My Aunt

My Aunt
Tragedi Kecil



Kini kegiatan rutinku selama tinggal di rumah Sasha hanya bersih-bersih rumah dan memasak, ya meskipun seharusnya itu pekerjaan wanita tetapi hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membantu Sasha yang sangat sibuk dengan novelnya.


Pagi itu semua berjalan seperti biasanya, aku sudah mulai terbiasa dengan tempat ini.


"Sha...aku udah nih"


teriakku memanggil Sasha segera menyuruhnya mandi.


Meskipun tidak enak tetapi dia yang memintaku untuk bersikap tidak formal.


Usai mandi dan berganti pakaian aku langsung ke dapur dan memasak. Bukan masakan mewah hanya sayur sop yang sederhana untuk menu sarapan kami pagi ini.


Setelah mandi Sahsa mencoba membantuku memasak. Jelas wanita ini tidak terbiasa memasak, caranya memegang pisau dapur juga terlihat seperti sedang memegang celurit seperti sedang bersiap untuk tawuran.


"tangan kamu terlalu indah kalau cuma buat pegang pisau, sini kamu pegang tanganku aja "


ucapku sambil sedikit menggoda Sasha.


"ih apaan sih najis ya "


jawab Sasha dengan nada sedikit mengejekku.


Kami memang belum lama tinggal bersama tetapi sifat Sasha yang hangat dan terbuka membuatku nyaman ketika mengobrol dengannya.


Aku berinisiatif sedikit mengajari Sasha cara memotong bawang bombai yang benar karena aku sedikit khawatir tangannya yang lembut akan terluka oleh pisau dapur.


Tanpa aku sadari saat aku terlalu fokus mengajarinya ternyata wajah kami saling berdekatan karena aku berdiri tepat di sampingnya.


Wangi tubuhnya yang harum membuat pikiranku sedikit traveling. Rambutnya yang setengah basah yak diikat panjang sampai menutupi punggungnya terlihat sangat indah.


Jelas suasana dapur ini tak cocok untuk orang seanggun Sasha. Setelah memasukkan bahan-bahan dan menunggu beberapa saat akhirnya sayur sop yang kubuat bersama Sasha jadi.


"Sha ambilin piring dong, aku mau taroh ini di meja makan dulu "


ucapku sambil mengangkat panci panas itu dengan kain lap menuju ke meja makan.


Selagi aku menaruh panci berisi sayur itu di meja, Sasha mengambil dua piring di rak yang berada di atas wastafel. Rak piring itu sedikit lebih tinggi dari Sasha aku heran bagaimana bisa Sasha bisa kepikiran menempatkan rak setinggi itu.


Dan benar saja saat mengeluarkan sebuah piring ia tidak sengaja menyenggol piring lainya dan jatuh pecah.


Serpihan piring itu berceceran dan beberapa bagian dari serpihan itu menancap di kaki Sasha.


Sasha menjerit terkaget saat ia pikir piring itu akan menimpa kepalanya.


Aku segera berlari ke arah Sasha dengan hati-hati karena banyak pecahan piring di lantai dan terlihat jelas ada sedikit darah mengalir dari luka serpihan di kaki kecilnya itu.


Dengan segera aku membopongnya dengan hati-hati berharap tidak ada pecahan piring yang menancap pada kakiku.


Membawa Sasha duduk ke kursi di ruang makan dan segera kuambil kotak P3K.


Yang ada di dalam kotak itu hanya kapas,perban,plester dan alkohol saja tidak ada salep pereda nyeri atau yang lainya.


Segera ku cabut serpihan piring yang ada di kaki Sahsa dan mengoleskan kapas yang sudah kubasahi dengan alkohol berharap darah berhenti mengalir.


Setelah darah berhenti mengalir aku memotong sedikit perban dan menempelkannya dengan plester di kaki Sasha.


"Aauhh...pelan-pelan aja nempelinnya "


rintih Sasha seperti sangat kesakitan dengan luka ini.


"yaelah lebay banget makanya tinggi, masa kamu sama rak piring tinggian rak piringnya "


ucapku sambil sedikit tertawa meledek Sasha berharap ia tidak terlalu khawatir dengan luka di kakinya.


Sasha menarik rambutku karena kesal dan sepertinya ia sudah tidak tegang lagi. Aku bersyukur karena piring tadi tidak menimpa kepala Sasha.


Setelah membersihkan pecahan piring yang berserakan di lantai, kami sarapan dan aku yang menyiapkan semuanya karena Sasha tidak bisa berjalan dengan kaki penuh luka seperti itu.


Singkat cerita seusai sarapan aku menggendong Sasha masuk ke kamarnya karena dia bilang ingin digendong dengan nada bicara sedikit manja.


"mau bikin novel lagi? gaada salahnya kali istirahat sebentar, mau aku buatin susu? "


ucapku sambil menawarkan segelas susu hangat kepadanya.


"boleh deh, sekalian bikinin cemilan dong kasian nih Sasha lagi atitt "


jawab Sasha dengan nada manja.


"iya cantikk, tunggu bentar ya "


ucapku sambil meninggalkan kamar Sasha, yang sepertinya membuat mukanya sedikit memerah karena tersipu malu.