Mafia vs Muslimah

Mafia vs Muslimah
LEMAH



Jika memang apa yang dikatakan Kevin tadi adalah suatu hal yang membuat semuanya hancur aku akan langsung menghabisinya.


Bip..


Bip..


Bip..


Sebuah notifikasi yang sedari dulu dia tunggu-tunggu, notifikasi yang selalu dia dapatkan dan notifikasi yang beberapa bulan belakangan ini selalu aku nantikan kini terlihat.


KESEDIHANMU PERLAHAN AKAN HILANG KARNA ALLAH TIDAK AKAN MENCIPTAKAN LUKA TANPA BAHAGIA.


Tes...


Tes..


Seketika air mataku pun menetes tanpa seizin ku. Aku mengerti apa yang di maksud dari kata-kata ini.


Istriku kembali dan sebentar lagi dia akan datang.  Tapi sebelum dia datang aku akan membereskan semuanya, dan sekarang aku sudah memasuki kawasan dangerous.


Dangerous, terkenal dengan wilayah yang kelam dan pastinya sangat berbahaya seperti namanya.


Siapa pun yang memasuki wilayah ini tanpa adanya izin dariku akan meninggal sia-sia di tempat ini. Karna tidak ada satu orang pun yang bisa menolong.


Semua fasilitas keamanan juga lengkap dan juga sangat canggih. Semua aku lakukan untuk semata-mata melindungi orang-orang yang aku cintai.


Dan sekarang sampailah aku ditempat yang aku tuju, tempat yang sangat mengerikan namun menjadi kesenangan olehku.


Terkesan kejam memang tapi itulah aku, aku akan melakukan apa pun sesuai dengan perlakuan mereka terhadapku.


Prang!!!


Prang!!


Cetas!!!


Cetas!!!


"Akhhhhh ampun tuan.. akhh ampun." Terdengar teriakan yang menyayat hati, aku menjadi penasaran apa yang dia perbuat.


"Selamat pagi tuan, maaf mengganggu pagi anda. Saya mendapatkan sebuah informasi yang ternyata sudah berani bermain gelap dengan dana perusahaan cangkang." Ujar Kevin dengan sopan yang membuatku tersenyum miring.


Perusahaan cangkang huh?


"Baiklah aku akan periksa terlebih dahulu dan memaksa dia untuk mengakui apa yang sebenarnya terjadi.


"Baik tuan."


Ceklek....


Pintu itu pun dibuka oleh Kevin dan aku pun masuk dan disusul olehnya.


"Wah-wah ada apa gerangan Mr. Antonio datang dikediaman Xeimoraga. Keluarga Xeimor yang biasanya tidak ada yang datang dikediaman kami." Ujarku tenang.


Dia pun menatap takut kearahku dan dia pun juga menunduk tanpa mau membalas ucapanku.


"Hey bung, ada apa ini? Mengapa kau terlihat menyedihkan seperti ini?" Tanyaku sambil tersenyum mengejek.


"T.. tolong lepaskan aku Al. Aku meminta be.. belas kasih darimu." Jawabnya sambil ternyata-bata.


Aku yang mendengarkannya pun perlahan berjalan kearahnya dan berjalan berputar di daerah yang dia duduki.


"Bagaimana aku bisa memberimu belas kasih sementara aku tidak tahu apa kesalahan yang dia buat oleh Mr. Antonio yang menyebabkan Kevin Lotto membawa anda ke kediamanku."


"Aa.. a.. aku tidak me.. melakukan apa pun." Elaknya yang membuatku menghentikan langkahku. Dan juga menatapnya bingung.


"Hah? Apa? Jadi anda tidak melakukan apa pun? Jadi bagaimana bisa anda dibawa ke kediaman diriku? Bagaimana ini Kev?" Tanyaku yang malah semakin mempermainkannya.


Cetar!!!


Cetar!!


Akhh....


Aku menatapnya khawatir, "Heii!!! Apa-apan kalian ini?! Mengapa kalian memukuli karyawan terhebatku!" Berangku dan sedetik kemudian...


Hahahhahahah..


Hahhahahaa....


Seketika suasana didalam ruangan ini menjadi sangat hening tanpa ada yang berani mengucapkan satu katapun.


"A.. ampun tuan, sa.. saya mengaku saya telah melakukan kesalahan. Sebagai gantinya saya akan menjelaskan sesuatu kepada tuan tentang nyonya." Ujarnya yang begitu berani yang membuatku menatapnya tajam.


"Apa maksudmu Antonio!!!" Bentakku


Bugh..


Bugh.....


Emosiku semakin tidak terkendali karna dia membawa-bawa nama istriku.


