Look at Me, Elle

Look at Me, Elle
Bab 9 Abigail



"Tidak mungkin kau melakukan itu."


Sang adik duduk di kursi dengan tangan mengambil buah apel hasil kupasan Leonathan. Memasukkan sepotong apel itu ke dalam mulut dengan menerima tatapan tajam kakaknya. Pria yang masih sibuk mengupas buah berwarna merah merona itu masih saja tutup mulut dan enggan membahas Brielle di depan Leonardo, sementara sang adik mengunyah bersama tatapan memaksa.


"Ayo, ceritakan saja. Kau tahu sendiri, kita ini hanya hidup berdua, Nath. Kau harus membagi perasaanmu padaku, kalau aku bisa membantumu, kau juga merasa lega."


"Sudahlah, diam saja. Semua juga sudah kukerahkan. Kau pasti mengerti diriku juga, jadi lakukan apa saja yang menurutmu benar tanpa mengetahui percintaanku. Aku tidak suka jika orang-orang ikut campur."


"Bukan ikut campur, aku hanya ingin membantumu. Bukankah kita ini saudara? Sebagai saudara sudah selayaknya kita saling berbagi, Nath."


Leonathan yang tak lagi memotong apel lantas meraih selai kacang. Menuang dua sendok selai ke atas mangkuk kecil yang isinya beberapa potong buah segar nan manis itu. Membuang napas panjang, ia mengarahkan tatapannya lagi ke Leonardo yang setia memerhatikannya.


"Kau dan aku bukan anak kecil lagi, Nard. Lebih baik kau fokus pada cintamu, jangan pikirkan diriku. Kau dan aku juga sama-sama tahu betul bahwa kita ini dewasa. Sudah sewajarnya aku mengurus hidupku sendiri tanpa campur tanganmu meski kita saudara kandung," ujarnya panjang lebar sebelum menggigit sepotong apel yang telah dilumuri selai kacang.


Memakannya dengan kaki tegak, berdiri, tapi pinggang menyandar pada kitchen set. Leonathan sedikit mengingat wajah kesal Alice. "Dan satu lagi, untuk apa Alice memberitahumu tentang wanitaku jika dia sendiri cemburu padanya?"


"Alice memintaku untuk menjauhkanmu dari wanita itu."


"Lalu? Kau sendiri berbanding terbalik. Seolah-olah mendukungku dalam hal ini, tidak berpihak padanya."


"Memang aku tidak ingin mengabulkan permintaan sahabat licikmu itu." Leonathan terkekeh begitu kata licik menggema, bersumber dari mulut sang adik yang menatapnya bingung. "Kenapa kau tertawa?"


Leonathan dengan sisa tawanya menelan kunyahannya dulu sebelum membalas, "Alice bukan licik. Dia hanya tidak senang melihatku sibuk mencari wanitaku, sebatas itu sifat bodohnya. Kau tahu, dia tidak mungkin melakukan hal gila demi menjauhkanku dari wanitaku, Alice hanya takut aku berubah."


"Kau yakin dia tidak akan bertingkah gila?"


"Aku yakin dia tidak akan melakukan hal lain selain merecokiku. Aku mengenalnya, Nard."


"Baguslah, kalau begitu aku bisa pulang ke asalku dengan tenang." Leonardo meminum air dingin sebelum dia meraih rokok dan menyalakannya dengan korek api elektrik di atas meja. "Ngomong-ngomong tentang wanita, aku tidak sabar ingin mengenalkanmu pada kekasihku, Nath."


"Bawalah ke hadapanku ketika kau meminta restuku." Leonardo mengangguk dan tertawa, sebelum tangan kirinya mengarahkan puntung rokok ke bibir. "Jika kau belum bisa serius, tahan saja."


"Berkata seperti itu membuatmu terlihat sebagai pria baik-baik, Nath."


Bukannya tersinggung, Leonathan malah mengiyakan. Bersama asap rokok yang mengepul, Leonathan berjalan cepta ke arah sang adik dan berakhir dengan duduk di depannya setelah menyerat kursi makan. Melihat kakaknya yang tiba-tiba menatap dengan serius dan menerawang, Leonardo semakin dalam menghisap rokoknya.


"Ada apa sekarang? Mengapa kau jadi berubah seserius ini?"


