Love On A Contract

Love On A Contract
Hari Yang Retak



Keesokan paginya Tania pun Baun lebih awal dan memasakan sarapan untuk Clara. Setelah selesai menyiapkan sarapan Tania pun segera bersiap-siap untuk segera mengunjungi makam ibunya.


" Clara gua berangkat duluan ya takut ketinggalan bus"


" Okeh ati ati banyak idung belang!!"


" Siap komandan" jawab Tania menutup pintu kosan mereka.


" Ais bocah kaya dia emang selalu bikin. Gua kagum." Ucap clara memuji Tania setelah Tania pergi.


|•∆•∆•∆•|


Tania tampak termenung memandang keluar jendela bus, ia nampak binggung bagaimana kelanjutan hidupnya yang harus menikahi laki– laki yang tidak ia cintai.


" Engak engak Tania sadar lu udah janji dan harus ditepati" ucpa Tania memegangi pipinya sembari menggeleng kan kepalanya.


Tak beberapa lama ia pun sampai di pemakaman ibunya. Tania tampak mematung memandangi batu nisan milik almarhumah ibu nya. Ia meneteskan air mata karena rasa rindu yang amat besar terhadap pemilik nama tersebut, setelah kepergian sang ibu 5 tahun lalu Tania harus menghadapi sikap ayahnya yang tak peduli dengan nya dan sikap keluarga tiri nya yang semena-mena terhadapnya. Lama Tania berdiri dan ia pun terlutut disampin nisan milih ibunya dan mencium nisan tersebut.


" Bu,Tatia( panggilan kesayangan ibunya) sudah besar huhuhu...." Ucap Tania sembari sesenggukan. Ia begitu rindu akan sosok yang selalu sabar dan menjadi pahlawan ketika dunianya hancur kini ia hanya dapat melihat namanya yang indah tercantum di sebuah batu nisan.


" Bu, Minggu besok Titia akan menikah dengan seorang pria yang hampir sempurna bu. Tapi Tatia minta maaf bu calon menantu ibu gak bisa Tatia bawa kesini...huhuhu"


" Tatia janji begitu jodoh Tatia benar² sudah berjumpa Tatia akan membawanya kemari bertemu dengan ibu..."


Lama Tania berada di makam ibunya, ia pun memutuskan untuk pulang dan menuju ke rumah ayahnya untuk meminta restu darinya. Meskipun ia tahu situasi apa yang akan dihadapinya setelah sampai di rumah namun ia tetap harus menghormati ayahnya itu. Setelah melanjutkan perjalanan menuju rumah ayahnya akhirnya ia pun sampai tetap di depan pintu rumah ayahnya. Rumah yang dulunya memiliki kenangan indah ketika mereka hanya hidup bertiga. Namun kenangan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika ibunya Tania mulai sakit keras pada umur Tania yang baru berusia 12 tahun. Dan ia pun menghela nafas pun menghela nafas panjang.


" Huuuuh... Harus kuat biar gimana juga dia ayah gua" ucap Tania berusaha menetralkan rasa nervous yang ada pada dirinya.


" Tok...tok..." Tania mengetuk pintu namun tak satupun Suara jawaban yang menyambut kedatangan nya.


" Aish lupa gua kan ini siang bolong pasti nyonya tua sedang pergi" Nyonya tua adalah istri muda ayahnya yang sekarang. Tania pun mengeluarkan kunci cadangan yang ada di dalam tasnya, meski pun ia sudah lama pergi dari sana namun ia masih menyimpan kunci cadangan rumah itu sampai sekarang. Setelah membuka pintu ia pun masuk dan langsung menuju ke arah kamar tidur miliknya.


" Huh belom berubah syukur deh, awas aja kalo nyonya tua itu berani megang barang² gua. Bakalan gua jadiin....." Ucapan Tania terpotong ketika ia melihat seorang wanita berdiri di ambang pintu masuk kamar miliknya.


" Jadiin apa?" Ucap wanita itu. Tania hanya memutar bola mata dan memandang ke arah lain. Geram dengan sikap Tania wanita itu pun menghampiri Tania dan mengangkat wajah Tania dengan sedikit kasar.


" Kalo mama ngomong itu dijawab Tania jangan malah diem aja!" Ucap wanita itu, ternyata ia adalah ibu tiri Tania.


" Ouh tante ngomong sama Tania? Maaf Tania gak dengar tadi!" Ucap Tania sembari melepaskan tangan ibu tirinya. Geram dengan sikap Tania yang tak pernah mau memanggilnya dengan sebutan mama wanita itupun melirik ke arah sebuah bingkai foto.


Brak..... Bingo bingkai itupun dibanting oleh ibu tiri Tania. Sontak membuat Tania terkejut dan bangkit dari duduknya.


" Mama....." Teriak Zoya adik tiri Tania . Ternyata semuanya sudah direncanakan oleh mama tiri Tania agar ayahnya Tania marah dengan Tania dan tidak menganggap Tania sebagai anaknya lagi.


