Memento Mori

Memento Mori
Ep. 8 Crime 1: Pembalasan Pertama (4)



Kenapa mereka tau? Apakah mereka benar-benar mengetahuinya tentang jual-beli itu?, pikir Arai dilema. Ia tidak ingin menjawab. Namun melihat tatapan Nana yang dingin, ia seperti mengancam akan menghukumnya kembali dengan kursi listrik ini jika tidak menjawab.


"Kau menjual mereka. Sekarang jawab pertanyaanku. Untuk apa kau menjual mereka?" ucap Nana kembali sedikit menekan.


Tiga pilihan yang diberikan, ada satu jawaban yang sebenarnya terjadi pada dirinya --Bukan. Bahkan itu adalah jalan kehidupannya-- awal mula dirinya memilih jalan ini.


"Untuk..." Arai menelan ludah membasahi kerongkongan yang kering, "...Bertahan hidup..."


Nana sedikit tercengang dengan jawaban Arai yang sepertinya tidak diduganya, melihat sikap Arai yang sejak awal kekanak-kanakan.


"Bertahan hidup kah." Nana menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, nada bicaranya kembali berubah tak sedingin saat menekan Arai untuk menjawab. "Jawaban yang cukup bagus."


Cukup bagus?! Memangnya mereka tau apa?!, Arai tampak kesal dalam diam.


"Bertahan hidup akan ketidakadilan didunia. Bertahan hidup akan pikiran radikal. Bertahan hidup akan keputusasaan. Kau memilih melakukan kejahatan seperti itu untuk sekedar bertahan hidup? Semua tentang bertahan hidup ini menjerumuskan kita semua disini." Nana terdiam sejenak menatap kosong kearah Arai, sebelum ia kembali berbicara, "Apa kita memang perlu bertahan hidup?"


Arai sedikit tekejut dengan perkataan Nana yang terakhir. Seakan sesuatu seperti menusuk jantungnya sesaat. Didalam batinnya pun ikut bertanya-tanya, Apakah semua ini untuk bertahan hidup?


"Ayahmu seorang pemabuk berat, bukan? Pasti sangat sulit mengontrol seseorang yang akal sehatnya tidak lagi berada disini." Nana menyentuh kepalanya dengan jari telunjuk. "Untuk melupakan penderitaan sejenak, lalu membuat kesengsaraan berkepanjangan."


"Setelah raganya sudah tak bisa ia kendalikan kembali, Ibumu mengantikannya. Ibumu yang baik hati dan lemah lembut itu, membuat kehidupan kalian semakin terpuruk dan jatuh dalam lubang hitam tak berdasar."


Arai mengeram, Ia mengepal kedua tangannya.


"Ibumu terjerat hutang dalam jumlah besar. Hanya demi menghidupi anak satu-satunya yang menjadi harapan baginya. Lalu apa yang dia lakukan untuk anak yang diharapkannya ini? Kira-kira, apa yang di ucapkan ibumu pada surat terakhirnya itu ya? Maaf? Terima kasih? Atau selamat tinggal?"


"DIAM!! BAGAIMANA KALIAN TAU SEMUA ITU? SIAPA KALIAN!!? SIAPA KALIAN SEMUA?! KENAPA KALIAN MELAKUKAN INI KEPADAKU?!" Arai tidak tahan mendengar semua penderitaan masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam. Tidak ada yang tau selain dirinya, bahkan kerabat dan keluarga yang lainnya saja tidak peduli.


Nana masih bersikap tenang. Walau Arai sudah seperti akan mengila mendengar masa lalunya.


"Bukankah itu tidak adil? Kenapa harus 'aku' yang mengalaminya? Apa yang harus 'aku' lakukan?" ucap Nana menggambarkan kehidupan Arai dari masa lalunya. "Apa bertahan hidup adalah jawaban yang benar?"


Arai mengeram menahan emosinya yang meronta-ronta didalam tubuhnya. Hingga tanpa disadarinya air mata keluar dari kedua bola matanya. Entah ini air mata kemarahan atau air mata mengasihani diri sendiri.


Kenapa aku harus bertahan didunia seperti ini?


"Oh...aku ingin menunjukan sesuatu kepadamu." ucap Nana meminta Arai untuk melihat kerah layar. "META, bisakah kau tampilkan 'itu'."


"Akan. Aku. Tampilkan."


Layar monitor META berubah, menampilkan foto-foto anak-anak yang menjadi korban penculikan Arai. Didalam foto-foto tersebut, anak-anak yang menjadi korban pada kasus pertama dan kedua, semua tampak tersenyum polos ceria.