"Aku hanya memikirkan nasib Alice dan anaknya kelak. Jika aku berhasil menemukan wanitaku, aku akan meninggalkannya dan tidak mungkin aku bersama dengan Alice, sekaligus hidup bersama wanitaku."


"Kau sangat percaya diri, memangnya kau yakin akan menikah dengan wanita yang belum kau temui itu, Nath?" Leonathan memukul lengan Leonardo tanpa aba-aba, dan pergi setelah melakukannya. "Bukankah saat ini kau harus fokus mencarinya?! Jangan pikirkan Alice dan anaknya, Nath."


"Aku harus memikirkan mereka, jika tidak, di mana rasa peduliku sebagai sahabat dan di mana rasa cintaku dengan wanita yang sudah membuatku gila hampir satu tahun ini?!" sahut Leonathan kencang dengan volume besar, ia berjalan ke ruang tengah dan kembali duduk di atas karpet. Punggungnya bersandar pada sofa.


Leonardo yang ikut bingung itu lantas mengepulkan asap yang keluar dari mulut dan hidungnya sembari berjalan menyusul sang kakak. Pria itu ikut berpikir, seperti Leonathan yang pikirannya kalut setiap hari. Namun, ya, dia selalu berusaha menangani dan itulah nilai positif dari kakaknya. Leonathan tidak mudah menyerah meski kemungkinan besar otak dan fisiknya meminta berhenti berjuang.


"Kau terpaksa mendampingi Alice?"


"Aku hanya lelah menghadapi sifatnya yang seolah-olah memilikiku. Sudah berkali-kali aku memintanya untuk menjauh dariku, maksudku, aku ingin dia mengerti bahwa sudah tidak ada rasa cinta untuknya lagi."


"Apa kau ingin aku melakukan sesuatu pada Alice?"


Leonathan yang tadinya bersandara pada sofa lngsung mengubah posisi tubuh menjadi tegak. "Sesuatu seperti apa? Kau tidak bisa melakukan hal kejam, Nard. Bagaimana juga dia sahabatku."


"Kau terlalu memikirkannya, tapi kau sendiri tidal bisa tegas dengan dirimu mengenai Alice. Kalau kau benar-benar mencintai wanitamu, kau pasti sudah heboh mencarinya dan berhenti memusingkan Alice. Sedangkan wanita itu, Alice tahu kalau kau masih peduli, Nath. Karena itulah dia masih berani berharap dan mengejar perasaanmu. Kau sendiri yang kurang tegas."


"Jadi apa yang ingin kau lakukan?"


"Bukan aku tapi kau!" Leonathan menggeleng, dia bingung dengan maksud adiknya ini. "Ikutlah aku ke Jogja, dan kita akan memulainya di sana. Tugasmu bukan hanya itu, kau juga harus memberikan Mixture Cafe pada Alice supaya dia bisa hidup tanpamu, dan tidak mengandalkanmu. Kalau kau ingin fokus mencari wanitamu, keluarlah dari Bali. Karena aku tahu, dia pasti sudah tidak ada di sekitar sini, Nath."


"Aku akan menunggunya, setidaknya sampai dia melahirkan."


"Terserah kau saja, semua keputusan tetap ada di tanganmu. Aku sebagai adik hanya bisa memberikan saran." Leonathan menggerakkan kepala ke atas dan bawah sebelum memasukkan sepotong apel ke dalam mulutnya. "Pikirkan saranku ini, apalagi kau membantu Alice tidak dengan sepenuh hati. Aku tahu, hatimu tidak untuknya, Nath. Kalau harus pergi dari Alice, pergilah secepatnya. Lebih cepat lebih baik."


Perbincangannya dengan sang adik malam itu tak pernah dilupakan Leonathan. Pria itu terus terngiang akan kalimat yang keluar dari bibir Leonardo mengenai Brielle yang kemungkinan sudah pergi dari Bali, serta saran lain yan menyuruhnya untuk pergi dari Alice. Bukankah kejam sekali kalau dia meninggalkan Alice ketika sahabatnya itu akan melahirkan dalam beberapa minggu lagi?


Karena itulah, Leonathan tidak akan mengabulkan saran Leonardo. Pria itu lebih memilih berdiri di samping Alice hingga wanita itu berhasil menghadirkan anak dalam kandungannya ke dunia. Ya, Leonathan terus menemani Alice, sampai si penunggu cintanya itu benar-benar mengeluarkan seorang bayi cantik. Anak perempuan yang tak diakui ayahnya itu bernama Abigail. Alice dan Leonathan yang memberinya nama.


