
"Huh?"
Ange mengerjap beberapa kali ketika melihat satu set seragam sekolah dan pakaian pria di hadapannya. Pandangannya beralih pada gadis yang tengah berdiri bangga dengan tangan terlipat di dada. Dahi Ange mengernyit disertai pandangan apa-maksudnya-ini-? karena tidak mengerti apa yang dilakukan Azure.
"Kau tidak harus memotong rambutmu lagi. Mereka hanya akan berpikir bahwa kau pria yang cantik," jelas Azure begitu mengerti akan tatapan Ange.
Ange terperangah sesaat, lalu menggekengkan kepala cepat untuk menyadarkan dirinya sendiri. "Tidak, tidak. Maksudku—kenapa? Walaupun kau bilang begitu, orang-orang tidak bodoh untuk membedakan—"
"Kau ingat saat liburan ke Tokyo? Bukankah kau sempat dibingungkan oleh gender asli para cosplayer di Akihabara?" sela Azure tanpa membiarkan Ange menyelesaikan kalimatnya.
Akihabara. Ya, tempat itu merupakan pengalaman pertama Ange bertemu seseorang yang begitu cantik namun memiliki dada yang keras seperti terbuat dari plastik—atau memang itulah yang sebenarnya? Selagi mengagumi keramaian sekitar, ada orang yang menyenggolnya hingga terjatuh dan **** seseorang. Di matanya tampak seorang gadis dengan paras yang begitu cantik. Namun begitu menyadari telapak tangannya tengah menyentuh dada gadis tersebut, barulah ia menyadari jika itu pria.
Mengingat bagaimana terkejutnya ia saat itu, Ange tidak dapat membantah Azure dan hanya menghela napas. Mengklaim bahwa itu pernyataan setuju, Azure tersenyum manis.
"Besok kau akan langsung berangkat."
"Oh, ayolah." Ange menggerutu. "Kita baru saja sampai! Aku ingin mengunjungi beberapa tempat di London dan—"
"Kau sudah cukup bersenang-senang dengan pria, sayang."
"...."
Jadi itu, batin Ange. Ia selalu heran kenapa Azure ingin mempercepat kepergiannya, dan begitu liburan musim dingin tiba mereka langsung berangkat ke London. Ia bahkan tidak membiarkannya menghadiri prom.
Berganti kekasih tiap tahun bukannya hal wajar untuk anak muda di zaman ini? Berpikir bahwa hanya akan setia kepada satu orang, Azure benar-benar kuno—adalah apa yang dipikirkan Ange. Tapi sesungguhnya Ange sendiri tidak tahu penyebab mendapatkan kekasih di akhir musim gugur, dan putus pada malam natal dengan berbagai alasan yang berbeda. Hal itu mulai terjadi ketika ia menyukai seseorang ketika umurnya memasuki 12 tahun. Berkah atau kutukan? Hal itu lebih mirip kutukan, tapi Ange tidak terlalu menanggapinya. Lalu Azure juga tampaknya salah paham dan menganggap jika gadis ini tidak setia terhadap pasangannya.
Ange mendesah dan mengempaskan dirinya ke kasur. Dua hari berlalu setelah sampai di London, tapi seluruhnya dihabiskan untuk berkemas dan mengulas kembali pelajaran tata krama. Sebenarnya sekolah macam apa yang akan dimasuki hingga harus mempelajari tata krama ala bangsawan? Ange benar-benar tidak mengerti.
Bagaimanapun Ange memikirkannya, ia tak kunjung mendapat jawaban. Satu-satunya yang ia mengerti; akan terjadi sesuatu kepadanya. Sama seperti saat Azure mengajarkannya bela diri dan berbagai pengetahuan mengenai dunia bawah. Ternyata dengan sengaja Azure menjebak Ange memasuki wilayah dunia kriminal sejak ia masih kecil sehingga ia tidak bisa keluar lagi. Beruntungnya ia dapat bertemu Nandita Ishara yang bekerja sebagai Partner in Crime dengannya. Cukup ajaib karena Ange masih bisa bertahan hidup dan sekolah dengan normal hingga lulus sambil memimpin gembong mafia.
"Dunia ini tidak sepenuhnya indah dan damai seperti kelihatannya." Hal yang ingin disampaikan Azure dari segala tindakannya. Ange dipaksa mengerti akan hal itu bahkan saat umurnya masih 5 tahun.
Kedua netra Ange tertutup, sambil mengenang memori masa kecilnya yang luar biasa kerasnya tanpa sadar ia sudah tertidur lelap.
☆♕☆
Dini hari, Ange sudah bersiap-siap untuk pergi entah ke mana bersama Azure. Ia menatap dirinya sendiri di cermin sambil mengganti anting kristal birunya menjadi anting kristal berbentuk palang yang hanya digunakan pada telinga kanannya. Setelan yang ia gunakan kali ini adalah; kemeja putih dengan dasi hitam, jas biru dengan emblem perisai dan 2 tongkat yang dibentuk menyilang pada kerahnya, celana abu-abu, kacamata dengan frame hitam, juga sarung tangan hitam tanpa jari.
