
Itu bukannya Alaistar? Mengapa dia disini? Apa sedari tadi dia memantau aku dan Melvin? Dan apakah selama ini dia sudah tau keberadaanku?
Tapi kalau memang dia sudah tahu dari lama, mengapa dia tidak mengawasi kami? Batinku bertanya-tanya.
Saat aku mengantar Melvin ke depan pintu rumah, tanpa sengaja aku melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam yang tengah terparkir disudut pagar area rumahku.
Awalnya aku merasa kalau itu bukan Alaistar, namun setelah diperhatikan lebih lanjut itu memang mobilnya Alaistar. Dan tampak Alaistar memandang kami dengan tatapan yang menyiratkan rindu yang amat dalam.
Dia tidak henti-hentinya menatap kami, saat bus sekolah Melvin berangkat tidak lama kemudian mobil itu pun berangkat entah kemana. Dan tatapan kami seketika terkunci pada objek yang sama.
Tatapan kami bertemu satu sama lain, aku yang melihatnya pun reflek tersenyum dan tanpa di sangka dia pun menatapku kaget dan tidak lama kemudian membalas senyumanku.
Dan hal ini membuatku semakin mantap untuk pilihanku agar kembali secepatnya. Namun ada beberapa hal yang harus aku urus sebelum aku menemuinya.
Aku pun masuk kedalam rumah dan mulai berjalan kearah kamarku. Saat sudah berada di kamar aku langsung membuka laptop dan mencari semua bukti-bukti serta beberapa informasi yang penting dan bisa aku gunakan suatu saat nanti.
Aku memindahkannya kesebuah file dan hanya aku yang tau di mana letak file itu. Setelah semuanya selesai aku pun mengambil handphoneku yang sudah sedari lama tidak aku aktifkan.
Dan benar saja saat handphone itu dinyalakan banyak pesan-pesan yang masuk tanpa henti dan salah satunya pesan dari Alaistar. Banyak pesan yang masuk sehingga sulit untuk aku membacanya satu persatu.
Dengan segera aku pun mulai mencari kontak Alaistar dan mulai mengechatnya. Mudah-mudahan dia menjawab pesanku untuk pertama kalinya.
Aku mulai mengetik sebuah pesan singkat namun cukup mewakilkan apa yang aku mau katakan dengannya. Aku harap dia segera menjemputku, karna dia harus tahu dimana mencari istrinya sendiri.
Sementara disisi lain..
"Melviiinn." Panggil seorang anak laki-laki yang umurnya seperantara dengan Melvin.
"Apa chicko," jawab Melvin yang terdengar cuek.
"Ngopi yok." Ujar anak yang bernama chicko sambil menarik turunkan alisnya itu. Chicko terkenal dengan anak yang super aktif dan periang.
Dibalik sifat periangnya itu dia menyimpan banyak luka dalam keluarganya dan hal itu hanya diketahui oleh Melvin dan uminya.
"Kamu sudah jadi bapak-bapak?" Tanya Melvin yang membuat tawa anak kecil itu pecah.
"Hahahahah, emangnya kamu kila kalau minum kopi itu bapak-bapak!" Jawabnya.
"Tak tau." Reaksi seperti inilah yang mengundang kecurigaan anak kecil yang periang ini.
Dengan tenang dia pun langsung duduk disamping Melvin yang sedang terduduk diam.
"Vin, ada apa?" Tanyanya dengan nada yang halus seolah-olah dia merasakan apa yang Melvin rasakan.
"Vin lindu Daddy." Lirih Melvin yang membuat chicko tersenyum.
"Kata umi, anak laki-laki tidak boleh bercedih. Cehalusnya kita halus beldoa cama Allah cupaya apa yang kita inginkan telkabul?" Jawab chicko dengan semangat.
Melvin yang mendengarkannya pun langsung menatap chicko dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Iko juga banyak macalah tapi Iko celalu ingat pecan uminya Vin, kalau laki-laki haluc kuat cepelti ultlamen. Kan uminya Vin dan Iko cama." Lanjutnya yang membuat Melvin langsung memeluknya dengan erat.
