
"Astaga ... apa aku benar-benar harus berdandan seperti ini?"
Entah sudah berapa kali Ange menghela napas begitu menatap dirinya sendiri di depan cermin. Ibunya, Marchioness Zephyrus, langsung menyuruh Ange merapikan rambutnya saat ia bilang sudah pernah bertemu salah satu murid di Akademi Sihir.
Salah satunya alasan adalah karena rambut silver merupakan tanda dari keluarga kerajaan Casil. Lalu sejauh ini anak yang lahir dari cabang keluarga kerajaan Casil adalah laki-laki, akan sangat mencolok jika ada anak perempuan di keluarga cabang yang tiba-tiba muncul. Marchioness tidak ingin ada yang tahu jika Ange sebenarnya perempuan, dan merapikan penyamarannya sesempurna mungkin--tidak peduli berapa kali Ange memohon untuk tidak memotong lebih pendek rambutnya.
"Lagipula ...."
"KENAPA IBU TAHU AKU INI PEREMPUAN?!!"
Entahlah, Ange. Mungkin insting seorang ibu? Oke, lupakan. Ange benar-benar kesal di saat tidak ada siapapun yang menyadari gender Ange sesungguhnya, ibunya malah sudah tahu hanya dalam hitungan detik setelah dia melihat Ange.
Setelah puas berteriak, Ange keluar dari kamarnya dan pergi ke ruang makan di lantai satu rumah. Di sana, sudah ada ibunya yang sedang menunggu. Masih merajuk, Ange hanya duduk di kursi meja makan tanpa menyapa ibunya sama sekali. Marchioness hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak yang baru ia adopsi itu.
"Jadi ...." Marchioness membuka pembicaraan. "Apa kau benar-benar tidak bisa menggunakan sihir?"
"Tidak bisa," jawab Ange cuek sambil pura-pura fokus makan.
Tanpa menghiraukan nada jawabannya, Marchioness masih mengajukan pertanyaan. "Dan kau bilang, kau tinggal bersama kakakmu, Azuré, benar?"
"Ya."
"Berapa usia kakakmu saat ini kira-kira?"
Ange menghentikan aktivitas makannya. Kepalanya sedikit miring ke samping dengan tatapan ke atas, mencoba mengingat.
"Um ... Aku tidak begitu yakin. Dia pernah bilang jika usianya sudah 500 tahun. Tapi karena tubuhnya baru dibangun kembali, usianya baru beberapa bulan."
"Aku mengerti. Kalau begitu ...." Marchioness mengangguk ke arah pelayan pribadinya. Tak lama kemudian, pelayan tersebut membawakan bros aquamarine di atas bantal merah kecil ke arah Ange.
Tidak perlu waktu lama untuk menyadarinya, Ange sudah tahu apa itu. "Ini ...."
"Benar. Itu permata dari emblem keluarga Zephyrus. Sebenarnya, ukiran naga perak hijaunya saja sudah membuktikan jika kau berasal dari keluarga ini. Jadi kau bisa menyimpan permatanya. Jagalah baik-baik, itu bisa sangat membantumu nanti."
"Uhh ... Baik." Walaupun masih ragu-ragu, Ange tetap menerima bros itu dan memakainya di dasi.
"Apa kau yakin tidak mau membawa pelayan satupun saat tinggal di asrama nanti?"
"Ya, aku baik-baik saja sendiri. Percayalah padaku."
Melihat senyuman pertama Ange pagi ini, ibunya tidak memiliki pilihan lain, selain menyetujui keinginan Ange. Setelah selesai sarapan, Ange bergegas untuk menaiki kereta kuda. Namun sebelum naik, ibunya memberikan sebuah kotak kepada Ange. "Jangan dibuka sebelum sampai di Akademi," katanya. Maka yang dapat dilakukan Ange hanya menyimpan kotak itu sementara waktu di tasnya.
☆♛☆
Akademi Sihir terletak di kerajaan Lux. Butuh waktu tiga hari untuk menempuh perjalanan hingga sampai sana. Yang dilakukan Ange untuk menghabiskan waktu di perjalanan hanyalah membaca ulang teori sihir dari buku yang diberikan Azuré sebelumnya.
"Aku memang lebih suka materi alkimia ...," karena mirip dengan kimia di dunia sains pada umumnya, lanjutnya dalam batin.
Selagi Ange terfokus pada buku, kereta tiba-tiba berhenti dengan disertai guncangan hebat. Tubuhnya hampir terlempar ke sisi lain tempat duduk jika saja ia tidak berpegangan pada jendela.
