
Hay.. anying kambekk.. eehh.. bukan..
I'm comeback..!!
Ahh.. gak usah banyak bacot lagi.. cuzz.. happy reading^^
...~~~~...
*
*
*
Dave menatap jam yang bertengger di tangan kiri nya yang menunjuk kan pukul setengah sepuluh pagi.
Yap.. hari ini Dave akan terbang ke langit ketujuh eh ke Hamburg maksud nya.
Ia memutuskan kembali ke Jerman setelah mengurus kepindahan nya selama tujuh hari.
Penerbangan dari bandara internasional Soekarno-Hatta ke bandara Flughafen Hamburg akan di mulai pukul 11 lewat 45.
Yah.. katakan saja pukul setengah dua belas.
Dave telah sampai di bandara pukul 09.30 tadi. Ia di antar oleh sopirnya yang memang di gaji untuk bekerja untuk nya selama di Indonesia.
Ia melihat-lihat sekeliling.
"Baiklah, karena masih ada waktu sekitar setengah jam lagi aku akan cek in dulu," ucap Dave.
Setelah cek in, ia duduk di kursi antrian. Menunggu nomor tiket nya di panggil. Tak beberapa lama, speaker bandara berbunyi.. "Kepada nomor tiket 17-A1 Penerbangan Citylink Tujuan Flughafen Hamburg silahkan masuk melalui Gate 4 Terimakasih..,"
[Dah.. anggap aja gitu, author gak dengar dgn jelas soalnya waktu di panggil di bandara.. soal pesawat nya juga.. 'emang ada yah pesawat Citylink ke Jerman?' jawaban nya adalah, aing gak tau.. author gak pernah ke luar negeri soalnya.. dah.. skip lanjut..!]
Dave berjalan menyeret koper nya menuju gate 4. Ia menonaktifkan handphone nya seperti peraturan di pesawat.
Ia memasuk kan kopernya ke bagasi yang ada di atas tempat duduk pesawat.
Setelah itu ia duduk di tempat nya.
Sementara itu..
Efy tengah melamun di kursi nya. Ia menatap ke arah jendela. Ia tampak tak mempedulikan apa pun, guru menjelaskan di depan tak di hiraukan nya, bahkan pulpen nya di colong pun ia tak peduli.
"Hm.. Dave pasti sudah berada di pesawat.. hah.. kenapa aku jadi sedih.. hiks.. apakah aku masih bisa bertemu dengan Dave?"
Efy membatin.
Tiba-tiba..
"Efy!"
Efy tersentak. Ia menatap guru di hadapan nya. "Eeh? Iya pak?" tanya nya gugup.
"Mampus gue.. mana nya gue tadi asik melamun sampe gak merhatiin guru.. argh.."
Efy mengumpat dalam hati.
"Efy.." panggil guru itu lagi.
"Iya pak.. ada apa ya pak?" tanya Efy mencoba sopan.
"Coba kamu kerjakan soal di depan," ucap guru itu tersenyum menyeramkan.
Efy menerima spidol itu takut-takut.
Sampai di depan papan tulis ia berpikir keras. "Aduh.. ini gimana sih ngerjain nya? Oh.. akar pangkat nya ini, di kali kan dua.. baru di bagi, ooh.. ya I know I know..,"
Efy langsung menulis di papan tulis dengan lancar tanpa hambatan.
Emang ya.. yang otak nya encer emang beda.
KECE!
"Fiuh.. untung kemaren gue habis ulang-ulang pelajaran.. hah.. untung-untung.. rejeki anak rajin.. wkwk..,"
"Sudah pak," Efy menyerahkan spidol itu.
Guru itu menerima nya sembari menatap tajam papan tulis yang ada di depan nya.
"Hm.. yak.. bagus, jawaban nya sangat terperinci sekali, ya.. bagus, silahkan duduk," ucap guru itu puas dengan jawaban yang di berikan Efy.
Efy tersenyum lega.
*
*
*
Efy berjalan menuju kost nya sambil menendang-nendang batu yang ia temukan di jalan.
"Hah.."
Tuk!
Batu yang di tendang oleh Efy mengenai sebuah tiang.
Efy menatap tiang itu. Namun perhatian nya tertuju pada selebaran yang tertempel pada tiang itu.
'Olimpiade Sains & Matematika.. Dapatkan bimbingan langsung dari para ahli..
Hadiah lomba :
-Uang tunai sebesar 50 juta rupiah
-Bimbingan belajar bahasa Inggris
-Beasiswa Belajar di Jerman'
"Hah!'
Mata Efy membulat menatap hadiah terakhir.
"Je..Jerman?"
To be continued..
...:D...
...Peace guys✌️...