
πππ
"Oiiiii...,"
Seketika lamunan ku terbuyar seperti suara petir ganas yang membuat bulu kuduk ku terbangun dan jantungku bergetar, haha ada-ada saja.
"Kebiasaan banget ngagetin orang, kalo gue jantungan kalian mau tanggung jawab iya? ha?" ucap ku dengan kesal.
"yee ..., lo kita liatin dari jauh kaya ada yang difikirin gitu." ucap chaca
"iyedah ada apasi?" ucap fina
"iya kenapasi lo Tif?" sambung naufal
Namun Tifa hanya diam saja tidak menjawab sepatah kata apapun.
mereka saling bertatapan "aneh?" karena biasanya Tifa selalu ceria dari mereka meski selalu di timpa banyak masalah yang bertubi-tubi.
"weii lo ngapa sih Tif cerita ke kita kalo ada masalah! jangan diem kaya gini." timpal Ayna
"ga tau tuh beb, mungkin dia lagi kesurupan setan pendiam kali" Johan membalas ucapan Ayna, Johan dan Ayna baru saja dan belum lama ini jadian.
Mereka ber-5 adalah sahabat ku dari aku masuk sekolah Smp, mereka berbeda dengan aku. mereka dari keluarga kaya yang serba kecukupan tetapi mereka bukan tipe orang yang sombong dan memilih-pilih teman. mereka bisa masuk ke sekolah manapun tanpa harus takut kekurangan uang sedangkan aku dengan jalur beasiswa. tetapi aku bersyukur. aku bangga dan bahagia memiliki sahabat seperti mereka, mereka selalu ada dan membantu aku di saat aku susah. serta menasehati jika aku salah. mereka menganggap aku sebagai keluarga dan tidak pernah membanding-bandingi.
"hussss diem beb!" timpal Ayna lagi
"Kalian bisa ga? kalo ngomong itu duduk dulu!" Baru saja aku mengangkat bicara, mereka sigap dan mengambil tempat duduk masing-masing.
"Nihh udah, apa? gimana? cepet cerita" Fina yang kepo, mengangkat bicara namun aku tetap diam lagi.
"Kann diem lagi, buat gue penasaran aje dah." sambung Naufal.
"Lo kalo ada masalah cerita aja Tif ke kita-kita, siapa tau kita bisa bantu." ucap Chaca
"Eh iya, lo pada mau mesen apa gue traktir dah" Sambung Johan menepis keheningan.
"Ehh iya, entar gue ama johan yang mesen." balas Ayna mencairkan suasana.
"Emm ..., kaya biasanya aja dah Ay, Jo" jawab Naufal.
"Oke ..., oke" jawab Ayna dan Johan bersamaan.
Pesanan sudah sampai, Tifa masih saja belum angkat bicara dan hanya melihat-lihat hp nya sedari-tadi.
Kawan-kawannya sangat sabar menunggu nya. Ayna, Naufal dan Johan sedang sibuk Mabar memainkan game online pubg, Fina juga sedang sibuk milih baju-baju yang sedang nangkring di beranda sosmed nya yang menggiurkan membuat ia ingin segera memilikinya, sedangkan Chaca sibuk membaca novel dan komik-komik kesukaannya.
Sungguh sangat sabar ya mereka haha.
Jadi gini" ketika aku mengangkat bicara, semua yang mereka mainkan langsung terhenti lalu fokus dan mendengarkan dengan baik apa yang ingin aku katakan. sudah menjadi kebiasaan mereka.
"Apaaa?" serentak mereka menjawab.
"Besok hari terakhir gue di rumah" sahut ku lesu.
"Maksudnya?" sambung mereka.
"keluarga gue gak bisa bayar cicilan rumah dan udah nunggak 3 bulan, uang yang gue kumpulin itu untuk adek gue masuk Sma. gue gak mau cuma karena ini dia jadi terbebani dan gak fokus untuk ujian." jelas ku.
"oww jadi gitu Tif, kenapa lo ga bilang ke kita dari tadi" timpal Chaca.
"Kalo masalah itu jangan khawatir Tif kita bisa bantu kok." Timpal Fina lagi.
"iya bener Tif" jawab mereka serentak.