
Hujan mulai turun ketika kami masih berdiri di depan rumah karena terkejut ternyata kami akan tinggal satu atap.
Kami langsung masuk ke rumah Sasha sebelum hujan mulai deras. Sebelum mulai kedinginan karena baju kami sedikit basah akibat air hujan tadi, kami langsung mandi dan ya secara bergantian tentunya :) .
Setelah selesai mandi kami bertiga berkumpul di ruang tamu.
"Krukkkk... "
terdengar suara perut Sasha yang sepertinya kelaparan karena aku tinggal bekerja seharian.
"eh laper ya, maaf tadi aku ngga bilang dulu kalau aku langsung diterima kerja bentar aku masakin dulu "
ucapku sambil berdiri menuju ke dapur yang tak jauh dari ruang tamu tempat kami mengobrol.
Tak banyak yang bisa kubuat karena sepertinya Sasha sudah sangat lapar, aku cepat-cepat membuat sayur asem yang juga dapat menghangatkan badan kami saat hujan seperti ini.
Seusai memasak aku memanggil mereka berdua untuk segera makan, Anggi kelihatanya tertarik dengan aroma masakanku.
Saat mereka duduk dan mencoba sayur yang ku buat...
"lah ternyata kamu pinter masak? kok sayurnya enak banget sih "
ucap Anggi dengan nada kagum membuatku sangat senang.
"hm kayak biasanya "
ucap Sasha dengan tanggapan yang datar.
Sepertinya Sasha sedikit cemburu karena Anggi memuji masakanku. Atau mungkin cuma aku yang berpikir seperti itu.
"cie cemburu nih ceritanyaa... "
tanggapan Anggi kepada ucapan Sasha yang terdengar seperti sedang cemburu.
setelah kami bertiga mengobrol sebentar aku jadi tau kalau Anggi adalah teman Sasha yang hanya berbeda satu tahun dengannya.
Dari cerita mereka, mereka berdua bertemu ketika masih SMA dulu, dimana saat itu Sasha sedang bertugas menjaga perpustakaan dan ia membantu adik kelasnya yang tidak sengaja menjatuhkan beberapa buku.
Rupanya Anggi sering menginap di rumah Sasha ketika pulang kerja kemaleman atau tidak mendapatkan taksi seperti tadi.
Belum sampai kami selesai makan tiba-tiba mati lampu dan sepertinya ada pemadaman listrik karena hujan lebat.
Aku meninggalkan ponselku di ruang tamu dan Sasha juga meninggalkan ponselnya bersamaku. Beruntung saat itu Sasha sedang membawa ponselnya, ia menghidupkan senternya dan membantuku menaruh piring-piring kotor ini ke wastafel.
Sementara itu setelah mengurus piring kotor kami mengambil ponsel yang ada di ruang tamu dan kembali ke kamar masing-masing.
Tubuhku rasanya sangat kelelahan setelah berkerja seharian, aku segera berbaring di kasur dan merasakan otot tangan dan kakiku seperti di remas-remas.
Tapi sepertinya ia tidak ingin. memperlihatkan kalau ia sedang kelelahan, ternyata dibalik sosok anggunnya itu Anggi sedang menutupi fakta kalau beban yang ia tanggung sangat berat.
Mataku tidak kuat lagi untuk kubuka tapi tiba-tiba ada suara langkah kaki dari luar kamarku.
Andai listrik menyala mungkin aku bisa melihat siapa yang datang.
Petir menggelegar menunjukkan eksistensi nya, lalu saat mendengar suara petir itu terdengar suara wanita berteriak terkejut.
Saat aku menyalakan senter ponselku dan membuka pintu ternyata yang berdiri di luar kamarku adalah Anggi dan Sasha yang sedang ketakutan dengan gelap malam dan derasnya hujan.
"k-kalian ngapain di depan kamarku? "
ucapku kepada mereka berdua yang saat itu hanya menggunakan baju tidur dewasa sampai membuat belahan dada mereka berdua tampak ingin tumpah.
" seandainya lampu menyala mungkin pemandangan ini akan terlihat lebih indah... "
ucapku dalam hati.
"kita takut sama petir, boleh tidur di kamar kamu ngga? "
ucap Sasha dengan wajah ketakutan.
Aku terdiam sebentar karena wajah mereka semakin imut kalau sedang ketakutan.
Setelah kupersilahkan mereka masuk mereka berdua langsung tidur di kanan-kiri ku seraya memegangi tanganku dengan sangat kuat, sepertinya mereka benar-benar ketakutan.
Pagi hari aku terbangun karena Sasha dan Anggi menarik-narik rambutku. Jelas terasa sakit.
"eh itu kok basah kamu ngapain semalem? "
ucap Anggi.
"seneng banget kan tidur sama kita sampe basah gitu "
ucap Sasha dengan nada sedikit keras tapi sebenarnya ia sama sekali tidak marah, sedikit senyum terlihat dari bibir tipisnya itu.
Aku terlalu lelap tidur di samping bidadari-bidadari ini sampai tidak sadar kalau asetku sudah tidak kuat lagi menahan semuanya sampai basah.
" eh maaf ga sengaja ini mungkin karena semalem hujan... ya wajar lah kan aku juga cowo, lagian kalian sih liat tuh pake baju tipis gitu mlorot semua kan "
jawabku dengan nada sedikit bercanda agar mereka tidak salah paham.
Mau bagaimana lagi aku sudah tidak kuat menahan godaan yang ada di depan mataku, untung saja aku tidak sampai berbuat aneh-aneh.
Pagi ini aku tersadar kalau hidupku yang suram dan membosankan sudah mulai berubah...