Magia Corde

Magia Corde
※- 08 -※ First Encounter



\=\=\=\=\= Ange Zephyrus \=\=\=\=\=


Lari.


"Ke mana perginya bocah itu?"


Lari.


"Kau cari ke sana, dan kau, ikut aku kemari!"


Lari.


"Itu dia! Aku menemukannya!"


Lari.


"Cepat tangkap gadis itu!"


Lari.


Tak peduli ke mana aku berlari, aku harus terus bergerak untuk bertahan hidup.


Tempat apa ini?


Lari.


Kenapa begitu banyak ruangan dengan jeruji besi? Apa aku ada di penjara?


Lari.


Tidak peduli apa yang kupikirkan, bisikan itu hanya menyuruhku untuk terus berlari. Tapi ... Berlari? Dari apa? Tempat apa ini sebenarnya? Tempat ini ... Sangat berbeda dengan markas militer ataupun polisi yang pernah kukunjungi. Bahkan pulau penjara pun tidaklah seperti ini. Di mana ini?


Lari.


Aku tahu! Tapi ke mana?! Dan siapa orang-orang itu? Bagaimana bisa aku berakhir di tempat seperti ini?!


Berlari. Entah kenapa perintah itu terasa begitu mutlak di kepalaku. Aku tidak bisa membantah. Kakiku terus melangkah tanpa kusadari sepenuhnya, seakan-akan ada yang sedang mengontrol tubuhku di kejauhan. Ke mana sebenarnya kaki ini membawaku? Instingku mengatakan jika aku sedang dalam bahaya. Tapi bahaya apa? Sejauh mataku memandang, di belakangku sudah tidak ada siapapun. Hal yang berbahaya sebenarnya hanyalah satu, yaitu ....


"Kenapa kakiku tidak bisa berhenti?! Tubuhku bisa hancur jika menabrak pintu itu!!"


Pintu. Tepat di ujung lorong terdapat sebuah pintu. Sekilas dari kejauhan, pintu itu memang terlihat seperti kayu yang sudah rapuh karena efek cat dan cahaya remang-remang dari obor. Tapi kau tidak bisa membohongi penglihatanku! Mataku dapat melihat 11x lipat lebih tajam dari manusia biasa, bagaimana bisa aku tidak mengetahui pintu apa itu sebenarnya?!


Itu adalah pintu perunggu dengan ketebalan 10cm! Sekali membenturnya saja dengan kecepatan seperti ini, tubuhku bisa hancur!


Apa?


Apa?!


Apa yang harus kulakukan?!


Otakku kosong secara mendadak. Aku sudah tidak bisa memikirkan soal apapun lagi. Aku hanya menutup kedua mata sambil menyilangkan kedua tangan di depan kepala meskipun (mungkin) itu tidak akan berguna sama sekali.


Aku menunggu untuk benturan keras. Setelah beberapa waktu langkahku mulai melambat, dan akhirnya berhenti. Aku tidak merasakan benturan apapun. Apa yang terjadi?


"Itu dia! Tangkap gadis itu!"


Berat. Apa ini?


Aku menurunkan tanganku dan menatap sebuah pedang perak yang berada dalam genggamanku.


Sejak kapan itu ada di sana?


Ah—bukankah itu sudah tidak penting? Para penjaga itu mulai mendekat, lho. Bukankah lebih baik kuhabisi saja?


Habisi?


Ya, habisi.


Tubuhku kembali bergerak sendiri. Tanganku mengayunkan pedang dan menebas orang-orang yang menghalangi jalan tanpa ampun. Pancuran merah darah terus memancar hingga cipratannya terkena seluruh tubuhku.


Kepalaku kosong. Tatapanku terus mengarah pada aliran darah yang menggenang di lantai marmer yang kuinjak. Bahkan telapak kakiku dapat merasakan kehangatan sesaat darah yang menggenang melewatinya.


Merah darahnya manusia ... Sejak kapan bisa seindah ini?


Apa yang kupikirkan?


Sesaat setelahnya, darah di bawah kakiku membeku. Suhu udara terus turun secara bertahap. Aku bahkan baru menyadari bahwa kini, aku sudah berada di luar ruangan.


Ini tidak baik. Aku harus segera menemukan orang itu.


Tapi di mana?


Siapa?


Mataku terus menelisik tembok bangunan dengan liar, hingga akhirnya terhenti di sebuah ventilasi yang tertutup oleh jeruji besi.


"Ketemu ...."


Apanya?


Aku menggigit punggung pedang di tanganku, lalu melompat dan menggenggam jeruji besi itu. Sesuatu ... Terasa mengalir dari darahku dan berpusat pada telapak tanganku. Tanpa kusadari, kedua jeruji besi yang kupegang sudah membeku, begitupun dengan semua jeruji besi yang menutupi lubang ventilasi. Saat itu juga, jeruji besi itu kudorong dengan sedikit tenaga, namun patah begitu mudahnya.


Aku tidak begitu mengerti apa yang baru saja terjadi. Potongan besi itu tiba di lantai lebih awal. Sedangkan aku meraih pedangku dulu, dan baru melompat masuk setelahnya.


Awalnya kupikir itu hanyalah sel kosong. Setelah berbalik, baru kusadari jika sudah ada seseorang yang duduk di belakangku. Ia adalah seorang anak laki-laki yang tampaknya lebih tua beberapa tahun di atasku. Dia memiliki paras yang cukup bersih namun terdapat beberapa goresan di wajahnya, mengenakan kemeja putih dan celana hitam yang sedikit compang-camping. Penyiksaan? Itu tidaklah mustahil jika dia berada di tempat seperti ini.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanyaku sekedar basa-basi.


