
10 tahun setelah kasus penculikan yang menewaskan 8 anak-anak usia antara 8 hingga 14 tahun yang ditemukan di dalam sebuah hutan sempat menarik perhatian publik.
Bertepat hari ini dengan hari di mana anak-anak itu ditemukan. Para orang tua, kerabat dan masyarakat yang simpati dengan kasus ini melakukan upacara doa berkabung bersama untuk para korban dan berharap kasus ini segera terungkap apa penyebab sebenarnya 8 anak-anak ini mati secara misterius di waktu dan hari yang sama.
Publik sempat memprotes sistem keamanan dan perlindungan pemerintah terhadap anak-anak yang dianggap lemah karena kasus ini.
Tidak hanya itu, keluarga korban hingga sekarang menuntut jawaban atas kasus ini. Mereka menganggap kinerja para petugas terkesan lambat dalam menangkap pelaku utama dan mengugurkan kepercayaan keluarga korban terhadap sistem keamanan pemerintah.
.
.
.
"Loki...! Loki...!" Nana mengayun-ayunkan tongkat berbulu sebagai mainan kucing untuk mengoda kucing gembul berwarna orange yang berguling di bawahnya.
Kucing itu terus termakan godaan bulu pada pancingan tersebut hingga kaki depan berbulu mungilnya melambai-lambai ke udara.
Nana asyik bermain dengan kucing gembul tersebut. Namun, telinga Nana mendengarkan keseluruhan berita di televisi. Bahkan ia juga mendengarkan orang-orang di sekitarnya mengomentari berita itu.
"Tidak terasa sudah 10 tahun berlalu. Adikku yang saat itu berumur 8 tahun sampai tidak diizinkan keluar rumah karena kasus ini. Kini ia sudah mau lulus SMA saja." kata seorang pria berdasi merah berbintik putih bergurau dengan rekan kerja di sampingnya.
"Sungguh malang nasib anak-anak tak berdosa itu. Sampai saat ini belum ada yang bisa mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada anak-anak itu." wanita berkemeja krem ikut simpati melihat berita tersebut. Ia menyatukan kedua tangannya kemudian menutup mata dan menundukan kepala seperti ikut mendoakan ketenangan atas kematian anak-anak tersebut.
"Apakah pemerintah tidak menutupi sesuatu tentang kasus ini?" cetus wanita paruh baya berpakaian OB ikut mendengar berita yang disiarkan.
Beberapa orang yang mendengarnya hanya terdiam, seakan tidak berani menanggapi perkataan wanita paruh baya tersebut di tempat ini.
Terpampang pada layar televisi, berita tersebut tengah menunjukan foto-foto dan nama anak-anak yang menjadi korban kasus penculikan 10 tahun lalu.
Pandangan Nana terpaku pada pemberitaan tersebut. Setiap foto yang silih berganti Nana terus memandanginya. Mata Nana merefleksikan foto-foto korban hingga tak berkedip, seakan seperti kamera yang sedang merekam sesuatu yang harus di ingatnya.
"Meeeooo..."
Sebuah suara manja dan sentuhan lembut mengesek tangan Nana yang berhenti mengayunkan mainan bulu di tangannya. Loki, kucing orange gembul yang menjadi peliharaan kantor merasa bosan saat Nana berhenti bermain dengannya.
"Oh, Maafkan aku..." Nana kembali pada kesadarannya. "Apa kau lapar? Mau makan ikan rebus?" tawar Nana kepada kucing tersebut seraya mengaruk bagian bawah dagunya. Suara dengkuran khas kucing terdengar dengan imutnya.
"Kau membawa dia masuk ke dalam ruangan lagi! Sudah aku katakan bukan, Aku bisa dimarahi jika kau membawanya ke dalam dan mengotori ruangan." wanita paruh baya itu mengambil Loki dari hadapan Nana. "Biarkan dia berada di kantin saja."
"O-oh...Maafkan saya. Sepertinya saya lupa Loki tidak boleh masuk ke ruangan." Nana merasa bersalah.
"Tch...aku rasa ini bukan pertama kalinya aku memberitahumu." wanita paruh baya yang bekerja sebagai office girl ini memang terkenal dengan mulutnya yang cukup berani. Bahkan ia tidak takut memarahi para pegawai yang membuatnya kesal karena merokok bukan pada tempatnya ataupun membuang sampah sembarangan.
Nana hanya bisa tersenyum kecut dengan perasaan bersalah kepada wanita itu seraya meminta maaf. Wanita itu kemudian membawa Loki keluar dari ruang kantor bersama peralatan kebersihan lainnya yang di bawa.
"Nana!" tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Apa kau siap? Kita berangkat sekarang." Seorang pria tinggi berbadan kekar mengisyaratkan untuk Nana mengikutinya.
Nana yang sendari tadi santai bermain-main dengan kucing, hanya mengisi waktu luang untuk menunggu pria ini datang memanggilnya.
