
"Hidup hanya untuk 'Mereka'."
Layar monitor tiba-tiba berganti kembali. Kini menunjukan sebuah video dengan latar ruangan gelap dan hanya terlihat seseorang yang di ikat pada kursi yang serupa, wajahnya penuh rasa ketakutan, ia bahkan menanggis. Orang dalam video itu seperti meneriakan sesuatu tetapi, audio pada video itu seperti sengaja dimatikan atau bahkan mungkin dihapus.
Lalu beberapa menit kemudian, sengatan listrik yang persis seperti yang terjadi pada Arai bahkan kali ini tidak dalam 3 detik saja. Hingga kulit orang itu mulai kecokelatan bahkan kehitaman, kulit jari yang mulai terkoyak dan mengelupas, bola mata yang seakan ingin keluar dari tengkorak wajah.
TAKUT
Hanya itulah yang kini Arai rasakan saat melihat video yang lebih mengerikan dari sebuah film pembunuhan.
Orang dalam video tampak terlihat tak lagi bernyawa namun listrik tersebut terus saja mengaliri tubuhnya hingga percikan api keluar dari bawah kursi dan dengan cepat membakar kursi tersebut hingga tubuh orang yang mendudukinya.
Merambatnya percikan api seakan tidak terlihat normal. Begitu cepat api dapat membakar kursi dan orang tersebut, jika mereka sebelumnya tidak menyiramkan sesuatu yang membuat kursi itu akan terbakar lebih cepat saat timbul percikan api dari gesekan elektron pada listrik.
"Aku tidak yakin kau akan mengingatnya. Namun, kejahatan kalian sama. Dia merupakan buronan yang belum sempat mendapat sanksi dari pemerintah. Ia menculik dan menjual lebih dari 9 anak. Jumlah yang lebih banyak darimu, tetapi ia merupakan orang yang cerdik." Jelas Nana untuk orang yang berada di video.
"Kenapa kalian melakukan ini? Apa kalian memiliki dendam kepada semua orang yang melakukan penculikan?" tanya Arai yang sebenarnya dirinya telah takut setengah mati. Jika lebih ditekan lagi oleh mereka, Arai bisa saja kencing di celana saat itu juga.
"Kami tidak dendam hanya pada pelaku penculikan saja." jawab Nana memberi jeda untuk kalimat selanjutnya yang akan dikatakannya,
"Tapi, seluruh dunia ini."
Arai tidak mengira pertanyaannya akan membuatnya lebih ketakutan lagi. Tanpa disadarinya, ia membasahi celananya sendiri. Rasa hangat yang mengalir ke kakinya tidak membuat tubuhnya yang dingin menghilang.
Layar kembali menunjukan inisial M. META kembali bersuara.
"Tahun. 20XX. Adalah. Kejahatanmu. Yang. Tak. Diketahui. Bersama. Orang. Ini. Kau. Mengubur. Dua. Belas. Jasad. Anak. Anak. Didalam. Hutan. Delapan. Jasad. Ditemukan. Empat. Jasad. Lainnya-- Dimana. Mereka?"
Arai terkejut, wajahnya pucat pasi. Ia tidak menyangka seseorang akan mengetahui tentang hal itu. Padahal saat jasad anak-anak itu ditemukan saja, tidak ada bukti yang mengarah kepada Arai selain hanya kasus penculikan biasa.
Karena semua telah di atur sesuai perjanjian. Bahkan ia sengaja menyembunyikan foto saat mereka melakukan penguburan itu untuk berjaga-jaga jika 'Orang itu' berbohong kepadanya.
Tetapi, "Bagaimana kalian--"
Arai memang melupakan wajah orang di video dalam ingatannya. Namun, soal mengubur jasad, tentu ia tidak bisa melupakannya.
Malam sunyi yang mencengram. Dalam kondisi gelap dan dinginnya udara malam di pegunungan Ia bersama seseorang lain yang tidak bisa ia lihat dengan jelas, dibayar untuk menguburkan sesuatu yang ia tidak ingin menanyakan apa isinya waktu itu. Namun bayaran yang di terima terlampau sangat besar. Tentu ia mengubur sesuatu yang berbahaya. Tetapi Ia tidak bisa menolak dan tergiur akan nilai yang tidak bisa ia pernah dapatkan hanya dengan bekerja normal.
Sangat jelas yang dibicarakan orang-orang ini adalah waktu dimana sebelum kasus 8 anak-anak yang ditemukan meninggal didalam hutan.
Arai menyadari sesuatu.
Tunggu! Mereka bilang 8 anak?!
Empat jasad hilang?
Arai baru menyadari akan hal itu. Semua berita mengatakan 8 anak, tetapi ia yakin telah mengubur 12 kantong hitam saat itu.
Bulu kuduk Arai mulai merinding saat melihat kembali orang didepannya saat ini. Nana dan R, dan juga sososk misterius yang memperkenalkan dirinya sebagai META.