"Bukankah mereka anak-anak yang ceria?"


"Orang tua mereka merawat mereka dengan baik ya, hingga mereka dapat tersenyum polos seperti itu. Sayangnya satu diantara mereka tidak lagi kembali."


Foto yang ditampilkan pada layar berjumlah 3 buah. Satu foto korban kasus pertama dan dua foto korban kasus kedua.


"Aku sedikit iri kepada mereka. Aku bahkan lupa tentang masa kecilku." Nana kembali berbalik menghadap Arai, "Kasusmu terbilang nekad dan berani, berbanding terbalik dengan sikapmu yang bodoh dan tanpa perhitungan. Oleh karena itu polisi menangkapmu sampai dua kali."


"Lokasi saat ksu mencari korban adalah taman hiburan atau taman kota. Kenapa harus ditempat ramai seperti itu?"


Nana sengaja membuatnya menjadi sebuah pertanyaan.


"Karena disana, kau bisa melihat anak-anak dan orang tua mereka bersama." jawab Nana sendiri, "Kau membenci mereka. Kebahagiaan mereka menjadi derita bagimu. Sejak kecil kau hanya bisa terkurung di dalam rumah yang dipenuhi suara perkelahian kedua orang tuamu. 'aku membenci mereka. Kenapa mereka tidak seperti diriku? Kenapa harus aku?! Mereka juga harus merasakannya!'." Nana menekan perkataannya dikalimat-kalimat terakhir.


"Dan jadilah mereka korban bagimu, untuk setidaknya mengurangi penderitaan dirimu sendiri. Hutang yang bisa kau lunasi dengan menjual anak-anak itu dan uang dengan mengancam orang tua mereka. Mendorong orang tua anak-anak tersebut merasa perasaan bersalah seumur hidup karena telah membahayakan putra-putrinya sendiri."


"Cukup...kumohon hentikan...sudah cukup..." gumam Arai merasa dihantui oleh masa lalu kembali. Ingatan yang mulai bisa dilupakannya dengan perasaan senang saat melakukan kejahatan itu, perlahan kembali muncul satu persatu.


"Jawaban yang tepat, kenapa kau membutuhkan uang sebanyak itu...adalah untuk Melarikan diri."


"Melarikan diri dari kenyataan bahwa kau berbeda. Melarikan diri bahwa kau harus menghadapi masalah yang sebenarnya bukan urusanmu. Melarikan diri bahwa kau tidak berguna didunia ini."


"Ya, walau dengan melarikan diri kau masih dapat hidup. Tetapi bagaimana dengan ibumu, yang melarikan diri dengan merenggut nyawanya sendiri."


Nana berjalan kearah Arai yang tengah tertunduk. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Arai, lalu berkata dalam bisikan halus,


"Buah tak jauh dari pohonnya. Kau mirip seperti ayahmu. Alkohol yang menghancurkan dihidupnya dan keluarganya. Kini kejahatanmu yang menghancurkan dirimu dan lingkunganmu. Jika ibumu dihidupkan kembali, dia pasti akan mengantung dirinya untuk kedua kalinya."


Nana menyeringai melihat sorot mata Arai tampak syok dari dekat. Nana tidak menyangka tubuhnya akan merinding kesenangan saat melihat Arai menunjukan ekspresi yang luar biasa itu.


"Ahahahaha!! Luar biasa...ekspresi itu..." Nana tidak bisa menahan rasa senangnya yang tiba-tiba muncul, hingga ia ingin tertawa lepas.


Arai membuka mulutnya lalu menutup. Ia seperti mengatakan sesuatu dengan nada suara yang sangat kecil hampir tak terdengar. Nana yang menyadarinya, berhenti tertawa dan membiarkan Arai untuk berbicara.


"Kalian benar...tetapi kalian salah akan satu hal..." Mata Arai memerah dengan ekspresi yang berubah drastis menjadi tatapan kemarahan, "Aku mungkin akan seperti ayahku, tetapi ibuku...di surat yang beliau tulis...mengatakan aku harus tetap hidup apapun yang terjadi! JANGAN KALIAN SEMBARANGAN MEMBICARAKANNYA!!"


Seketika Nana tidak menyukai jawaban itu. Ekspresinya berubah menjadi dingin seketika.


"Hidup? Jangan bercanda." cetus Nana, "Orang-orang seperti kita tidak memiliki pilihan untuk hidup."


"Hidup hanya untuk 'Mereka'."[ ]


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...