
Sudah sebulan lebih berlalu semenjak tiba pertama kali di kerajaan Moonlight, Ange sudah sampai di Ibukota Rafale, kerajaan Casil. Ia cukup kesusahan saat melakukan perjalanan karena masih di pertengahan musim dingin.
Sebelum pergi ke kediaman Zephyrus, Ange berkeliling terlebih dahulu untuk mencari informasi melalui rumor yang dibicarakan warga sekitar.
Keluarga Zephyrus, merupakan salah satu golongan aristokrat bergelar Marquis di kerajaan Casil. Putri Marquis Zephyrus satu-satunya telah menikah dengan seorang Duke (Adipati), lalu entah karena apa Marquis jatuh sakit begitu lama dan meninggal kemudian. Keluarga Zephyrus sendiri tidak memiliki keluarga cabang sehingga sulit untuk memilih seorang penerus nama keluarga, jadi sementara waktu Marchioness yang memberi komando terhadap ksatria dan segala urusan di perbatasan negara.
Dari sini aku bisa tahu alasan Azure menyuruhku pergi ke kediaman Zephyrus. Satu untuk menjadi pewaris, dan satunya untuk menyelidiki kematian Marquis.
Marquis Zephyrus merupakan seorang komandan ksatria. Ksatria yang gugur dalam pertempuran merupakan hal yang wajar, tapi Casil sedang damai untuk saat ini dan tidak ada peperangan. Dipikirkan bagaimanapun kematiannya sangatlah tidak wajar.
Cukup sulit untuk dapat bertemu dengan Marchioness, namun di sinilah Ange berada. Berdiri berhadapan dengan seorang kapten di tengah area pelatihan ksatria.
"Majulah duluan, nak. Dilihat dari manapun kau terlalu manis untuk seorang pria, jadi aku tidak tega memukulmu duluan," cerca kapten tersebut lalu disusul oleh gelak tawa para ksatria yang menonton.
Provokasi rendahan!
Meski tahu itu hanya provokasi, Ange tetap merasa jengkel pada hal itu. Walaupun wajahnya masih tanpa ekspresi, napasnya sedikit lebih cepat dari sebelumnya dan pegangannya lebih erat pada gagang rapier yang ia genggam. Ditambah, aura membunuhnya yang pekat tidak ia tahan sama sekali hingga membuat para penonton bungkam. Kapten yang sedang berhadapan dengan Ange juga sedikit gemetar karenanya, namun ia masih dapat mempertahankan posisi kuda-kudanya memegang pedang.
Apa aku terlalu meremehkannya? Batin kapten tersebut.
TANG!
"Eh?"
Baru sepersekian detik kapten itu berpikir, suara dentangan bilah pedang yang menyentuh tanah sudah menyadarkannya kembali ke dunia nyata.
"Aku menang." Di sini lain, Ange sudah berdiri 3 meter di belakang kapten itu sambil menyarungkan kembali rapiernya.
Semua orang yang melihat kejadian super cepat itu hanya bisa ternganga. Sementara kapten yang linglung, baru sadar bila pedang yang ia genggam sudah tidak di tangannya.
Marchioness menginterupsi dengan tepukan, lalu dilanjutkan dengan mengumumkan pemenang dalam ujian unjuk bakat ini. "Pemenangnya adalah Ange Gabriélle Zephyrus!"
"Apa yang baru saja terjadi?!"
"Dia mengalahkan kapten?!"
"Dia bahkan tidak memakai bantuan sihir apapun!"
"Itu mustahil!"
"Langkahnya terlalu sunyi jika memakai sihir angin!"
... Dan begitulah reaksinya. Berbagai suara saling menyahut atas keabnormalan gerakan yang Ange lakukan.
Bodoh. Kalian terlalu meremehkan seorang assassin.
Ange menatap malas ke arah penonton melalui ekor matanya selama beberapa saat. Ia segera mengalihkan pandangannya pada Marchioness Zephyrus yang sedang berjalan menghampirinya, lalu berlutut ala ksatria.
"Dengan ini, ku anggap kau lulus ujian sebagai penerus keluarga Zephyrus. Aku ucapkan selamat datang di kediaman kami."
"Terima kasih banyak atas kemurahan hati Anda, Marchioness Zephyrus."
"Tidak, tidak." Marchioness berjalan lebih dekat. Ia ikut berlutut lalu menangkup dagu Ange dengan kedua tangannya, dan mengangkatnya hingga wajahnya berhadapan sejajar dengan Marchioness. "Kau bagian dari keluarga ini sekarang. Jadi panggil aku ibu, ok?"
Seakan ada api yang menyambar hatinya, Ange mebelalakan netra—tertegun dengan perkataan Marchioness. Api yang membakar hatinya itu tidaklah terasa panas, melainkan terasa hangat dan menenangkan. Pandangan Ange berubah melembut, sedikit lekukan terukir di bibirnya membentuk sebuah senyum tipis. "Baik, ibu."