
Berhenti di sebuah bangunan agak tua yang berada di pinggiran kota membuat Tania mematung. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini hanyalah ingin meminta restu kepada pemilik rumah itu.
Krak....
" Kak Tania pulang... Kakak...." Teriak seorang anak laki-laki ketika melihat kedatangan Tania.Bocah itu nampak sangat gembira dan langsung menghambur kedalam pelukan Tania.
" Eh Dika udah besar ya?!" Ucap Tania menyambut pelukan bocah bernama Dika tersebut.
" Iyah dong, kan Dika janji mau jagain kakak dari kakek jahat itu" jelas Dika sembari melepas pelukan kepada Tania. Tania yang mendengar ucapannya lantas memberikan senyuman karena ia sangat terharu mendengar nya.
Dika adalah seorang anak laki-laki yatim piatu pada umur yang masih berusia 4 harus kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Dan semenjak itu ia di besarkan oleh bunda di tempat ini bersama anak-anak yang lainnya dan menjadi satu-satunya adik kesayangan bagi Tania.
" Ehmmm... Kak Tania..—"
" Ya?"
" Kak Tania bawa es krim gak?" Tanya Dika sembari memutar ujung kakinya dan menyembunyikan kedua lengannya di belakang punggungnya serta menundukkan kepalanya menatap kakinya yang mencoba melubangi dasar tanah. Melihat ekspresi wajah Dika sontak membuat Tania menatap Dika dan tertawa.
" Bawa dong ... Mana mungkin kakak lupa!. Nih kakak beli banyak sekalian bagi sama temennya ya" ucap Tania menyodorkan sekantung kresek eskrim dan coklat yang ia beli di minimarket pinggir jalan raya tadi.
" Ouh ya tadi Dika liat bunda gak?"
" Ouh Dika lihat kok kak, tadi bunda lagi masak di dapur" jelas Dika tak sabaran ingin mengambil hadiah dari Tania, tatapannya tak lepas dari kantong kresek tersebut.
Melihat ekspresi wajah Dika Tania pun memberikan kantong kresek itu dan mengelus lembut ujung kepala Dika.
" Yaudah bagi-bagiin gih nanti keburu cair es nya" ucap Tania menyodorkan sekantung kresek itu dan mengecup kening Dika.
" Heeem.. makasih kak Tania Dika sayang banget sama kakak" ucap Dika sembari memeluk tubuh Tania dan disambut hangat oleh Tania.
******
Bittttt....
Getaran hp di dalam tasnya membuatnya melepaskan pelukannya kepada Dika dan mencoba mengangkat telpon itu. Wajahnya menegang ketika melihat nama pada layar panggilan tersebut.
" Ya hallo?"
" Kamu jangan lupa besok lusa adalah hari pernikahan kalian!" Ucap salah seorang dari sebarang telpon.
" Tapi bagaimana aku bisa bersiap siap untuk hari pernikahan nanti jika aku saja belum memiliki gaun dan juga belum tahu dimana akan digelar" ucap Tania dengan nada bingung.
" Kamu tenang aja aku sudah utus bawahan ku untuk menyiapkan segala sesuatunya termasuk mengantarmu ke tempat pernikahan"
" Baiklah..." Jawab Tania dengan nada lesu dan segera mematikan ponselnya.
" Assalamualaikum bunda Tania pulang..." Teriak Tania ketika membuka pintu dan mendanpati bundanya atau lebih tepatnya pemilik panti asuhan ini yang tengah menyusun makan di meja makan.
" Walaikumsalam, Masya Allah putri bunda udah pulang" jawab bunda Tania yang langsung menghampiri Tania dan memeluknya dengan erat.
" Hemmm harum banget Tania jadi laper deh Bun.. hehehehe" ucap Tania disela sela pelukanya dengan bundanya.
" Yaudah Ayuk kita makan dulu. Kebetulan bunda masak makanan kesukaan kamu loh"
" Serius Bun?! Wah enak ini mah" pekik Tania melepaskan pelukannya dan berjalan menuju meja makan.
Tania tampak lahap menyantap makanan kesukaannya dan merasa amat bahagia kerena bisa merasakan kasih sayang seorang ibu meskipun bukan ibu kandungnya sendiri.
" Jadi kenapa Tania pulang ke sini? Apa ada masalah sama kamu?" Tanya Bu Linda selaku bunda Tania atau pemilik panti asuhan ini.
Tania pun menghentikan makanya dan menatap wajah Bu Linda.
" Sebernya Tania kesini mau minta Restu dari bunda buat pernikahan Tania besok lusa" ucap Tania menggenggam tangan milik Bu Linda.
" Masya Allah Tania kenapa kamu baru minta Restu sekarang?! Dan kenapa kamu gak ngabarin bunda kalo kamu udah punya tunangan?" Tanya Bu Linda yang tampak terkejut mendengar ucapan Tania.
" Bukan .... Bukan begitu Bun sebernya Tania juga gak mau ngelakuin pernikahan ini tapi Tania gak bisa nolak"
" Maksudnya?" Tanya Bu Linda tampak bingung.
Tania pun terdiam beberapa saat sebelum ia mengukir sebuah senyuman dan menjelaskan permasalahannya mulai dari rencana pernikahan kontrak hingga pengusiran dari keluarganya. Tania yang sudah mencoba setegar mungkin namun ia tak dapat menahan nya lagi. Tangisannya pecah di sela ceritanya dan mulai menjatuhkan bulir air mata yang mengalir deras di pipinya. Dengan segera Bu Linda bangkit dari duduknya dan memeluk Tania sembari menenangkannya.
" Kamu gak salah kok insyaallah Allah bakalan ngasih yang terbaik buat kamu—"
" Dan kamu harus Ingat kalo kamu masih punya bunda punya adik kamu Dika dan punya abng kamu yang peduli sama kamu." Lanjut Bu Linda yang mencoba menenangkan Tania .
Tania pun menghentikan tangisannya dan menatap wajah Bu Linda. Terukir senyuman yang penuh dengan semangat dan kebangkitan dalam diri Tania. Kini wanita itu sudah bisa melanjutkan perjalanan untuk menjadi wanita yang kuat dan mandiri.
" Makasih Bun Tania tau kok bunda, adek, sama abng sayang banget sama Tania."
Bu Linda mengukir senyum dan mengelus rambut panjang Tania.
" Jadi bunda ngerestuin aku buat ni—" ucapan Tania terhenti ketika melihat anggukan kepala dari Bu Linda dan ia kembali tersenyum dan memeluk Bu Linda lebih kuat lagi.
Maaf ya baru up soalnya kemaren gak tau episode nya mau dilanjutkan gimana lagi
ini aja up tapi dikit banget ya allah