
Helaan napas lega sukses diembuskan begitu melihat langit yang kembali menampakkan kilau sang fajar. Tangis haru para penyihir ikut memeriahkan suasana berakhirnya hari Kehancuran. Keadaan dunia yang porak-poranda mulai pulih, kembali seperti semula.
Tidak ada lagi Pohon Kehancuran. Tidak ada lagi manusia yang berubah menjadi besi.
Benar. Semuanya telah berakhir. Langit hitam hampa itu tidak akan menjadi abadi.
Gadis bersurai putih dengan manik ruby yang ada di antara para penyihir itu mengambil napas banyak-banyak. Ia benar-benar bersyukur masih dapat hidup di tengah situasi krisis yang mengharuskan ia mengorbankan dirinya sendiri. Ia juga sangat senang dikala energi positif kembali memenuhi sekitarnya, melawan energi negatif secara serentak.
"Azure."
Gadis bersurai putih itu menoleh ke belakangnya. Tampak seorang gadis bersurai pink dan bermanik aquamarine sedang berjalan menghampirinya.
"Semuanya sudah berakhir. Terima kasih atas bantuanmu," kata gadis bersurai pink dengan senyum tulus.
"Tidak, tidak. Ini sudah kewajibanku sebagai alumni Hakoniwa. Kau tidak perlu berterima kasih begitu, Rin-chan," sanggah gadis bersurai putih—Azure, sambil menepuk punggung gadis bersurai pink itu ia melanjutkan, "kau sudah berusaha sangat keras, kepsek."
Gadis yang dipanggil Rin-chan itu mengalihkan pandangannya dengan wajah tersipu. Ia bergumam "Terima kasih." dengan nada yang amat kecil. Seakan ingat sesuatu, ia kembali menatap Azure dengan senyum ceria. "Hei, bagaimana jika kau menjadi guru di Akademi?"
Azure yang mendapat tawaran menjadi guru terdiam sejenak, tak lama ia tersenyum masam karena mengingat beberapa peristiwa yang—menurutnya—sangat merepotkan. "Tidak, terima kasih. Aku masih harus berdiskusi dengan Ratu mengenai apa yang terjadi," tolaknya halus.
Rin-chan cemberut mendengar penolakan dari Azure. Tapi itu tak berlangsung lama karena rekannya yang lain sudah memanggilnya untuk kembali. Baru saja ia hendak melangkah pergi, kakinya tiba-tiba terhenti dan kembali menatap Azure. "Kau yakin?" tanyanya memastikan.
Azure mengangguk mantap. "Jarak London dan Jerman tidak jauh. Aku akan sering-sering mampir jika terminalku sudah diperbaiki."
"Baiklah."
"Oh—dan jangan repot-repot menjaga tubuhku yang tertinggal di sana."
Rin-chan mengernyitkan dahinya bingung. Setelah beberapa saat, baru ia menyadari jika Azure yang di hadapannya adalah perwujudan roh. Bibirnya yang terbuka hendak mengucapkan kata-kata, namun segera ia katupkan kembali begitu Azure menjelaskan.
"Aku akan membuat tubuh baru."
Mengerti dengan maksudnya, Rin-chan kembali melangkah ke arah teman-temannya. Azure hanya menatap kepergian rekan-rekannya yang kembali ke negara asal masing-masing menggunakan sihir teleportasi. Setelah memastikan jika semua rekannya sudah pergi, Azure melangkah—tidak, lebih tepatnya melayang di udara dan terbang menuju Tower of London. Melewati sungai Thames, ekor matanya menangkap sesuatu yang terbawa arus. Ia menghampiri sesuatu tersebut untuk memastikan benda apa itu. Netranya terbelalak begitu melihat seorang bayi yang berada di dalam sebuah keranjang. Tanpa basa basi lagi, ia segera mengambil keranjang berisi bayi tersebut.
"Sepertinya aku akan membentuk keluarga baru lagi." Azure menatap bayi tersebut dengan penuh kasih. Sudah beberapa tahun lamanya ia kehilangan adik angkat kesayangannya. Bertahun-tahun dihantui oleh rasa kesepian, kini akan kembali terobati dengan adanya kehadiran bayi tersebut.
