
Kesadaran Arai tampaknya mulai kembali. Kepalanya sedikit terangkat, kemudian menunduk lemas. Sepertinya belum sepenuhnya energi Arai kembali.
Arai membuka matanya, ia masih merasakan pusing dan sedikit kantuk pada kepalanya.
Gila...dimana aku sekarang?
Gelap...Tidak terlihat apapun...
Itulah yang di rasakan Arai saat ini.
Eh?!
Arai merasakan keanehan pada kedua tangannya. Kakinya pun juga seperti terikat sesuatu. Tubuhnya tidak dapat digerakan sama sekali. Kursi keras yang di dudukinya mengikat tangan dan kaki Arai hingga tidak ada cela untuknya mengerakan keduanya.
Kepanikan mulai menghantui Arai. Ia teringat wanita yang berada di kamarnya malam itu. Mengerikan. Sosok wanita penuh hawa misterius yang mengerikan, tatapannya sangat kosong dan melihat dirinya seperti seorang pembunuh berdarah dingin.
Kesadaran Arai kembali total setelah menginggat hal yang menakutkan bagi dirinya. Seperti kejut yang menjalar seperti peredaran darah. Akhirnya seluruh fokusnya kembali, ia dapat memperhatikan sekelilingnya.
Diikat di sebuah kursi kayu kokoh yang aneh, di tempatkan di tengah-tengah ruangan kosong dengan hanya dirinya saja yang berada disana. Lampu redup yang segaja hanya dinyalakan di tepian ruang agar tempat ini tidak terlihat dengan jelas. Tangan dan kakinya terikat dan menempel dengan kuat pada kursi.
Wajah Arai seketika berubah menjadi pucat, ia terlihat panik dan ketakutan. Keringat dingin seakan mengucur deras dari wajahnya.
TERIAK.
Hanya itu yang di pikirkan Arai. Berteriak meminta pertolongan dengan sekuat tenaga yang dimilikinya. Berharap seseorang akan mendengar dan menolongnnya.
Namun semua usahanya nihil. Tidak ada yang merespon teriakan. Bahkan suara adanya seseorang selain dirinya saja seakan mustahil saking sunyinya tempat ini.
Beberapa menit Arai sudah seperti orang gila. Menggeliatkan tubuhnya mencari cela untuk dirinya terlepas dari kursi yang mengikatnya itu. Pada pergelangan tangan Arai sampai terdapat luka lecet memerah saking besarnya usaha Arai untuk meloloskan diri.
"Tidak perlu kau membuang sia-sia tenagamu seperti itu."
Tiba-tiba terdengar suara wanita yang membuat bulu kuduk Arai merinding, tentu suara wanita ini adalah petugas kepolisian yang datang ke apartemennya.
"Tidak ada gunanya. Tidak ada yang akan mendengarmu walau berteriak sekuat tenaga sekalipun." tambah Nana berjalan ke tengah ruangan dari sisi ruang yang gelap gulita tak tersinari cahaya lampu.
Ia berhenti sangat dekat dengan Arai, kira-kira kurang dari satu meter. Seakan ia tidak takut jika Arai dapat meloloskan diri dan menyerangnya.
"K-kenapa kau melakukan ini?! Apa kau gila!!?"
"Aku hanya melakukan tugasku." jawab Nana dengan tenang.
"Tugas? Apa kau bawahan orang itu juga?" Ucap Arai panik sepanik-paniknya. Ia sampai tidak dapat membatasi percakapan yang harus di ucapkan dan yang harus di rahasiakan sesuai perjanjian.
Nana tertarik dengan perkataan Arai tersebut, "'Orang itu'? Sayangnya aku tidak mengerti perkataanmu."
"Tetapi, dengan senang hati aku akan mendengar siapa 'orang itu' yang kau maksud." tambah Nana.
"Kau terlalu bertele-tele HEPTA." Suara lelaki ikut masuk dalam pembicaraan Nana dan Arai.
Nana berpaling ke belakang dan seseorang berjalan dengan santainya dari tempat Nana keluar pertama kali. Ia berjalan dengan satu tangan yang ia masukan kedalam kantong celana panjang hitamnya. Satu tangannya lagi membetulkan letak posisi kacamata hitam tanpa bingkai yang dikenakannya. Lengan kemeja abu-abu yang digulung asal menunjukan lengan tangan yang kecil namun berotot. Ia juga mengunakan sarung tangan hitam yang mirip dengan yang dikenakan Nana.