"A.. ampun tuan i..ini sebagai rasa bentuk permintaan maaf dari saya." Ujarnya tulus dan aku dapat melihat penyesalan yang begitu dalam.


Aku terdiam sejenak, walaupun Antonio ini sudah berani bermain api. Tapi selama dia bekerja denganku dia selalu berkata jujur dan untuk saat ini dia pasti terpaksa melakukan hal yang tidak seharusnya dia lakukan.


"Lepaskan dia dan segera obati. Dan ingat jangan sampai dia kabur!" Ujarku tegas tanpa bantahan.


"Dan untuk anda Antonio!! Jangan coba-coba untuk kabur!" Lanjutku yang membuatnya mengangguk lemah.


Aku pun langsung keluar dari ruangan itu dan langsung berjalan kearah ruanganku yang biasanya aku gunakan untuk mencari semua informasi.


Ruangan ini juga memiliki banyak memori tentang istriku, karna dia yang mengusulkan untuk membuat sebuah ruangan khusus jika suatu saat dalam keadaan urgent.


Aku menunggu agar Antonio bisa berbicara dengan tenang setelah di obati, kalau informasi yang dia katakan benar maka aku akan memaafkannya dan begitu pula sebaliknya.


Tok.. tok..


Ceklek....


"Tuan, dia sudah diobati dan dia juga bersedia untuk berbicara dengan anda." Ujar Kevin sambil membawa Antonio yang sekarang sudah jauh lebih baik dari pada tadi.


Dengan pelan aku pun mulai bertanya, "Apa maksud dari perkataanmu tadi?"


Huft...


Terdengar sebuah hembusan nafas kasar darinya dan kemudian dia menatapku dengan tatapan sendu.


"Tuan, sebenarnya saya tahu apa yang sebenarnya terjadi dan saya juga tahu mengapa nyonya memilih untuk pergi." Lirihnya.


"Lanjutkan," ujarku dingin. Sedangkan Kevin mulai mencatat Informasi yang diberikan oleh Antonio.


"Sebenarnya, kejadian itu sudah direncanakan oleh beberapa pihak tuan. Dan saya termasuk orang yang ikut andil dalam hal ini, karna saya adalah saksi bisu dan juga orang yang dimintai tolong oleh nyonya tanpa tuan sadari."


Deg....


Seketika aku pun menatap Kevin yang juga menatapku kemudian dia menganggukkan kepalanya.


"Saat itu nyonya menemui saya dengan maksud mencari tahu tentang keberadaan tuan yang sedang pergi kesuatu daerah untuk menjumpai perempuan itu. Awalnya saya tidak mau untuk nyonya, tapi saat saya tahu tuan ada hubungan dengan perempuan itu seketika timbul perasaan untuk membantu nyonya." Ujarnya sambil menatapku yang terselip sebuah emosi yang selama ini dipendamnya.


"Dan kau membocorkannya?" Selidikku


Dia pun tersenyum, "Tidak tuan, saya tidak ada hak untuk hal itu. Saya hanya mencari tahu dan mencari bukti-bukti kalau hal itu bagian dari rencana tuan. Tapi ternyata dugaan saya salah."


Seketika aku melihat kearah Kevin yang tengah menatap Antonio dan juga menatapku untuk meminta penjelasan. Namun aku memilih untuk mengabaikannya.


"Karna saya sudah dimintai tolong oleh nyonya, saya memberikan semua bukti-bukti dan informasi yang sudah saya kumpulkan. Tapi reaksi nyonya saat itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya beberapa kali. Awalnya saya beranggapan kalau nyonya akan marah besar ternyata tidak seperti itu."


"Lantas apa yang terjadi setelahnya?" Tanyaku dan aku merasa ada yang terlewatkan disini.


"Sejak saya memberikan semua informasi itu, saya dan nyonya tidak ada lagi saling berbagi informasi. Dan saya juga sering melihat nyonya sangat sibuk dan terkesan terburu-buru. Dan saya tidak tahu apa yang sebenarnya dia lakukan."


"Dan saat itu tuan Kevin juga ada ditempat dan melihatnya langsung seberapa sibuknya nyonya pada saat itu."


Lagi-lagi aku melihat kearah Kevin yang sedang serius mendengar dan melihat Antonio.


"Sejak kejadian dimana saya melihat itu, tidak pernah lagi saya bertemu dengan nyonya. Dan setelah beberapa pekan setelah itu, saya mendapat kabar kalau nyonya memutuskan untuk pergi dari mansion tuan."


"Saya juga ikut mencari dimana keberadaan nyonya karna saat itu tuan menyuruh semuanya untuk mencari nyonya. Namun saat saya sudah sangat lelah mencari nyonya, saya mendapat sebuah amplop coklat yang di dalamnya bertuliskan...


MEREKA LEMAH....