Magia Corde

Magia Corde
※- 06 -※ Strange Intent



Magia Corde.


Sebutan bagi seorang penyihir yang sudah berevolusi. Pada dasarnya seorang penyihir hanya dapat meminjam kekuatan elemen dari spirit. Namun dengan adanya Corde, seorang penyihir dapat menjadi spirit itu sendiri dan menggunakannya sesuka hati tanpa keterbatasan penggunaan. Tapi sayangnya, masa-masa itu sudah berakhir semenjak 400 tahun yang lalu.


"Kenapa berakhir?" Tanya gadis kecil berambut silver yang umurnya masih genap 4 tahun itu pada kakaknya.


"Yah, sesuatu terjadi beberapa tahun sebelumnya."


*Corde berarti jantung. Corde terbentuk dari kepribadian seorang penyihir. Tidak semua penyihir beruntung dapat membentuk Corde. Meskipun Corde yang membuat seorang penyihir menjadi lebih kuat, namun itu juga dapat menyebabkan malapetaka.


Pernah sekali, terbentuk Corde kegelapan dari seorang penyihir dengan kepribadiannya yang tidak stabil. Dia bersikap baik dari luar, namun aura yang dimilikinya begitu gelap dan penuh dendam. Dia bukanlah penyihir yang kuat, tapi dengan adanya Magia Corde, hal itu bukanlah lagi menjadi masalah*.


"Umm ... Biar kutebak. Dia menjadi penyihir terkuat di dunia dan disebut Demon Lord karena kepribadiannya yang jahat!"


"Tepat. Tapi daripada Demon Lord, dia lebih disebut sebagai Dark Eternity."


"Boo~ tidakkah itu berlebihan?"


"Tentu saja tidak. Karena bukan hanya membawa kegelapan ke dunia manusia, tapi juga ke dunia para spirit. Kedua dunia antara manusia dan spirit menjadi tidak stabil."


"Kenapa bisa tidak stabil?"


*Lahirnya Corde kegelapan lagi, memunculkan Raja Spirit baru. Setiap elemen spirit dipimpin oleh seorang Raja. Tapi saat itu, spirit kegelapan masih memiliki seorang raja yang murni berasal dari ras spirit. Sedangkan kelahiran raja baru bukan spirit murni, melainkan dari penyihir yang menjadi spirit.


Sebuah negeri tidak membutuhkan dua raja*.


Dengan adanya kalimat itu, kedua raja harus saling bertarung hingga hanya menyisakan satu raja.


"Siapa yang menang?"


"Sayangnya, raja yang baru lahir lah yang menang."


"Apa yang salah dengan itu?"


"Tidak ada yang salah dengan itu. Siapa yang menang, maka dialah yang akan memimpin. Tapi ini spirit kegelapan yang kita bicarakan."


Tidak semua spirit menerima hasilnya. Ada yang menolak dan menyerang manusia-manusia tidak bersalah karena dendam terhadap raja baru mereka. Perang antara Magia Corde dan spirit kegelapan pun dimulai.


"Kenapa hanya Magia Corde?"


"Penyihir hanya meminjam kekuatan dari spirit, ingat? Spirit elemen lain tidak ingin menjalin konflik dengan spirit kegelapan. Karena mereka sama-sama spirit murni, dan mengerti perasaan satu sama lain."


"Lalu apa yang terjadi setelah peperangan?"


"Para Magia Corde dan semua Raja Spirit sepakat untuk menyegel Mother Corde agar tidak lagi melahirkan Corde pada setiap penyihir terpilih. Lalu para Magia Corde yang pada dasarnya bisa hidup di dua dunia, harus menetap di alam spirit untuk tetap menjaga keseimbangan dan kedamaian dunia. Tamat."


"Kenapa Demon Lord tidak dibunuh?"


"Belum ada di antara spirit kegelapan yang dipilih sebagai raja. Jika Demon Lord juga dibunuh, akan mengakibatkan kekacauan yang tidak perlu."


"Masuk akal. Itu memang dongeng yang menarik, tapi terdengar klise. Tidak bisakah kau mengajariku pengetahuan yang lebih berguna, Azuré?"


"Kau ini masih anak 4 tahun, seharusnya kau lebih senang diceritakan hal seperti ini daripada disuruh memahami teori fisika. Dan panggil aku kakak, gadis nakal," omel Azuré sambil menyentil dahi Ange.


