Mafia vs Muslimah

Mafia vs Muslimah
MEMANTAU DIKEJAUHAN



Fajar mulai menunjukkan jati dirinya, yang membuat udara semakin sejuk diluar sana. Kini seorang wanita cantik yang tengah memakai mukena dan langsung menyegerakan kewajiban terhadap Tuhannya.


Terlihat wanita itu sangat khusyuk dalam ibadahnya. Tidak ada satupun orang yang bisa mengubah pemikiran wanita cantik yang sedang melaksanakan ibadahnya.


Setelah beberapa saat wanita itu pun sudah menyelesaikan sholatnya. Dengan segera dia pun langsung memakai hijab untuk menutupi kepalanya itu. Dan segera pergi keluar kamar dan bersantai-santai ria di taman yang sangat dia sukai sejak beberapa bulan belakangan ini.


Maafkan aku suamiku, iniku lakukan agar kamu bisa berfikir bahwa tidak semuanya bisa kamu percayai. Batin seorang wanita berhijab dan memiliki paras yang rupawan.


Dan yaa dia bernama Arumika Dirgantara, orang yang selama ini dicari-cari Alaistar.


Wanita cantik itu terduduk manis di Padang rumput hijau dengan pikiran yang berkelana bebas.


Huft... Sebuah hembusan nafas kasar keluar darinya. Andai kamu tahu suamiku, semua orang yang dulu bersembunyi-sembunyi untuk menyerang kini dengan sengaja menyerang langsung.


Greeepp...


Terdapat sebuah pelukan hangat yang berasal dari anak kecil yang sangat menyayangi wanita cantik itu. Dengan lembut dia pun berkata, "Umi, dicini dingin."


Aku yang mendengarkannya pun terkekeh geli, "memangnya kenapa kalau dingin?" Sahutku


Seolah tahu kalau aku sedang menggoda, dia pun langsung melepaskan pelukannya itu dan menatapku dengan pipi yang menggembung serta melipat kedua tangannya di dadanya.


"Heii anak kecil? Apakah kamu sedang marah denganku?" Tanyaku sambil terkekeh.


"Bukan malah tapi melajuk." Jawabnya sebal yang malah membuatku tidak bisa menahan tawa yang sedari tadi ku tahan.


"Aiii? Apa bedanya?" Tanyaku sambil mencubit pipinya pelan.


Dia pun menatapku dengan sebuah kerutan di dahinya, "Umi tidak tahu?"


Aku hanya menggelengkan kepalaku beberapa kali sebagai jawaban.


"Melvin pun tidak tahu umii. Heheheheh.." Dengan cengirannya yang membuatku langsung memeluknya.


"Sudah pandai bergurau adek manis." Ujarku yang disambut tatapan tidak suka darinya.


"Bukan adik manic tapi Abang tamvan." Ujarnya yang membuatku semakin terkekeh.


Kami berdua pun terhanyut dengan suasana yang kamu ciptakan bahkan tanpa terasa matahari pun mulai menunjukkan sinarnya.


"Umi, ayo kita macuk. Nanti umi hitam." Ajaknya sambil menarik tanganku.


"Baiklah, setelah itu Melvin harus bersiap-siap untuk sekolah." Ujarku yang langsung di tanggapi sebuah anggukan semangat olehnya.


Kegiatan di pagi hari seperti biasa, aku mulai memandikan Melvin, memakainya seragam sekolah dan mempersiapkan semua keperluannya saat sekolah nanti.


Melvin bukanlah anak kandungku,dulu aku bertemu dengannya di tengah keramaian pada saat aku berada di taman.


Di tengah keramaian itu ada seorang anak kecil berusia empat tahun yang sedang duduk sendirian sambil memegang setangkai bunga yang indah. Tatapannya sendu yang membuat hatiku bergetar.


Saat aku mendekatinya dan mulai mengajaknya berbicara ternyata anak itu kabur dari panti asuhan karna dia tidak mendapat asuhan yang layak. Dan dia pun berpikiran untuk kabur dari sana.


Hatiku terasa sangat sedih melihat anak kecil ini bersedih, jadi aku memutuskan untuk mengadopsi anak kecil ini yang ternyata namanya adalah Melvin. Sementara Alaistar juga setuju dengan keputusanku, makanya dengan segera dia mengurus semua berkas-berkas yang akan diperlukan oleh anak tampan ini.


