Magia Corde

Magia Corde
※- 04 -※ So, Who?



\=\=\=\=\= Nova Rigel \=\=\=\=\=


Dunia.


Bagaimana orang-orang mendeskripsikannya? Banyak orang bilang dunia adalah tempat yang begitu luas. Namun duniaku, hanya sebatas sepetak ruangan kecil yang gelap dengan ventilasi jeruji besi. Setidaknya itu yang kupikirkan, sampai aku bertemu dengan orang itu.


TRANG!


Ventilasi jeruji itu terbelah dan jatuh ke lantai dingin tempatku biasa tertidur. Bersamaan dengan itu, netraku terbelalak kaget. Tidak, bukan karena jeruji besi yang jatuh itu. Melainkan karena sosok yang mendarat di hadapanku setelah jeruji itu jatuh.


Seorang anak dengan bercak-bercak merah yang menodai gaun putih serta kulit pucatnya. Rambut panjang perak bergelombangnya memantulkan cahaya bulan yang masuk hingga membuatnya bersinar. Iris safirnya yang terang di tengah kegelapan menambah poin sosok tersebut.


Malaikat.


Hanya itu yang terlintas dalam pikiranku begitu melihatnya. Darah yang menodai pedang dalam genggaman juga seluruh tubuhnya bahkan tidak membuatnya terlihat menakutkan sama sekali.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Wajahnya yang tanpa ekspresi, menatapku dengan dingin. Namun tidak peduli seberapa dingin tatapan itu, masih tersirat kelembutan di sana. Ia mengulurkan tangannya yang bebas, tanpa menunggu jawabanku ia kembali bicara.


"Kau akan ikut denganku melihat sisi paling gelap dunia dibandingkan tempat ini. Aku tidak menerima penolakan."


☆♛☆


Itulah yang dia katakan padaku saat pertama kali bertemu di hari ulang tahunku yang ke-10. Dan tidak ada kebohongan sama sekali dalam kata-katanya. Dia menunjukkan padaku bermacam-macam kegelapan dunia. Yang paling banyak ia tunjukkan adalah dunia yang dipenuhi oleh pertumpahan darah.


Cukup sulit dipercaya pada awalnya. Bagaimana bisa seorang gadis yang bahkan lebih muda 2 tahun dariku memenggal kepala manusia tanpa gemetar sedikitpun? Namun semakin lama aku bersamanya, aku mulai mengerti ... alasan ia bisa menjadi seperti itu.


"Nova, apa kau menikmatinya?"


Nona selalu menanyakan itu setelah itu setelah aku membantai sekelompok manusia akhir-akhir ini. Pada awal aku bergabung dengannya, aku masih takut bahkan untuk melukai seekor rusa. Tapi 5 tahun ini aku sudah terbiasa melakukannya. Walaupun begitu ....


"Sulit dikatakan, tapi ... aku masih takut untuk melakukan ini."


Ya. Aku masih takut. Tapi aku tidak bisa berhenti. Sekali menodai tanganku dengan darah, sampai kapanpun aku tidak akan bisa menghapusnya.


Aku takut. Hingga membuat seluruh tubuhku gemetar bila memikirkannya. Bagaimana jika aku yang berada di posisi mereka? Merasakan peluru yang menembus kulitku, dan bilah senjata tajam yang menyayatku hingga tercipta luka dalam, kemudian mati. Walaupun aturan jika berani membunuh, maka harus berani terbunuh ... aku benar-benar tidak bisa membayangkannya.


"Itu bagus."


Huh?


"Maaf?"


"Itu bagus jika kau masih memiliki rasa takut. Aku tidak mau pelayan pribadiku menjadi seorang psikopat karenaku."


Ahh. Kupikir nona akan marah jika aku bilang bahwa aku tidak menikmatinya.


"Tidak, itu tidak mungkin, nona. Semua orang di bawah pimpinanmu tidak akan menjadi liar seperti itu."


"Kau terlalu memujiku. Semoga kau baik-baik saja tanpaku."


Kulirik wajahnya dari kaca spion. Dia tersenyum. Namun terkesan sedih dengan tatapan netra yang kosong.


