Magia Corde

Magia Corde
※- Omake -※ Sweet Stalker



\=\=\=[Sekedar one-shot tanpa terpaku sama sekali dengan plot utama]\=\=\=


Seperti biasanya, aku tidak dapat kembali tidur setelah terbangun pada pukul 4 tepat. Rutinitasku dari dunia sebelumnya memang tidak dapat kuhilangkan begitu saja meskipun aku habis begadang semalam suntuk untuk membuat formula ramuan baru.


Setelah bangun, aku langsung bersiap mengenakan seragam sekolahku, tanpa jas dan vest. Aku malas mengakuinya, tapi di tempat ini sudah ada pria berambut perak berkacamata dengan kepribadian teladan. Sebenarnya aku sangat malas berdandan seperti ini, tapi aku lebuh benci jika penampilanku disamakan dengan orang lain. Mau bagaimana lagi? Aku tidak punya pilihan.


Selain itu, aku juga bosan harus bersikap patuh dan sok baik. Mungkin lain kali aku harus minta maaf pada Ibu dan Azuré karena sudah menyia-nyiakan pelajaran etiket yang mereka berikan padaku. Lagipula, bersikap menyebalkan seperti ini cukup menarik. Anak-anak bangsawan yang cenderung menahan perasaan dari tiap tindakannya, mulai menunjukkan warna aslinya padaku. Kepribadian mereka tidak begitu membosankan seperti kelihatannya. Walaupun ada yang menakutkan, sih ....


Meskipun ini dunia alternatif, sistem penanggalan masih sama seperti di duniaku yang sebelumnya. Dan beberapa Event yang kerap kali muncul di musim tertentu juga ada. Seperti hari ini, misalnya. Hari Kasih Sayang, atau disebut juga Valentine.


Beberapa hari terakhir aku selalu merasakan ada sesuatu yang menatapku dengan tajam dari berbagai sisi. Aku tidak mengerti apa maksudnya itu. Begitu aku memancing mereka ke tempat yang sepi, berapa lama pun aku menunggu, tidak ada apapun yang muncul. Aku hanya mengharapkan ada yang menyerangku, tapi bukannya sesuatu yang muncul, perasaan ditatap itu malah semakin berkurang dan akhirnya menghilang.


Aku sempat tidak merasakannya kemarin. Tapi hari ini, tepat setelah aku melompat turun dari gerbang asrama yang selesai ku panjat, perasaan itu kembali lagi. Namun tak lama setelahnya, suara gaduh langkah kaki yang bergerombol berhenti tepat di belakangku.


Apa itu sekumpulan Dwarf yang tidak sengaja ku ejek minggu lalu, atau gerombolan Gremlin yang ingin balas dendam karena pernah ku bantai bulan lepas? Opsi kedua terdengar mustahil, tapi apapun itu, aku tetap memberanikan diri untuk berbalik.


"RIEL, TERIMALAH COKLAT DARIKU!!"


"Eh?"


Bukan. Itu bukan ucapan yang hanya berasal dari seorang gadis. Melainkan sekumpulan gadis-gadis yang mengucapkannya secara serentak sambil menyodorkan sebuah kotak hadiah--atau apapun itu. Aku tidak begitu mengenal gadis-gadis ini. Hanya ada beberapa yang sudah familiar di ingatanku. Tapi aku tetap menerima hadiah yang mereka berikan untukku tanpa memikirkan hal lain.


Bahkan Lilou, gadis yang sudah tahu jati diriku sebenarnya, ikut berbaris dalam kerumunan dan memberiku sekotak coklat.


"Jangan lupa membalasnya saat White Day, okay?" Ujar Lilou sambil mengedipkan sebelah matanya.


"L-Lilou ...."



Aku tidak tahu bagaimana harus merespon. Yang dapat kulakukan saat ini hanyalah berterima kasih.


Kupikir aku juga sudah tahu dari mana tatapan-tatapan tajam itu berasal. Tapi ... Entah kenapa, rasanya kini punggungku seperti akan ditikam kapan saja begitu aku lengah. Apa itu hanya perasaanku?


— Sisi lain asrama —


Sekumpulan laki-laki jomblo yang sengaja bangun pagi untuk mendapatkan coklat dari fans rahasia mereka, harus terpaku di teras asrama sambil meratapi nasib karena kalah Start dari Ange. Yang dapat mereka lakukan saat ini hanyalah gigit jari sambil menatap tajam Ange dari kejauhan.


Perasaan Ange mengenai punggungnya tidaklah salah. Jika tatapan saja bisa membunuh, mungkin Ange sudah tercabik-cabik saat ini juga karena rasa iri hati para laki-laki di hari Valentine ini.


— FIN —