☆♛☆


Kepingan masa lalu yang disegel dalam-dalam mulai muncul kembali ke permukaan. Ange yang sudah melupakan masa kecilnya mulai mengingatnya lagi sedikit demi sedikit.


Ingatanku terbilang kuat, aku tidak mengerti kenapa aku bisa tiba-tiba amnesia terhadap masa laluku sendiri.


Pagi-pagi sekali Ange sudah dibingungkan oleh mimpinya sendiri yang menunjukkan kepingan ingatan yang sudah lama hilang. Pagi? Ya, bagus. Ange kelelahan akibat perjalanan panjang hingga tidak sengaja tertidur sampai pagi hari. Daripada kembali tidur dan kesiangan, Ange memilih beranjak dari kasurnya kemudian mandi dan bersiap.


Tapi ia baru ingat bahwa vest dan jasnya belum dicuci dari noda darah. Lagi, hari ini pun Ange harus pergi ke kelas tanpa memakainya karena harus menunggu itu kering.


"Kesan hari pertama yang bagus, Ange. Kelihatannya kau harus bergaya seperti pria nakal kali ini," gumamnya sambil menatap pantulan diri di cermin.


Tak lama kemudian, ia mengingat bahwa kotak yang diberikan ibunya belum dibuka. Begitu ia mengambil dan membukanya, tampak sebuah tongkat yang masih berbalut sarung dengan catatan kecil di atasnya.


Catatan itu berisi; "Kau bisa bawa tongkat ini kemanapun. Tapi jagalah tongkat sihir ini baik-baik."


Setelah mengambil isinya, Ange kembali menyimpan kotaknya ke laci di nakas samping tempat tidur. Kemudian ia menggantung tongkat sihir itu pada sabuknya


Tidak lupa, ia juga memakai kacamatanya meskipun penglihatannya baik-baik saja dan juga sepasang sarung tangan hitam tanpa jari yang pernah ia kenakan saat pertama kali datang ke dunia ini. Tidak ada pelayan, Ange juga harus memasak sarapannya sendiri dan lainnya.


Jam masih menunjukkan pukul 5.30 setelah Ange selesai sarapan, sedangkan Louis bilang kelas dimulai pada pukul 8.00 dan berakhir pada pukul 16.00. Pukul 17.00-18.00 makan malam, waktu bebas dari pukul 18.00-21.00. Di luar jam itu asrama dan sekolah sudah dikunci, tidak boleh ada yang keluar-masuk lagi.


Karena bosan hanya berdiam diri, Ange keluar dari kamarnya dan pergi ke arah Akademi. Baik gerbang asrama maupun akademi masih belum dibuka sebelum pukul 6, tapi Ange dengan nekatnya memanjat kedua gerbang itu tanpa memikirkan resiko apapun.


Di sisi lain ....


"Hei, Albert, apa kau mau bolos lagi?" Tanya pria berambut pirang melalui batu sihir di kalungnya.


Pria berambut silver yang dipanggil Albert itu berdecak saat tiba-tiba mendengar suara panggilan dari batu sihir kalungnya. Dengan enggan, ia bangun dari kasurnya dan mengambil kalung dari meja untuk menjawab panggilan itu. "Ayolah Arthur. Ini masih pagi! Bisakah kau tidak mengganggu tidurku?"


"Tunggu ... Kau masih tidur? Di kamarmu?" Pria berambut pirang itu—Arthur—mengernyitkan dahinya. Tidak percaya dengan ucapan saudara kembarnya.


"Tentu saja! Kau pikir ini jam berapa?!"


Mendengar protes adiknya, Arthur mengangguk setuju sambil bergumam, "Benar juga."


Yang dia ingat, Albert bukanlah tipe orang yang suka bangun pagi. Yang rajin bangun pagi buta adalah Alex, tapi mustahil dia akan memanjat gerbang seperti yang ia lihat saat ini melalui jendela kamarnya.


"Co—" sebelum Arthur menyelesaikan kalimatnya, ada suara lain yang tersambung melalui alat komunikasi Arthur dan Albert itu.


"Hei, hei, hei! Apa kalian lihat? Kalian lihat?! Hei, Albert! Apa kau yang sedang memanjat gerbang itu? Wahahahahaha!"


"Memanjat gerbang apa? Aku bahkan belum keluar dari selimut!" Protes Albert sambil beranjak dari tempat tidurnya. Penasaran karena sudah dituduh membolos dan memanjat gerbang, ia berjalan ke jendela dan ikut melihat ke arah gerbang asrama. Matanya yang masih terlihat mengantuk, tiba-tiba terbuka lebar begitu sadar apa yang sudah dilihatnya.