Ia berkecak pinggang dan memasang wajah pokerface. Bagaimanapun ia melihatnya, tentu saja tidak terlihat seperti pria sama sekali. Terkecuali kenyataan bahwa dadanya yang sengaja ditekan agar tetap terlihat rata dari luar.
"Selesai?" Tanya Azure sambil menyembulkan kepalanya ke dalam di pintu.
"Selesai."
Setelah di depan rumah, Azure memberikan sebuah emblem naga perak hijau yang membelit permata aquamarine pada Ange. "Temukan kediaman keluarga Zephyrus di ibukota Rafale, lalu tunjukan emblem ini. Mereka pasti akan mengerti."
Ange menerima emblem tersebut, menatapnya sekilas dan kembali menatap Azure dengan pokerface. "Aku bisa mengerti itu, tapi ... kau tidak bilang aku harus pergi dengan tangan kosong, 'kan?"
"Hm?" Azure mengangkat alisnya. Baru mengerti apa yang dimaksud Ange beberapa saat kemudian, ia tertawa. "Cukup katakan Inventory dan akan muncul layar item list di hadapanmu."
"Kau pikir ini game?!" Pekik Ange.
"Tidak, tidak seperti itu. Anting yang kau gunakan merupakan Magic Item yang dapat aktif dengan sensor suara. Aku sudah memasukkan segala kebutuhanmu di sana, jadi jangan khawatir."
"Walaupun kau bilang begitu ...."
"Jangan banyak bicara lagi. Sana pergi!"
"Apa—?!" Ange terlonjak kaget begitu Azure mendorongnya. Pemandangan yang ia lihat disekitarnya berubah menjadi putih dan bersinar hingga mengharuskan ia menutup kedua mata. Begitu dirasa sudah kembali gelap, Ange membuka mata dan mengerjap beberapa kali hingga baru menyadari bahwa ia sudah berada di depan Tower Bridge.
Dia benar-benar gila, keluh batinnya sambil mendesah.
Tidak mau berlama-lama di tempat gelap, Ange melangkahkan kakinya ke dalam menara. Sekali lagi, pandangannya tiba-tiba terhalangi oleh cahaya, namun kali ini ia hanya menutupi matanya menggunakan tangan karena tidak terlalu bersinar.
Begitu cahaya itu redup, Ange membelalakkan netranya begitu melihat jalanan asing yang ramai dan bangunan-bangunan Eropa kuno yang masih berdiri kokoh.
Sudah terlihat jelas sekarang—mengapa Azure mengajarkan Ange tata krama yang sama sekali berbeda di zaman modern. Hierarki masyarakat di dunia yang Ange masuki sekarang tidak lain adalah sistem kerajaan dan kebangsawanan.
Pandangan orang-orang sekitar beralih pada lelaki—yang sebenarnya gadis—bersurai perak yang tiba-tiba muncul di tengah alun-alun kota. Mereka menatapnya aneh sambil berbisik-bisik pada orang di dekatnya.
Ange—pria bersurai perak itu—kembali menatap emblem yang ada di tangannya sebentar, lalu memasukkannya ke dalam saku celana begitu menyadari bahwa dirinya sedang menjadi pusat perhatian. Ia mendesah begitu mendengar banyak orang berbisik-bisik mengenai dirinya—terutama tentang rambut peraknya—dan mulai melangkah tanpa arah sambil menelisik jalan sekitar.
"Cukup banyak juga, ya," gumamnya sambil menggeser layar. Begitu ia melihat sebuah jubah, ia langsung mengambil dan memakainya untuk menutupi rambutnya.
Rasanya aneh karena kebanyakan barang yang diberikan Azure berwarna putih atau perak. Begitupun jubah yang saat ini sedang digunakan Ange. Tidak, rasanya itu lebih baik? Jika itu Ange, mungkin segalanya akan menjadi warna biru.
Ange juga mengambil sejumlah uang yang terbuat dari bronze, silver, dan gold. Untuk yang satu ini ia sudah dapat memperkirakan; 100 bronze \= 1 silver, dan 100 silver \= 1 gold. Ia kembali mengelilingi kota yang tak ia kenal sambil menanyai orang sekitar di mana ia berada dan berapa lama waktu yang ditempuh untuk sampai ke ibukota yang disebutkan Azure, hingga menemukan sebuah cafe lalu beristirahat di sana sambol menikmati es krim sundae strawberry.
Tempat saat ini Ange berada adalah kota di kerajaan Moonlight. Butuh sekitar sebulan untuk sampai ke ibukota Rafale menggunakan kereta kuda. Tidak ada benda elektronik di tempat ini—atau memang di dunia ini—jadi tentu saja membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bepergian antar negara. Terkecuali kau memang penyihir yang pandai menggunakan sihir teleportasi atau cukup kaya untuk membeli item untuk teleportasi. Dipikirkan sekali lagi, Ange hanyalah seorang Apprentice Mage yang mempelajari teori sihir tanpa mempraktekannya karena tidak benar-benar percaya jika sihir itu ada. Ia kembali mendesah begitu mengingat betapa menyesalnya ia karena tidak sepenuhnya memercayai Azure—walaupun sudah berkali-kali Azure menunjukkan beberapa sihir.