"Selamat pagi umi, Abang tamvan sudah datang!" Teriaknya dengan ceria yang membuat semua orang yang ada di rumah ini pun tersenyum bahagia.


"Selamat pagi juga adek manis." Sahutku yang lagi-lagi membuatnya sebal.


"Ayo sekarang duduk karna bis dari sekolah tidak akan lama lagi datang untuk menjemput." Lanjutku.


Hening....


Aku yang tidak mendapat respon dari Melvin pun seketika menatapnya, "Melvin kenapa tak makan?"


"Tak tahu." Jawabnya cuek sambil menatap kearah lain. Aku pun yang mendengarkannya langsung mensejajarkan tinggiku dengannya.


"Sayang, ayo kita makan. Marahnya di tunda dulu." Ujarku yang membuat para pekerja dirumahku menahan diri untuk tidak tertawa.


"Vin, tidak malah, tapi melajuk."


Tin.. tin....


"Waduh bus sekolah sudah sayanggg!" Ujarku panik yang membuat semuanya juga ikut panik kecuali Melvin.


Dengan santainya dia masih makan dan menatapku santai seolah tanpa beban.


"Mamang, tolong bilang sama pak supir bus untuk tunggu sebentar!" Teriakku kalang kabut.


Sedangkan mamang sudah pergi kedepan untuk menyampaikan apa yang aku katakan tadi.


"Mel!!!"


"Salam umi, assalamualaikum umi Vin pamit yaaa" ujarnya santai sambil mencium tanganku kemudian berjalan santai kearah bus sekolah yang sudah menunggunya.


Aku yang menglihatnya hanya bisa menggelengkan kepalaku Beberapa kali. Dia sama seperti Alaistar kelewat santai.


"Dadaaa iniiii muuuuuuaaachhhh." Teriaknya sambil dada-dada kearahku dan aku pun membalasnya dengan semangat.


"Dadaaa sayangggg, semangat sekolahnya nak!" Sahutku tidak kalah kerasnya.


Sedangkan para pekerja dirumahku ini hanya bisa tersenyum melihat apa yang barusan saja terjadi.


***


Istriku, ternyata kamu tinggal tidak jauh-jauh. Batin seseorang yang sedang menatap kearah rumah yang lumayan besar. Dia melihat semuanya yang barusan saja terjadi.


Hatinya bergemuruh saat melihat interaksi wanita yang sangat dicintainya dengan anak yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri.


Ternyata informasi yang Kevin berikan denganku adalah informasi yang sangat membuatku bahagia dan ingatkan aku untuk menaikkan gajinya bulan ini.


Aku rindu denganmu, kapan kamu memutuskan untuk pulang? Batinku bertanya-tanya.


Aku bisa saja turun dari mobil dan menjumpainya tapi rasa bersalahku dengannya membuatku enggan untuk sekedar menatapnya.


Cukup lama aku terdiam demi melihat pemandangan yang dulu aku nikmati sehari-hari kini menjadi pemandangan yang sulit aku lihat lagi semenjak kejadian itu.


Tidak salah aku untuk bangun pagi-pagi dan cepat-cepat pergi meninggalkan mansion demi melihat pemandangan yang sangat aku rindukan. Sepertinya hal ini akan menjadi rutinitasku sebelum berangkat ke kantor.


Bip..


Bip..


Bip..


"Ganggu saja kesenangan orang." Gerutuku sambil mengangkat telpon.


"Yaa."


...


"Apa!!!"


.....


"Urus mereka, saya akan segera datang!"


Baru saja aku tenang melihat orang yang aku cintai ternyata baik-baik saja, aku malah mendapat kabar yang membuat amarahku naik seketika.


"Jalan! Dan pergi ke daerah hutan biasa." Perintahku kepada anak buahku dan mobil pun jalan ketempat yang mau aku tuju.


Saat mobilku melewat pagar rumah itu, tatapan mataku bertemu dengan tatapan hazel milik istriku yang juga melihatku dengan tatapan yang sulit diartikan.


Terdapat sebuah senyuman manis yang sepertinya memang sengaja ditujukan olehku. Dan aku pun membalasnya dengan tidak kalah lembut. Sampai daerah  rumahnya tidak lagi kelihatan.


Tanpa dia sadari apa yang dia rasakan memang benar-benar nyata. Karna senyuman itu memang senyuman untuknya. Dan itu sudah menjadi tanda kalau orang yang selama ini dia rindukan akan segera kembali dan berjuang bersamanya.