Apa yang terjadi? Gempa? Pikirnya dengan keadaan linglung.
Tidak berlangsung lama akan keterkejutannya, Ange kembali ke dunia nyata. Ini baru dua hari, sangat aneh jika kereta berhenti karena sudah sampai. Maka dari itu, Ange memutuskan untuk turun dari keretanya dan bertanya pada kusir. "Kenapa berhenti?"
"Anu ... Itu, tuan ...."
"?"
Bingung dengan jawaban kusir yang tidak lengkap, Ange menatap ke arah yang sama di depan kusirnya. Di sana terlihat ada beberapa orang pria berwajah beringas sedang berdiri sambil membawa senjata.
Perampok? Yang benar saja. "Seharusnya kau tabrak saja mereka sejak awal," celetuk Ange yang dibalas pelototan tidak percaya dari kusir.
"Oi, oi. Bukankah kau terlalu berani berkata begitu pada kami, bocah bangsawan?" Ujar salah satu perampok—atau lebih pantas disebut bandit—itu dengan cengiran lebarnya.
"Kenapa tidak?" Balas Ange, balik bertanya dengan wajah datar.
Cengiran lebar para bandit itu memudar. Kusir yang mengendarai kuda mulai panik. Bukannya takut dan mundur, Ange malah maju lebih depan.
"Keroco seperti kalian bukanlah apa-apa untukku," cercanya disertai senyum angkuh.
Mulai terprovokasi, para bandit itu tidak lagi menunjukkan senyum. Melainkan wajah marah yang menambah kesan garangnya.
"Padahal kami ingin menjarah baik-baik, tapi kelihatannya kami tidak perlu menahan diri, ya ...." Ucap salah satu bandit.
"Waaaii~ kalian terlalu baik hati. Tapi sayangnya tidak, terima kasih," ejek Ange sambil tersenyum manis—yang terkesan meremehkan.
Dalam penglihatan para bandit, ekspresi Ange menyiratkan; "Aku bosan. Jadilah badut untukku, oke?" Yang membuat tumpukkan perempatan imajiner muncul di kepala mereka.
"OOOOOO!!" Sahut bandit lainnya.
"Whoa, semangat yang bagus~"
Salah satu bandit maju sambil mengayunkan belati besarnya ke arah Ange. Namun Ange segera bergeser ke samping kanan untuk menghindar, lalu melesat cepat ke belakang bandit itu. Netranya tidak sengaja menangkap sebuah kantung yang menggantung di sabuk belakang bandit, dan dengan lincahnya merampas kantung tersebut bak pencopet.
"Wah, rampasanmu lumayan banyak juga, ya!" Seru Ange setelah melihat isi kantung bandit itu. Tanpa memberi kesempatan bandit yang dirampas itu merespon, Ange melompat lalu menendang kepalanya dengan keras hingga tersungkur dan pingsan. Ia juga melakukan hal yang sama pada bandit lainnya (merampas dan membuatnya pingsan) hingga hanya tersisa pemimpinnya.
"Kau ....."
Ange menatap pemimpin bandit yang marah itu dengan wajah polos. "Hm? Apa ada masalah?"
"MATILAH KAU BOCAH!!!" Teriak pemimpin bandit itu seraya berlari sambil mengacungkan pedangnya ke arah Ange.
Ange yang saat itu sedang mengecek isi kantung masing-masing bandit tiba-tiba menghentikan aktivitasnya. Senyum di wajahnya tidak memudar, namun aura disekitarnya berubah menjadi dingin dan mencekam. "Mati ...? Kau meneriakkan kata yang menarik, ya."
Ia menjatuhkan kantung yang dipegangnya, lalu menarik rapier dari inventory sambil melesat ke arah pemimpin bandit itu. Ange menghindari tebasan pedang bandit itu dan balik menebas kepalanya tanpa ragu hingga terlepas dari lehernya.
Pak kusir yang menyaksikan seluruh adegan itu hanya bisa tercengang dengan mulut terbuka lebar. Sedangkan Ange sendiri malah mengeluh karena seragamnya kotor oleh darah.
"Ayo berangkat," ujarnya setelah menyimpan kembali rapiernya ke inventory.
Ketika hendak menaiki kereta, Ange berhenti di tangga dan menoleh ke arah semak-semak di belakangnya.
"Ada apa, tuan?" Tanya kusir.
"Tidak. Tidak ada."
