Mafia vs Muslimah

Mafia vs Muslimah
MENCOBA MENGHALANGI



Malam yang penuh bintang dan selalu mendampingi bulan yang sendirian. Malam yang syahdu membuat siapa pun terlena. Aku seorang laki-laki yang merindukan bintang-bintang nan indah.


"Permisi tuan," ujar seorang laki-laki yang usianya lebih muda dariku.


"Ada apa?" Tanyaku tanpa menatapnya. Karna pemandangan di depanku lebih menarik dari pada melihat siapa pun.


"Maaf tuan, saya hanya ingin menginformasikan kalau tuan Alaistar sudah menemuka nona Arumika dan berencana membawanya untuk kembali." Jawabnya tenang.


Deg...


Secepat itukah? Seolah-olah semesta ingin mereka bersama. Ada rasa tidak rela saat aku mendengarkan informasi ini.


"Bagaimana tuan? Apakah kita akan menghalanginya atau bagaimana?" Tanyanya yang membuatku langsung menatapnya dengan tatapan datar.


"Jangan. Bagaimanapun juga Arumika adalah adikku, dan aku juga sudah berjanji dengannya agar selalu mendukung keputusannya. Dan saat ini aku masih belum mau untuk turun tangan karna masih bisa diselesaikan oleh mereka berdua." Jawabku.


Seakan mengerti dia pun langsung mengangguk paham.


"Tuan, ini ada beberapa file penting yang harus anda ketahui. Entah kenapa firasat saya seakan mengatakan dia akan kembali." Ujar Vins dan langsung menyodorkan sebuah amplop coklat yang lumayan besar. Kemudian dia pun pamit dan meninggalkanku sendirian.


Aku yang menatapnya pun merasa aneh, tidak biasanya dia seperti ini? Apakah ini menyangkut tentang adikku? Batinku


Tanpa basa-basi aku pun langsung membuka amplop tersebut. Dan saat aku membacanya dengan teliti...


Deg.....


Dia akan kembali. Ini gawat!!


Sementara disisi lain, Vins tengah menatap bosnya dari kejauhan dengan tatapan sendu.


Maafkan saya bos, saya mencari tahu apa yang seharusnya tidak saya cari tahu. Tapi ini saya lakukan karna saya menyayangi nona Arumika sejak lama dan juga timbul rasa untuk melindunginya. Batinnya berujar.


Seakan tahu dia akan di panggil dia pun langsung menemui bosnya itu dan berdiri tepat disampingnya dengan tidak mengeluarkan suara sekecil apapun.


"Vins!!" Teriakku


"Ya tuan?" Jawabnya tepat di sampingku yang membuatku terkejut.


"Astagfirullahal'adzim, kamu ini mengejutkanku saja!" Berangku yang membuatnya tersenyum tidak enak sambil mengusap tengkuknya yang aku yakin tidak gatal itu.


"Duduklah." Perintahku dan dia pun duduk di sampingku.


Hening....


Tidak ada yang mau membuka obrolan...


Sampai pada akhirnya aku mulai membuka obrolan ini.


"Mengapa kamu mencari tahu lebih dulu sebelum aku suruh?" Tanyaku pelan


......


Huft.. terdengar helaan nafas berat miliknya.


"Saya hanya melakukan tugas saya tuan. Karna keselamatan nona adalah hal yang paling penting. Bukankah tuan pernah berbicara seperti itu?" Ujarnya yang membuatku terdiam sejenak.


"Apa maksud dari ini semua?"


"Tuan, orang yang membuat mereka terpecah belah akan segera kembali dengan membawa dendam yang berkobar. Entah apa yang terjadi selanjutnya nanti, tapi yang jelas kita harus menggagalkannya agar tidak ada lagi korban." Jawabnya.


Lagi-lagi aku hanya bisa terdiam saat mendengarkan. Karna dia tahu benar kalau saat kejadian itu aku terlambat untuk bertindak sehingga adikku memilih untuk berangkat dan meninggalkan suaminya tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.


"Tuan, ini semua saya lakukan semata-mata untuk firasat saya. Tuan juga sudah tahu kelebihan yang saya sendiri tidak tahu kenapa tuhan memberikan saya kelebihan ini. Saya merasa gagal dan tidak pantas jika saya memiliki kemampuan ini tapi tidak bisa saya gunakan dengan baik." Jawabnya panjang lebar yang membuat hatiku bergetar hebat.


