Love without limits

Love without limits
06. ENAM



Haiii...


Hippy reading guys ✨


***


Saat para pekerjanya sedang memindahkan bahan-bahan dari proyek sebelah..


Aleya terdiam merenung heran dan seraya memikirkan hal yang baru saja terjadi beberapa saat setelah makan siang tadi.


Ko dia mau minjemin bahan-bahan bangunan ya? tanyanya dalam hati.


giliran tadi aku suruh Pak Jun, malah gak dikasih. Sebenarnya itu hal yang tidak terlalu penting. Apalagi memikirkan lelaki songong seperti itu. Tapi menjadi pertanyaan yang mengganggu saat para pekerjanya bertanya.


"Mba, ko giliran Mba Aleya yang minjem bisa di pinjemin sih?"


Salah satu pertanyaan yang saat ini ia pikirkan.


Dibalasnya sembarang pertanyaan itu "Mungkin ia terpesona melihat kecantikan aku kali pak," mereka tersentak mendengar penjelasan Bos nya hingga tergelak puas.


"Bener juga sih mba," timpal salah satu pekerja yang masih cukup muda "Siapa coba orangnya, yang gak terpikat melihat mba," Sanjungnya dengan tatapan satu alis yang dinaikkan.


"Muda, Cantik, Berwibawa, Pintar.. Istri idaman banget gak tuh?" sambungnya.


"Kamu jangan melebih-lebihkan ya, nanti saya terbang lagi." tuturnya bercanda.


***


"Pak nanti ini dipindahin kesana ya." perintah nya sembari menunjuk kayu yang tergeletak.


"Iya Mas." langsung dikerjakan oleh lelaki itu.


Sembari merapikan bahan dan alat yang berhamburan, lelaki itu tiba-tiba teringat kejadian siang tadi. Eh ia mengingat kejadian tadi siang? apa benar? Yaampun, wanita itu.. membuat pipinya memanas saja. Betapa gemesnya jika ia membayangkan pertemuan pertamanya.


***


Tatapnya heran "Emang kenapa sih?" balasnya singkat.


"Aku aja yang udah lama jadi mandor, masih naik motor butut." Matanya sembari melihat mobil mewah itu.


Maklum motor yang digunakan Rey hanya motor custom dan harganya pun tidak mahal. Tetapi ia sangat bangga menggunakan barang itu dengan hasil jerih payahnya selama mengambil job freelance selama ia kuliah.


Aleya tidak menghiraukan ejekan orang yang ada di sebelah nya itu. Tapi ia menanyakan hal yang mengganjal di hatinya sejak siang.


"Eh aku mau nanya sama kamu," belum sempat bertanya, lelaki itu langsung memotong pembicaraan sang lawan bicara.


"Kamu mau tanya kenapa aku kasih pinjem bahan-bahan?" tebaknya tepat sasaran. "Aku tu cuma pinjemin kamu ya, bukan mau ngasih!" ada penekanan di akhir kalimat.


Ihh dasar ni cowo, belum juga aku nanya. Eh tapi tunggu sebentar, ko dia udah tau ya apa yang mau aku tanyain. Mengerjap bingung.


"Tapi kenapa giliran Pak Jun yang mau pinjem, gak kamu kasih?" tatapnya penuh penasaran.


"Apa kamu bilang? Pinjem? Dia bilangnya tadi gak minjem ko. Dia bilang mau minta bahan-bahan sama aku, makanya gak aku kasih." Jelasnya panjang lebar.


Mata itu membulat mendengar penjelasan lengkap dari lelaki tampan yang tepat di hadapannya. "Ko bisa gitu sihh."


"Ya gak tau, kan itu anak buahnya kamu. Aku cuma nyampein yang sejujurnya aja ke kamu. Biar kamu tau alesan aku gak ngasih itu ke Pak Jun kenapa. Oh iya biar kamu gak ke GR an juga." Menguraikan jawabannya.


Bener-bener ya ni cowok, ngeselinnya yaampun. Nguji kesabaran banget ya..


"Aku cuma mau bilang makasih sama kamu." Ucapnya malas.


"Apa? kamu bilang makasih sama aku? Iya deh sama-sama. Asal besok di ganti ya." dengan tatapan menggoda si Aleya.


Sambil mengedikkan bahu "Iya Rey, Besok!"


***


Makasih yang udah mampir baca :)