Love On A Contract

Love On A Contract
Persiapan



Setelah bangun tidur dan membantu bunda akhirnya aku bisa beristirahat dengan tenang di kamar lama ku dan ibu dulu. Rasanya nyaman dan tenang, tak ada siapapun yang akan mengusik dan mengambil kebahagiaan yang aku miliki saat ini.


Krak....


Mendengar suara pintu terbuka aku pun bangkit dari tempat tidur dan menghadap ke arah pintu dan ku dapati bocah laki laki yang tengah menggendong boneka beruang kesayangannya.


" Kak Tania Dika mau tidur sama kakak... Boleh gak?" Ucap nya berjalan menuju ke arah ku. Dan berhenti tepat di samping ranjang ku.


" Tentu saja boleh" jawab ku dan sontak membuat Dika melompat ke atas kasurku sambil melompat- lompat dan menerbangkan boneka beruangnya.


" Woi Dika.." teriak ku yang membuat Dika terkejut dan menghentikan aksi nya. Wajah nya menegang seakan ketakutan, tentu saja ekspresi itu membuat ku tertawa.


" Hahahaha kok mukanya tegang banget?" Tanya ku dengan menahan tawa.


" Kakak ngapain teriak-teriak kan dika takut" jawabnya menatap wajahku.


" Kamu ngapain ngelempar- lempar pak beruang kesayangan kakak?" Tanya ku mengambil Boneka beruang darinya.


" Bukanya kakak udah bilang kamu harus jaganin pak beruang kaya kamu jagain kakak" jelas ku mengelus bulu boneka beruang tersebut.


" Ya maaf kak aku absinya seneng banget bisa tidur sama kakak lagi" senyum nya mengembang dan membuat ku tak bisa mengelak.


" Yaudah nih kakak balikin tapi inget ya harus jagain baik- baik!" Pinta ku kepada Dika yang disambut anggukan kepala dari nya.


" Yaudah Ayuk tidur udah malem besok kakak harus pulang ke rumah lagi buat kerja"


" Okeh kak" Jawanya sembari membaringkan tubuhnya ke atas kasurku. Kami pun terlelap dalam mimpi kami masing masing.


\*\*\*\*\*\*


" Yaudah Bun Tania pamit pulang dulu ya Bun soalnya harus siapin persiapan buat besok" ucap Tania setelah selesai menyalami Bu Linda dan memeluk nya sebelum meninggalkan rumah itu.


" Beneran gak bunda temenin?" Tanya Bu Linda meyakinkan.


" Bukanya Tania gak mau ngajak bunda.. tapi Tania gak mau bunda kebawa dalam masalahnya Tania."


" Tapi saya—"


" Kak Tania Dika mau ngomong dulu ih" sela Dika di tengah pembicaraan Tania dan Bu Linda. Akhirnya Tania dan Bu Linda pun menoleh ke arah Dika. Dika tampak menyodorkan sebuah surat kepada Tania. Tania yang nampak binggung menarik salah satu alisnya ke atas.


" Hehehe itu undangan buat kak Tania .. tadi Dika bikin sendiri loh" jelas Dika membanggakan diri. Tania yang mulai membuka surat tersebut dan langsung menepuk keningnya.


" Astaga gua lupa lagi untung masih bulan depan" ucap nya dalam hati.


" Iyah tenang aja kakak gak bakalan lupa kok.. kakak siapin kado yang buagus banget buat Dika" jawab Tania meyakinkan Dika.


" Horeeeeeeeee..... Dapet kado dari kak Tania!" Teriak Dika dengan wajah gembira. Tania dan Bu Linda tersenyum melihat tingkah laku dika yang ceria.


" Yaudah kakak pamit dulu ya, jagain bunda sama adek- adek yang lain ya?!" Ucap Tania kepada Dika.


" Yaudah sana gih berangkat"


" Iyah bun.. assalamualaikum" salam Tania meninggalkan panti asuhan dan dijawab oleh Bu Linda dan Dika.


*******


" Clara gua pulang" teriak ku ketika melihat kos- an yang tampak sunyi tak ada siapapun.


" Kemana si Clara apa iya kerja?!. Ah engak deh ini kan hari libur" tanya ku dalam hati dan dijawab oleh diriku sendiri.