BRAKK!!
"?!" Ange terlonjak kaget saat kaca disampingnya pecah dan tubuh seseorang jatuh di atas mejanya.
Untung es krimku sudah habis tanpa kusadari, pikirnya sambil menatap miris gelas kosong dan kaca cafe yang pecah di lantai.
"Lari!! Dia penyihir!!"
Ange baru menyadari jika sedang terjadi keributan di luar cafe. Ada sejumlah perampok yang lari terbirit-birit menjauhi seorang pemuda dengan tubuh yang diselimuti oleh api.
"Hei, hei. Bukankah tadi kalian sendiri yang menantangku? Kembalilah dan jangan jadi pengecut!" Seru pemuda itu sambil melemparkan sejumlah bola api ke arah para perampok yang lari.
Para perampok tersebut terpental karena terkena ledakan dari bola api tanpa memiliki luka berdarah selain kulitnya yang menghitam seperti terkena asap dan baju mereka yang gosong. Api yang menyelimuti pemuda tersebut menghilang, Ange baru bisa melihat dengan jelas jika warna rambut dan mata orang itu adalah merah, juga seragam serupa seperti yang digunakan Ange.
Pemuda itu menghampiri salah satu perampok yang gosong, lalu berdecak saat melihatnya pingsan. "Semuanya sudah tidak sadarkan diri, ya?"
"Ugh ...."
Ange mengalihkan perhatiannya pada orang yang tadi jatuh di mejanya. Orang tersebut linglung sesaat, tapi langsung sadar dan hendak kabur. Namun sebelum itu, Ange sudah mencengkeram kuat pundaknya untuk menahannya.
"Hei, setidaknya kau harus berganti rugi dulu karena sudah merusak properti cafe."
Perampok tersebut mengayunkan pisau hingga jari-jari Ange tersayat. Secara refleks, ia melepaskan cengkeramannya dan menatap luka pada jarinya.
"Heh! Memangnya kau pikir siapa kau?!" Seru perampok tersebut.
"T-tuan, apa kau baik-baik saja?" Tanya salah satu pelayan tanpa berani menghampiri Ange lebih dekat.
Ange kembali mengangkat kepalanya dan menatap si perampok. Ia tersenyum begitu manis yang terkesan dingin dan menakutkan karena aura yang mengelilinginya.
"Huh?" Pemuda yang baru saja selesai mengikat para perampok menoleh ke arah cafe begitu mendengar suara teriakan. Penasaran apa yang terjadi, ia pergi ke cafe tersebut. Ia melihat seseorang berjubah putih yang tengah menginjak punggung perampok pertama yang sebelumnya ia pukul sambil menarik sebelah tangan perampok tersebut ke belakang punggung.
"Baiklah, baiklah! Aku minta maaf!" Mohon perampok tersebut yang lebih terdengar seperti rengekan.
"Aku baru mematahkan satu jarimu," sahut orang berjubah itu dengan dingin.
Pemuda bersurai merah tadi bersiul, lalu menghampiri orang berjubah tersebut.
"Bukankah tidak baik membully perampok lemah?" Ejeknya pada orang berjubah itu.
Ange menoleh, lalu menatap tajam orang begitu tahu siapa yang tengah mengejeknya. "Maaf? Bukankah kau yang membully mereka menggunakan sihirmu? Dan satu hal yang harus kau tahu, perampok ini tidak selemah orang biasa."
Pemuda itu tertawa. "Yah, karena itu pekerjaanku. Tapi bisakah kau memberikan orang itu kepadaku? Akan repot jika dia juga pingsan."
Ange mengubah kembali ekspresinya menjadi pokerface. Ia menyingkirkan kakinya lalu mengangkat dan melempar perampok tersebut ke arah pemuda berambut merah seakan-akan sedang melemparkan sekaleng softdrink. Pemuda itu juga dapat menangkapnya dengan mudah lalu mengikat perampok tersebut menggunakan sihirnya dengan cepat.
"Tenagamu cukup kuat juga. Kau bisa ikut denganku ke Dewan Sihir untuk memberikan orang ini. Kita bisa membagi hadiahnya," tawar pemuda itu.
"Huh?" Tidak mengerti apa yang dikatakan, Ange hanya sedikit memiringkan kepalanya.
"Kau dari Akademi Sihir, kan? Ayolah, kita bisa mendapatkan uang saku tambahan dengan menangkap penjahat."
Ange ber-oh ria, lalu menggeleng. "Tidak, terima kasih. Aku harus segera pergi ke suatu tempat."
"Begitukah? Baiklah. Siapa namamu?"
"Cas—maksudku, Ange Zephyrus."
"Baik, akan kuingat. Sampai jumpa!"
Pemuda itu menghilang begitu saja sebelum Ange dapat menanyakan balik siapa namanya.[]