Memento Mori

Memento Mori
Ep. 2 Crime 1: 10 Tahun yang lalu (2)



Tiba-tiba Senior menghentikan laju mobilnya mendadak. Nana sampai terkejut dengan tubuh yang mencondong ke depan mengira mobil mereka menabrak sesuatu.


"Keluarkan kartu idetitasmu, kita akan masuk melewat pos penjagaan." pintah Senior terdengar kesal.


Sepertinya tebakan Nana benar soal Senior ingin menjadikan kasus ini sebagai batu loncatan untuk dirinya dapat menaikan pangkat. Namun, perkataan Nana barusan seperti menyakiti perasaan Senior.


Nana penasaran dengan keinginan Senior naik pangkat yang terkesan terburu-buru padahal dari umurnya yang sekarang pun Senior dapat naik pangat ke lebih tinggi seiring berjalannya waktu.


Tetapi, Ia seperti memiliki alasan dan memilih kasus yang belum terselesaikan selama 10 tahun sebagai jalan pintasnya.


Bagi Nana menyelidiki kasus ini kembali di waktu seperti sekarang akan menjadi sangat sulit jika mereka tidak memiliki informasi kunci ataupun ikatan yang kuat dengan kejadian waktu itu. Karena banyak barang bukti yang telah dihilangkan sehingga menyulitkan penyelidik menyelesaikan kasusnya.


Nana mengeluarkan kartu identitas polisi miliknya, lalu menunjukannya kepada para penjaga gerbang rumah tahanan. Setelah mereka diizinkan masuk. Mobil mereka pun juga diperiksa.


Tepi jalan sebelah kiri dari sisi mobil, di mana Nana duduk, Ia melihat para wanita dan pria seakan sedang menunggu dengan raut wajah masam dan penuh kekecewaan.


Ternyata benar perkataan dari Senior, tidak sedikit pendemo yang berada di luar rumah tahanan menunggu Arai. Mereka mengutarakan kata-kata protes, makian dan kekesalan kepada Arai dan kepolisian.


Tidak hanya masyarakat, para pencari berita juga telah bersiap menunggu dengan kamera mereka untuk berita yang masih sangat segar.


Senior melajukan mobil yang dikendarainya dengan kecepatan minimum memasuki halaman rumah tahanan yang cukup luas, tetapi tidak ada apapun di sekitarnya selain lapangan kosong dan tempat parkir.


Senior menghentikan laju mobil di depan pintu masuk gedung, Ia menarik rem tangan mobil untuk menjaga mobil agar tetap berada pada posisinya.


Seorang petugas polisi menghampiri mobil mereka kemudian memberikan salam hormat kepada mereka dengan posisi siap siaga.


Senior keluar dari mobil di ikuti Nana yang sedikit kerepotan karena harus mengenakan kembali tas ransel miliknya. Ia tidak berniat untuk meninggalkan tas tersebut di dalam mobil berbeda dengan Senior yang meninggalkan mantel dan tas miliknya di mobil.


Lagi pula siapa yang akan mengambil barang-barang dalam mobil yang kosong di halaman rumah tahanan, mereka hanya akan melihat masa depannya disini, mungkin seperti itu yang dipikirkan Senior.


Mereka diantarkan untuk bertemu dengan Arai yang menunggu di pintu masuk rumah tahanan.


Nana melihat seorang pria dengan kulit sawo matang, wajah berminyak dan rambut yang terkesan disisir asal-asalan berdiri bersama dua petugas polisi yang menjaganya dibelakang.


"Tuan Arai?" Senior berniat untuk berjabat tangan dengannya, tetapi pria yang tampak berusia kisaran akhir 30 atau 40 tahunan itu seakan menolak ramah tamah dari Senior.


"Apa perlu aku menjawabnya? Sepertinya tidak perlu ada penjelasan saat kalian melihat dua polisi dibelakangku ini."


Senior menarik kembali tangannya, menganggap hal itu tak pernah terjadi. Mungkin saja Arai masih mengingat orang yang menangkapnya 8 tahun yang lalu sehingga ia tidak ingin ada keakraban di antara mereka.


"Baiklah kalau begitu, aku juga tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Sepertinya kau tau alasan kami kemari." balas Senior yang berusaha menahan diri saat menghadapi Arai.


"Merepotkan sekali. Kenapa mereka tidak membiarkanku bebas dengan tenang? Aku bahkan belum sempat menculik anak itu. Apa mereka tidak puas dengan memenjarakanku 8 tahun? Coba saja mereka rasakan bagaimana 8 tahun berada disini."