"Makacih Iko." Ujar Melvin dan mereka pun bermain bersama-sama tanpa memikirkan permasalahan yang menjerat mereka.
***
Deg....
MEREKA LEMAH
Kata-kata itu menyiratkan sebuah amarah yang sangat kuat dan tidak terkendali. Apa mungkin istriku yang menulisnya? Tapi dari perkataan rasanya seperti tidak mungkin. Pikiranku berkecamuk.
Bip..
Bip..
Bip...
Sebuah pesan masuk?
Deg....
Istriku? Istriku yang mengirimkan pesan setelah sekian lama. Ya tuhan terima kasih. Batinku dengan penuh kebahagiaan.
Dengan semangat aku pun membuka pesan itu.
SUAMIKU, SUDAH SAATNYA KEMBALI.
Pesan singkat yang memiliki banyak makna. Itu tandanya istriku memberi tanda kalau aku sudah harus menjemputnya.
Seketika aku pun langsung buru-buru keluar dari mansion dangerous itu dan menyuruh asistenku untuk segera mengantarku ke rumah dengan secepat mungkin.
"Lebih cepat Rex!" Ujarku yang membuatnya langsung tancap gas dengan tergesa-gesa. Seolah-olah takut mengecewakanku.
Sampai di depan pintu mansion aku langsung keluar dari mobil dan segera masuk ke mansion.
"Bibi!!!!! Dan semua para maid berkumpul!!" Teriakku dan suaraku pun menggelegar sampai-sampai Kevin yang memang sudah di mansion ikut berkumpul untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa tuan?" Tanya bibi pelan setelah semuanya berkumpul.
Dengan tegas aku pun berkata,"Nyonya kalian akan segera kembali ke mansion ini!"
"Alhamdulillah ya Allah." Sahut mereka serentak. Mereka sangat bahagia mendengar kabar ini termasuk Kevin yang lega saat mendengar pengumuman yang aku buat.
"Untuk itu saya mau, kalian membersihkan semua mansion dan memasak makanan yang dia sukai dan juga makanan kesukaan Melvin dan juga Chicko. Kalian masih ingat dengan Chicko bukan?" Tanyaku yang membuat mereka semua mengangguk.
Terlihat mereka tidak sabaran menunggu hal itu terjadi.
"Chicko? Anaknya Ello?" Tanya Kevin. Dan aku pun mengangguk, seketika dia pun tersenyum dan membuatku lega.
Akhirnya penantianku selama ini membuahkan hasil. Hasil dari memantau mereka dari jarak jauh walaupun sehari sudah mendapatkan efek yang sangat signifikan.
Dan seketika aku lupa membalas pesan dari istriku. Maafkan aku istriku, aku terlalu senang sampai-sampai aku lupa untuk membalas pesan kamu. Batinku
Seketika aku menatap orang-orang disekelilingku yang masih hanyut dalam perasaan yang sangat bahagia.
"Untuk saat ini kalian fokus dengan tugas kalian masing-masing dan untuk informasi tadi akan saya kasih tau nanti kapan nyonya kembali." Ujarku dan mereka pun langsung membubarkan diri.
Aku pun mulai membalas pesan miliknya..
ALHAMDULILLAH, AKHIRNYA AKU MENDAPATKAN PESAN YANG SANGAT BERHARGA. AKU AKAN MENJEMPUT KALIAN DENGAN SEGERA. BERSIAP-SIAPLAH KARNA HAL ITU TIDAK AKAN LAMA LAGI.
Send...
"Tuan, apakah rencana tuan untuk mengambil hak asuh atas nama Chicko adalah keputusan yang tepat? Karna seperti yang kita tahu Ello adalah seorang orang tua yang buruk bagi anaknya dan pastinya dia tidak akan mau kalau anaknya bersama orang lain." Ujar Kevin yang cukup khawatir tentang hal ini.
Aku yang mendengarkannya pun tersenyum.
"Kamu tidak usah khawatir akan hal itu, semuanya sudah di urus oleh nyonya sejak dari lama. Dan tugasku hanya untuk membantunya agar semuanya berhasil dan berjalan dengan sempurna dan chicko akan terlepas dari bahaya yang selama ini mengintainya." Ujarku sambil tersenyum misterius.