Mafia vs Muslimah

Mafia vs Muslimah
Mengintai bahaya



Malam ini adalah malam yang indah untuk sebuah keluarga yang baru saja kembali utuh. Sebuah keluarga kecil yang rusak karna datangnya orang dari masa lalu.


Kisah mereka tiada henti dari permasalahan yang ada, entah mengapa seolah-olah takdir mempermainkan mereka. Yang jelas apa yang sudah menjadi suratan akan terjadi.


Dan masalah perempuan itu, aku sendiri yang akan menghadapinya. Saat ini semuanya sudah kembali seperti semula, namun ada hal yang memang harus di waspadai.


Sekarang aku berada di sebuah ruangan yang penuh dengan layar monitor yang canggih, dengan semua peralatan yang lengkap.


"Bagaimana? Apa semuanya terkendali?" tanyaku. Sedangkan orang yang sedari tadi stay di hadapan monitor pun langsung mengangguk.


"Yaa tuan, semuanya aman terkendali. Namun akses kita sempat ada terkendala, karena sempat terjadi peretasan pada sistem kita." jawabnya yang membuatku terdiam sejenak.


"Apakah dia berhasil meretas sistem kita?" tanyaku pelan.


Aku berharap semoga tidak ada yang bisa meretasnya dengan begitu mudah.


"Bisa di lacak, dimana lokasi si peretas?"


"Tentu tuan, saya sudah melacaknya dan beliau adalah orang yang bisa meretas sistem apa pun dengan sebuah cip yang dimilikinya. Menurut informasi yang ada, cip itu sangat berbahaya." jelasnya yang membuatku penasaran.


"Dimana alamatnya?"


"Jalan angsa terbang, nomor 40DE. Tepatnya di daerah komplek A."


Seketika aku pun terdiam, itu alamat rumah Alaistar, apa mungkin Alaistar adalah orang yang meretas? Tapi bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal yang sedemikian rumit.


Bip..


Bip..


Bip..


Notifikasi dari Vins.


"Tuan, semuanya sudah beres namun ada sedikit kendala. Semua sistem keamanan kita telah berhasil diretas."


Jedar....


Amarahku tidak bisa di terbendung lagi.


Gebrak!!!!


"Berani-beraninya mereka bermain denganku!! Aku tidak suka ada orang yang memancingku untuk keluar!" amarahku pun tidak bisa tertahan lagi.


Aku merasa kalau reputasiku yang selama ini aku bangun akan hancur, hanya karena peretasan ini.


"Apakah sudah tahu siapa yang meretasnya?" ujarku pelan namun tidak menutup kemungkinan kalau amarahku akan segera meledak lagi.


"Belum."


Prang?!!!


Brak?!!


"Kurang ajar!!! Cari informasi tentang semuanya!" amarahku tidak bisa ditahan lagi. Aku paling membenci ada orang yang berusaha mengganggu rencanaku.


Seketika terbit senyuman yang jarang aku perlihatkan.


Ingin bermain-main denganku huh? Lihat nanti.


***


"Apa yang kau lakukan!! Sudah aku katakan jangan mengganggu mereka lagi!" bentak seorang laki-laki yang nampak frustasi dengan wanita dihadapannya yang tengah duduk santai seolah-olah tidak terjadi masalah.


"Santai Ramon," ujar perempuan itu tenang, namun terbanding terbalik dengan laki-laki yang yang berdiri dengan membawa perasaan gelisah tidak karuan.


"Hal bodoh macam apa ini Sandra?!" bentak Ramon yang masih tidak habis pikir dengan pemikiran wanita didepannya ini.


"Tenang saja, mereka tidak akan tahu kalau semua ini adalah ulahku." jawabnya santai.


"Gue tidak habis pikir dengan loe! Itu sama saja mengundang malaikat maut!" bentak Ramon.


Brak!!!


"Sudah aku katakan biarkan ini menjadi urusanku. Aku yang memulai maka aku yang akan menyelesaikannya, dan loe? tidak usah ikut campur!" Teriak Sandra lalu berlalu pergi begitu saja.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan tengah tersenyum remeh.


"Kau benar-benar hama. Selama ini aku membebaskan mu karna mengingat kelembutan hati sang berlian. Namun kau tidak pernah menyadarinya, maka jangan salahkan siapapun jika kau hancur!" ujar seorang pria tampan dengan tatapan tajam.


