangga sudah mengenal Anggi karena sebelumnya sering mampir ke rumah Sasha jadi mereka tidak terlalu memikirkannya.
Sesampainya di restoran ternyata bos sudah ada di ruangannya,urusannya di luar kota juga sepertinya sudah selesai.Aku tidak berniat memperpanjang masalah kemarin,setelah berganti seragam aku langsung bekerja seperti biasanya.
...
"Yan,coba sini bentar deh!".Ucap mas Roy.
Apa aku berbuat salah?,atau aku lupa sesuatu?pertanyaan itu terus bermunculan di kepalaku selagi aku berjalan menghampiri mas Roy.
"kata Anggi kamu jago masak ya?hari ini bantu aku dong,Leo ngga masuk nih sakit katanya."
ucap mas Roy memintaku untuk membantunya di dapur karena ia kewalahan menangani masalah dapur sendirian.
"tapi aku ngga jago-jago amat loh mas,cuma bisa bantu mas Roy sebisaku."Jawabku.
...
Mas Roy sepertinya tak masalah dengan ucapanku,dan sepertinya ia tidak sanggup menghadapi pesanan yang terus berdatangan ketika jam istirahat kantor sendirian.
Aku melanjutkan tugasku menyiapkan bahan-bahan dan membantu mas Roy saat ia memerlukan sesuatu.Sejujurnya aku agak gugup menjadi asisten seorang koki hebat seperti mas Roy,meskipun belum pernah mendapat sertifikat lomba memasak apapun tapi masakan mas Roy sangat terkenal di daerah sini.
Tiba-tiba bos keluar dari ruangannya dan...
"kalian dengar dulu,yang semangat kerjanya karena Leo tadi bilang kalau dia izin keluar."
Ucap bos membuatku sedikit kaget setelah ia memberi kabar Leo yang tiba-tiba keluar.
Sepertinya ia malu dengan kejadian kemarin malam dan tidak berani menunjukkan wajahnya lagi di depanku.Tapi kalau sampai keluar kerja begini aku jadi tidak tega dengan Leo.
Anggi dan Roy juga terlihat syok mendengar kabar Leo keluar, sepertinya pekerjaan kami akan semakin berat setelah kehilangan satu orang.
...
Jam menunjukkan pukul 19.00,waktu kerja pun telah usai.Anggi dan mas Roy langsung pulang sedangkan aku masih mengelap meja seperti biasanya,setelah pekerjaanku di restoran selesai aku langsung pulang dan sepertinya aku mulai kesepian karena tidak ada teman mengobrol sepanjang jalan.
"mungkin aku sedikit merindukan Anggi."
Ketika sedang berjalan santai melewati sebuah gang tiba-tiba aku ditarik masuk ke dalam gang oleh orang yang tidak aku kenal,dan benar saja di sana ternyata Leo sudah menungguku dengan satu orang bertubuh kekar di sampingnya.
Sepertinya mereka bertiga berniat melakukan sesuatu kepadaku.Leo yang tadinya diam saja pun sekarang melangkahkan kakinya berdiri di depanku,menatapku dengan mata sinis dari ekspresinya ia terlihat begitu membenciku.
"gausah seneng dulu cuma karna aku kalah darimu sekali,sekarang rasain akibatnya ganggu kehidupanku hahaha!!".Ucap Leo sambil tertawa licik.
"cuma kadal doang masih berani bicara sombong?".Jawabku menanggapi ucapan Leo.
Leo secara tiba-tiba melancarkan pukulannya tepat di wajahku.Aku langsung membalas pukulan itu dengan tendangan tepat di selakangannya sekuat tenaga,Leo tergeletak tak berdaya menahan ngilu pada biji masadepannya itu.
Sementara itu kedua temannya mencoba memukulku tapi dapat kuhindari karena pria berbadan besar itu ternyata sangat lambat,mungkin karena ototnya yang terlalu berat.
Setelah adu jotos dengan mereka di gang itu aku segera pulang meninggalkan mereka yang masih tergeletak di gang itu.Dengan tangan penuh darah aku membuka pintu dengan pelan agar Sasha tidak melihatku pulang dengan badan penuh luka.
"BRUKKK!!"
Suara ember berisi baju kotor yang di pegang Sasha tergeletak di lantai,ia berlari ke arahku langsung melompat memelukku sampai aku terjatuh.Badanku jelas tidak kuat lagi untuk berdiri dengan tegak apalagi sambil menahan tubuh Sasha yang memelukku dengan erat.
Air mata tiba-tiba mengalir membasahi pipinya yang lembut itu.Tidak henti-hentinya ia menangis di pelukanku.
"hiks...kamu kenapa sih bisa sampai berdarah gini,habis di keroyok?bilang sama aku biar nanti aku lapor polisi!".
Ucap Sasha dengan air mata yang masih mengalir deras sampai membasahi bajuku.
"eh udah gausah gapapa kok biasa urusan cowo."Jawabku seraya memeluk Sasha untuk membuatnya tenang.
Melihat sikapnya yang menghawatirkanku sampai menangis seperti itu membuatku sangat senang,Sasha terkadang bisa benar-benar terlihat imut.
"aduh badanku kayaknya sakit deh buat di gerakin,mana belum mandi lagi." Ucapku.
"g-gimana em kalau aku bantuin kamu mandi kebetulan juga aku belum mandi baru pulang dari acara reuni." jawab Sasha.
Melihat Sasha menawarkan bantuan untuk membantuku mandi sangat membuatku terkejut,siapa sangka aku bisa mandi bersama dengan tanteku yang sangat cantik ini.
Tentu aku tidak menolak kesempatan emas ini,kami berdua melewati malam dengan mandi air hangat bersama.Tidak hanya air di bak bathtub yang terasa hangat,tetapi suasana diantara kami juga semakin panas.
Gemercik air mengiringi sentuhan jari-jari kecil Sasha yang menari-nari di punggungku,membersihkan bagian punggung yang tidak dapat aku capai dengan tangannya yang lembut dibaluri sabun.
Sepertinya ia juga merasa canggung dengan situasi ini,tapi ia berniat menahan rasa malunya untuk membantuku.