
Arai yang panik melangkahkan kaki dengan cepat dan semakin cepat saat perasaannya mulai menjadi takut. Ia tak berani untuk menoleh kebelakang, namun ia sangat pemasaran apa yang ada di belakangnya.
Keringat dingin mengucur dari pori-pori wajahnya, awalnya ia tak setakut ini tetapi semakin merasakan hawa seseorang di sekitarnya membuat Arai tidak bisa berpikir tenang.
Hingga ia tidak menyadari dari balik bayangan jalan dihadapannya yang tak tersinari oleh cahaya lampu jalan kuning redup, seseorang tengah berjalan di posisi yang sama tetapi dengan arah berlawan. Mereka pun saling bertabrakan.
"Aargh!!" rintih Arai kerena orang itu mengenai luka di tangannya yang masih terasa sakit.
Spontan ia memundurkan tubuhnya dengan kesal seraya meringgis kesakitan. Ia merasakan sebuah benda lancip yang dibawa orang didepannya ini membentur tangannya yang membuat tangannya semakin sakit.
"M-maafkan saya!! Saya tidak melihat anda di depan." pria berkaca mata itu merasa bersalah saat orang yang ditabraknya itu merintih kesakitan.
Pria berkacamata itu menenteng tas kerja di dekapannya. Sepertinya ia juga tipe penakut yang hanya bermodal nekad dan jurus seribu kaki untuk menghingdari orang-orang yang di anggapnya jahat. Sayangnya kali ini ia tidak beruntung bertemu dengan mantan tahanan yang baru saja beberapa jam yang lalu keluar.
"Sial...ujung tasmu mengenai tanganku..." keluh Arai menahan rasa sakit di tangannya.
Arai memperhatikan pria yang menabraknya itu, sepertinya pria itu merupakan pekerja kantor yang baru pulang kerja. Dari waktu dirinya pulang jam larut malam, pria itu seperti habis kerja lembur. Wajah yang lelah dan lesu menunjukan dirinya tak lagi memiliki tenaga untuk berdebat dengan Arai.
Ini menjadikan kesempatan Arai untuk memanfaatkannya menambah pemasukan untuk bertahan hidup.
"Hei...hati-hati kalau berjalan. Lihat apa yang telah kau lakukan, luka ini bisa semakin parah karena kau."
Sekali lagi pekerja kantoran itu meminta maaf sampai membungkukan tubuhnya ketakutan.
"T-tetapi...yang saya lihat luka anda tidak seperti bukan yang luka parah."
Arai menjadi kesal karena perkataannya di lawan.
"Omong-kosong! Memang kau dokter? Kau tau betapa sakitnya tangan ini saat mengenai tas mu itu."
Ternyata pria ini sangat lemah, ia saja sampai gemetar ketakutan karena suara benatakan Arai. Menjadi dirinya santapan empuk bagi pamangsa seperti Arai.
"Berikan uang rumah sakit untuk memeriksakan kembali lukaku ini. Kau pikir biaya rumah sakit itu murah!"
Arai terus mengintimidasi pria pekerja kantor itu. Hingga pria itu mau tidak mau terpaksa mengeluarkan dompet beserta isinya dengan beberapa lembar nominal uang.
Tidak puas hanya segitu yang di berikan. Arai merebut dompet pria tersebut dan mengambil semua uang yang ada di dalam dompetnya, lalu melemparkan kembali dompet kosong milik pria tersebut kembali.
Wajah Arai menyeringai bahagia melihat isi dompet yang lumayan dari pria tersebut.
"Ternyata kau kaya jua. Berhati-hatilah di jalan, jangan sampai bertemu dengan orang sepertiku lagi...hahaha..."
Arai pergi dengan wajah bahagia. Besok ia bisa berpesta dengan uang sebanyak ini. Ia sampai melupakan pesan petugas polisi itu untuk tidak berbuat macam-macam.
Arai akhirnya tiba di apartemen dengan bonus di tangannya. Ia mengeluarkan kunci pintu dari saku celananya, kemudian memasukannya ke dalam lubang kunci.
Kecurigaan dan perasaan tidak enak pada dirinya sampai sempat ketakutan tadi ternyata hanya perasaan saja. Hingga sampai di apartemen pun tidak ada yang terjadi pada dirinya.
Masuklah ia ke dalam kamar apartemen yang gelap, sebelum ia menyalakan lampu untuk penerangan. Kamar kosong yang masih tercium bau lembab debu karena telah lama kosong. Tidak ada perabotan apapun didalam. Hanya sebuah alas tidur seadanya yang di pinjamkan dari pihak pemilik bangunan apartemen.
