Mafia vs Muslimah

Mafia vs Muslimah
PULANG



"Tujuan Abi datang, untuk menjemput kalian." jelasnya.


Deg....


Aku langsung menatapnya seakan tahu apa yang aku ingin aku katakan, dia pun langsung menganggukkan kepalanya beberapa kali.


Melvin pun menatapku untuk meminta penjelasan. Aku hanya menatapnya tanpa menunjukkan reaksi apa pun.


"Iyaa Melvin, Abi datang untuk menjemput kalian hari ini dan sudah saatnya kalian untuk kembali pulang." tegas Alaistar sambil terus menatapku dengan tatapan yang menyiratkan kalau memang sudah saatnya.


Memang salahku juga kenapa aku memberikan kode untuknya, aku pun mengangguk dan Melvin pun terlihat sangat bahagia.


"Yeaaayyyy Alhamdulillah. Kalau begitu Vin haluc ciap-ciap." ujarnya dan langsung bergegas ke kamarnya.


ternyata benar dugaanku, dia sangat merindukan keluarga yang lengkap. Setelah melihatnya pergi kini tatapan Alaistar tertuju denganku lagi.


"Hari ini adalah hari yang tepat untuk memulai semuanya dari awal. Banyak hal yang terjadi saat kamu pergi," lirihnya sambil menatapku


 dengan tatapan kosong.


Deg..


Apakah dia berbuat hal itu? Batinku.


"Iyaa, apa yang ada di dalam pikiran kamu itu memang benar. Selama tidak ada kamu, emosiku semakin tidak stabil dan yaa terjadi begitu saja." Terdengar sangat santai namun siapa pun yang mendengarnya akan merinding ketakutan.


Tidak dipungkiri kalau pesona Alaistar Xeimoraga sangat berpengaruh dan jug. menjadi mencekam dalam waktu yang bersamaan.


"Aku sadar akan hal itu, namun hatiku berkata tunggu dulu. Aku juga tahu selama ini kamu terus mencariku tanpa kenal lelah " ujarku sambil mengusap rahang tegasnya pelan.


Dia pun menikmati sentuhan ku dengan menutup kedua matanya sejenak sambil menghembuskan nafas kasar. Dan tidak berselang lama, mata yang tajam itu pun kembali terbuka.


"Sungguh aku sangat merindukan kalian." ujarnya sambil melihat sebuah foto keluarga kecil. Terdapat dua anak kecil laki-laki, dan orang tua mereka.


Yaa dia anak kecil itu adalah Melvin dan Chicko. Chicko selalu bersama kami sampai orang itu kembali datang dan merebut kebahagiaan anak kecil itu.


"Dan apakah kedatanganku diterima saat ini?" tanyanya.


Aku diam sejenak kemudian kembali tersenyum, "Kamu diterima, dan kami akan pulang bersamamu."


Greep..


"Terima kasih tuhan." ujarnya sambil memelukku erat, tidak terasa air matanya menetes yang membuatku langsung melepaskan pelukannya.


"Mengapa kamu menangis?" tanyaku sambil menghapus air matanya lembut.


Namun dia hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Umiii, Vin cudah ciaap." ujar Melvin yang tengah berlari sambil membawa tas ranselnya dengan penuh semangat.


"Baiklah jagoan, sekarang berikan tasmu dengan Abi. Biarkan Abi yang membawanya." ujar Alaistar semangat.


"Tidak Abi, umi pelnah bilang kalau selagi masih bisa diataci sendili maka ataci dulu."


Seketika Alaistar pun menatapku dengan tatapan sendu. Aku yakin dia pasti sangat merasa bersalah, namun sebisa mungkin di tutupinya agar anak kecil ini tidak mengetahuinya.


"Owh yaa? Berarti umi sudah mendidikmu menjadi anak yang mandiri." ujarnya sambil mencubit pipi Melvin pelan.


Aku melihat raut wajah Alaistar yang murung namun sebisa mungkin ditahan.


"Umi belum ciap?" tanya Melvin yang membuatku tersadar.


"Eh, hmm iyaa umi segera bersiap." ujarku salah tingkah. Dan langsung segera bergegas masuk kedalam kamar.


Gebrak!!


Aku menutup pintu dengan kerasnya dan terdengar juga suara tertawa yang aku yakin ini berasal dari mereka berdua.


