
Setelah memasukan sebuah tas hitam berbahan kulit sintetis yang cukup besar ke dalam bagasi mobil. R membanting pintu bagasi mobil hitam miliknya cukup kencang hingga terdengar seperti banting keras.
"Aku akan mengurus sisanya." ujar R memberi isyarat dengan gerakan kepala kearah mobil.
Nana mengangguk mengerti, memang sudah tugas R yang melakukan pekerjaan 'Bersih-bersih' setelah eksekusi yang mereka lakukan.
"Sebaiknya kau segera kembali. Orang yang bekerja bersamamu pasti akan kembali untuk mengecek keadaan Arai. Kau paham yang harus lakukan bukan?"
Nana kembali mengangguk. Nana sedikit merasa lelah, kepalanya mulai berdenyut sakit. Ia segera menekan bagian kepalanya dengan kedua tangannya.
R yang menyadari kondisi Nana yang terlihat tidak baik-baik segera mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Kau baik-baik saja? Apa perlu aku menelepon TRI?"
R menarik tangan Nana, kemudian mendorong semua pakaian yang menutupi lengan Nana.
Namun Nana segera menghentikan R, ia langsung menutupi bagian lengannya, "Aku membawa milikku sendiri. Jangan kau gunakan milikmu. Jika aku mulai bereaksi, sebentar lagi kau juga, R."
R mengerutkan dahinya. Ia mengenggam benda itu dengan erat setelah Nana menolak mengunakannya. Bukan karena benda itu penting baginya. Melainkan kenapa harus bergantung pada benda ini?
"Aku akan pergi duluan. Matahari akan segera terbit sejam lagi." ucap Nana melihat jam tangan yang dikenakannya.
"Haa...Berhati-hatilah. Jika terjadi sesuatu hubungi kami."
R dan Nana akhirnya berpisah. Mereka menggunakan mobil berbeda. Eksekusi mereka hari ini berjalan sesuai rencana.
.
.
.
Nana telah merencanakan penculikan Arai sejak sebulan yang lalu. Saat telah terkonfirmasi Arai akan di bebaskan bertepatan dengan hari ditemukannya anak-anak yang mati misterius.
Sebelum eksekusi Arai dijalankan, diwaktu berbeda, mereka juga melakukan hal yang sama pada seorang pelaku kejahatan serupa namun pihak polisi belum bisa menangkapnya, dan kini, selamanya buronan itu akan menjadi buronan abadi yang tidak akan ada polisi yang menemukannya
Bertepatan dengan hari tersebut, Tentu, hanyalah sebuah kebetulan. Namun, bagi Nana hari itu merupakan hari yang tidak dapat dilupakannya, dan membalas seorang pelaku yang terlibat dalam kejadian itu dihari mereka melancarkan aksinya. Sama seperti mempersembahkan hadiah terbaik pada anak-anak yang meninggal itu.
Nana yang merupakan rekan kerja Senior sejak dirinya bergabung pada divisi. Sangat mudah baginya untuk terpilih dalam pengawalan mantan narapidana Arai, jika Senior-nyalah yang di percaya mengemban tugas ini.
Nana merencanakan untuk membuat reputasi Senior lebih baik dalam beberapa minggu ini agar Senior dilirik oleh ketua divisi untuk memberikannya tugas.
Dengan sedikit menyingung tentang masa lalu Senior yang pernah menangkap Arai saat itu dan catatan perilaku kerja yang baik. Pembicaraan Nana dengan ketua divisi berjalan dengan lancar. Dan sesuai rencana Senior mendapat kepercayaan dari tugas ini.
.
Saat mengantar Arai ke lokasi yang telah ditentukan. Tiba-tiba terjadi kecelakaan di perempatan lampu merah yang mereka lalui.
Kecelakaan itu TENTU bukanlah suatu kebetulan melainkan rencana yang telah di siapkan. Dengan tujuan untuk melumpuhkan gerak Arai. Jika beruntung kecelakaan itu dapat menewaskan Arai di tempat.
Nana dengan dibantu oleh R sebagai aktor sang pengemudi mobil sedan yang menabrakan dirinya sendiri ke mobil Nana yang membawa Arai. Mereka melakukan sandiwara layaknya terjadi kecelakaan sungguhan.
Nana berpura-pura tengah melakukan tindakan darurat terhadap korban kecelakaan. Nana berusaha senatural mungkin melakukan sandiwaranya dan tidak membiarkan Senior yang menanggani korban kecelakaan ini.
Untungnya Senior tidak mencurigai sedikitpun tentang kondisi pengemudi ini. Nana sengaja menyuruh Senior mengurus kondisi Arai agar perhatiannya tidak beralih pada mereka dan hanya fokus pada tugasnya.