"Oi, oi. Apa itu Alex?" Tanyanya tidak percaya.


"Mustahil. Saat ini, orang itu pasti sedang menikmati teh paginya sambil membaca jadwal hari ini," jawab Arthur.


"Bagaimana jika Ryuki?" Satu lagi suara ikut bergabung dalam percakapan.


"Jangan bodoh. Baik gerbang sekolah ataupun asrama, semuanya sudah dipasang anti-serangan sihir sejak terakhir kali dihancurkan Ben bersaudara," sangkal Albert.


"Kalau begitu ...."


Arthur tak dapat menyelesaikan kalimatnya. Sambungan komunikasi antar batu sihir itu tiba-tiba hening karena pemiliknya tenggelam dalam pikiran masing-masing dengan ekspresi tidak percaya. Yang terbersit dalam kepala mereka hanya satu; "ORANG GILA MANA YANG MAU MEMANJAT GERBANG SETINGGI ITU?!"


(FYI: tinggi gerbangnya sekitar 3,5 meter)


☆♛☆


7:00 a.m


Koridor Asrama Laki-Laki


Louis Wilhelm, anggota Dewan Siswa, kelas 2, dipilih sebagai pemandu murid yang baru masuk di pertengahan semester 1. Kebingungan karena tidak dapat menemukan murid yang harus ia pandu di seluruh asrama, akhirnya mendapat pencerahan setelah bertanya kepada temannya.


"Marquis Zephyrus? Seperti apa rupanya?"


"Dia punya rambut silver dan berkacamata. Hampir mirip seperti Alex, tapi kupikir dia tidak menggunakan jas dan vest-nya lagi hari ini," jelas Louis pada lelaki berambut merah dan mata senada—Leon.


Leon terdiam sebentar, tampak berpikir. Setelah ingat sesuatu, ia menepuk telapak tangan kirinya dengan kepalan sambil berseru, "Oh!" Lalu tertawa. "Aku melihatnya! Jam 5.45 tadi dia memanjat gerbang untuk keluar dari asrama!"


Louis terperanjat kaget mendengar jawaban Leon. Tapi seakan tidak percaya, ia memicingkan matanya dan menatap Leon penuh curiga. "Apa kau benar-benar melihatnya?"


"Hei, apa-apaan wajah tidak percaya itu?! Kau juga bisa bertanya pada Albert, Arthur, dan Nova! Mereka juga melihatnya!"


"Hmm ...."


Louis hanya bergumam. Masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Leon.


"Huh? Jadi itu Marquis Zephyrus?" Albert yang saat itu juga mendengarkan percakapan Leon dan Louis, ikut bergabung.


Bagaikan tersambar petir, Louis mendapatkan poinnya begitu mendengar ucapan Albert. Ia segera menoleh ke belakangnya di mana Albert berdiri, dan menatapnya dengan serius. "K-kau juga melihatnya? Kau benar-benar melihatnya?!" Tanya Louis, memastikan apa yang didengarnya tidaklah salah.


"Ya, aku lihat. Bahkan aku sampai dituduh membolos lagi oleh Arthur! Aku tidak menyangka seseorang yang sudah bergelar Marquis akan melakukan hal itu."


"......."


Louis terdiam seribu bahasa. Jika ini animasi lelucon, saraf otaknya pasti sudah putus dan berasap bak korsleting listrik karena tidak sanggup menerima kenyataan.


"Baiklah, terima kasih informasinya," ujarnya dalam keadaan setengah sadar.


Mau tidak mau, Louis kembali ke dunia nyata dan berjalan menuju Akademi dengan kepala kosong.


Sampai di area Akademi, ia juga bertanya pada murid-murid lain yang kebetulan lewat. Beruntung ada yang melihatnya sedang melakukan sesuatu di ruang Alchemist. Takut Ange membuat masalah lain, Louis berlari di koridor dengan panik menuju tempat pemuda itu berada.


"Ah, selamat pagi, senior," sapa Ange ketika melihat Louis yang muncul di balik pintu ruangan dengan napas terengah-engah.


"Selamat pagi kepalamu! Apa yang kau lakukan di sini pagi-pagi?!" Seru Louis yang sudah tidak bisa menahan diri lagi. "Dan lagi, apa maksudnya dengan memanjat gerbang di saat tidak ada yang melihat? Kau mau kena masalah?!"


