
Hari ini aku memutuskan untuk mencari tahu siapa orang yang kini tengah memata-matai keluargaku. Dengan semua informasi yang ku dapat, dan dapat di pastikan kalau orang itu bukanlah orang sembarangan.
"Kevin, atur semua jadwal saya hari ini. Dan kosongkan jadwal saya di jam satu siang," perintahku.
Dia menatapku sejenak, kemudian mengangguk setuju. Entah apa yang sedang dia pikirkan, namun yang jelas dia pasti bertanya-tanya ada apa denganku di hari ini.
Pagi ini aku sangat sibuk mengurus pekerjaan yang tiada habisnya. Untuk mengusir rasa lelahku, aku pun mulai membuka laci meja dan mengambil sebuah foto.
Foto yang selama ini menjadi penyemangat. Terdiri dari sepasang suami istri dan dua orang anak yang sudah mereka anggap sebagai anak sendiri.
"Istriku, kita akan hidup bahagia bersama anak-anak. Melvin dan Chiko adalah malaikat yang turun dari surga untuk menyempurnakan kehidupan kita." lirihku sambil mengusap foto itu.
Terbesit rasa penyesalan di diriku, sebagai seorang kepala keluarga aku tidak bisa tegas dengan orang-orang yang menyakiti keluargaku.
Aku seakan buta dan tidak tentu arah. Puncaknya saat kehilangan anak pertama kami, yang disebabkan oleh musuh-musuhku. Yang membuat awal permasalahan semua ini dimulai.
Bip..
Bip..
Bip..
Siapa sih yang mengirimkan pesan. Gerutuku kesal, namun tidak selang beberapa pesan itu membuatku tersenyum.
KAMI SUDAH SIAP, TINGGAL MENUNGGUMU UNTUK MENJEMPUT KAMI.
Tanpa basa-basi aku pun langsung menyambar kunci mobil dan bergegas keluar dari area kantor. Bahkan Kevin pun terkejut yang melihatku terburu-buru.
Saat sudah berada didalam mobil, aku pun langsung tancap gas dan pergi menjemputnya tanpa pikir panjang.
Selama di perjalanan tidak henti-hentinya bibir ini mengeluarkan senyuman. Hal yang sedari lama aku nantikan kini tiba, aku sudah mendapat lampu hijau untuk segera menjemput. Aku tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini.
Namun....
Brak...
Sial!!!
Aku pun menatap marah kearah mobil yang sedang berusaha menghentikan jalanku. Seketika rasa muak dan juga emosi pun tersulut.
Aku langsung mengambil handphone untuk menghubungi Kevin..
"Segera pergi dan bawa anak-anak untuk bantuan! Aku sedang di kejar oleh orang yang berusaha menghentikan jalanku!" bentakku
....
"Hampir mendekati jalan Tulip."
....
Tut..
Dan sambungan telpon itu pun terhenti.
Seketika senyum tipis pun muncul.
Ingin bermain denganku huh? Batinku. Dan aku pun mulai tancap gas dengan kecepatan penuh untuk mengecoh pergerakan lawan.
Dan benar saja, mereka kelimpungan untuk mengejarku.
"Hahahahah, dasar bodoh! Mengejarku saja tidak bisa." gelak tawaku pun pecah saat melihat mobil yang dikendarai mereka sudah sangat jauh tertinggal, bahkan nyaris tidak kelihatan.
Seketika dari arah kejauhan aku melihat sinar biru. Kerja bagus, Batinku berujar. Tidak sia-sia aku mengajar dan mengangkat mereka sebagai anak buahku.
Yaa sinar biru itu adalah tanda bahwa bala bantuan dari anggota Xeimor telah tiba.
Tanpa aba-aba aku pun mulai menurunkan kecepatan. Aku pun dengan tenang berjalan tanpa adanya beban sedikitpun.
Bip..
Bip..
Bip..
TUAN, MEREKA SEMUA SUDAH DI AMANKAN. DAN MEREKA SUDAH DIBAWA KE TEMPAT BIASA, APAKAH ADA SESUATU YANG HARUS KAMI LAKUKAN?
Dengan cepat jari-jari ini pun mengetik dengan semangatnya.
BIARKAN SAJA MEREKA BERNAPAS SEJENAK. TUNGGU INTRUKSI SELANJUTNYA, DAN PASTIKAN JANGAN LEPAS!
Send..
Tidak terasa aku pun mulai memasuki daerah tempat istriku tinggal. Rasa rindu yang teramat sangat membuat hatiku sesak.