R yang menjadi korban akan digantikan oleh pemeran penganti yang telah R siapkan untuk menanggung semua konsekuen kecelakaan yang terjadi. Entah bagaimana R menyuruh pemeran penganti tersebut tidak membantah peritnahnya. Semua kesalahan R saat kecelakaan tadi akan jatuh kepadannya.
Setelah mereka melakukan pengantian pemain, Nana membuat kesaksian palsu untuk korban kecelakaan yang sebenarnya telah digantikan.
.
TRI yang saat itu menabrak Arai dengan segaja menyuntikan sebuah obat anastesi yang akan bereaksi beberapa menit kemudian setelah disuntikan dari jarum suntik yang ia sembunyikan pada tasnya.
Karena kondisi Arai yang saat itu setelah mengalami kecelakaan, rasa sakit jarum suntik ini akan tersamarkan oleh rasa sakit yang lebih terasa pada lengannya. Arai tidak menyadari hal itu.
Saat Arai kembali, ia sama sekali tidak mengetahui keberadaan Nana di dalam kamarnya.
Status Nana sebagai polisi juga membuatnya dapat bebas berlalu lalang di tempat itu tanpa dicurigai. Terlebih lagi tempat tersebut cukup sepi dan kamera pengaman sekitar telah di rantas oleh META yang memang bertugas untuk menghilangkan jejak Nana dan yang lain.
Ketika Arai mulai tidak sadarkan diri karena anastesi yang disuntikan sebelumnya. Nana bersama TRI yang berada di lokasi membawa Arai dengan mobil yang dikemudi oleh R untuk pergi ke suatu tempat.
Eksekusipun dimulai pada malam itu. Hingga mereka mendapatkan apa yang di inginkan oleh mereka. TRI tidak ikut bersama Nana dan yang lain karena ia memiliki tugas lain ditempat apartemen Arai.
.
.
.
[--4 Jam Setelah Eksekusi Arai--]
BRAK!!
Senior menendang pintu kamar apartemen Arai dengan kesal. Ia tidak bisa menahan emosinya saat melihat kamar Arai yang telah kosong tak berpenghuni. Barang-barang bawaannya pun telah tidak ada.
"Dasar sialan itu!!" Senior tidak tahan untuk tidak mengumpat.
Ia tidak menyangka Arai akan kabur dari tempat ini. Jika tahu hal ini akan terjadi, sejak awal Senior akan terus mengawasinya agar tidak bertindak seenaknya seperti ini.
Ini merupakan murni kelalaiannya sebagai seorang petugas.
"Dia malah kabur." Senior mengeram tidak puas meluapkan kekesalannya.
Senior sangat kesal, padahal Ia baru saja mendapat seseorang yang mungkin mengetahui kejadian dibalik kasus kematian anak-anak itu. Tetapi, ia malah menghilang.
"Tenanglah Senior. Pada dasarnya, status Arai bukan lagi seorang tahanan. Ia dinyatakan bebas tak bersyarat, tentu Ia akan pergi kemanapun yang di inginkannya."
Perkataan Nana memang benar, Namun Senior masih tidak bisa melepaskan Arai begitu saja.
"Yang cukup aneh adalah tugas ini." Tambah Nana, "Kenapa kita harus mengawal orang seperti Arai? Bukankah itu aneh jika hanya alasannya untuk keamanan dihari itu saja?"
Perkataan Nana yang itu juga benar. Senior awalnya juga mencurigai dan mempertanyakan tugas yang diberikan ini. Tetapi setelah mengetahui Arai menyimpan sebuah informasi, sebenarnya Senior telah berpikir kearah situ. Dan menghilangnya Arai kemungkin karena suatu informasi tersebut.
"Apa tidak ada saksi yang melihatnya? Bagaimana dengan cctv? Atau orang sekitar?"
Nana mengelengkan kepala."Tidak ada, CCTV juga menperlihatkan dia pergi membawa tas barang miliknya. Tidak ada yang tau dia pergi kemana. Tetangga sekitar belum menyadari keberadaan Arai di tempat mereka, jadi mereka juga tidak melihatnya."
"Aargh! Sungguh menyebalakan." Senior mengacak-acak rambutnya dengan kesal, "Kita kembali ke kantor."
Senior akhirnya menyerah dan pergi meninggalkan apartemen tersebut. Saking kesalnya Senior meninggalkan begitu saja lokasi dengan pintu kamar apartemen yang masih terbuka begitu saja.
"B-baik Senior." Segera Nana kembali berdiri tegak saat menjawabnya.
Nana kemudian buru-buru akan menutup pintu apartemen, saat melihat ruang kamar di dalam apartemen yang gelap dan kosong. Nana tersenyum.
Ia tidak bisa menghentikan senyuman diwajahnya dan perlahan menutup pintu kamar apartemen tersebut. Lalu mengunci kamar apartemen tersebut dan mengejar Senior yang telah menuruni tangga ke bawah.
"Senior izinkan saya yang menyetir...!"[ ]
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...