Ternyata banyak yang sayang dengan keluarga Dirgantara.


"Aku tau apa yang harus aku lakukan. Terima kasih Vins, kamu sudah banyak membantuku dan sekarang kamu juga membantu adikku." Ujarku tulus.


Dia pun menatapku sambil tersenyum tipis, "Sama-sama tuan, yang paling terpenting kita harus menggagalkan rencananya untuk kembali membuat ulah."


"Aku paham Vins dan aku tahu apa yang harus aku lakukan." Ujarku sambil tersenyum misterius.


***


Terlihat seorang wanita yang memakai baju terbuka tengah asyik dengan suasana lampu-lampu yang berkelap-kelip sebagai penerangannya.


Dimalam ini seperti biasa wanita itu duduk dengan dikelilingi laki-laki yang menatapnya penuh minat namun dia menganggapnya biasa saja.


"Halo nona, masih ingat denganku?" Ujar seorang laki-laki yang memiliki warna kulit eksotis dan mencoba mendekatinya.


"Ramon, tentu saja aku tidak melupakanmu. Laki-laki tampan yang berhasil merusak hubungan mereka. Hahahaha." Jawab wanita itu sambil tertawa.


"Kau masih tidak berubah Sandra," ujarnya sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Aku mendapat informasi kalau Alaistar sudah berhasil menemukan istrinya dan tidak akan lama lagi mereka akan bersama kembali." Ujar Ramon serius yang memancing aura membunuh dari Sandra.


Brak....


"Apa-apaan ini Ramos!!! Bagaimana mungkin mereka cepat bertemu seperti ini?!" Ujar Sandra yang sudah tersulit emosi sampai-sampai semua mata kini melihat kearahnya.


Dengan amarah yang menggebu-gebu dia pun berkata, "Aku tidak akan membiarkan mereka hidup bahagia!! Alaistar hanya milikku! Milik Sandra."


Laki-laki itu yang mendengarkannya pun seketika tertawa, bagaimana seorang wanita cantik ini memiliki sifat kejam dan tidak mempunyai hati nurani.


"Hahaha, sandra-sandra. Loe itu terlalu naif! Siapa suruh loe meninggalkan orang yang selalu menjaga loe dan rela mengorbankan apa pun demi Lo!!"


Wanita itu pun diam mendengar bentakan laki-laki itu. Dia juga membenarkan apa yang dikatakannya, namun amarah serta dendamlah yang membuatnya keras hati seperti sekarang ini.


"Tidak!! Gue tidak bodoh Ramon. Hanya saja dia yang tidak sabar untuk menungguku kembali." Elaknya yang malah disambut dengan senyuman remeh.


"Loe terlalu naif." Ucapan yang simple namun sangat menusuk.


"Loe juga naif Ramon, mengapa loe mau membantu gue yang naif ini sementara saat ini loe malah membuat mental gue down!" Teriak perempuan itu.


"Karna dulu gue bodoh bahkan sangat bodoh kalau apa yang gue lakukan ini adalah jalan yang terbaik. Kesalahan terbesar gue adalah membiarkan orang yang naif seperti loe masuk ke keluarga yang isinya cahaya semua!" Bentak Ramon kuat.


Arghhh...


"Loe jahat Ramon!! Loe jahat!!" Teriak wanita itu sambil melemparkan semua barang yang berada tepat di hadapannya.


Dengan tenang laki-laki itu pun berjalan mendekatinya, "Sekarang gue sadar cantiknya seseorang bukan di ukur dengan fisik. Namun diukur oleh kemurnian hati yang bersih."


Setelah itu laki-laki itu pun berjalan kearah sebaliknya. Namun sebelum dia benar-benar pergi dia pun berkata, "Loe telah salah mencari lawan. Dan maaf gue gak akan bisa bantu loe lagi, karna hati gue telah berpindah keorang lain."


Dia pun langsung pergi begitu saja meninggalkan wanita itu yang sekarang sudah sangat kacau akibat informasi miliknya.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap mereka dengan senyuman tipis.


you want to play with me huh?