Mafia vs Muslimah

Mafia vs Muslimah
MULAI TURUN TANGAN



Pagiku celahku..


Matahali belcinal


Kugendong tas melahku


Di pundak...


Terdengar suara nyanyian semangat dengan suara cadel yang memenuhi rumah yang lumayan besar ini.


"Selamat pagi dunia." Sapaku sambil membawa teko berisikan teh manis beserta biskuit untuk dinikmati di pagi hari.


"Umi!!" Terdengar suara teriakan yang kini tengah berlari kearahku dengan penuh keringat.


"Heii anak kecil, dari mana Saja? Sedari tadi umi mencarimu." Ujarku sambil menggelengkan kepalaku beberapa kali melihat tingkah absurd anakku ini.


"Heheheh, itu umi tadi Melvin lagi bantuin mamang dikebun itu." Tunjuknya dan benar saja terlihat mamang yang sedang membereskan beberapa tanaman di kebun dengan wajah yang serius.


"Baiklah sekarang umi mau, Melvin cuci tangan dan wajah kemudian langsung pergi ke taman." Perintahku yang membuat keningnya berkerut.


Seakan tahu apa yang sedang dipikirkannya aku pun berucap, "Sarapan adek manis."


Seketika ekspresi wajahnya pun berubah menjadi cemberut. Dia menunjukkan wajah yang menurutku sangat menyebalkan tapi terkesan lucu.


Setelah beberapa saat dia pun kembali dan duduk di sampingku sambil menikmati makanan yang aku bawa tadi. Dan sekarang hanya kami berdua yang ada di area taman, Karna mamang sudah aku suruh untuk beristirahat.


"Umi," panggil Melvin yang langsung mengambil cemilan yang aku bawa tadi.


"Iyaa ada apa?" Tanyaku heran. Karna tidak biasanya Melvin yang sedang makan tapi dia berbicara.


"Kila-kila kapan yaa Chicko bica catu lumah dengan kita?" Tanyanya spontan yang membuatku terkejut.


Mengapa tiba-tiba Melvin berbicara seperti ini? Pasti mereka berdua sudah membicarakan hal ini sebelumnya pikirku.


"Insyaallah sebentar lagi chicko akan tinggal bersama kita. Tapi asalkan chicko mau untuk tinggal di sini." Ujarku sambil mengusap rambutnya pelan.


Dia yang mendengar itu pun langsung menatapku tidak percaya, "Benalkah umi? Tentu saja Chicko mau kalna diaa..."


"Dia kenapa?" Desakku. Sebenarnya aku sudah tau apa saja yang mereka lakukan kepada anak yang tidak berdosa itu. Hanya saja aku menunggu momen yang pas untuk membebaskan Chicko.


"Hmm tidak ada umi." Jawabnya tidak yakin. Aku pun menjadi maklum kepada Melvin, pertemanan mereka sangat erat bahkan rela mengorbankan semuanya untuk orang yang dia sayangi.


"Jadi benelan chicko akan tinggal di lumah kita umi?" Tanyanya memastikan yang membuatku gemas dan langsung mencubit pipinya itu.


"Tentu saja sayang." 


"Kalau begitu haluc cepat-cepat kacih tau chicko nih." Ujarnya pelan dan langsung berlari kedalam rumah. 


Seolah-olah informasi yang telah dia cari tahu adalah hal yang berharga bagi Chicko. Dan aku ingin melihat reaksi Chicko saat Melvin menceritakannya....


Sementara itu dengan cepat aku pun langsung mengirimkan pesan Alaistar.  Aku hanya memastikan apakah dia sudah bergerak cepat atau malah lupa dengan semuanya.


COMEBACK...


Satu kata yang dapat mewakili semuanya. Satu kata yang memiliki banyak arti dan aku tahu itu semuanya hanyalah bentuk dari kode-kode.


Send...


Aku harap dengan sesegera mungkin kamu mengusut tuntas dengan mereka. Aku percayakan semuanya dengan kamu.


***


Bip..


Bip..


Bip...


Terlihat sebuah notifikasi pesan yang muncul yang membuat si pemilik handphone itu mengecek langsung pesan itu.


COMEBACK...


Laki-laki itu pun kemudian tersenyum cerah.


"Permisi tuan, ada tamu yang sedang mencari anda." ujar Kevin dengan ekspresi datarnya yang membuat semua aktivitasku terhenti saat mendengarnya.


