Memento Mori

Memento Mori
Ep. 4 Crime 1: 10 Tahun yang lalu (4)



Mereka tiba di sebuah apartemen tua dua lantai yang terlihat usang dan suram karena cat pada dinding bangunan terlihat kusam, terkesan telah lama bangunan ini tidak dilakukan renovasi ulang.


Daerah yang sepi dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, walau lokasi mereka masih termasuk ibu kota, namun lokasi ini berada di pinggiran yang minim penduduk.


Lokasi ini dipilih untuk menghindari masyarakat yang marah dengan Arai, terutama daerah yang pernah menjadi lokasi tempat kejadian perkara di mana Arai melacarkan aksinya.


"Kalian memilih tempat ini sebagai tempat paling aman? Jangan bercanda...kalian para polisi kekurangan pemasukan?" Arai merasa kecewa, ia pikir tempat yang akan menjadi tempat perlindungannya akan lebih bagus dan layak.


"Tidak ada tempat yang aman di dunia ini. Apalagi untuk manusia seperti kau. Jangan banyak tingkah."


Senior membuka pintu sebuah kamar yang akan menjadi tempat tinggal sementara Arai. Senior memberi isyarat lewat tatapan dan gerakan kepala untuk Arai segera masuk ke dalam kamar.


"Apa ada keluarga yang ingin kau hubungi?"


Arai menunjukan muka dingin seakan tidak peduli ia memiliki keluarga atau tidak. Mungkin saja keluarganya telah membuang Arai sejak kasus pertama.


"Aku anggap tidak ada. Itu lebih baik karena keberadaanmu bisa menarik publik, berdiamlah disini sampai kondisi kembali tenang."


Senior mengeluarkan ponsel dari dalam jas hitam yang dikenakannya. Ia berniat untuk menghubungi seseorang. Barang ini merupakan barang satu-satunya yang dibawa Senior setelah kecelakaan. Dompet, tas dan mantel tidak sempat ia ambil karena keadaan yang tidak kondusif untuk menghawatirkan barang pribadi miliknya.


"Aku akan datang kembali. Hingga aku kembali lagi, jangan berbuat macam-macam hingga menarik perhatian orang." Senior menekankan perkataannya pada Arai agar mengerti situasi.


"Kalian tidak ada yang berjaga disekitar sini? Bagaimana jika terjadi kejadian seperti tadi menimpaku?"


Senior kesal mendengar ocehan Arai yang tidak tau diri. Ia seakan tidak bercermin siapa dirinya di mata masyarakat.


"Bagaimana kalau kau memanggil rekan wanitamu tadi? Sepertinya dia wanita yang kuat untuk berjaga semalaman disini." Arai mengatakannya dengan tatapan penuh nafsu.


Senior memukul pintu kamar apartemen dengan keras. Ia sampai lupa bahwa apartemen ini juga berisi orang-orang yang tinggal dikamar lain karena saking marahnya. Kesabarannya sudah habis sekarang. Tatapan mata Senior berubah menjadi tajam dan mengintimidasi.


"Aku akan membunuhmu jika terlintas sedikitpun tentang rekanku di kepalamu itu."


Arai cukup senang dapat memprovokasi Senior, tetapi ia juga merasa takut jika ucapan Senior benar-benar terjadi kepada dirinya.


Ponsel Senior mendadak berbunyi. Segera ia mengangkatnya setelah memeriksa nama penelepon masuk dengan singkat.


"Nana! Bagaimana dengan pengemudi itu?! Apa kau telah memintai keterangan kepadanya?!"


<"Y-ya, Senior. Aku telah memeriksanya setelah ia sadarkan diri. Maaf...apakah terjadi sesuatu?"> tanya Nana terkejut dengan suara bentakan Senior dari ponselpnya.


Nana berpikir dirinya yang telah melakukan kesalah karena lama tidak menghubunginya untuk menyampaikan laporan yang didapatkannya.


Senior mengaruk-garuk kepalanya dengan perasaan bersalah. Ia tidak bermaksud untuk membentak Nana, hanya saja ia terbawa emosi karena Arai.


"Tidak terjadi apa-apa. Kau bisa lanjutkan." Senior mencoba untuk lebih tenang.


Sebelumnya Senior mendapatkan pesan dari Nana bahwa pengemudi yang terlibat saat kecelakaan itu telah sadarkan diri dan akan menghubungi Senior kembali setelah selesai melakukan interogasi pada sang pengemudi untuk menyampaikan informasi yang didapatnya.


<"Pria yang mengemudikan mobil hitam saat terjadi kecelakaan terbukti lalai, ia salah menginjak rem dengan pedal gas yang membuatnya kehilangan kendali karena kecepatan mobil yang melaju tiba-tiba. Menurut keterangannya, ia mengantuk saat berkendara. Untuk kondisi apakah ia mengonsumsi sesuatu masih dalam pengecekan.">


"Kau yakin dia mengatakan yang sebenarnya? Dia tidak tau jika Arai berada didalam mobil?"