Arai mungkin bisa menginggat wajah Nana walau dalam keadaan minim pencahayaan seperti ini. Namun, untuk laki-laki yang baru saja datang. Ia tidak bisa melihat dengan jelas, apalagi dengan kacamata hitam yang dikenakannya.
"Jangan terlalu lama berbicara dengannya. Tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan sebelum semua hilang dari kepalamu."
"Aku hanya ingin berbicara sedikit dengannya. Mungkin saja ia menginggat--"
CUUH
Terdengar seseorang tengah meludah saat Nana tengah berbicara, kepala Arai sedikit condong kedepan, wajahnya tepat menghadap ke arah Nana dengan bibir sedikit berair.
Menjijikan. Nana menatap Arai dengan tatapan menjijikan yang tajam. Tepat dihadapan Nana tangan R menghalangi air liur Arai untuk mengenai Nana.
R beranjak dari posisinya mendekat ke tempat Arai berada.
Arai awalnya hanya ingin meprovokasi mereka karena emosi, tidak berpikir mereka akan mendatanginya dengan posisi terikat seperti ini. Sedetik kemudian ia menyesal telah melakukan hal tersebut kepada mereka.
R menyondorkan tangannya yang terkena bekas ludahan Arai sendiri ke mulut Arai. Ia sampai menahan bahu Arai agar dapat menekan lebih kuat hingga kepalanya terhimpit.
"Jangan bertingkah." bisik R terdengar kesal, Ia semakin menguatkan dorongan tangannya ke wajah Arai.
Arai meringgis meminta ampun, matanya mulai memerah, air mata pun sampai keluar saking kesakitan ia kesulitan bernafas.
Tidak hanya membekap saja, R terus mengerakan tangannya, memutar-mutarkannya seakan meminta Arai membuka mulutnya dan memasukan kembali air liur yang telah di keluarkannya.
"R, cukup. META belum memberi intruksi untuk menyelesaikannya."
R seketika melepas tangannya dari Arai yang tampak sudah lemas dengan wajah berantakan yang menjijikan.
R kembali dengan kesal, seakan belum puas ia melakukan hal tersebut. R melepas sarung tangan hitamnya yang kotor, lalu melemparkannya ke sisi yang kosong. Ia kemudian menganti dengan sarung tangan hitam yang baru, sebagai cadangan yang selalu menjuntai keluar di saku belakang celananya.
"DASAR GILAA! KALIAN SEMUA GILA! CEPAT LEPASKAN AKU WANITA GILAA!" tiba-tiba Arai mengamuk, berteriak-teriak tak terkendali seperti dirinyalah yang gila.
"Berisik sekali!" R jengkel dengan suara berisik yang tidak karuan suaranya.
"Oi META, cepat keluar. Sebelum orang ini menjadi tidak waras."
Setelah R berteriak di tengah-tengah ruangan Tidak tau siapa dan arah mana tujuan dia berteriak. Pada sisi ruangan yang gelap di hadapan mereka semua. Tiba-tiba sebuah layar muncul.
Layar besar yang telah berada didepan mereka sejak awal tersebut menyala. Karena gelapnya ruangan di awal membuat Arai tidak pernah menduga adanya layar besar di hadapannya.
Nana dan R berbalik membelakangi layar tersebut. Layar tersebut menerangi seisi ruangan untuk sesaat, saat hanya ada layar putih saja yang ditampilkan. Saking silaunya Arai sampai harus menutup matanya.
Karena sinar layar yang begitu menyilaukan Nana bersama R segaja memunggungi layar tersebut karena tau hal itu akan terjadi. Wajah mereka semakin tak terlihat, Arai hanya melihat seperti dua sosok monster hitam yang berdiri dihadapnya.
Kemudian layar tersebut menjadi hitam dan menampilkan sebuah huruf M yang besar berwarna putih.
"Maaf. Membuat. Kalian. Menunggu." suara wanita terbata-bata khas robot terdengar di seluruh ruangan. "Saya. META." [ ]
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...