Tiba tiba handphone ku bergetar dan bertuliskan" Clara " tertera di layar ponsel. Dengan segera aku mengambil ponsel dan menggeser tombol berwarna hijau lalu mendekatkan ponsel ke daun telingaku.


" Kemana aja lu?! Gua udah pul—" ucapan ku terhenti ketika mendengar ketukan pintu dari luar. Aku segera bangkit dan membuka pintu.


" Ini ada paket buat anda. Silahkan tanda tangan di sini" ucap kurir barang tersebut sambil menyodorkan sebuah pulpen kepada ku.


Tanpa menjawab aku pun menandatangani paket tersebut dan mengucapkan terimakasih kepada kurir barang itu. Setelah memastikan kurirnya pergi dari kos-an ku, aku pun menutup pintu dan membuka paket tersebut.


" Gak tau ada paket dateng gua kira elu yang pesen" jelasku kepada Clara.


" Enak aja gua aja gak mesen apa-apa!"


" Trus ini paket punya siapa dong?!"


" Mana gua tau" jawab Clara ketus membuat ku kesal.


" Yaudah sekarang gini aja! Liat nama penerima siapa?" Pinta Clara.


" Gua.."


" Nama pengirim?"


" Orang wkwkwk" jawabku enteng.


" Gua tau Tania nama nya spa?!" Teriak Clara tampak kesal dengan jawabanku.


" Sukurin kesel kan lu hahaha" tawa ku dalam hati.


" Ouh... Dari Zahra.." jawabku setelah menghentikan tawa.


" Ya berarti punya lu Oneng"


" Ouh iya ya hehehehe" jawabku sembari membuka bungkusan paket dan mendapati sebuah gaun pengantin yang berwarna putih bersih.


" Wouw..." Teriak ku kepada Clara.


" Knpa- knpa Tan?"


" Ini gaun pengantin coy"


" Serius? Ouh ya gua pen bilang selamat ya akhirnya lu bakalan nikah hahaha" ucap Clara tampak tulus namun membuat hati ku malas mendengarkan ucapan selamatnya.


" Cla... Kan lu tau pernikahannya gimana.. so buat apa lu ngucapin selamat buat gua?" Jawabku dengan nada malas.


" Ya gak papa dari ucapan " turut berdukacita" hayoo..."


" Yaudah lah iya.!"


" Eh lu dimana katanya besok mau Dateng ke acara gua.. huaaaa...." Tanya ku dengan nada teriak pada akhir kalimat.


" Gua beneran minta maaf banget tan gua dikirim ke luar kota sama bos kita katanya ada bisnis penting di sini" jelasnya dengan nada bersalah. Rasa kecewa menyelimuti hati dan perasaan ku namun aku tak boleh egois hanya demi kepentingan ku sendiri.


" Yah jadi gak Dateng ya?"


" Iyah.... Maaf ya.."


" Gak papa santai aja... Toh cuman duduk doang guanya hehehe gak papa kok"


" Eh yaudah yah gua matiin dulu ada bos soalnya"


" Hooh bye semangat kerja nya ya" ucap ku menyemangati Clara.


" Iyah bye... Semangat juga buat Tania besok ya harus kuat" jawabnya dan kembali menyemangati ku. Setelah menjawab ucapan selamat tinggal darinya aku pun mematikan ponsel dan meletakkan nya di meja rias.


" Berarti besok gua berang sendiri dong gada bunda gada Clara..." Ucap ku memandangi bayangan ku di cermin.


" Yaudah lah gak papa kan gak mau membawa mereka juga ke dalam Masalah gua." Jawab ku meyakinkan diri.


Waktu telah menunjukkan pukul 01.45 tapi mataku rasanya masih enggan untuk menjemput kantuk ku. Akhirnya aku pun bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur untuk membuat segelas susu coklat atau lebih tepatnya susu ke tiga gelas untuk malam ini.


Entah apa yang akan terjadi di hari esok tidak bisakah aku terlelap sebentar. Setelah meminum habis susu coklat ku akhirnya aku dapat terlelap untuk menjemput mimpi yang indah. Biarlah hari esok dipikirkan esok hari.


axixixi jelek ya? maaf geh adik baru belajar kakak lagi kerja trus aku siapa:v