Memento Mori

Memento Mori
Ep. 7 Crime 1: Pembalasan Pertama (3)



Arai melongo menatap layar monitor besar di hadapannya. Ia tidak dapat mencerna dalam pikirannya yang sudah kacau, apa yang sedang terjadi pada dirinya. Semua terlalu absurd dan tidak terduga.


Ia tau dirinya pasti di benci oleh orang-orang diluar sana. Akan tetapi negara ini memiliki peraturan yang tidak bisa sembarangan orang berbuat seenaknya walaupun musuhmu adalah seorang penjahat sekalipun. Oleh karena itu, ia tidak merasa takut kembali ke masyarakat.


"Saya. META."


Suara wanita dan pria bersatu seperti hasil olahan sebuah program membuat Arai bertanya-tanya,


Siapa dia?


"Apa yang kalian inginkan dariku?" Arai memberanikan diri untuk bertanya, walau pada akhirnya tidak ada satupun yang menjawab Arai.


Aura mengintimidasi yang dikeluarkan oleh kedua orang didepannya sangat berbeda, Arai seperti dihadapankan dengan sekelompok binatang buas yang siap memangsanya hidup-hidup.


Bahkan mereka lebih mengerikan dari sekelompok penjahat yang ditemui dipenjara. Arai pernah bertemu bermacam-macam orang yang memiliki riwayat sebagai tahanan. Ada seorang pencuri, penculik seperti dirinya, penipu, pemerkosa bahkan pembunuh dan pencandu pun pernah ia temui.


Tetapi saat melihat dua orang dihadapannya ini. Sekujur tubuhnya seakan merinding ketakutan. Aura misterius yang besar seperti mengecilkan mentalnya. Hidupnya pun seperti berada atas telapak tangan mereka.


Arai mungkin tidak bisa melihat tatapan dan wajah laki-laki bernama R tersebut dengan jelas. Namun, untuk Nana. Arai melihat wanita itu seakan tidak takut dengan apapun, bahkan ia tidak menunjukan ekspresi seperti wanita biasanya saat dihadapkan dengan sesuatu yang mengerikan bagi sebagian besar wanita.


"Akuilah. Dosamu."


Perkataan singkat yang membuat Arai bergidik ngeri.


Kata Dosa mungkin melekat pada diri Arai, Namun, kenapa ia merasa seperti berada di penghakiman Tuhan?


"Tahun. 20XX. Adalah. Kasus. Kejahatan. Pertamamu. Kau. Menculik. Tiga. Orang. Anak. Di waktu. Berbeda. Di hari. Berbeda. Di tempat. Berbeda. Dua. Orang. Anak. Laki-laki. Satu. Orang. Anak. Perempuan. Satu. Anak. Telah. Kembali. Dua. Anak. Lainnya-- Dimana. Mereka?"


"Kau bercanda!? 20XX? itu 17 tahun yang lalu. Bagaimana aku masih menginggatnya?"


Tiba-tiba Arai merasa jari jemari yang menempal pada kursi yang didudukinya seperti kesemutan. Sensasi yang tidak asing namun menyakitkan.


"AAARRGGGHH!!"


Aliran listrik sangat terasa mengalir pada tubuhnya sesaat kemudian, seakan ia ingin melompat pada kursi di detik pertama sengatan yang dirasakannya.


1...2...3...


Aliran listrik dari kursi tersebut berhenti. 3 detik yang menyakitkan.


Arai tampak tergolek lemas. Kepalanya hanya menunduk berat. R yang melihat hal tersebut langsung mendekatinya. Dengan tangan bersarung tangan ia menjabak rambut Arai kemudian memukul wajahnya agar Arai kembali sadar.


"Bangun! Tidak ada yang mengizinkanmu menutup mata."


Arai membuka matanya sayup, ia masih merasa lemas akan sengatan listrik yang tiba-tiba di rasakannya.


"Kalian...gila..." gumam Arai seraya menatap R.


Saat R ingin sekali memukul kembali Arai. META kembali berbicara,


"R. Kembali."


R yang mendengar perintah META langsung melepaskan kerah kaos Arai dan mundur kembali ke posisi dimana bersama Nana.


"Sekali. Lagi. Aku. Bertanya. Dimana. Mereka?"


Arai tidak memiliki pilihan lain, jika ia tidak menjawab. Listrik dari kursi ini akan kembali menyetrum tubuhnya.


"Tidak tau...Aku tidak tau dimana mereka sekarang."


"Pertanyaan. Berikutnya."


Arai membelalakan matanya, ada pertanyaan lainnya. Dengan kata lain kemungkinan ia masih akan merasakan sengatan listrik jika tidak menjawabnya.


