Love without limits

Love without limits
03. TIGA



Haii..


Jadiin favorit kalian dong cerita ini, jadi kalo aku up, kalian tau wkwk


hippy reading guys :)


***


"Gimana, sudah sampe proyek kah?" terdengar suara dari seberang sana.


"Iya Bu, sudah. Tadi ada sedikit salah paham aja Bu, bukan permasalahan yang rumit."


Diam sejenak "Oke kalau begitu, silahkan lanjutkan pekerjaan kamu." segera menutup panggilan telepon itu.


Untung masih bisa aku atasi permasalahan ini. Gumamnya dalam hati.


Walaupun Raihan baru bekerja 2 tahun disana, tapi untuk pengalaman jangan diragukan lagi. Karena semasa kuliah ia sudah terlalu sering mengambil Job diluar.


Berbeda halnya dengan mandor-mandor yang sudah senior, rata-rata umur mereka sudah menginjak kepala 3 dan memiliki pengalaman kerja yang cukup lama. Sedangkan umur seseorang yang sedang berdiri menatap bangunan yang Ia pimpin proses pembangunannya ini adalah 25 tahun.


Masih sangat muda bukan?


Sebelum Mami Sintya menerima Raihan untuk menjadi mandor di salah satu proyeknya, Ia melihat pengalaman kerja serta individu yang berbudi baik di dalam diri anak itu.


Setelah tiga bulan bekerja disana, Ia melihat bahwa pekerjaan yang dilakukan anak itu benar-benar telaten. Bahkan Ia segera mengangkat Raihan menjadi mandor jalan, untuk mengawasi jalannya proyek tersebut.


***


"Mami udah pulang Bi Asih?" tanya Aleya yang sedang mengambil minuman di lemari es itu.


"Belum Non, tapi sebentar lagi Ibu pulang. Sekitar jam 5." matanya sambil memperhatikan Aleya yang sudah berbaju rapi. "Mau pergi kemana Non? ko rapi bener?" Tanya Bi Asih penuh selidik.


"Bibi panggilin Kang sopir ya, kan pesen Ibu tadi pagi kalo Non mau pergi harus diantar sama Pak Joni." ucapnya takut.


"Udah Bi gak usah, aku cuma keliling kompleks perumahan aja ko," larang Aleya. "Lagian juga aku hafal Bi jalan sekitar sini, jadi Bi Asih santai ae."


Belum sempat Ia melangkahkan kakinya keluar rumah, Maminya sudah pulang.


"Eh ehh mau kemana anak Mami ini?" berjalan mendekat kearah meja makan tempat Aleya sedang duduk dan minum.


"Rencananya sih aku mau jalan keluar Mi, cari angin gitu. Boleh ya Mi aku keluar sebentar?" mata berbinar itu meminta persetujuan dari sang Ibu.


Sebenarnya Mami Sintya hendak melarang kemauan si anak, tapi netra bulat itu.. Ahh tidak sanggup ingin menolaknya.


"Iya kamu boleh pergi, tapi ingat Hanya Sebentar." terdapat penekanan diakhir kalimat yang ia ucapkan.


"Hah serius Mii.. Yeayy yaudah aku keluar ya." ingin segera beranjak dari tempat duduknya.


"Ayaa kamu kan udah bosen ya dirumah, besok kamu udah mulai kerja dan alamat nya nanti Mami shareloc ke kamu ya nak."


Langkahnya terhenti ketika mendengar hal itu. "Besok mi?" bibirnya tertarik keatas membentuk senyuman manis, tapi..


"Eh kan aku udah tau dimana kantor Mami, untuk apa lagi Mami mau shareloc?" tanyanya curiga dan menatap lingkaran hitam yaitu pusat penglihatan.


***


Makasih bgt yg udah sempetin baca cerita ini, oh iya kalau berkenan silahkan like, komen dan vote ya hehe ❣️


Dan mksh untuk yang udh lakuin itu, caranghe ✨