Aku selalu penasaran dengan apa yang dipikirkannya. Sejak bermain-main di sekitar menara Eifel hingga perjalanan pulang, ia tampak memaksakan diri untuk tetap terlihat ceria. Lalu apa maksud dari perkataannya itu?


Dia tidak melanjutkan. Ia hanya bungkam sepanjang perjalanan pulang. Aku benar-benar tidak mengerti maksud dari perkataannya, ia bahkan tidak menjawab meskipun aku bertanya padanya. Setelah menemani nona hingga terlelap di kamarnya, aku berjalan di lorong mansion sambil memikirkan makna kalimatnya itu. Namun tidak ada yang kutemukan.


Hingga aku berpapasan dengan seorang wanita berambut biru cerah disertai ombre pink yang diikat ponytail, kakak dari nona dan juga pemimpin teratas di organisasi.


"Nova."


"Yes, Milady." Aku membungkuk, dan menyahut panggilannya.


"Ikut aku."


Aku membuntutinya berjalan di dalam lorong yang berkelok-kelok. Hingga sampai di pemberhentian terakhir; sebuah pintu yang berisi ruang kosong dengan sebuah lingkaran sihir di tengahnya. Gadis itu memasuki ruangan tersebut dan berjongkok di samping lingkaran.


"Kau ingat dari mana kau berasal?"


Aku yang baru sekangkah memasuki ruangan, berhenti mendadak. Tubuhku membeku dengan mata yang membulat lebar.


"Yes, Milady."


Gadis itu kembali berdiri. Berjalan menghampiriku kemudian menyodorkan sebuah pisau. "Gunakan tetesan darahmu untuk kembali."


"Tapi—"


"Raihlah posisi di keluargamu, dan pelajari dunia itu. Tunggulah Ange di sana. Setelah kembali bertemu kau bisa memilih; kembali ke sisi Ange atau meneruskan jalan hidup di sana."


☆♛☆


Itu yang dikatakan gadis itu—Azure—sekitar 3 tahun yang lalu. Namun hingga saat ini aku belum menemukan tanda-tanda kedatangan nona ke dunia ini. Di siang hari yang cerah, aku pergi ke kerajaan Moonlight untuk menemui para pangeran. Tapi di tengah jalan, kereta kuda mendadak berhenti disertai suara gaduh di luar.


"Ada seorang penyihir yang sedang memergoki perampok di depan."


"Hm?"


Penyihir? Penyihir barbar mana yang mau berbuat onar di tengah kota?


Aku mengalihkan pandangan ke arah penyihir yang dimaksud. Terlihat seorang lelaki dengan rambut dan mata merah membara juga seragam Akademi Sihir berdiri tidak jauh dari kereta kuda.


"Semuanya sudah tidak sadarkan diri, ya?" Katanya dengan mimik kesal sambil mendecakkan lidah.


"Ah ...." Aku bersweatdrop ria begitu tahu dalang dari keonaran.


"Tuan, bukankah itu te—"


"Tidak, aku tidak kenal." Sangkalku dengan pokerface sebelum kusir itu melanjutkan perkataannya. "Lanjut jalan."


Kusir kembali mengendarai kudanya, menjauhi area kekacauan. Setelah beberapa meter di depan, hanya teriakan suara terakhir yang kudengar dari sana.


Begitu sampai, aku pergi menemui pangeran di halaman belakang istana. Lelaki dengan rambut perak dan netra biru cerah, Albert Lune—Pangeran kedua—tengah sparring (berpedang) bersama saudaranya, Pangeran Mahkota berambut pirang dan netra biru cerah—Arthur Lune.


Mereka menghentikan kegiatannya begitu menyadari kehadiranku di sana. Dan begitu, kami beristirahat di bawah pohon sambil menikmati cemilan.


"Hei, Nova. Tidakkah kau mau menjadi ksatria pribadi kakakku? Kau cukup pandai dalam hal berpedang dan membuat strategi," tawar Albert.


Aku tersenyum. "Mohon maaf, Yang Mulia. Saya tidak bisa mengkhianati tuanku," tolakku dengan halus.