Dengan segera aku pun langsung berberes dengan cepat dengan rona pipi yang masih setia menetap.


Setelah sepuluh menit, semuanya sudah beres dan aku pun keluar dari kamar. Saat ini pandanganku tertuju dengan dua orang yang sedang makan dengan nikmatnya.


Ekhem..


"Ehh, sayang sudah selesai berberesnya?" tanya Alaistar.


Aku memilih untuk tidak menjawabnya karna pandanganku tertuju dengan Melvin yang tengah makan dengan lahapnya.


Mengapa selahap itu? Bukankah tadi dia sudah makan? Batinku.


Suts..


Sutss..


"Vin.. Ada umi." ujar Alaistar pelan sambil mengkode anaknya itu yang sedang asik dengan dunianya sendiri.


Seakan sadar akan sesuatu dia pun langsung menghentikan kegiatannya dan langsung melihatku.


"Umi!! Ayo makan, Abi pecan makanan yang banyak." ajaknya sambil menarik tanganku untuk duduk disebelahnya.


"Makanannya enak, tapi tidak ada satu pun yang teringat dengan umi." sindirku yang membuat kedua orang yg sangat aku cintai ini salah tingkah.


"Hehehe, maaf umi. Ayo kita makan belsama." ujarnya dan langsung menarikku untuk duduk bersama mereka kemudian aku memakan makanan yang telah tersedia di atas meja.


Entah sudah berapa lama aku merindukan momen ini, tapi yang jelas momen ini adalah awal dari semangat baru.


***


Tok.. tok...


"Masuk," ujar seorang laki-laki yang tengah duduk dikursi kebesarannya dengan aura yang menakutkan. Siapa pun orang yang berada didekatnya pasti merasa takut.


"Jelaskan," perintahnya. Seakan mengerti orang itu pun mengangguk.


"Maaf mengganggu waktunya tuan, sepertinya tuan Alaistar memang benar-benar membuktikan ucapannya. Dan saat ini beliau tengah berada di kediaman nona Arumika."


Deg...


Apakah benar dia sudah berubah? atau perubahannnya hanya sementara? Sementara perempuan itu sedang menyusun strategi untuk kembali? pikiranku berkecamuk, namun hal itu tidak perlu di khawatirkan karena sudah ada yang mengurusnya.


"Tuan, apa rencana selanjutnya?" tanya Vins dengan santai.


Sedangkan yang ditanya hanya bisa tersenyum.


"Biarkan saja mereka, karna kebahagiaan Arumika Dirgantara adalah yang paling utama. Pantau saja untuk saat ini, sampai perempuan itu datang. Jika perempuan itu kembali maka aku sendiri yang akan turun tangan." ujarku final.


"Maaf tuan, tapi kali ini perempuan itu tidak bisa kita hadapi dengan cara yang biasa. Karna dia..


"Yaa saya tahu benar akan hal itu, tapi saat ini yang saya inginkan hanya kebahagiaan Arumika Dirgantara. Sudah cukup untuk luka yang telah dirasakan olehnya. Sudah cukup!" tegasku.


seketika aku teringat dengan masa lalu, yaa aku dan arumika adalah kakak beradik, dan aku memutuskan untuk keluar rumah untuk mengejar cita-citaku. Namun aku tidak lupa kewajibanku untuk menjaga adikku.


Sampai semuanya terjadi, dia menikah dengan orang yang sangat berpengaruh. Aku juga tidak ingin adikku menikah dengannya, namun melihat ketulusan di mata Alaistar membuatku luluh.


Alaistar memang tidak pernah melihat wajahku secara langsung, namun sesungguhnya aku berada dekat dengannya.


Sejak saat itu aku mulai menerornya, namun dia sama sekali tidak mengetahui kalau semuanya terjadi Karna aku.


Bahkan tidak ada rasa curiga sedikitpun terhadapku. Dan ini adalah keberuntungan untukku, karna aku bisa dekat dengan adikku.


Kalau ditanya Arumika kenal denganku atau tidak, pasti jawabannya kenal. Selama ini dia diam karma dia mengetahui kalau ada seseorang yang akan masuk kedalam rumah tangganya.


Feeling dia terlalu kuat, sehingga saat aku menawarkan rencana ini dia langsung setuju. Dan sudah saatnya dia kembali pulang...