Seakan tidak menyesali perbuatannya. Arai hanya terus mengeluh, Nana terlihat sangat kesal.


"Kau bilang 'Belum sempat'? Apa perlu kau harus melakukan penculikan itu sebelum di tangkap baru kau menyesali atas perbuatanmu?"


Rasanya Nana ingin memukul pria dihadapannya ini.


"Nana, tenanglah." Senior menghalangi Nana untuk maju mendekati Arai. "Tidak ada gunanya kau meladeni perkataan orang ini. Walau dia residivis, melakukan tindakan tanpa ada alasan oleh petugas bisa di kenakan sanksi. Jangan kau merugikan dirimu karena orang ini."


Mendengar itu Nana kembali di posisi awal, walau dirinya sebenarnya masih marah terhadap Arai yang tidak tampak sedikitpun rasa menyesal pada dirinya.


Arai mengangkat kedua bahunya dengan muka mengejek seakan-akan mengatakan manaku tahu, kepada Senior.


Sifat Arai masih seperti seorang anak remaja yang dalam masa pemberontakan padahal umurnya tidaklah semuda itu.


Senior tidak ingin berlama-lama berurusan dengan Arai yang seenaknya saja. Ia segera menyuruh Arai untuk masuk ke dalam mobil agar tugas Senior dan Nana cepat selesai dan tak lagi terus bersama dengan Arai.


Untuk mencegah Arai melakukan sesuatu di kursi belakang mobil. Senior berganti posisi duduk di kursi belakang bersama Arai dan Nana di minta untuk mengantikannya menyetir.


"Apa banyak yang berdiri di depan sana?" Arai menanyakan tentang keberadaan massa yang protes kepada dirinya.


"Bagaimana kalau kau lihat sendiri. Apa perlu kita keluar dari mobil untuk menyapa para pers yang haus akan berita? Aku yakin banyak yang akan menggucapkan kata cinta untukmu."


Wajah Arai tampak masam dan jijik saat mendengar jawaban dari senior.


Saat pintu gerbang terbuka, mobil Nana yang membawa Arai keluar melintasi kerumunan massa yang seperti mengetahui bahwa mobil sedan silver itu membawa Arai. Para wartawan terus menyalakan flash kamera agar dapat memotret isi didalam mobil.


Nana berusaha mengendarai dengan hati-hati agar badan mobil tidak menyenggol para pers berada cukup dekat dengan jalan utama. Ia bahkan sesekali harus menghalangi mata dengan tangannya karena flash kamera yang menyilaukan dan menusuk mata, ditambah hari yang cukup terik ia seakan berjalan di dalam terowongan cahaya.


Setelah berhasil meloloskan diri dari para massa yang protes, Nana melajukan mobilnya cepat agar tidak ada wartawan yang sempat mengikuti mereka.


.


.


.


Selama beberapa menit di perjalanan, tidak ada satupun pembicaraan dari ketiga orang yang mengisi mobil tersebut.


Senior seakan malas untuk berbicara dengan Arai dan Arai pun terus membuang wajahnya dari Senior, ia lebih memilih melihat kearah luar jendela mobil. Sedangkan Nana fokus dengan kemudi mobil dan jalanan.


"Aku lapar..." gumam Arai, "Apakah kita bisa membeli makan terlebih dulu sebelum sampai? Aku sudah lama tidak makan makanan manusia yang layak. Kalian tau tempat itu seperti kadang hewan." protes Arai yang mencoba mengoyah kesabaran Senior.


Tidak ingin banyak berdebat akhirnya Senior memerintahkan Nana untuk menuruti kemauannya.


"Nana, kita mampir sebentar di minimarket sebelum ke lokasi." pintah Senior, "Sepertinya bekal makan minimarket sudah cukup."


Arai sedikit kecewa, yang diinginkannya adalah dapat makan makanan daging yang di buat di restoran.


"Baik senior." Jawab Nana seraya melihat mereka berdua dari kaca spion tengah.


Mobil mereka akan segera melintasi perempatan lampu merah. Beruntung sekali, lampu lalu lintas yang awalnya merah berubah menjadi hijau saat mobil mereka datang. Nana melajukan mobilnya lurus ke depan yang merupakan jalan yang akan dilaluinya.


Terdengar suara decitan dan benturan misterius dari arah kiri mobil Nana. Sebuah mobil hitam melaju menerobos lampu merah dari arah jalan sebelah kiri dan dengan kecepatan tinggi mobil sedan itu seperti tidak ada niatan untuk menghindari mobil didepannya, melaju dengan liar seperti banteng akan akan menabrak mobil Nana.


Dan tiba-tiba...


BAAMM!


[ ]


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...