☆♕☆
Ange memutar bola matanya kala ditanya seperti itu. Tapi ia tetap menjawab, "Ya, itu imut. Tapi ingatlah umurmu."
Azure malah terkekeh mendengar ejekan tidak langsung yang di arahkan padanya. Lagipula apa itu umur? Gadis ponytail biru pastel dengan ombre pink itu bahkan tidak ingat sudah berapa lama ia hidup. Walaupun begitu, ia tetap mengingat bahwa sudah 15 tahun ia hidup bersama bayi yang ia temukan di sungai Thames. Bayi itu kini sudah menjadi seorang gadis remaja yang sering membantahnya kala tidak menyukai hal yang disuruh.
"Apa yang kau baca?" Pandangan Azure mengarah pada buku tebal yang tengah dipegang Ange. Sedangkan Ange sendiri terus terfokus pada deretan kata yang tertera dalam buku tanpa berniat menjawab pertanyaan Azure.
Merasa kesal diabaikan, Azure mengerucutkan bibirnya lalu melompat ke samping Ange. Ia ikut melihat isi buku yang Ange baca, barulah ia mengangguk paham. "Kau sedang tertarik dengan astronomi?"
"Tidak. Temanku sedang tertarik astronomi akhir-akhir ini. Aku hanya ingin mengerti apa yang dia katakan jika sudah membicarakan rasi bintang," jelas Ange tanpa mengalihkan pandangannya.
Azure hanya ber-oh ria, lalu menghela napasnya. Tatapannya berubah sendu dengan dahi yang sedikit mengernyit. "Aku tahu dia adalah sahabatmu. Tapi setidaknya carilah hal yang benar-benar kau sukai."
Ange memiringkan kepalanya sambil memandang ke langit-langit ruangan. Tampak kebingungan dengan kata-kata yang dilontarkan Azure. Tak lama, ia menunduk sambil memegang dagunya untuk berpikir. Begitu mendapat jawabannya, ia menoleh pada Azure dengan senyum cerah. "Kau tidak perlu khawatir, frére Zure. Aku juga punya hal yang aku sukai."
"Benarkah? Apa itu?" Mata Azure berbinar-binar, tidak sabar menunggu jawaban dari adik angkatnya itu. Selama dia hidup bersama, ia tidak pernah melihat sekalipun adiknya itu melakukan hal yang dia sukai. Begitu mendapatkan teman, apapun hal yang dia lakukan pasti selalu menyangkut hal mengenai temannya itu. Jangankan temannya, ketika masih menginjak year 1, Ange bahkan hanya melakukan hal yang disukai oleh Azure tanpa minat sedikitpun. Ingin mengerti apa yang dilakukan ataupun dikatakan adalah alasan utama Ange melakukan hal yang sama. Azure bahkan tidak habis pikir kenapa adiknya bisa melakukan hal itu.
"Aku suka meniru hal yang orang lain sukai. Memangnya apa lagi?" Ange menjawab dengan ekspresi yang begitu polosnya.
Seakan kehilangan harapan, Azure membeku ditempatnya. Anak ini benar-benar tidak memiliki hobi—adalah apa yang ada dipikirannya.
Sadar dari keterkejutannya, Azure turun dari kasur Ange. "Aku ... akan mengunjungi Akademi Hakoniwa di Jerman sebentar," ujarnya seraya berjalan pergi dari kamar Ange dengan lesu.
"Hati-hati di jalan." Ange melambaikan tangannya sambil tersenyum ceria. Begitu Azure sudah hilang dari pandangannya ke balik pintu, Ange mengambil sesuatu dari bawah bantal.
Sebuah liontin kristal berbentuk spade yang berisi cairan biru laut transparan.
"Tidak memiliki hobi, 'kah? Kau terlalu meremehkanku, frére."[]
[Ket:
-chan: Panggilan akrab dalam bahasa Jepang
Frére: Kakak dalam bahasa Perancis]