"Kalian datang ke Bali hanya untuk menjengukku?" tanya Alice pada Naomi dan Leonardo yang baru saja masuk ke ruangan Alice dan Abigail yang di mana wanita itu tengah memberikan asupan gizi untuk sang bayi. Leonathan yang ikut masuk tak langsung menengok wajah cantik Abigail, tetapi ia lebih memerhatikan ponsel. Leonardo yang tak ingin melihat pun hanya mengangguk sebelum berdiri di samping sang kakak.


"Tapi kita tidak bisa terlalu lama di sini."


"Besok pagi sudah harus kembali," timpal Leonardo yang dipahami Alice, wanita itu tersenyum sembari mengelus-elus kening anaknya. "Selamat atas kelahiranmu," tambahnya yang membuat Alice tersenyum lebar dan berterima kasih.


"Astaga! Hadiahnya ada di luar, sebentar, akan aku ambil." Leonardo menggeleng di saat Naomi tersenyum ke arahnya dengan tangan mencubit lengan lelaki itu begitu melewati.


"Kau yang lupa, aku yang kena," komentar adik Leonathan itu sembari meringis kecil. Sedangkan Naomi yang tak memedulikan hanya menanggapi dengan anggukan kepala lalu mencari di mana barang yang sudah dibeli dari Jogja khusus untuk ibu dan bayi perempuan cantik nan manis.


Pikiran Leonathan justru sudah tidak pada ruangan yang sama dengan mereka semua. Pria itu fokus dengan anak buah yang ia punya di Jogja. Karena ia curiga dengan kekasih adiknya sendiri, bisa saja Naomi menyembunyikan Brielle.


Kecurigaan Leonathan didukung dengan informasi Leonardo beberapa minggu lalu yang memberitahu bahwa Brielle sudah tidak di Bali. Jadi ia memutuskan untuk mencari Brielle diam-diam tanpa bantuan sang adik maupun Naomi. Keduanya tidak bisa dipercaya.


"Kau sedang sibuk apa, Nath? Dari tadi kuperhatikan kau terus saja menatap ponsel, apa itu urusan pekerjaan?"


Leonardo yang tak bisa menahan rasa penasarannya pun bertanya tanpa melirik benda di genggaman Leonathan. Ia bertanya dengan pandangan ke arah Alice yang nyatanya ikut penasaran. Bahkan dia sendiri belum diberikan ucapan selamat atas kelahiran malaikat kecilnya itu.


Pria yang menyugar rambut dengan tangan kirinya itu menoleh sekilas. "Ya, bisa dibilang begitu," jawab Leonathan kemudian.


Raut serius di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Bahkan dia tampak kecewa begitu membaca pesan yang baru saja diterima, memberitahu bahwa pencarian Brielle belum membuahkan hasil. Bukan cuma di Jogja, Leonathan bahkan mengerahkan orang-orang sewaannya berpencar ke beberapa kota di Pulau Jawa.


"Kau sedang mencari Brielle?" tebak Alice yang tak meleset sedikit pun, bahkan Leonathan yang mendengar hampir menoleh padanya. "Kau tidak akan seserius itu kalau alasannya bukan Brielle, Nath."


Leonathan semakin menahan matanya untuk menatap Alice maupun Leonardo. Bahkan suara berat nan dingin yang sudah ia siapkan harus dikurung dulu. Ini bukan waktu yang tepat untuk jujur. Ia harus merahasiakan pencarian diam-diam ini dari siapa pun. "Terserah kalian mengira aku sedang sibuk apa, yang jelas aku tidak bisa berlama-lama di sini. Kalian tahu sendiri, kafe yang kukelola bukan hanya satu atau dua saja."


Naomi yang baru menemukan hadiah untuk Alice dan Abigail segera meletakkan di atas sofa sebelum ia ikut mengempaskan bokongnya di sana. "Jadi kau benar-benar sibuk memusingkan kafe?" tanya Alice sekali lagi dan Leonathan hanya menggerakkan kepala, daripada dia emosi bukankah lebih baik menutup mulut rapat-rapat? Mereka juga tidak akan curiga lagi.


"Kalau kau memang sedang sibuk pergi saja." Sisi Alice yang pengertian mulai muncul, ia bahkan berhasil membuat Leonathan menatap ke arahnya. "Ada Naomi dan Leonardo yang menjaga aku dan Abigail. Kau bisa kembali ke kafe, Nath."


