
"Namaku Ange G. Zephyrus. Sebagai sesama teman di Akademi, tolong panggil aku menggunakan nama depan atau tengahku. Dipanggil Marquis pada umurku semuda ini ... Rasanya kurang enak didengar. Kedepannya mungkin aku akan merepotkan kalian, jadi mohon bantuannya~"
"HEEEEEE?!!"
Pemuda berambut merah menyala terkesiap. Jari telunjuknya terus diarahkan pada Ange dengan ekspresi kaget yang bukan main. "K-kau ... Kau Marquis Zephyrus?!"
Ange yang bingung harus bereaksi seperti apa, hanya terkekeh melihat tingkah orang yang menunjuknya itu. "Bukannya aku sudah memperkenalkan diri saat itu?"
"E-eh?" Mengingat kembali peristiwa sebelumnya di depan cafe, pemuda berambut merah itu kembali ke posisinya semula sambil memalingkan wajah untuk menyembunyikan rasa malunya. "Ugh ...."
Melihat dari reaksinya, Ange hanya mendengkus memaklumi. Dia pasti melupakannya, adalah apa yang dipikirkannya.
Setelah mendapatkan izin duduk, Ange berjalan ke mejanya dalam senyap dan pelajaran pun dimulai.
☆♛☆
"Hei, bukankah kediaman Zephyrus tidak memiliki pewaris?"
"Ah, aku juga pernah dengar rumor itu. Dan katanya, Marchioness Zephyrus yang mengatasi kediaman."
"Apa mungkin dia anak adopsi?"
"Hee? Begitukah? Jika begitu, kenapa Sheira Zephyrus menikahi Duke Raphael? Bukankah akan lebih baik jika dia tetap berada di kediaman Zephyrus dan menjadi penerus?"
Gadis-gadis yang tengah bergosip itu tiba-tiba menghentikan kegiatannya begitu mendengar suara asing yang bergabung dalam percakapan mereka. Mereka terkesiap dan sempat berteriak melihat kemunculan Ange yang mendadak juga tanpa disadari. Kantin yang awalnya begitu ramai, tiba-tiba senyap karena teriakan itu. Seluruh pandangan mata tertuju pada meja Ange dan ketiga gadis itu duduk.
"M-Marqui—"
"Ange."
"A-Ange, sejak kapan Anda ada di situ?"
"Kupikir kita seumuran, bisakah kau tidak menggunakan bahasa formal?" Keluh Ange.
Ange yang entah kapan sudah duduk di antara kedua gadis, hanya memakan makan siangnya dengan tenang sambil mendengarkan percakapan ketiga gadis di meja yang ia tempati itu. Ia tidak menyangka karena bersuara sedikit saja bisa membuatnya menjadi pusat perhatian.
Aku sudah duduk di sini sejak awal, apa kalian hanya bisa menyadari seseorang saat orang itu sudah bicara? Pikirnya agak jengkel.
"Aku baru saja duduk karena tertarik dengan topik pembicaraan kalian. Maaf karena tiba-tiba menyela," ujarnya dengan ekspresi bersalah.
Pengunjung kantin yang awalnya senyap, kembali pada rutinitasnya masing-masing. Ketiga gadis yang semeja denga Ange juga kembali duduk di tempatnya. Namun ada suasana canggung yang tercipta di antara mereka. Sedangkan Ange sendiri masih menyantap makanannya dengan tenang tanpa terganggu sama sekali.
Gadis yang duduk di hadapan Ange yang awalnya gugup, tiba-tiba membelalakan matanya begitu mengingat sesuatu. "Ah, itu ... Aku juga pernah dengar jika Marquis Zephyrus memiliki dua anak."
Gadis di samping kanan dan kiri Ange juga melakukan hal yang sama dan bergumam, "Benar juga." Secara serentak.
"Terlepas dari Nona Sheira yang selalu mendapat perhatian publik karena kecantikannya, anak kedua Marquis Zephyrus bahkan tidak sempat menginjak dunia sosial karena fisiknya yang lemah."
"Jadi, ternyata itu adalah Ange? Aku tidak menyangka jika kau seorang pria."
Ange yang mendengar hal itupun tersentak. Sama terkejutnya karena dusta yang ia katakan sangat cocok dengan rumor yang tersebar. Namun tidak berlangsung lama dengan keterkejutannya itu, Ange kembali bersikap tenang seperti biasanya. Ia juga menghela napas karena kelihatannya gadis-gadis itu sudah tidak canggung lagi saat mengobrol dengannya. Bahkan bisa tertawa begitu Ange mengatakan lelucon.
Di sisi lain, pemuda berambut hitam dengan mata emerald yang baru sampai di meja yang terletak dua meja di depan Ange, baru saja datang. Ia mengerutkan dahi karena kebingungan melihat wajah masam temannya yang berambut merah menyala. "Tidak biasanya kau memasang wajah begitu, Leon." Sapanya yang terdengar seperti mengejek.
Pemuda berambut merah itu—Leon—mengalihkan pandangannya dan menatap tajam pemuda berambut hitam itu. Namun bibirnya tak dapat berkata apapun selain menggertakkan gigi karena kesal.
"Dia sedang kesal karena anak baru itu bisa memikat para gadis begitu cepat," sela pemuda berambut pirang platina dengan mata biru yang duduk di sebelah Leon.
"Anak baru?" Gumam Nova.
"Tepat di belakangmu. Memiliki rambut perak dengan mata biru gelap yang duduk di antara kedua gadis," jelas pemuda pirang itu—Arthur—tanpa mengalihkan pandangannya dari Ange.
Penasaran akan orang apa yang Arthur maksud, Nova menoleh ke belakangnya dan menatap tepat ke arah Ange berada. Netra emerald Nova bertemu dengan netra biru gelap Ange yang tengah menatap dingin ke arahnya. Ange menyeringai, namun terlihat samar karena disambung oleh gelak tawanya.
Seketika itu juga Nova membeku dengan mata yang terbelalak kaget.
"Tampaknya aku lupa jika harus mengurus sesuatu. Kalau begitu, permisi, nona-nona."
Setelah berpamitan pada gadis-gadis, Ange beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari kantin. Kakinya terus melangkah melewati lorong-lorong yang ramai hingga mencapai lorong yang sepi. Ange tidak berhenti meskipun sudah keluar dari lorong. Ia baru menghentikan langkahnya begitu sampai di dalam sebuah rumah kaca yang berisi banyak tumbuhan di sekitarnya.
Langkah kaki yang pada awalnya tidak bisa Ange dengar sama sekali, kini malah terdengar tegas di telinganya seakan menandakan jika pemilik langkah itu sudah sampai.
"Yah, kelihatannya aku tersesat lagi," gerutu Ange yang terdengar pura-pura.
"Itu sangat mustahil Anda lakukan," sahut orang di belakangnya.
Ange mendengkus sambil tersenyum, kemudian berbalik dan menatap orang yang baru saja mengomentarinya itu. "Kelihatannya kau sehat-sehat saja, ya, Nova."
Nova menekuk sebelah lututnya sambil menempelkan tangan kanannya di depan dada. "Nova siap melayanimu, Tuan."