Tidak mungkin- Tidak mungkin- Tidak mungkin!
Arai terdiam. Matanya terbuka lebar, seakan ia mendengar sesuatu yang seharusnya lebih baik ia tidak dengar.
Nana tersenyum, mengangkat tangannya rendah. Mulutnya bergerak, namun tak bersuara, mengucapkan, "Itu aku."
Sejak awal mereka hanya berputar-putar menayakan ini dan itu kepada Arai hanya untuk mempermainkannya. Padahal yang sebenarnya terjadi Mereka semua pernah bertemu sebelumnya. Delapan tahun yang lalu sebelum Arai di tangkap.
Saat Arai yang hanya terdiam syok mengetahui ia hanya di permainkan saja sejak awal. Tiba-tiba R menyiramkan sesuatu kepada Arai mulai dari atas kepalanya hingga membasahi ujung kakinya.
Saking ketakutannya Arai tidak bisa mengerakan mulutnya lagi untuk bertanya. Aroma khas yang tercium dari cairan yang disiram kepadanya ini tidak perlu ia tanyakan lagi.
Tubuhnya gemetar hebat.
"T-tolong henti...kan...benda ini sangat menyakitkan...Aku tidak ingin..." Arai menelan ludahnya, "...mati seperti ini.."
Nana hanya mengeleng kepalanya santai, "Kami tidak bisa menghetikannya. Sejak awal META yang hanya bisa mengendalikannya. Semua fungsi kursi ini di kontrol oleh META."
Setelah R menyiramkan bensin kepada Arai, ia berjalan menjauhi lokasi Arai berada beberapa meter lebih jauh. Ia berjalan seperti tertelan kegelapan disekitarnya.
Sebelum Nana mengikuti R, Ia menghampiri Arai terlebih dulu. Nana mengambil sesuatu dari dalam saku blazer hitamnya. Ia mengeluarkan sebuah foto dan lalu menunjukannya kepada Arai.
"Apa ini yang ingin kau sembunyikan?" Tanya Nana menunjukan foto tersebut dihadapan wajah Arai
Wajahnya menunjukan bahwa foto tersebut adalah benar miliknya. Benda yang menjadi kartu Ace jika sesuatu terjadi pada dirinya setelah kejadian itu. Tetapi sepertinya benda itu tidak berlaku untuk orang-orang dihadapannya saat ini.
"Kau tenang saja. Aku akan menyimpan foto ini dengan baik." Ucap Nana seraya menepuk bahu Arai dua kali sebelum ia pergi mengikuti ke posisi R.
Nana dan R berdiri lebih jauh dari sebelumnya. Tidak seperti yang sudah-sudah, benda ini akan menyala lebih hebat dari percobaan pertama dan kedua.
Arai dengan ekspresi ketakutan, menoleh ke layar monitor didepannya. Tidak ada harapan untuk dirinya lepas dari tempat ini. Semua orang yang berada disini sudah gila.
"Terima. Kasih. Atas. Kerja. Samanya. Pengakuan. Dosa. Telah. Berakhir. Saatnya. Penghakiman."
Wajah Arai seketika dingin, jiwanya seakan telah pergi duluan sebelum ia merasakan sesuatu. Waktu hidupnya tersisa beberapa menit lagi, mulutnya terus bergumam,
"Tolong...Tolong selamatkan aku...tolong ampuni aku..."
Dalam air mata yang terus berkucuran membasahi wajahnya.
"Tidak akan ada yang mendengar. Tidak akan ada yang bisa menolong. Tuhan saja tidak bisa menolong kalian." ucap Nana terakhir kalinya didengar oleh Arai.
Aliran listrik bertegangan tinggi mengalir kedalam tubuh Arai. Suara letupan-letupan kecil mulai terdengar dari belakang kursi Arai. Percikan bunga api mulai terlihat dan setelah mengenai cairan yang disiramkan pada tubuh Arai. Munculah kobaran api dengan cepat menyelimuti tubuh Arai.
Jeritan penuh penderitan yang sempat terdengar untuk beberapa detik perlahan menghilang berbarengan dengan lenyapnya jiwa sang pemilik tubuh. Setiap detik tubuh itu terbakar, mengoyak kulit hingga memanggang daging tubuh itu oleh api. Setiap helaian rambut yang hangus, menyisakan tengkorak kepala yang menghitam dengan mulut yang menganga lebar.
Tubuh Arai terselimuti oleh api. Nana maupun R seakan tidak memiliki niatan untuk memadamkan kobaran api yang membakar cukup gila itu. Hingga benar-benar lenyap.
Mereka tentu tidak menikmati pemandangan yang tidak indah untuk di pandang ini. Bagaimana pun mereka juga manusia, yang dapat membedakan berbagaimacam hal. Namun, mereka merasa sangat puas untuk melakukan hal seperti ini.[ ]
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...