Magia Corde

Magia Corde
※- 01 -※ Promise?



Malam natal. Biasanya orang-orang akan menghabiskan waktunya bersama keluarga ataupun kekasih. Tapi tidak untuk Ange. Gadis berambut silver pendek dengan iris biru laut itu hanya duduk di samping air mancur pada pusat kota seraya menatap orang-orang yang lalu lalang. Embusan angin malam yang dingin menusuk pori-pori kulit leher dan kedua tangannya pun tak ia hiraukan.


Netranya sudah berkaca-kaca semenjak 30 menit tang lalu, namun tidak ia biarkan bulir bening itu jatuh begitu saja. Ini sudah kesekian kalinya, kekasih Ange menolak untuk bertemu. Lensa biru laut itu terus menatap sendu kado natal pada pangkuannya selama beberapa saat, hingga akhirnya ia memutuskan untuk beranjak dari tempatnya duduk.


Secangkir teh hangat mungkin bisa membuatku sedikit rileks, pikirnya seraya berjalan menuju sebuah cafeteria.


Namun langkahnya segera terhenti saat tinggal beberapa langkah lagi untuk mencapai cafe. Matanya terbelalak begitu melihat sang kekasih tengah memasuki cafe bersama gadis lain. Napasnya tercekat, dadanya sakit bak ditusuk ribuan jarum. Cahaya di matanya pudar perlahan. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miris. Kembali, ia melangkahkan kakinya memasuki cafe. Tanpa pikir panjang, ia menghampiri meja tempat kekasihnya berada.


"Wah, kupikir kau sedang ada di rumah nenekmu," ungkit Ange mengenai alasan kekasihnya—ralat, mantannya—tak bisa datang.


Lelaki berambut dan mata hijau itu tersentak. Netranya langsung teralihkan ke arah gadis berambut silver yang sudah berdiri di sampingnya. Ia melotot tak percaya, raut wajahnya menunjukkan ketakutan seperti baru saja melihat hantu.


"Siapa dia?" tanya gadis yang duduk berhadapan dengan lelaki itu.


Tidak ada jawaban. Lelaki itu sudah larut dalam ketakutannya, apalagi setelah melihat senyum dingin dan tatapan kosong Ange. Tubuhnya membeku seakan terkena efek paralisis. Hanya keheningan yang meliputi di antara mereka. Bahkan pengunjung cafe lain pun menghentikan obrolannya dan hanya menonton adegan cinta segitiga di hadapan mereka.


Ange membungkuk hingga wajahnya dengan wajah lelaki tersebut berdekatan. Tangan kanannya yang dingin menyentuh pipi si lelaki. Lelaki itu terperanjat kaget, ia baru menyadari bahwa bibirnya dan bibir Ange sudah saling bersentuhan.


Gadis berambut coklat—yang diketahui pacar baru lelaki berambut hijau—itu menahan napas ketika melihat adegan yang terjadi tepat di depan matanya. Sadar dari keterkejutannya dalam beberapa detik, sorot matanya berubah menajam, tak lama kemudian ia menggebrak meja sambil berteriak, "HEI!!"


Ange berciuman cukup lama tanpa menghiraukan gebrakan meja dan tatapan tajam gadis itu. Jika tatapan bisa membunuh, Ange sudah mati sekarang. Tapi pada akhirnya itu hanyalah tatapan. Ia melepas ciumannya dan berbisik "Selamat natal." sambil meletakkan kado natalnya pada pangkuan lelaki tersebut. Setelahnya, ia segera keluar dari cafe dengan langkah cepat.


Netranya kembali berkaca-kaca begitu sudah di luar cafe. Giginya bergemelatuk dan kedua tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia langsung berlari kencang dengan bulir-bulir bening yang mulai berjatuhan di sudut matanya. Begitu sampai di alun-alun kota yang sepi, kakinya terhenti di dekat pohon natal raksasa.


"Hiks!" Ange terisak dan menangis sejadinya di sana.


Di sisi lain pohon natal, terlihat seorang lelaki yang tengah menatap kagum pohon dengan netra heterochrome biru-merah miliknya. Tak lama, telinganya menangkap suara benda jatuh. Ia tersentak begitu mendengar isak tangis seorang gadis yang menyusul setelah suara benda jatuh itu. Dengan rasa penasaran, ia melangkah memutari pohon hingga melihat seorang gadis berambut silver pendek tengah duduk bersimpuh di tanah sambil menangis.


Lelaki itu menghampirinya dengan panik dan berjongkok di sampingnya, lalu bertanya "Kau tidak apa?" dengan raut khawatir.


Gadis itu tidak menjawab dan masih terus menangis. Lelaki itu menyodorkan sebuah sapu tangan dan kembali bertanya, "Kamu tidak apa?"


Begitu mulai tenang, gadis itu—Ange—menerima sapu tangannya dan menghapus air matanya. "Terima kasih," katanya dengan suara sedikit serak.


"Apa kakimu sakit?" tanya pemuda itu lagi.