<"Aku telah memastikannya sendiri. Tidak ada motif apapun dalam kecelakaan ini. Dia sendiri tidak tau siapa Arai selain mendengar namanya di TV. Senior bisa menginterogasi ulang jika ada sesuatu yang masih mengganjal.">


"Tidak, itu tidak perlu. Aku percaya kepadamu. Biarkan bagian lalu lintas yang memeriksanya lebih lanjut."


<"Baik, Senior.">


"Kau beruntung masih hidup sekarang." Senior masih kesal setiap kali melihat wajah Arai.


"Pak petugas, Apakah aku boleh menanyakan sesuatu?"


Senior tidak menjawab, tetapi sepertinya ia mengizinkan Arai untuk bertanya kepadanya.


"Siapa yang meminta kalian untuk mengawalku hingga kemari?"


Senior tidak begitu mengerti kenapa tiba-tiba Arai menanyakan hal tersebut.


"Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu."


Senior mendapat surat perintah dari ketua divisinya dan kemungkinan jika Senior boleh menebak yang memerintahkannya adalah kepala polisi. Karena beliau yang menyarankan lokasi ini untuk membawa Arai pergi saat rapat sebelum pelaksanaan tugas.


"Hahaha...Kalian memang anjing yang patuh." ucap Arai tertawa hambar.


Senior lelah untuk berdebat dengannya. Tugasnya mengantarkan Arai ke lokasi yang di tuju telah selesai. Sudah tidak ada alasan lagi bagi Senior untuk berlama-lama bersama orang ini. Ia masih memilikibpekerjaan yang lebih penting ketimbang mengurusi orang seperti Arai.


.


.


.


Malam telah tiba, bulan mencoba menunjukan jati dirinya dengan keindahan cahaya putih yang mengelilinginya. Namun, awan kelabu terus saja berusaha untuk menghalangi cahaya indah tersebut. Seakan keindahan itu tidak dibutuhkan oleh bumi yang dipenuhi mahkluk pendosa.


Arai yang kelaparan tidak kuat menahan perutnya yang keroncongan sampai petugas polisi tadi kembali. Ia pun juga tidak peduli apakah petugas itu kembali atau tidak. Kebebasan adalah hal terpenting bagi dirinya sekarang.


Arai keluar dari tempat persembunyiannya untuk mencari makan. Ternyata tempat ini tidak buruk juga karena tidak ada yang memperdulikan satu sama lain sebagai tetangga. Tidak ada yang menganggu dirinya dengan menanyakan siapa dirinya, dari mana dan kapan pindahnya.


"Cih...mereka membayarku selama 8 tahun terlalu kecil, uang ini saja tidak cukup untuk membeli whisky. Apa mereka pikir tahanan itu budak mereka, hah?!" keluh Arai yang jengkel dengan sistem rumah tahanan yang memperkerjakan para tahanan agar mendapat pendapatan tambahan yang dapat mereka gunakan saat keluar nanti.


Arai mengeluarkan satu batang rokok yang baru saja dibelinya. Ia nyalakan dengan pematik otomatis yang juga baru. Ia hisap dalam-dalam asap pada batang rokok tersebut hingga rasa pahitnya masuk kedalam mulutnya. Lalu ia hembuskan dengan hikmat asap yang keluar, menikmati setiap sensasi yang masuk kedalam tubuh hingga pikirannya terasa lebih ringan.


Inilah kebebasan sesungguhnya. Ia merasa dapat hidup lebih lama dengan hanya menghisap rokok dengan nikmat.


"Apa yang akan aku lakukan sekarang yaa~" Arai membuat nada bersenandung saat mengucapkannya.


Semakin malam tempat ini semakin sepi dan sunyi. Hanya suara ranting pohon yang bergoyang terkena hembusan angin saja yang terdengar disekitar Arai. Suara lolongan anjing dari kejahuan membuat suasana semakin terasa menyeramkan. Seakan-akan bayangannya saja seperti dapat memakannya hidup-hidup.


Baru saja Arai menganggap tempat ini adalah tempat terbaik untuknya. Tetapi entah kenapa tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak.


Awal keluar dari apartemen Arai tidak merasa sewaspada ini. Setelah dari minimarket terdekatpun masih tidak semengerikan ini. Tetapi sekarang ia merasa takut dan segera ingin kembali ke kamar apartemen dan mengunci dirinya.


Arai mendengar suara langkah kaki yang mendekat kearah dirinya. Ia bertanya-tanya pada dirinya apakah ia harus menoleh kebelakang atau tidak.


Jantungnya mulai berdebar. Kondisinya saat ini tidak memungkinkan untuk membela diri jika terjadi sesuatu.


Perasaan sedang di awasi membuatnya semakin panik. Keadaan sekelilingnya cukup gelap untuk dirinya mencari tau apakah ada seseorang disekitarnya.


Ternyata mempercayai orang itu adalah sebuah kesalahan. Arai membalik tubuhnya ke belakang, ia memberanikan dirinya untuk melawan jika benar seseorang tengah mengawasinya. Tetapi tidak terlihat satu orang pun dibelakannya.


Hawa keberadaan seseorang masih sangat terasa dan mendekat. Tapi di mana? [ ]


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...