Love without limits

Love without limits
04. EMPAT



Haii..


aku dtg lagi hehe


Hippy reading guys ✨


***


Mi aku udah sampe di alamat yang Mami kirim. Send


Tingg..


Syukurlah, semoga kamu suka ya kerja disana ;). Terdapat emoticon senyum di akhir chat mereka.


Yahh si Mami, aku kira bakal kerja di dalam kantor hufft.. dalam hatinya berbicara.


Padahal ia sudah banyak bertanya sama staf di kantor Maminya, ehh malah di sini ia bekerja.


Ia bahkan sudah menyiapkan design ruangan yang apik untuk ia bekerja nantinya, tetapi rencana itu lenyap begitu saja ketika sang Ibu memerintahkan untuk bekerja ditempat para lelaki *maksudnya, pekerja disana rata-rata laki-laki, bahkan hanya ada 2% perempuan disana. Yaitu ibu-ibu kantin dan Aleya seorang mandor baru.


"Mba pengganti Pak Wisnu ya?" tanya seorang pekerja yang sedang berdiri di hadapan Aleya.


Wanita itu mengerjap bingung, "Ohh ya" tersadar lalu.. "Pak Wisnu itu mandor yang kemarin kerja disini kan Pak?" ucapnya sopan kepada pekerja itu.


"Iya mba" ujarnya singkat dan menundukkan kepalanya sopan.


Pak Wisnu ialah salah satu orang yang termasuk lama bekerja di perusahaan itu, tapi karena ke khilafannya dalam mengelola keuangan, menjadikan ia harus di pecat secara tidak hormat dengan Ibu Sintya.


Kesalahan yang dilakukan Pak Wisnu yaitu membeli bahan-bahan yang tidak layak pakai atau dengan harga murah, padahal proyek yang sedang ia jalankan adalah proyek terbesar.


Untungnya Ibu Sintya mengetahui hal itu sebelum Pak Wisnu membelikan lebih banyak bahan-bahan bangunan curah itu.


kerugian pasti ada, tetapi tidak terlalu besar.


Letak pembangunannya bersebelahan dengan proyek yang di pegang oleh Raihan.


"Iya mba, karena barang yang kemarin udah dibuang. Itu perintah Ibu Sintya soalnya." Tutur lelaki paruh baya itu.


"Ohh gitu ya, yaudah Pak nanti saya telepon tempat material berkualitas ya." ujarnya sambil tersenyum.


Sedangkan di seberang sana terdapat..


Lelaki besar tinggi, tampan dan bertopi safety warna putih sedang mengecek keadaan yang ada di lantai 2.


Ketika ia berjalan mendekati jendela yang tak berpenghalang itu, yang ia dapati dibawah sana adalah sesosok wanita cantik bertubuh mungil kira-kira dengan tinggi badan 160 cm sedang memberi arahan kepada pekerja disana.


Tidak diragukan lagi wanita itupun menggunakan topi safety warna putih atau sama seperti topi yang ia gunakan pada saat itu.


"Wihh mandor cewe baru tuh.." gumamnya


Yang di dengar oleh salah satu pekerjanya, "Pepet Mas Rey" serunya.


Mas Rey adalah panggilan Raihan saat berada di kantor dan lapangan. Biar singkat aja gitu.


"aku udah tobat kali Pak," jawabnya terkekeh geli "tapi kalo cantik gak papa sih, mau aku sikat juga." mereka pun tergelak puas.


"Emang gak takut sama mba Qiara mas?" ada sedikit ledekan dari pertanyaan itu.


"hehe iya juga ya pak, ehh udah pak istirahat dulu kita, waktunya jam makan siang saat ini."


Setelah melaksanakan makan siang, Aleya mendapat kabar bahwa toko material yang ia pesan sedang tutup pada hari itu, dikarenakan ada suatu hal.


Maka yang dapat ia putuskan yaitu meminjam sementara bahan-bahan proyek sebelah yaitu proyek Raihan. Lalu akan ia kembalikan bahan-bahan itu disaat ia telah membeli bahan bangunan itu.


***


Makasih yang udah mampir yaa :)


like komen dan vote nya dong hehe :(