Love On A Contract

Love On A Contract
Tahan Tania



Malam ini hujan turun dengan lebat namun Tania tetap harus menerobos hujan itu atau dia tak akan bisa pulang ke rumah dan akan mendapatkan hukuman dari Farhan. Benar saja karena hari ini ia lembur kerja membuatnya harus pulang terlambat. Denganuah ojek online ia memaksakan diri untuk tetap pulang meskipun harus dengan menerobos hujan.


" Terimakasih banyak pak ini lebihan untuk bapak" ucap Tania menyodorkan selembar uang merah kepada pengemudi ojek online tersebut.


" Terimakasih neng " ucap orang tersebut kepada Tania dan dijawab anggukan kepala dari Tania. Kini Tania telah sampai di depan gerbang dan melihat mobil milik Farhan telah terpakir digarasi.


Dengan mengumpulkan keberanian Tania berusaha untuk masuk kedalam rumah itu.


" Knpa masih berani pulang ke rumah?!" Tanya Farhan ketika melihat Tania berdiri di depan pintu.


" Maaf pak saya kerja lembur tadi" jawab Tania menundukkan kepalanya.


" Lalu apa urusan ku?! Bukankah aku sudah mengatakan bahwa jika saya di luar kamu tidak boleh ada di hadapan saya?!"


" Saya paham pak"


" Bagus karena kamu paham maka tidurlah di teras dan pergi ke kamar setelah saya masuk ke kamar saya" perintah Farhan meninggal Tania yang masih mematung di depan pintu. Niat nya untuk masuk terurungkan karena ucapan Farhan .


Kini ia duduk di teras dengan menggosok- gosokkan telapak tangannya dan sesekali meniupnya berharap akan menghilangkan sedikit rasa dinginnya.


" huuuuh sabar Tania kamu harus bertahan agak tidak memiliki hutang Budi lagi" ucap Tania sambil menghangatkan tubuhnya.


Lama Tania menunggu namun tak ada seorangpun yang memanggilnya akhirnya ia merasa kantuk menyerang dan akhirnya tertidur dengan posisi bersandar di tembok.


" Suruh orang itu masuk kedalam dan biarkan dia teh hangat" ucap Farhan meninggalkan ruang tamu dan berjalan menuju kamarnya. Jihan dengan segera menuju pintu dan membangunkan Tania. Jujur ia merasa kasihan akan nasib Tania yang mendapatkan perlakuan kejam dari tuannya namun ia tak dapat membantu banyak untuk Tania.


" Non bangun tuan sudah masuk kedalam kamar dan non diijinkan untuk masuk ke dalam" ucap Jihan menggoyangkan tubuh Tania secara perlahan. Tania pun terbangun dan mengangguk kepada Jihan . Ia berusaha bangun dan berjalan menuju kamarnya.


Tania merasakan sedikit pusing di kepalanya namun ia berusaha untuk menahannya. Ia segera mengambil obat yang ada di dalam tasnya dan meminumnya. Kini ia merebahkan tubuhnya dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut agar tidak merasa kedinginan.


" Apakah dia sudah tidur?" Tanya Farhan kepada Jihan .


" Sudah tuan namun dia menolak untuk dibuatkan makanan ataupun minuman tuan"


" Kalua begitu biarkan dia Jangan bangunan dia sebelum pagi" ucap Farhan sambil melambaikan tangannya menandakan bahwa Jihan sudah boleh pergi.


" Baik tuan" jawab Jihan membungkukkan badan.


\*\*\*\*\*


" Apakah dia sudah bangun?" Tanya Farhan ketika sedang sarapan.


" Sudah tuan namun dia tetap berada di kamar menunggu tuan untuk pergi" jawab Jihan


" Apa dia mengusir ku?" Tanya Farhan dengan nada kesal. Ia pun melanjutkan makannya dan berangkat ke kantor.


setalah tuanya pergi Jihan segera menuju ke kamar Tania. ia terpaksa berbohong dengan tuanya agar Tania tidak kembali dihukum karena belum bangun dari tidurnya.


" Non bangun apakah non tidak bekerja?" Tanya Jihan mengetuk pintu kamar Tania.


" Tidak aku mengambil cuti hari ini" jawab Tania dari dalam kamar ia engan untuk membuka pintu kamarnya karena merasakan tubuhnya yang lemah.


" Baiklah non, apakah non mau memakan sesuatu?" Tanya Jihan kembali


" Baik non" jawab Jihan meninggalkan kamarnya Tania.


\*\*\*\*\*


Setelah menghadiri rapat terakhirnya Farhan segera bergegas pulang setelah mendapat laporan bahwa Tania tidak bekerja hari ini dari Jihan. Entah apa yang ia rasakan namun ia tampak menahan sesuatu yang ada di dalam hatinya.


" Apa yang dia lakukan selama berada di rumah?" Tanya Farhan kepada Jihan ketika ia sampai di rumahnya.


" Dia tidak melakukan apapun tuan"


" Apakah dia sudah makan?"


" Belum tuan" jawab Jihan menunduk.


" Apa kamu bodoh?!" Tanya Farhan dengan nada meninggi.


" Maaf tuan dia selalu menjawab belum lapar tuan"


" Apa kamu tidak bisa memaksa nya?!" Suara Farhan semakin meninggi.


" Dia mengunci pintu kamarnya dari dalam tuan"


" Dasar tidak berguna" umpat Farhan kepada Jihan dan berlalu meninggalkan ruang tamu kemudian berjalan dengan langkah gusar menuju kamar Tania.


" Tania buka pintunya apa kau tidak dengar ini aku!!" Teriak Farhan kepada Tania di depan pintu kamar Tania.


" Tania buka atau aku dobrak pintu ini" Farhan kembali teriak namun tak mendengar jawaban apapun dari Tania. Ia segera mendobrak pintu kamar Tania dan mendapati Tania tergeletak di atas kasur lantai.


" Hey bangun Tania bangun " ucap Farhan dengan menepuk pipi kiri Tania. Namun Tania tetap saja tidak membuka matanya. Wajahnya pucat dan suhu badannya tinggi. Tania terkena deman.


" Panggil Regan kemari dalam waktu 15 menit" ucap Farhan kepada Jihan yang berada di depan pintu. Kini ia mengangkat tubuh Tania dan membawanya keluar dari kamar Tania.


Dengan segera Jihan menekan tombol yang ada pada telfon rumah tersebut dan menempelkan benda lonjong tersebut ke dekat telinganya.


Sedangkan Farhan membawa Tania kedalam kamar nya dan membaringkan nya diatas tempat tidur. Ia mengamati wajah pucat Tania dan menyelimuti tubuhnya.


" bunda... Tania kangen sama ibu.. Bun.." ucap Tania menghentikan langkah kaki Farhan .


" bunda Tania mohon bangunkan ibu untuk Tatia Bun..." ucap Tania menggenggam tangan Farhan. kini Farhan menatap Tania dengan berdecak.


" ck nih orang punya dua ibu atau bagaimana?!" tanya Farhan pada dirinya sendiri. ia tetap tak berubah pikiran kini ia menepis tangan Tania dan meninggalkan kamarnya.


*****


bebas pesen aku tetep sama kok😅🤗


Kalo Klian suka sama cerita ini di like ya😘


Kalo gak suka di komen biar di perbaiki😉


Tolong jangan ngilang pas udah bosen😥😭