"Louis, tidakkah kau terlalu berlebihan? Lagipula Riel tidak melakukan sesuatu yang salah pagi ini." Suara lembut seorang gadis menyela pembicaraan. Sosok berambut pigtail pink dan golden eyes itu muncul dari balik rak bahan-bahan alkimia dengan sebuah labu dalam dekapannya.


"Oh, ayolah, Isla. Dia ada dalam bimbinganku. Jika dia dalam masalah, aku juga—tunggu, apa? Riel? Siapa itu?"


Gadis itu—Isla—memberikan labu dalam dekapannya pada Louis. Tangan pria itu juga tidak menolaknya sama sekali karena sedang fokus terhadap hal lain.


"Ange Gabriélle Zephyrus. Bagaimana bisa seorang pembimbing tidak tahu nama tengah juniornya sendiri?" Isla mengernyitkan dahinya. Menatap prihatin Louis, entah karena apa. "Riel, bagaimana jika aku menggantikan Louis menjadi pembimbingmu? Kepala sekolah juga pasti akan menyetujuinya!" Tawar Isla dengan nada manjanya seraya mendekap lengan kiri Ange.


"Membimbingku? Nenek sihir sepertimu? Entahlah, aku tidak yakin," tolak Ange dengan senyum manisnya.


Bukannya kesal dan marah karena dihina, Isla malah tertawa seakan ada sesuatu yang lucu. "Kau memang manis, Riel. Kalau begitu, aku akan pergi dulu. Jika kau ingin menggunakan ruangan ini lagi, cari saja aku. Sampai jumpa~"


Isla berlalu pergi begitu saja tanpa memudarkan senyumannya. Begitupun dengan Ange yang tengah melambaikan tangan ke arahnya. Sedangkan Louis yang sedari tadi hanya menjadi penonton, terdiam membeku seperti patung.


Sesaat begitu Isla sudah tak terlihat lagi, Louis kembali angkat suara. "Kau berani juga, ya, memanggil seniormu begitu."


"Dia adalah tipe orang yang suka menahan diri dalam berekspresi. Pasti akan menarik jika dia menunjukkan raut wajah lain, selain senyum palsunya itu."


Aku jamin dia akan merusak atau melakukan sesuatu begitu sampai di tempat sepi untuk meredakan amarahnya.


"Apa yang membawamu kemari, senior?" Tanya Ange sambil mengalihkan pandangannya ke arah Louis.


Baru mengingat tujuannya mencari Ange, Louis merogoh sakunya untuk mengambil sesuatu. Kemudian memberikannya kepada Ange.


"Apa ini?"


"Itu kalung komunikasi. Batu sihir pada liontinnya dapat digunakan untuk menghubungi seseorang dari akademi tidak peduli seberapa jauh kau berada, selagi sinyalnya tidak terganggu."


Ange membolak-balik liontin kaca berbentuk spade itu sambil memerhatikan isinya. Ada kalanya ia juga menghela napas pendek karena terpikirkan hal lain mengenai 'kalung'.


"Apa ini anti-crack?"


"Keamanan sekolah cukup terjamin. Kau tidak perlu khawatir ada orang luar yang menyadap percakapanmu."


Whoa. Aku terkejut istilah itu juga dipakai di dunia ini.


"Segera bergegas. Sebentar lagi jam pelajaran pertama akan segera di mulai."


"Baik!"


Louis keluar lebih dulu dari ruang kelas. Ange yang baru selangkah melewati pintu kelas Alchemist, tiba-tiba menghentikan kakinya. Louis yang heran melihat itupun bertanya, "Ada apa?" Lalu dijawab gelengan kepala oleh Ange.


Ini kedua kalinya semenjak Ange merasa ditatap tajam dari belakang. Yang pertama adalah setelah Ange membunuh bandit itu. Dan kali ini, bahkan sudah sampai di dalam akademi dengan pengamanan sihir ketat pun dia masih bisa merasakannya. Perasaan apa itu sebenarnya?[]


* Adegan Tambahan *


"Senior, sampai kapan kau akan membawa labu itu?" Tanya Ange yang mulai risih karena labu yang diberikan Isla sebelumnya, belum juga dibuang oleh Louis.


Sedangkan Louis yang baru menyadari benda dalam dekapannya itu hanya bisa salah tingkah dengan jawaban tergagap.