"T-tunggu, Senior!" Segera Nana mengambil mantel cokelat miliknya dan tas ransel kulit yang berada di atas kursinya dengan buru-buru. Ia segera mengikuti pria itu keluar.
Nana dan pria yang dipanggilnya sebagai Senior keluar dari Kantor Departemen Kepolisian Pusat Kota menuju sebuah mobil dinas yang telah disediakan untuk para polisi divisi khusus yang akan pergi bertugas.
Nana masuk ke dalam mobil sedan bagian kursi penumpang di depan. Sedangkan Senior duduk di kursi pengemudi.
"Senior, kenapa kita harus mengawal Arai? Apakah dia mendapat hak khusus atau semacamnya?" tanya Nana penasaran.
Arai merupakan mantan narapidana yang telah menyelesaikan masa tahanannya selama 8 tahun. Arai ditangkap oleh pihak kepolisiaan 8 tahun lalu karena kasus penculikan terhadap seorang anak perempuan.
Nana tidak tahu soal kasus ini, saat kasus ini terjadi saat Nana masih berumur 15 tahun. Ia mendengar berita ini saat Ia baru masuk sebagai petugas ke divisi setahun yang lalu setelah menyelesaikan pendidikannya di Akademi Kepolisian.
"Hak khusus apanya. Ia hanya akan membuat kegaduhan jika tidak dikawal ke tempat yang aman." Senior tampak tidak menyukai mantan tahanan bernama Arai ini.
Saat penangkapan Arai, Senior masih bertugas sebagai anggota kepolisian baru yang masih berikatan dinas. Ia menangkap Arai saat masih mengenakan seragam kepolisian, berbeda dengan sekarang yang telah bergabung dengan divisi.
"Hari ini sangat sensitif karena bertepatan dengan kasus penculikan 10 tahun yang lalu. Dia merupakan mantan pidana kasus penculikan. Masyarakat pasti tidak akan mudah menerima dirinya kembali ke masyarakat. Bahkan orang-orang yang tau ia akan keluar hari ini sedang berdemo untuk memberatkan masa hukuman pelaku karena dianggap tidak adil. Oleh karena itu untuk menjaga keamanan dan kenyaman masyarakat, Ketua menyuruh untuk mengawalnya hingga ke lokasi yang aman."
Di dalam lubuk hati Nana yang terdalam ia menyetujui apa yang dilakukan para pendemo tersebut.
"Kau tau Senior, walau seseorang telah menebus dosa mereka, tetap saja akan ada sebagian orang yang akan terus mengungkit dosanya kepermukaan. Karena sepenuhnya dosa yang mereka tanggung belumlah terbayarkan." Nana berkata dengan sangat serius.
Senior melirik ke arah Nana yang mengatakan hal dengan nada monoton yang aneh. Terkesan dingin dan hampa. Namun, senior tidak bisa benar-benar memastikan apakah Nana mengatakannya dengan serius atau tidak karena posisinya sedang menyetir ia tidak bisa lama-lama melihat kearah Nana untuk memastikan
"Nana, aku ingin bertanya tentang pendapatmu."
"Tentang apa Senior?" suara Nana kembali seperti biasa.
Senior sampai mengira nada bicara dingin Nana tadi hanyalah kesalahan pendengarannya saja. Senior melanjutkan pertanyaannya.
"Kasus penculikan 10 tahun yang lalu, bagaimana menurutmu?"
Nana sedikit heran dengan tiba-tiba Senior menanyakan hal itu kepadanya.
"Hm...sebenarnya aku kurang tau pasti bagaimana beritanya. Karena pada 10 tahun yang lalu tidak hanya 8 anak-anak itu yang diculik tetapi ada lebih banyak lagi korban penculikan dan orang hilang dengan motif dan pelaku yang berbeda-beda. Kita tidak tau hubungan dari penculikan 8 anak-anak ini. Penyebab kematian mereka pun seakan telah di rencanakan. Di waktu dan hari yang sama, seakan mereka telah diminumkan sesuatu agar mereka mati bersama diwaktu yang berdekatan." Nana menutupi mulutnya dengan kedua tangannya seakan tidak percaya dengan yang dialami anak-anak tersebut, "Bagaimana bisa mereka mati dengan diagnosa yang sama?Bukankah itu lucu. Gagal jatung diumur yang masih kecil?"
Nana menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali di hembuskan secara perlahan. Senior hanya terdiam mendengarkan pendapat Nana hingga selesai.
"Selebihnya aku kurang tau tentang kasus ini karena saat kejadian itu aku masih berumur 13 tahun, dan aku banyak melupakan sesuatu selama 10 tahun ini." ucap Nana berkata sesungguhnya, "Apakah senior ingin menyelidiki kasus ini kembali dan memecahkannya untuk bisa naik pangkat?"[ ]
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...