" Ayah.... Ayah lihat mama didorong oleh kak Tania!" Teriak Zoya dengan kencang dan membuat Tania menepuk keningnya.


" Hadeh drama kolosal mulai lagi dah" ucap Tania semabari berjalan hendak meninggalkan kamarnya dan segera pergi dari rumah itu. Namun langkah nya terhenti di ambang pintu karena sesosok pria berdiri dihadapannya.


" Aya....h" ucap Tania terhatih karena terkejut.


Plakk..... Sebuah tamparan keras mendarat di pipi merah merona milik tania. Tania pun terdiam dan sangat terkejut karena ini kali pertamanya mendapatkan sebuah pukulan dari ayahnya.


" Apa ini sikap kamu kepada orang tua Tania?! Apa ayah pernah mendidik kamu menjadi seorang anak pembangkang seperti ini?!" Bentak ayah Tania. Tania pun masih terdiam ia sedang menikmati rasa memanas di pipinya yang kemudian menjalar ke mata dan tanpa sadar Tania pun menjatuhkan air mata. Sesekali Tania melirik ke dua keluarga tiri nya yang tengah tersenyum puas.


" Jawab Tania apa selama ini kamu didik menjadi seperti ini karena ibu kamu yang tidak becus mengurus Anak?!"


" Cukup yah!" Bentak Tania kepada ayahnya.


" Ayah tadi bertanya apa selama ini ayah mendidik aku? Coba ayah pikir bukankah ayah selama ini tidak pernah perduli dengan ku?dan ayah jangan pernah menyalahkan ibu karena sikap aku ke kalian! Buat aku ibu lebih baik daripada kalian semua!" Lanjut Tania. Ayah Tania pun semakin naik pitam dan ingin menampar Tania kembali Tania pun memejamkan matanya.


" Knpa gak jadi mukul Tania?!"


" Kamu kalo bukan karena mama ku yang menahan tangan ayah gak bakalan ayah berhenti memberikan pelajaran kepada kamu anak durhaka!". Tania pun menatap kearah mama tirinya dan kemudian tertawa dengan nada keras namun hambar. Tania kemudian berjalan menuju ke arah meja belajarnya dan mengambil sebuah foto yang tergeletak di sana, menatap nya dengan lekat dan penuh kasih sayang.


" Hahahhahaha kalian semua adalah orang yang paling ingin aku jauhin atau lebih tepatnya tak perlu saling mengenal" ucap Tania mengambil tas dan berjalan menuju pintu dan melewati ayah serta ibu tirinya. Ayah Tania merasa tidak senang dengan sikap Tania pun menahan tangan Tania dengan kuat dan mebuat Tania terhenti dan meringis karena menahan sakit.


" Kamu berani berkata seperti itu kepada ayah?! Apa kamu ingin keluar dari keluarga ini?!" Bentak ayah Tania yang di balas dengan senyuman dari Tania. Tania pun berusaha melepaskan tangannya dari genggaman ayahnya.


" Ya benar bukan kah kalian selama ini ingin aku dan ibu pergi dari rumah ini?! Maka kalian tidak perlu khawatir karena tanpa disuruhpun aku tak Sudi berlama lama di tempat ini!" Jawab Tania meninggal ayahnya, dan berhenti kembali.


" Ouh ya, satu lagi ternyata ibu salah menyuruh aku untuk menghormati dan menghargai kalian sebagai orang tua ku! Termasuk kamu ayah yang tega meninggalkan istrinya yang sedang sakit dan membiarkan anaknya menderita dijalan, bahkan menurut ku itu lebih hina daripada seorang maling!!. Dan kamu wanita yang bersedia merebut kebahagiaan orang lain dan berbahagia diatas penderitaan orang laib, suatu hari kalian akan mendapatkan yang lebih dari ini!!!" Pungkas Tania meninggal keluarga ayahnya dengan menghela napas panjang.


" Huuuuh sabar Tan sabar ini baru langkah awal buat lebih baik lagi" Tania pun berusaha menyemangati dirinya sendiri dan dengan rasa mantap dihatinya ia pun melangkah keluar dari rumah yang selama ini membuatnya seperti berada di neraka.


Tania masih memegangi pipinya yang masih terasa panas dan tanpa sadar Tania pun menjatuhkan air mata lagi.


" gak gak apaan sih gua nangis gegara orang kaya ayah doang! gua harus kuat ye!.." teriak Tania yang sontak membuat beberapa pengendara menoleh kepadanya. Ia pun tersipu malu dan tersenyum dengan penuh permintaan maaf kepada seluruh penguna jalan lainnya. Lama Tania berdiam diri di taman akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke suatu tempat tinggal waktu bersama ibunya.


Maaf ya hehehehe kalo masih jlk tolong di komentar biar aku lebih tau mana yang salah:v