"Tuan, target sudah dikunci tinggal tunggu aba-aba selanjutnya." ujar salah satu orang kepercayaannya yang sudah sedari lama bekerja untuknya.


Pria itu pun tersenyum dan dapat dipastikan senyuman itu adalah senyuman mematikan yang menjadi ciri khasnya.


"Bawa dia ketempat biasa, karna ada yang ingin bertemu dengannya. Dan aku pastikan dia akan menyesal seumur hidup.


Di lain sisi..


"Umi!! Vin boleh ajak chicko ke lumah kita?" teriak seorang anak kecil yang sedang berlari menuju ibunya yang sedang asik dengan kegiatannya itu.


"Vin, sudah berapa kali umi katakan jangan berlari-lari nanti kamu jatuh sayang." ujar Arum dengan lembut dan menggendong anaknya itu.


"Gimana umi, apakah boleh?" tanyanya dengan ekspresi yang sangat menggemaskan.


"Heii anak kecil, ekspresi macam apa itu?" tanyaku dengan gemas dan langsung mencubit pipinya itu.


Hahahahah..


"Jangan di cubit, nanti Vin gak mau makan Balu tau lasa." jawabnya di sela-sela tawanya.


"Perkataanmu seakan-akan sudah dewasa saja." ledekku yang membuat rona di wajahnya muncul.


Muuuaachhhh


"Umiiii." teriaknya dan langsung memelukku erat untuk menyembunyikan rona pipinya itu.


Hahahah tawaku pun semakin tidak terkendali saat melihat wajahnya yang semakin memerah yang membuatku semakin gemas di buatnya.


"Umi belalti chicko bica datang kapan caja kan?" tanyanya sambil menatapku dalam.


Aku kasihan dengan chicko, diusianya yang masih belia dia mampu bersikap dewasa dengan kondisi yang sangat rumit.


Persahabatan mereka sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, bedanya Melvin dan Chicko hanya di sikapnya. Sifat ceria dimiliki oleh chicko dan kebalikannya adalah sifat Melvin.


Dua anak laki-laki yang lahir di konflik antar dua keluarga yang membuat mereka menjadi korban secara tidak langsung.


seketika air mataku pun menetes...


Perjuangan mereka begitu berarti dan sangat membekas di diriku. Bahkan aku sendiri yang menyaksikannya secara langsung.


Hatiku tergerak untuk mengasuh mereka berdua namun naasnya keluarga licik itu mengambil salah satu dari mereka. Dan menyiksa anak kecil itu yang membuat luka yang sangat dalam.


Entah apa yang sebenarnya terjadi namun yang jelas mereka telah menanam bibit kebencian yang bisa saja menjadi boomerang untuk keluarga mereka.


"Umi, jangan menangis." ujar Melvin sambil mengusap air mataku.


"Vin dan Chicko akan cedih melihat umi menangis." lanjutnya.


Aku pun mengelus rambutnya pelan, "Anak-anak umi hebat. Umi bangga dengan kalian, tetaplah seperti ini yaa sayang."


"Chicko boleh kerumah kita kapan pun dia mau, semua pintu dirumah ini akan selalu terbuka untuknya. Katakan dengannya kalau umi sudah sangat merindukannya." lanjutku yang membuatnya tersenyum lebar.


"Umi, tapi Chicko tidak mau kalau ada Abi di lumah." bisiknya yang membuatku bingung


"Kenapa pula?" tanyaku berbisik.


"Umi tahu? Abi itu galak dan selam. Jadi Chicko takut. Sutsss jangan bilang cama Abi yaa."


Aku yang mendengarkannya pun menjadi gemas dan langsung menarik pelan hidungnya itu.


"Abi itu tidak galak, tapi nyeremin ajaa hahahaha." kekehku yang membuatnya tertawa.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang tengah menatap mereka dengan tatapan yang sulit di artikan.


Dari dalam layar monitor terlihat interaksi ibu dan anak itu yang sedang tertawa kecil.


"Kalian memang anak-anak yang manis, dan kamu adalah wanita yang sangat berharga. Walaupun aku tidak menjadi suamimu, tapi percayalah suatu saat nanti aku akan mengambil apa yang sudah aku miliki." lirih pria tampan itu.


Tunggu pembalasanku Alaistar..