"Hmm ...." Arthur bergumam seraya menyesap tehnya. "Bukankah kau sudah terpisah dengannya sejak 3 tahun yang lalu?" Katanya setelah menyesap teh dengan dahi yang mengernyit heran.


"Benar, Yang Mulia. Tapi saya yakin, jika dia akan kembali."


"Dia sangat hebat bisa menjinakkan anjing liar sepertimu." Ucap seseorang entah-dari-mana yang disusul oleh tawanya.


Aku terperanjat kaget. Albert tertawa, sedangkan Arthur menyesap tehnya dengan tubuh yang gemetar menahan tawa.


Aku kenal suara ini. Sesaat itu juga perempatan imajiner muncul di kepalaku. Aku mendongak, menatap tajam ke arah sumber suara dari dahan pohon. "Aku jadi ingin tahu siapa di antara kita yang anjing liar," cercaku dengan senyum kesal.


Sekali lagi, sosok yang tiba-tiba muncul dalam percakapan itu tertawa. Lelaki berambut merah itu turun dari pohon dan berdiri di sampingku. Sambil menepuk-nepuk kepalaku, ia berkata; "Anjing baik, kita semua tahu bahwa akulah yang paling liar di sini."—dengan ekspresi bangga di wajahnya.


Alisku berkedut. Kedua tanganku sudah terkepal dengan kuat. Aku sangat ingin memukulnya saat ini juga, tapi sayangnya tidak bisa. Istana bukanlah area berkelahi, tapi tetap ... orang ini benar-benar membuatku kesal. "Leon."


"Ya?" Sahut lelaki rambut merah itu dengan tampang polosnya.


"Kau mengharapkan kematian?"


Lelaki itu—Leon—segera menjauhkan tangannya dari kepalaku dan ikut duduk dengan tenang.


Jauh lebih baik.


"Omong-omong, aku bertemu seseorang hari ini."


Perhatian kami tertuju pada Leon seketika. Kami bertiga memicingkan mata dan menatapnya penuh curiga.


"Oh, siapa gerangan iblis yang merasuki tubuh Leon kami?" Guyon Albert dengan mimik datar.


Leon berdecak. "Ayolah, apa sangat aneh jika aku membicarakan orang lain?"


Kami mengangguk. Benar. Leon yang hanya peduli pada dirinya sendiri, sangat jarang membicarakan orang lain. Apa yang membuatnya aneh hari ini?


Leon mendesah, lalu melanjutkan, "Dengar, aku bertemu seseorang saat sedang menangkap perampok tadi. Dia mengenakan seragam Akademi Sihir, dan dia juga lumayan berani melawan perampok itu dengan tangan kosong! Niat membunuhnya juga sangat kuat, sampai aku sulit mengalihkan pandanganku darinya."


"Apa yang istimewa dari itu? Ada banyak orang seperti itu di Akademi Sihir," komentar Albert dengan malas.


"Memang tidak ada, tapi! Aku belum pernah melihatnya sama sekali di akademi. Dia memiliki rambut di atas bahu dan memakai kacamata. Parasnya terlalu cantik untuk seorang lelaki, tapi bukan itu yang aneh."


"Lalu apa?" Arthur menatap Leon dengan penuh perhatian. Tapi aku tahu, sebenarnya ia juga malas menanggapi seorang Leon.


"Rambutnya perak!"


Kami bertiga tersentak. Namun hanya sesaat, setelah itu kembali menunjukkan ekspresi normal.


"Maksudmu Alex?" terka Arthur.


Leon mendecakkan lidahnya. "Murid berambut perak pertama yang kalian dan kuketahui ada di depan mata—Albert Lune, pangeran kedua kerajaan Moonlight. Lalu ada Alex, anak Duke Albertyn di kerajaan Rafale. Yang terakhir adalah Ryuki Ito, si youkai rubah ekor sembilan. Di antara mereka, tidak memiliki penampilan seperti orang yang kubicarakan."


Aku—kami—setuju. Di dunia ini tidak ada lagi anak berambut perak selain mereka bertiga. Karena memiliki rambut perak berarti salah satu dari keturunan keluarga Casilda. Sedangkan pewaris di keluarga Casilda asli saat ini memiliki rambut hitam. Lalu siapa?[]