Tidak ada bedanya dengan di penjara, pikir Arai sedikit muak dengan suasana yang sama selama 8 tahun terakhir.
Tetapi saat melihat uang dan bir yang dibawanya. Ia kembali tersenyum penuh kebebasan. Tanpa tau dari di sudut kamar yang tak terlihat saat memasuki kamar.
Seseorang telah menunggunya.
Reflek Arai melompat kaget. Ia sampai menjatuhkan dirinya karena mengira ada sosok mahkluk tak kasat mata di kamar apartemennya ini. Menginggat kamar ini telah lama kosong tak berpenghuni.
Sesaat kemudian Arai menyadari betapa bodoh dirinya mempercayai ada mahkluk yang bahkan tidak pernah di lihat dengan mata kepalanya sendiri selain dalam film horor terkenal. Yang harus ditakutinya bukan lah hantu tetapi manusia itu sendiri.
Suara wanita yang berbicara itu sangat mengejutkan Arai. Ia bahkan tersenyum tipis memperhatikan Arai yang terduduk lemas. Melihat reaksi yang dibuat Arai sedikit menghiburnya.
"Kau..." ucap Arai menyadari sesuatu, "Aku kenal kau...Kau petugas wanita yang bersama laki-laki tadi, bukan?"
"Maksud Anda Senior? Ya, anda benar. Itu saya." Jawab Nana sambil menyilangkan kakinya, menopang kepalanya dengan satu tangan dan kembali memperhatikan reaksi Arai dengan wajah pucatnya.
Apa-apaan wanita ini?, Arai sedikit merasa dirinya merinding saat melihat tatapan mata Nana.
"Bagaimana kau bisa masuk kemari?"
Nana menunjukan ekspresi seakan mengekpresikan 'itu bukanlah hal yang sulit' di wajah Nana.
Nana meronggoh saku mantelnya, Ia mengambil sesuatu yang berada didalamnya. Selagi Nana mengambil sesuatu, Arai memperhatikan kedua tangan Nana yang menggunakan sarung tangan hitam.
"Tidak sulit untuk meminta kunci cadangan oleh seorang polisi." Nana menunjukan kunci yang menjuntai di jari telunjuknya.
Apa petugas itu yang menyuruhnya datang? Bukannya tadi ia tidak ingin ada yang menjagaku disini, pikir Arai dalam hati.
Tapi, ternyata pada akhirnya mereka tidak akan membiarkanku mati begitu. Tentu saja, mereka tidak akan tau letak benda itu jika aku mati.
"Kenapa kau diam? Sedang memikirkan sesuatu?" tanya Nana mencondongkan tubuhnya kedepan agar dapat melihat ekspresi Arai lebih dekat.
"Ah! Hahaha...tidak. Aku hanya tidak menyangka seorang polisi wanita yang menjagaku disini. Aku sudah lama tidak dekat dengan seorang wanita, jadi sedikit gugup."
Arai memperbaiki posisi duduknya seraya membuka isi kantong plastik yang dibawanya berisikan 4 kaleng bir yang mulai tak sedingin saat ia beli.
Nana menyipitkan matanya dengan dingin.
"Aku tidak mengerti maksud anda. Menjaga anda? Saya tidak ditugaskan untuk menjaga anda saat datang kemari. Itu melanggar prinsip kami."
Kepala Arai tiba-tiba terasa aneh. Pandangannya pun seperti bergoyang. Ia seperti berada di atas kapal yang terombang-ambing oleh ombak.
Rasanya mual, pusing dan tubuhnya terasa lemas. Saking tidak kuatnya menopang tubuhnya sendiri, Arai terjatuh tengkurap di atas lantai apartemen, aroma debu tercium sangat kuat saat tubuh kurus Arai menerbangkan debu lantai yang belum sempat dibersihkannya.
Dengan sisa-sisa tenaganya, ia menolehkan kepalanya kearah Nana.
"A-apa yang terjadi kepadaku? Kenapa..."
Senyum diwajah Nana tidak hilang, bahkah semakin mengerikan dan seakan menikmati kondisi menderita yang tengah di alami Arai.
"Kau...apa yang telah...kau lakukan...padaku?" Arai bertanya dengan sisa-sisa tenaganya.
"Memento mori, non vivere."
Arai tak mendengar apa yang dikatakan Nana. Tubuhnya telah mencapai batas. Semua yang dilihat dan didengar seakan hanya mimpi belaka sebelum akhirnya Arai tumbang tak sadarkan diri di bawah dibawah kaki Nana.[ ]
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...