Memento Mori

Memento Mori
Ep. 3 Crime 1: 10 Tahun yang lalu (3)



BAAAMMM!!


Mobil Nana terdorong bersamaan dengan mobil hitam yang menabrak mereka beberapa meter. Suara decitan ban yang mengikis aspal dan body mobil yang terus mengeluarkan suara retakan yang keras seakan meremukkan badan mobil.


Nana menjerit kaget, airbag pun keluar menahan tubuh Nana agar tidak membentur bagian setir mobil. Sedangkan Senior reflek melindungi kepala dari benturan.


Setelah beberapa detik mereka terdorong akhirnya mobil mereka dan mobil hitam yang menabrak mereka berhenti.


Asap tipis mengepul dari mesin mobil dengan kap yang terlihat penyok terbuka. Bagian sisi kiri mobil merupakan bagian yang memiliki kerusakan yang paling parah pada mobil Nana dan Senior.


"NANA! NANA!" teriak Senior panik, ia mencoba membangunkan Nana yang tidak bergerak di kursi pengemudi.


Khawatir terjadi sesuatu pada rekannya, Senior keluar dari mobil dan mencek kembali kondisi Nana.


"Nana, kau bisa mendengarku?!"


Suara rintihan halus terdengar dari mulut Nana. Senior sedikit merasa lega, rekannya masih bergerak dan bernafas.


Nana merasa sangat pusing, tetapi ia bersyukur airbag ini menyelamatkan kepalanya dari benturan keras. Nana mencoba untuk membuka mata dan menyadarkan dirinya.


Ia keluar dari dalam mobil dibantu Senior untuk melihat situasi yang terjadi.


"Apa Arai baik-baik saja?" tanya Nana yang masih oleng saat berdiri.


"Aku akan memastikannya. Kau bisa berdiri?"


Nana mengangguk.


"Aku akan melihat kondisi pengemudi di mobil yang menabrak kita."


Mereka lalu berpisah untuk mengecek kondisi orang-orang yang terlibat dalam kecelakaan ini.


Nana segera melihat kondisi pengemudi sedan yang tampak pingsan. Seorang pria menyenderkan kepalanya di atas airbag yang keluar saat kecelakan mendadak terjadi.


Nana membuka pintu pengemudi tersebut, kemudian memeriksa keadaan sang pengemudi yang terlihat pingsan. Mulai dari apakah ia bernafas, di mana saja dia terluka, dan posisi pengemudi itu terjepit atau tidak.


"Senior, kita harus segera memanggil ambulan. Pengemudi mobil ini tidak sadarkan diri." Nana sedikit panik melihat kondisi pengemudi tersebut.


"Bagaimana dengan kondisi Arai?" tambah Nana menanyakan keadaan yang lain.


Senior tengah memeriksa kondisi Arai yang berada di posisi mematikan saat kecelakaan itu terjadi. Mobil hitam ini seakan ingin menabrak Arai yang duduk di posisi sebelah kiri.


Apakah ini sebuah kebetulan?, pikir Senior merasa ada yang jangal.


Arai merintih kesakitan. Tangannya terkena benturan pintu yang penyok hampir menghimpitnya.


Segera Senior menelepon bala bantuan dan ambulan untuk menyelidiki kecelakaan ini.


Dalam waktu singkat lokasi tempat kejadian kecelakaan itu telah menjadi bahan tontonan yang ramai. Orang-orang sekitar penasaran akan apa yang sedang terjadi, di karenakan posisi mereka juga berada tepat di tengah perempatan jalan.


Agar massa tidak semakin bertambah dan menimbulkan kericuhan. Senior memberi peringatan kepada masyarakat untuk tidak turun ke jalan dengan alasan dalam kondisi penyelidikan. Orang luar tidak diizinkan untuk mendekat.


Tak lama mobil patroli polisi bersama dengan ambulan datang dan langsung mengevakuasi korban luka, lalu para petugas polisi memberi himbauan untuk para penjalan kaki agar tidak mengganggu proses penyelidikan.


"Senior, apa ada yang terluka?" tanya Nana mencek kondisi Senior yang masih bisa bertugas padahal baru saja ia menjadi korban kecelakaan.


"Aku tidak apa-apa. Arai juga sedang di periksa. Bagaimana dengan pengemudi itu?"


Raut muka Nana berubah menjadi khawatir, "Ia pingsan dan belum sadarkan diri. Jika Senior mengizinkan biar aku yang mengurus pengemudi ini dan mengintrogasinya saat telah sadar."


"Kalau begitu aku serahkan urusan itu padamu. Aku yang akan mengurus Arai disini, bersama dengan para petugas lainnya."


"Baik, Senior."


Nana kembali ke ambulan yang membawa korban pengemudi yang pingsan. Menanyakan beberapa pertanyaan kepada perawat yang mencek kondisinya.


Nana dan Senior saling menatap seakan mereka saling memberi kepercayaan satu sama lain. Sebelum seorang petugas ambulan menutup mobil ambulan untuk segera membawa korban ke rumah sakit secepatnya.


Arai dengan rintihan yang di besar-besarkan saat sedang di obati membuat Senior kesal. Padahal jelas lukanya hanya memar karena benturan yang bahkan dokter bilang tidak mencederai tulangnya cukup parah.


