Love without limits

Love without limits
02. DUA



Haii..


Nikmatin aja ya cerita aku hehe..


Hippy reading man teman :)


-Raihan Al-Hasan


Sebelum bekerja di Perusahaan Sintya Karya, Raihan hanya seorang anak petani yang ada di jawa barat. Tempatnya sangat terpencil dan jauh dari keramaian kota. Tetapi nasib berkata lain, ia mendapatkan beasiswa dan dapat melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia dengan program studi teknik sipil.


Terkadang Raihan menggunakan waktu luangnya untuk mengambil freelance, agar waktu yang ia gunakan tidak terbuang sia-sia dan mendapatkan uang untuk ia tabung.


Tok tok tok..


"Hai sayang." Suara perempuan itu memecah hening suasana disana.


"Ehh kamu.. ada apa?". Tanyanya singkat, sambil memperhatikan berkas-berkas di mejanya.


"Hmm." Memutar malas bola mata bulat itu. "Kamu pasti sibuk!." Bentak si perempuan itu.


"Kamu kan tau, ini waktu kerja Aku." Ada sedikit jeda disana, lalu.. "Kalo minta temenin ke salon atau shopping aku gak bisa, aku sibuk Qii. Udah Kamu pulang aja."


"Jadi kamu usir aku!?." Sambil berjalan kearah pintu lalu menutup nya dengan keras.


"Bikin tambah pusing aja sihh." Gumam Raihan.


Qiara adalah pacar Raihan, kurang lebih dua bulan baru menjalani percintaan. Pertemuan keduanya terjadi saat Raihan mencari buku di salah satu toko buku yang ada di Jakarta, hingga akhirnya ia yakin bahwa perempuan itu yang terbaik baginya.


Sebenarnya Raihan adalah tipe idaman di kampusnya pada masa itu, tapi hal itu membuatnya menjadi playboy cap kapak.


Rentetan mantan yang membuatnya menjadi famous dikampus.


Berbeda hal nya dengan Aleya, Aleya hanya gadis lugu yang tidak tahu apa-apa tentang cinta, apalagi mengingat kisah cinta orang tuanya yang katakanlah gagal.


Ia jadi trauma jika mendengar kata itu ishh.. bahkan dia sangat membencinya.


***


Tok tok tok..


"Permisi Mas Raihan"


"Ish siapa lagi sih Ck." berdecak kecil. "Iya silahkan masuk"


Berjalan masuk kearah kursi "Ibu memanggil Mas tadi." Sambil menunduk, ucap indah yaitu sekretaris Mami Sintya.


"Yaampun iyaa.. Aku lupa." Segera merapikan berkas yang berantakan di meja itu "Iya ndah nanti aku ke ruangan Ibu."


***


"Raihan, kenapa kamu gak pergi ke lokasi proyek kita?..." Menatap netra bulat itu


Waduh ko serem banget ya mata Ibu Sintya. "Iya Bu, tadi saya ke kantor mau ambil berkas, ada yang ketinggalan soalnya." Langsung menundukkan pandangannya.


Tanpa basa-basi "Sudah kamu ambil berkas yang tertinggal?.. Kalo sudah, silahkan ke proyek. Tadi Saya baru cek, dan ada sedikit permasalahan disana."


"Baik Bu, saya permisi." Ia langsung keluar dari ruangan itu.


***


Selama di perjalanan


"Yaampun ada permasalahan apa ya di proyek." sambil bergumam sendiri "Baru aku tinggal sehari, udah ada masalah aja tu proyek." mengusap kasar wajahnya.


Raihan tidak masuk dikarenakan ia mendengar kabar bahwa ayahnya sedang sakit, makanya ia pulang kampung. Setelah melihat anaknya, sang ayah nampak gagah dan tidak menunjukkan rasa sakitnya.


Ayahnya sakit rindu kata Ibu, syukur setelah bertemu sang anak beliau jadi bugar lagi dan bisa bertani seperti hari-hari biasanya. Maklum Ayahnya sangat menyayangi anak laki-lakinya itu.


Raihan adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, ia mempunyai dua kakak perempuan yang sangat cantik.


Jakarta selalu berteman dengan kemacetan, mau ngebut juga masih bertemu dengan macet. Hufft.._-


***