Aku bertekad untuk menghabisi semua orang yang telah mengganggu keluarga Xeimoraga.
Aku pun ingat sesuatu dan dengan cepat menghubungi orang suruhanku untuk mencari tahu dalang dari kejadian tadi.
Aku harus mencari tahu alasan mereka mengejar dan menyerempet mobilku. Untungnya aku ahli dalam mengendarai mobil, jika tidak aku akan terbaring koma di rumah sakit.
***
"Melvin sayang!!! Ayo turun!" teriak seorang perempuan cantik yang menggunakan kerudung.
"Haduh, kenapa lama sekali anak itu?" gerutuku pelan.
Lihatlah, di meja makan yang sejak awal sudah dibersihkan kini terlihat seperti kapal pecah. Tepung dimana-mana, cangkang telur berserakan, piring dan segala macam peralatan makan berserakan.
Fiks ini pasti kerjaan Melvin.
"Mel...
"Iyaa umi," ujarnya sambil tersenyum mengejek kearahku. Dengan santai dia pun berjalan mendekat kearahku tanpa ekspresi bersalah sedikitpun.
Aku pun menatapnya berang, "Apakah ini kerjaan kamu?!" sambil menunjuk kearah meja makan.
Dia yang melihatku pun seketika menunjuk ke arah meja makan, sontak bertepuk tangan dan berujar "Selatus untuk umi."
Prok..
Prok..
Aku yang melihatnya pun seketika menatapnya berang, "Apa yang kamu lakukan wahai anakku!"
Sedangkan yang menjadi tersangka hanya bisa tertawa lepas sambil menatap kearahku.
"Hahahah.. Maaf umi, tadi Melvin mau kacih kejutan. Tapi gagal," ujarnya lirih. Kemudian berjalan kearah lemari es dan mengambil apa yang sudah dia buat tadi.
Seketika amarahku pun lenyap saat melihat apa yang dia bawa. Sebuah cake kesukaanku..
Ternyata dia membuarkanku kejutan? Dan tawa itu? Batinku.
Aku pun sadar akan sesuatu kemudian berjalan mendekatinya. Dengan lembut aku pun mengambil cake itu dan langsung memakannya.
"Hmm, cake ini sangat enak. Melvin belajar dari mana?" tanyaku setelah menyantap cake buatannya. Dan memang benar rasa cakenya sangat pas dan aku menyukainya.
"Hmm umi tidak malah?" tanyanya yang masih takut.
"Tentu tidak sayang, umi sangat bahagia mendapatkan kejutan ini. Tapi lain kali harus izin terlebih dahulu yaa." ujarku sambil mengelus rambutnya.
Dia yang mendengarkannya pun langsung tersenyum cerah dan menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Anak pintar,"
Tok..
Tok..
Tok..
"Sepertinya ada tamu," ujarku.
"Ayo umi," ajaknya dan menarik tanganku.
"Iyaa sebentar," teriakku.
Ceklek...
Deg..
"Assalamualaikum istriku dan anakku,"
"Abi." lirih Melvin yang membuatku menatapnya sedih. Kemudian dia pun langsung berlari dan memeluk Alaistar.
Yaa orang yang mengetuk pintu itu adalah Alaistar Xeimoraga. Ternyata dia memang benar-benar serius dan juga benar-benar ingin memperbaiki semuanya.
Ternyata Melvin merindukan keluarga yang lengkap seperti dulu. Berarti apa yang kuputuskan ini adalah hal yang benar.
"Wa'alaikumussalam, ayo masuk." ajakku, dia pun tersenyum dan langsung masuk kedalam rumah sambil menggendong Melvin yang memeluknya erat.
Aku pun menyuguhkan makanan serta minuman. Tidak dipungkiri kalau aku sangat merindukan momen ini sejak lama.
"Melvin, turun dulu yaa nak. Supaya Abi bisa makan dengan tenang." bujukku, namun reaksinya malah sebaliknya.
"Tidak mau," tolaknya yang membuatku bertanya-tanya, kemudian tersenyum mengejek.
"Heii anak kecil, mengapa kamu tiba-tiba bersikap manja?" ledekku dan benar saja, dia pun segera turun dan langsung duduk di pangkuanku dengan wajah yang sebal.
Melvin tipe anak yang ketika marah selalu duduk di pangkuanku dengan wajah sebal miliknya.
"Abi makan caja, Vin cama umi dulu." ketusnya.
Sedangkan orang yang menjadi bahan rebutan pun hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Tujuan Abi datang, untuk menjemput kalian." jelasnya.
Deg....