"Oke," putus Leonathan sebelum ia benar-benar beranjak dari tempatnya berdiri. "Aku titip mereka padamu, Nard."


"Tidak usah khawatir."


Menepuk bahu sang adik, ia menghampiri Alice yang sudah selesai memberikan nutrisi untuk si kecil Abigail yang kini tengah tertidur. "Jadilah anak yang baik," pesan Leonathan sebelum mendaratkan ciumannya di kening Abigail.


"Tidak ada kasih sayang seperti itu untukku?" tanya ibu dari anak yang dicium Leonathan tanpa malu. Bahkan pertanyaan itu membuat Naomi terbatuk-batuk. Leonardo sendiri sampai melotot dibuatnya. Sedangkan Leonathan yang sudah mengepalan tangan di sisi tubuhnya hanya berdeham sebelum memberikan senyum tipis untuk Alice. "Tidak ada, Nath?"


"Kau sudah tahu, jawabannya tetap sama dan tidak akan pernah berubah," sambil menghapus senyuman di bibirnya. Alice menarik napas dalam-dalam ketika Leonathan memberikan penekanan dengan suara yang begitu lembut, "ingat status kita." Barulah ia benar-benar angkat kaki dari ruangan itu.


Sejak peristiwa di rumah sakit itu Leonathan perlahan-lahan mencintai Abigail dengan setulus hati. Pagi ini dia sudah berada di rumah Alice dengan dua tangan menggendong Abigail. Sangat hati-hati Leonathan melakukannya karena itu adalah kali pertamanya dia menyentuh bayi. Karena saking gemasnya, Leonathan tidak bisa menahan bibirnya untuk mendarat di pipi halus nan berisi milik Abigail.


"Kau malaikat kecil yang sangat cantik, bagaimana bisa papamu menolak kehadiranmu?" gumam pria berotot itu sambil menimang-nimang si bayi lucu tersebut yang mengerjapkan matanya berkali-kali dan diringi dengan mulut menguap. "Jika aku menjadi seorang papa, aku pasti sangat bersyukur dikaruniai bayi menggemaskan dan cantik sepertimu." Menarik sudutnya hingga membentuk senyuman, Leonathan menyentuh jari-jari mungil Abigail. "Jadilah kuat, jadilah anak yang bisa mandiri seperti ibumu. Dia pasti bangga sudah melahirkan anak sepertimu. Kau Abigail, aku percaya kau bisa menjadi anak yang berhasil dan berguna di kemudian hari."


Alice yang baru keluar dari kamarnya lantas mendengar kalimat terakhir yang keluar dari bibir Leonathan. Wanita itu tersenyum lebar dan perlahan-lahan menghampiri Leonathan. Ia mengendap-endap supaya langkah kakinya tidak terdengar oleh Leonathan, sampai akhirnya sepasang tangan yang berhasil melingkar di perut pria itulah yang mengagetkan sang empunya. Menahan raut kesal, Leonathan berdeham. "Terima kasih Paman Nathan. Abigail pasti mendengarkan dan melakukannya," ujar Alice yang suaranya terdengar seperti meniru suara bayi.


"Kalau kau sudah selesai beberes makanlah, sarapan."


"Kau khawatir padaku?"


"Bagaimana pun aku khawatir dengan sahabatku sendiri, sarapanlah. Aku harus kerja."


"Temani aku sampai berhasil menidurkan Abigail," pinta Alice yang mengencangkan pelukannya di perut Leonathan. "Jika tidak mau, aku tidak akan sarapan."


"Tanpa memohon aku akan melakukannya."


"Oke!"


Alice yang sudah kegirangan itu pun menarik dua tangannya dari perut Leonathan yang terbungkus kemeja putih. Ingin melemparkan bibir ke pipi Leonathan, tapi ia ragu di saat tatapan tajam pria itu mengarah padanya, bahkan sebelum ia mendekatkan muka. Masih dengan kaki berjinjit, Leonathan mengerti gerak-gerik Alice yang ingin menciumnya.


"Titip Abigail lagi." Leonathan mengangguk dan berlalu, ia menuju ke arah ruang tamu dan membiarkan Alice di ruang makan sendiri.


"Aku tidak akan membiarkanmu semakin lancang."