Tanpa basa-basi aku pun mulai keluar dari ruangan kerjaku dan langsung menemui orang yang sedang mencariku. Aku juga cukup penasaran, mengapa akhir-akhir ini terlalu banyak orang yang datang untuk menemuiku.


Prok..


Prok..


Prok..


"Ada tujuan apa tuan Revaldi yang terhormat ini mengunjungi kediaman Xeimoraga?" tanyaku sambil menatap tajam kearahnya.


Sedangkan yang ditatap hanya bisa terkekeh pelan.


"Heii bung, apakah kau lupa siapa aku? Jangan bertele-tele bung. Aku datang untuk menyampaikan sebuah informasi yang penting."


Informasi apa yang dia maksud? Pikirku.


"Tentang orang di masalalu yang sebentar lagi akan segera hadir dengan membawa masalah baru." ujarnya santai.


Aku yang mendengarkannya pun langsung menatapnya tidak suka, "Apa-apaan ini tuan Revaldi yang terhormat?! Anda datang ke mansion ini hanya membawa kabar yang masih belum valid?!"


"Santai bung, aku tidak akan berbicara seperti ini tanpa adanya bukti." ujarnya sambil melemparkan sebuah amplop coklat yang lumayan tebal.


"Gue hanya ingin kasih tahu, kalau kakaknya Arumika akan segera turun tangan. Dan jika dia sudah turun tangan, maka masalah yang akan kalian hadapi tidaklah mudah." ujarnya misterius dan kemudian pergi begitu saja meninggalkanku yang saat ini masih diam dan terpaku.


Sambil menatap amplop ini, aku pun menatap Revaldi yang semakin lama semakin aneh sikapnya. Seperti ada sesuatu yang ingin dia bicarakan secara tidak langsung.


Jika memang kau adalah Revaldi Dirgantara. Maka penyamaran yang selama ini dia lakukan berhasil untuk bisa dekat denganku. Batinku.


Dengan cepat aku pun langsung bergegas kearah ruanganku, dan tidak lupa aku memanggil Kevin. karna saat ini hanya dia yang bisa aku percaya.


"Kevin!" panggilku saat melihatnya yang sudah berada di ruanganku.


Seakan tahu dia pun tersenyum sambil menatap sebuah amplop yang berada di tanganku.


"Jadi tuan telah mendapatkan sebuah bukti lagi?" tanyanya.


"Sepertinya," jawabku seadanya dan langsung membuka amplop itu.


Di dalam amplop itu terdapat beberapa dokumen, beberapa foto dan juga beberapa surat yang berisikan sebuah pesan yang di tulis tangan.


Aku membacanya dengan sangat teliti, karna aku tidak mau melewatkan informasi sekecil apa pun.


Seketika amarahku pun bergejolak saat membawa surat yang di tulis tangan itu. Pesan terakhir yang berisikan..


DIA AKAN KEMBALI DENGAN PERMAINAN BARU.


Brak!!!


"Apa-apaan ini?!" bentakku. Yang membuat semua isi yang ada di amplop itu berjatuhan semuanya.


Dan Kevin? hanya memungut secarik kertas yang sedari tadi mencuri perhatiannya.


"Tuan, sepertinya orang yang mencari informasi ini adalah bukan orang sembarangan." ujar Kevin yang membuatku setuju dengan apa yang dia katakan.


"Tapi jika orang yang mencari informasi ini bukan orang sembarangan, siapa yang seharusnya di curigai?" tanyaku.


Aku ingin tahu apa reaksi darinya, terlebih lagi banyak orang yang saat ini ikut andil dalam permasalahan ini.


"Tuan?" panggilnya


"Yaa."


"Mengapa tuan menanyakan hal ini dengan saya? Saya bukanlah orang yang pantas untuk memberikan masukan." ujarnya sopan yang membuatku tersenyum miring.


"Arumika itu istri saya. Dan apa yang dia lakukan atas dasar dari pemikirannya yang sudah dia pikirkan sendiri. Saat ini saya melakukan hal yang sama seperti yang istri saya lakukan." ujarku.


Seakan tahu apa yang barusan aku katakan dia pun tersenyum.


"Tuan, dia akan datang membawa sebuah kejutan. Dan orang itu akan turun langsung untuk menjaga nyonya dan tuan."