Kuperhatikan anak ini benar-benar seorang korban penyiksaan. Namun dibandingkan tatapan mata kosong atau putus asa, yang kudapatkan adalah tatapan berbinar dan penuh harapan yang mengarah padaku. Apa maksudnya?


"Kau akan ikut denganku melihat sisi paling gelap dunia dibandingkan tempat ini. Aku tidak menerima penolakan."


Apa yang baru saja kukatakan?


Sebelum aku mengerti akan tindakanku sendiri, aku sudah pergi membawanya keluar dari ruangan dingin dan gelap itu, lalu memasuki seberkas cahaya biru yang tidak kuingat sama sekali telah muncul dari mana.


Itu terjadi saat umurku masih 8 tahun. Hingga saat ini, aku tidak mengerti bagaimana caranya aku bisa mendapatkan Nova.


Walaupun begitu, aku sudah tidak peduli. Setelah 5 tahun terus bersama, Azuré memisahkanku dengannya, lalu tidak sengaja bertemu dengan Nandita saat memasuki Year 7 di toko hadiah natal. Aku tidak tahu apapun mengenai gadis ini pada awalnya. Namun 'sesuatu', berbisik di telingaku untuk mengajaknya bicara. Aku tidak bisa membantahnya sama sekali seakan-akan bisikan tersebut adalah perintah mutlak. Aku melakukannya. Lalu apa yang terjadi?


Dia mengenalku.


Tapi aku tidak tahu siapa dia. Dan begitu, aku tidak mempermasalahkannya sama sekali. Bahkan kami malah menjadi sangat dekat setelahnya.


Lagi, setelah 3 tahun bersama, aku harus kehilangan orang yang berharga. Azuré tiba-tiba mengajakku untuk pergi ke London. Aku pikir dia akan membawaku ke sana untuk melanjutkan pendidikanku di Oxford, namun pada kenyataannya tidak sama sekali. Dia 'mengirimku' pergi ke London Bridge pada dini hari, dan sampailah aku di negeri antah-berantah ini.


Aku sempat menjadi pusat perhatian sementara waktu sebelum membungkus diri di dalam jubah yang Azuré persiapkan dalam Inventory-ku. Dan ternyata penyebabnya adalah warna rambut perakku. Aku terus berkeliling di daerah yang baru saja aku datangi sambil mencari informasi dari penduduk setempat. Kesimpulan yang kudapatkan keseluruhannya hanya ada dalam dongeng.


Sihir, pedang, monster. Terdengar seperti omong kosong di telingaku. Bagaimana mungkin eksistensi semacam itu ada? Maksudku—Hello~ di sini aku, Ange Zephyrus, seorang karakter utama dalam novel bergenre isekai!


Apa kau ingin aku mengatakan hal itu? Jangan bercanda! Aku bukanlah orang terpilih yang sengaja dipanggil ke dunia ini oleh raja untuk mengalahkan sang raja iblis! Ya, seperti yang kukatakan. Tanpa pergi ke dunia semacam ini pun, yang namanya sihir (meskipun sulit mengakuinya, tapi) masih tetaplah ada. Sebagai contohnya adalah Azuré. Dia seorang penyihir dan alumni dari sebuah sekolah sihir di Jerman.


Jika dia benar-benar ingin aku menjadi seorang penyihir, bukankah lebih baik memasukanku ke Akademi sihir itu? Dia sampai repot-repot mengirimku ke tempat ini, apa tujuannya?


"Temukan kediaman keluarga Zephyrus di ibukota Rafale, lalu tunjukan emblem ini. Mereka pasti akan mengerti."


Mengesampingkan apa tujuan Azure sebenarnya, aku baru saja ingat tentang emblem yang dia berikan sebelum berangkat. Temukan kediaman keluarga Zephyrus, katanya. Aku tahu Azuré memiliki banyak misteri, bahkan keberadaannya pun merupakan misteri untukku.


Aku menepuk kedua pipiku hingga meninggalkan jejak merah di sana. Aku memang penasaran dengan berbagai macam hal, bahkan pada hal kecil sekalipun. Tapi hanya dengan memikirkannya saja sudah membuatku pusing kepala.


"Mari kita lupakan rasa penasaranku sementara waktu. Ayo tarik napas, lalu—"


WUUUSSHHH!!


"Pencuri!!"


Lari secepat kilat, ambil ancang-ancang untuk melompat dan—


"RAIDAAA KICK!!"


Tendang kepala pencopet yang baru saja lari melewatiku hingga ia tersungkur dengan mulus di tanah dan terseret sejauh 3 meter ke depan.


Aku menghampiri pencopet itu, lalu membalikkan tubuhnya yang telungkup menggunakan kaki. Yang dapat kulakukan selanjutnya hanyalah mendengkus saat melihat pencopet yang sudah pingsan di tempat.


"Pengangguran yang bahkan tidak bisa menjaga tubuhnya sama sekali, berani mencopet? Aku yakin, pencopet anak-anak dapat bergerak lebih lincah daripada rongsokan ini." Tanpa sadar, aku sudah menggumamkan kalimat tersebut sambil diperhatikan oleh gadis yang baru saja dicopet.


"Anu ...."


Begitu si gadis mulai bersuara, aku sadar apa yang baru saja sudah kulakukan. Aku mengambil tas dari pencopet itu dan menyodorkannya pada si gadis.


"Ah, aku sangat berterima kasih. Aku tidak tahu bagaimana bisa pulang jika tidak berhasil mengambil kembali—"


Aku kembali menarik tanganku sebelum gadis itu mengambil tasnya. Dia tampak terkejut, tentu saja. Tapi sepertinya dia tahu kenapa aku melakukan itu, sangat terlihat sekali dari wajahnya yang memucat.


"Bisa aku minta balasannya sekaligus karena sudah menolongmu, nona manis?"


[]