
ππππ
"Itu yang gue gak mau denger, gue tau kalian anak dari juragan kaya bisa beli apa aja yang kalian suka. gue gak mau selalu ngebebani kalian!" Ucap ku dengan nada agak tinggi.
"bukan ..., bukan seperti itu Tif, kami tidak pernah terbebani sedikitpun." timpal Ayna.
"Tif." Chaca memegang pundak ku.
"kita sudah seperti keluarga, apapun masalah kamu itu juga masalah kami."
"enggak perlu Cha, gue bisa cari jalan keluar sendiri. terimakasih." tolak ku lagi.
"emm ..., yaudah gini aja." Naufal angkat bicara "kita gak bakal minjemin lo cuma-cuma nih, jadi lo harus bayar kapan aja ketika lo ada uang, gimana?"
Mereka semua meng "iya" kan lalu melihat ke arah ku untuk memastikan persetujuan.
"Tapi," belum saja aku melanjutkan perkataan, langsung di sergah oleh mereka.
"Ga ada tapi-tapian titik." ucap mereka ber-barengan.
Aku seolah-olah sedang di kepung para penjahat dan aku lah tawanan nya, bagaimana tidak mereka mengerumuni ku seperti tidak berbelas kasih untuk menunggu jawaban serta meng iya kan persetujuan ku, aku bahkan seperti orang bodoh yang menatap mereka dengan kebingungan dan minta belas kasih untuk segera melepaskan jeruji ini.
"huhh" keluh ku "yaa ..., gue setuju, tapi gue janji gue bakal bayar secepat mungkin!" ucap ku
"Nah gitu dong dari tadi." ucap Jony
"lo gak usah mikirin dulu kapan bayar nya, fokusin dulu sekolah. sebentar lagi kita bakal ngadain Ujian, gue mau kita lulus dengan nilai yang baik." balas Chaca.
"Nah betul" ucap mereka lagi.
"Emm ..., makasih ya kalian selalu ada di saat gue membutuhkan, selalu nemenin gue dalam kesusahan. gue gak tau harus gimana lagi ungkapin nya." ucap ku penuh bahagia.
"Nanti pulang sekolah kita langsung ke rumah lo aja gimana?" kata fina.
"Emm jangan deh, nanti adek gue tau dan itu malah buat dia gak fokus." jawab ku.
"Em jadi gimana?" tanya Ayna.
"Nah gini aja, kita langsung ke rumah penyewa itu aja gimana?" timpal Chaca.
"Nahh bener biar sekalian selesai ya kan, gimana Tif" ucap Joni.
"Emm yaudah deh, makasih sekali lagi." ucap ku.
"Udah ah lebay, dari tadi lo makasih mulu. mending makan nih keburu dingin kan" Timpal joni.
Mereka tidak menghiraukan ucapan Joni.
"Jadi gini ya, Tif. lo jangan pernah ngerasa sungkan-sungkan, kalo ada masalah apapun lebih baik lo cerita ke kita, dan bukan buat lo aja semuanya. kita ini kenal ga sebentar loh, bertahun-tahun. jadi apapun masalah lo, itu masalah kita juga." jelas Chaca.
"Bener banget Tif. kita itu udah jadi keluarga dan kalo elo ada masalah terus gak cerita ada apa sebenernya. Ya kita juga merasa gagal jadi keluarga. karena pada dasarnya keluarga itu satu Tif, kaya yang di bilang Chaca apapun masalah lo, itu masalah kita sama-sama" Sambung Fina.
"Yapp ..., setuju banget." balas Ayna.
"Emm udah jangan pada mellow gini dong! ayo makan gaes, dari tadi ga makan-makan, laper tau" timpal Joni sambil mengerucutkan bibirnya.
"Yelah si Joni kalo urusan makan nomor satu. tapi badan kaga gendut-gendut haha," Sergah Naufal.
Merekapun menyantap makanan yang di pesan sedari tadi, seraya tertawa bersama.
itulah yang di lakukan mereka ketika salah- satu sahabat mereka dalam kesulitan. mereka tidak pernah membandingkan rupa atau harta. dan bukankah semua manusia sama di mata tuhan.