"Tahun. 20XX. Adalah. Kasus. Kejahatan. Keduamu. Kau. Menculik. Dua. Orang. Anak. Di waktu. Berbeda. Di hari. Berbeda. Di tempat. Berbeda. Satu. Orang. Anak. Laki-laki. Satu. Orang. Anak. Perempuan. Satu. Anak. Telah. Kembali. Satu. Anak. Lainnya-- Dimana. dia?"


Sekarang 11 tahun lalu, Kenapa mereka hanya bertanya tentang kasus penculikan itu? Apa mereka orang terdekat salah satu dari anak-anak itu?, gumam Arai dalam hati.


"Aku tidak tau..." jawab Arai lebih cepat dari sebelumnya.


"Kau. Tidak. Pintar. Untuk. Mengelak."


Kembali sengatan listrik mengalir ke sekujur tubuh Arai. Ia berteriak kesakitan.


3 detik kemudian berhenti. Arai kembali tergolek lemas.


"Ketiga. Anak. Yang. Kau. Culik. Dinyatakan. Menghilang. Dimana. Mereka."


"..."


"Tidak. Ingin. Menjawab. Sekarang."


Tubuh Arai seketika merinding menginggat apa yang akan terjadi pada dirinya jika tidak menjawab.


"BAIK-BAIK!!" teriak Arai ketakutan. Ia tidak ingin merasakan penderitaan yang menyakitkan seperti tersetrum listrik. "Aku akan mengatakannya. Tetapi tidak dengan sengatan listrik ini."


"Kami. Senang. Mendengarnya."


Arai dapat merasakan META seperti lebih bersenang-senang melihat dirinya tersiksa di kursi ini dengan aliran listrik yang menembus tubuhnya.


"Saat itu, Seseorang menemuiku, aku tidak tau siapa dia. Orang itu juga tidak menyebutkan namanya, tetapi seorang lain didalam mobil memanggilnya 'dokter'. Ia akan membayarku untuk membawa anak-anak yang bisa kuculik kepada mereka. 17 tahun lalu, aku membawa kedua anak itu kepada mereka dan 5 tahun kemudian mereka menginginkan anak yang lain yang bisa aku bawa satu anak lainnya kepada mereka. Sisanya, untuk apa anak-anak itu...kemana mereka...aku benar-benar tidak tau."


Tubuh Arai gemetar saat mengatakan semua hal yang seharusnya ia kubur dalam-dalam bersama raganya, sebelum lidahnya bergerak seperti ini.


"Apa hanya 'tidak tau' yang bisa kau jawab?" sindir Nana. "Kau menjual mereka, bukan?" tambah Nana kesal dengan penjelasan Arai.


"!!"


Nana melangkah lebih dekat selangkah di hadapan Arai.


"Organ tubuh manusia sangat mahal jika dijual di pasar gelap. Terlepas dari organ dewasa, organ anak-anak pun banyak yang mencari."


Nana menatap lekat-lekat Arai. Melihat raut wajah Arai yang gelisah, sepertinya benar informasi ini. Tetapi ia tidak tau bahwa semua itu hanya kamuflase belaka saja, untuk menutupi yang sebenarnya terjadi.


"Kau membutuhkan uang. Saat itu kau sangat membutuhkannya. Pekerjaanmu saat itu tidak mungkin bisa, orang terdekat pun tidak mungkin menolongmu. Oleh karena itu, Orang yang kau maksud, tidaklah mencarimu tetapi kau mencarinya. Lewat informasi yang kau cari sendiri, dengan niat mencari uang secara cepat dan instan. Kau melihat sesuatu dan lalu menghubungi mereka." Nana membalikkan tubuhnya menghadap ke arah ruangan kosong lainnya, "Selanjutnya itu menjadi kejahatan pertamamu."


Arai membasahi kerongkongannya yang kering, saat menelan ludahnya sendiri saja rasanya seperti memakan bola berduri. Mendengar uraian Nana membuat tubuhnya semakin gelisah. Ia tidak ingin dengar...Ia tidak ingin mendengarnya!


"Kira-kira, kenapa ya kau membutuhkan uang sebanyak itu?"


Nana kembali menghadap kearah Arai, "Mari kuberi 3 pilihan jawaban, jika kau masih 'tidak tau' jawaban ya tepat."


Nana menunjukan jari telunjuknya, menandakan pilihan pertama, "Untuk bersenang-senang."


Nana menambah jari tengahnya sebagai hitungan kedua, " Untuk bertahan hidup."


Terakhir Nana menambah jari manisnya, "Untuk melarikan diri."


"Jadi apa pilihan jawaban ya?"


[ ]


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...