"Huh?" Ange memiringkan kepalanya karena tidak mengerti dengan pertanyaan yang diajukan lelaki tersebut.


Apa maksudnya? Pikirnya, bertanya-tanya.


"Bukankah kau menangis karena terjatuh?" ungkap lelaki itu dengan tampang polosnya.


"Oh ...." Ange yang mulai mengerti arah pembicaraannya menggelengkan kepala lalu terkekeh geli. "Tidak. Bukan itu penyebabnya."


Lelaki berambut indigo itu memiringkan kepalanya, tampak memikirkan sesuatu. Ange terkejut ketika lelaki itu melingkarkan syal pada lehernya.


"Kenapa—"


"Jade! Ayo pergi!" Teriak seseorang yang berdiri tidak jauh di belakang lelaki berambut indigo dan mata heterochrome itu.


"Baik!" sahut lelaki yang dipanggil. "Sampai jumpa, nona!"


Ange masih terpaku di tempatnya sambil menatap kepergian lelaki itu bersama temannya. Kemudian pandangannya teralih ke arah sapu tangan dan syal pemberian lelaki itu sambil menggumamkan namanya, "Jade ...."


☆♕☆


"Bagaimana kencannya?" tanya gadis berambut coklat dan beriris merah muda setelah meneguk latte miliknya.


Saat ini Ange sedang berada di planetarium sekolah untuk meneliti beberapa hal mengenai astrologi. Seharian berkutik dengan buku-buku tebal sudah cukup membuatnya pusing. Ia menghentikan kegiatan begitu mendengar pertanyaan yang menyebalkan itu dari Nandita.


"Sangat menyenangkan melihat wajah kesal pacar barunya," jawab Ange pada akhirnya sambil tersenyum simpul.


"Uh, kau melakukannya? Lagi?" Nandita melotot tak percaya. Ange hanya menjawabnya dengan anggukan disertai gumaman.


"Oh, ayolah. Terakhir kali kau melakukannya saat masih year 9. Apa maksudnya dengan pacar tahunan ini?"


Ange tidak menghiraukan pertanyaan dari Nandita dan tetap fokus pada buku yang ia baca. Sesekali mendesah karena tidak mengerti sama sekali apa yang sedang dibaca. Merasa dicampakkan, Nandita mengerucutkan bibirnya lalu menghampiri Ange di meja belajar lalu ikut melihat apa yang dibaca. "Kenapa kau tidak bertanya pada kakakmu? Kupikir penyihir lebih mengerti mengenai ramalan bintang."


"Aku tidak mau mengajari hal yang tidak kamu sukai," ujar Ange, meniru gaya Azure ketika sedang berceramah. Mengerti maksud dari ucapan Ange, Nandita mengangguk sambil membulatkan bibirnya.


Tidak mau mengganggu lagi, Nandita pergi ke dapur untuk membuat secangkir teh. Ange masih terus berkutik dengan buku-bukunya, sesekali mendekat ke arah teleskop untuk mengamati bintang. Lelah karena seharian terus membaca buku, Ange menjatuhkan diri ke sofa yang berada di sudut ruangan, berdekatan dengan rak buku. Nandita yang sudah selesai menyeduh teh, menghampiri Ange dan menyimpan secangkir teh tersebut ke meja di hadapan Ange.


"Terima kasih." Ange mengambil cangkir teh tersebut. Setelah menghirup aromanya, ia menyesapnya perlahan. Kepalanya yang berat seakan dipenuhi oleh banyak beban, terlepas seketika hingga menghadirkan ketenangan.


Nandita meraih katalog yang tersimpan di bawah meja, lalu melihat isinya. Ingat akan sesuatu, gerakannya terhenti ketika hendak membalik halaman yang ia lihat. "Omong-omong, aku belum pernah tahu kau akan masuk ke universitas mana."


"Aku akan pergi ke London," ujar Ange yang memberi jawaban tidak langsung.


"Oxford. Tentu saja." Nandita menghela napas. "Apakah Perancis tidak terlalu bagus?" Ia mengatakannya dengan nada datar, namun dapat terlihat jelas bila ada kesedihan di matanya.


"Perancis adalah dunia kriminal—adalah apa yang sering Azure katakan padaku. Aku juga sudah melihatnya sendiri jika itu bukan hanya bualan belaka. Tapi aku tahu ada maksud lain dia menyuruhku ke sana, maaf." Ange menunduk, menatap sendu cangkir. Sungguh disayangkan karena ia tidak bisa membantah Azure jika soal pendidikan. Nandita sendiri hanya bisa pasrah karena tidak dapat mengikuti.


"Baiklah. Tapi berjanjilah kau akan mengunjungiku saat ada waktu luang." Nandita menyodorkan jari kelingkingnya yang disambut oleh jari kelingking Ange.


"Janji."[]


[***Ket:


Year 1-6: Setara dengan kelas 1-6 di Elementary School (SD).


Year 9: Setara dengan kelas 3 di Junior High School (SMP***)]