Senior tidak ingin mendengar keluhannya lebih dari ini. Setelah selesai di obati oleh dokter, Arai diminta untuk segera berganti mobil patroli untuk melanjutkan perjalanan.


Jika Arai masih mengeluh dengan luka tak seberapa miliknya, Senior akan menyeretnya masuk kedalam mobil patroli secara paksa.


Senior meminta kepada rekannya yang datang ke lokasi untuk mengurus sisanya di tempat kejadian.


.


.


.


Setelah berpindah mobil dari mobil patroli polisi ke mobil sedan keluaran lawas berwarna abu-abu yang di bawa oleh rekannya yang lain. Senior melanjutkan perjalanan dengan hanya mereka berdua.


Senior sendirilah yang mengantarkan Arai ke lokasi. Mereka harus berganti mobil untuk mengelabuhi wartawan atau agar tidak menarik perhatian orang.


Senior sebenarnya sangat kesal karena harus repot-repot melakukan pergantian mobil dan melakukan pengawalan layaknya sedang mengawal orang penting. Padahal yang bersamanya adalah seorang mantan narapidana yang tidak pernah menyesal telah keluar-masuk penjara.


"Aduuh..duuh...duh...kenapa kalian tidak langsung menangkapnya? Ini termasuk kelalaian pengendara yang menyebabkan korban!" Layaknya orang yang sedang mabuk, Arai terus mengeluh akan rasa sakit yang di deritanya.


"Diamlah! Aku tidak menerima keluhan darimu." Senior mencoba untuk mengontrol emosinya, karena saat ini ia sedang berkendara. Ia tidak ingin ada kecelakaan lain yang terjadi, terlebih jika terjadi karenanya.


Arai mencondongkan tubuhnya ke arah kursi pengemudi. Dengan senyum licik, ia berbisik ke dekat telinga Senior.


"Apa kau tidak takut hanya kita berdua di mobil ini?"


Terkejut Senior me-rem mendadak mobilnya kemudian kembali menginjak gas agar mobil di belakang mereka tidak sampai menabrak bagian belakang mobil.


Senior tetap berusaha untuk tenang walau sedetik yang lalu ia merasa terkejut, "Coba saja kalau berani. Aku akan menginjak gas dan kita akan mati bersama."


Arai membanting tubuhnya ke belakang dengan kecewa. Arai seperti bergumamkan sesuatu yang tidak bisa Senior dengar dan hanya bisa melihatnya dari kaca spion tengah yang memperlihatkan wajah Arai sedang kesal.


"Kenapa kau menculik anak itu?"


Arai kembali mendepankan pandangannya.


"Ini bukan pertama kalinya kau terlibat kasus penculikan? Kenapa kau masih melakukannya? Kasus pertama kau telah ditahan, karena penculikan dan pengancaman dengan tembusan. Kasus kedua, 8 tahun lalu pun kau sama gagalnya. Apa yang membuatmu melakukan hal yang sama? Kau bekerja individu atau ada yang mengontrolmu?" tambah Senior penuh teka-teki


"Bagaimana jika aku tidak ingin menjawab?"


Senior melirik sinis Arai dari kaca spion tengah.


"Kita bukan di pengadilan...aku muak dengan semua pertanyaan yang sama berulang-ulang. Biar aku perjelas, aku melakukannya tanpa alasan. Aku hanya bersenang-senang saja. Hanya itu." Arai menjawab seakan perbuatan yang dilakukannya bukanlah sebuah kejahatan yang merugikan. "Yang penting aku tidak membunuh mereka. Aku hanya ingin uang mereka sebagai bonus."


"Perbuatanmu telah mengganggu kenyamanan masyarakat terutama anak-anak."


"Bukankah itu karena kalian tidak becus mengungkap kematian anak-anak 10 tahun yang lalu."


Perkataan Arai tersebut seperti angin dingin yang menujuk jantung Senior.


"Kau terlibat kasus 10 tahun lalu?" Senior menembak pertanyaan tanpa dasar pada Arai.


Arai hanya diam. Senior yang penasaran ia tidak menjawab lalu melihatnya di kaca spion. Amarah tiba-tiba membakar emosi Senior.


Senior menghentikan mobilnya tiba-tiba di bibir jalan, segera ia membalikan tubuhnya ke belakang dan menarik baju kaos putih yang dikenakan Arai.


"Kau! Kau juga yang menculik anak-anak itu?!" seru Senior murka.


"Aku tidak melakukanya." Arai seakan meledek Senior karena dirinya tidak akan mengatakan sepatah kata walau Senior memaksa sekalipun.


Jelas-jelas Senior melihat Arai tersenyum penuh kemenangan saat di tanya lewat kaca spion tengah. Ia tidak mungkin salah lihat. Senior yakin Arai memiliki keterlibatan pada kasus 10 tahun lalu.


"Bisakah kau melepaskanku? Tanganku sedang sakit. Kau tidak bisa mengunakan kekerasan seperti yang kau katakan pada rekan wanitamu tadi bukan."


Senior menghempas Arai ke belakang dengan kasar. Pikirannya tiba-tiba di penuh dengan berbagai macam hal yang membuat konsentrasinya tergganggu.


"Tch...!"


Senior kembali menjalankan mobilnya. Melanjutkan perjalanan mereka yang sebentar lagi tiba di lokasi yang telah di tentukan oleh Kepala Polisi. []


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...