☆♛☆
Sampai di Akademi Sihir, Ange terpaksa harus melepas jas juga vest-nya karena terkena cipratan darah. Ia berterima kasih pada Azuré, sebab sudah melatih bela diri dan angkat beban hingga tubuhnya cukup berisi, berbeda dengan gadis remaja bangsawan di dunia ini yang memiliki tubuh ramping dan rapuh. Dengan ini, tidak akan ada yang tahu dengan mudah gender asli Ange meskipun hanya mengenakan kemeja.
Di depan gerbang, ia disambut oleh seorang lelaki berambut hitam dan mata abu-abu berkacamata.
"Selamat datang di Akademi Sihir. Apa Anda Ange Zephyrus?"
Ange mengangguk. "Itu aku."
"Namaku Louis Wilhelm, anggota Dewan Siswa kelas 2. Aku yang akan membimbingmu mengelilingi akademi, jadi mohon kerja samanya."
"Tidakkah kau terlalu kaku, senior?" Celetuk Ange ketika melihat gerak-gerik Louis yang nampak gugup meskipun memasang wajah tegas.
Louis terperanjat mendengar ucapan Ange. Tentu saja, karena kau sudah menjadi Marquis di usia semuda ini, bodoh! Seru batinnya.
Ia berdehem sesaat dan mengubah topik pembicaraannya. "Baiklah, ikuti aku."
Ange membuntuti Louis dari belakang sambil mendengarkan penjelasannya mengenai peraturan akademi dan ruangan-ruangan yang ditunjukkan. Netranya berkeliling sesekali untuk melihat keadaan bangunan dan mengingat setiap jalan yang dilewati guna tidak tersesat ke depannya. Tapi tanpa sengaja, ia juga melihat kekacauan di sebuah ruang kelas dari pintu yang sedikit terbuka—beberapa kali di tempat yang berbeda. Hanya ada satu yang sama di penglihatan Ange, yaitu; sosok merah yang familiar di ingatannya. Ange memang tidak memasang ekspresi apapun saat ini. Namun mengingat orang yang pernah ia temui sebelumnya, ekspresinya berubah menjadi wajah poker.
"Omong-omong, kenapa kau melepas vest dan jasmu?" Tanya Louis sambil melirik Ange di belakangnya.
"Udaranya panas," jawab Ange, terpaksa harus berbohong karena tidak mungkin menjawab; "Terkena cipratan darah karena habis membunuh bandit." Atau semacamnya.
"Baiklah. Sebaiknya lain kali jangan lakukan."
"Kenapa? Kupikir tidak ada peraturan sekolah yang menyebutkan harus mengenakan seragam lengkap. Aku yang salah dengar, atau kau yang lupa menambahkan, senior?"
Louis kembali dibuat terperanjat untuk yang kedua kalinya karena ucapan Ange. Entah mood-nya sedang buruk, atau memang aura Ange yang menyebalkan telah mengganggunya, Louis kembali berseru dalam batin, Tentu saja tidak ada! Apa orang tuamu tidak mengajarkan sopan santun dalam berpakaian?!
"Tidak, memang tidak ada. Lupakan saja."
Sedangkan Ange yang tidak mengerti sama sekali apa maksudnya, hanya terdiam dengan penuh tanda tanya imajiner yang mengapung di atas kepalanya.
Tempat pemberhentian terakhir adalah asrama. Selain diwajibkan menyamar menjadi laki-laki, Ange juga terpaksa harus tinggal di asrama pria. Louis memberikan kunci pada Ange setelah sampai di depan kamar Ange, lalu meninggalkannya begitu saja. Beruntungnya, semua penghuni asrama memiliki kamarnya masing-masing untuk seorang diri meskipun ukurannya begitu luas (karena biasanya ada juga anak yang membawa pelayan pribadinya dari rumah). Tidak seperti kamar asrama di dunia Ange sebelumnya, yang terkadang harus berbagi kamar dengan orang lain untuk menghemat ruang sekaligus teman berinteraksi.
Sendiri seperti ini aku jadi teringat Nova dan Ishara (Nandita) ....
Ange menghela napas saat teringat kedua temannya itu. Ia masih belum pernah bertemu dengan Nova semenjak berpisah 3 tahun yang lalu. Kini ia bahkan harus berpisah dengan Nandita ke dalam dunia yang benar-benar berbeda. Apa yang dialami Ange saat ini lebih mirip seperti berteman dengan hantu dari alam lain.
Merasa terbebani hanya dengan memikirkannya saja, Ange memilih masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuh di kasur setelah kembali mengunci pintu dari dalam.[]
[***Pojok Penulis]
Ini gambaran Ange yang baru, ya~ *peace**